Tuesday, June 18, 2013

Klab Menulis Kembali “Menggeliat”

Lolongan kekosongan hatiku tiba-tiba menggeliat…”

Sudah tentu lolongan para peserta yang menunggu Klab Menulis Angkatan XIV selang beberapa bulan itu terbayar sudah. Sebagaimana, penggalan salah satu karya peserta, Belia, Klab Menulis resmi “menggeliat” kembali dengan berisukan “Menembuh Batas, Menggali Kecerdasan Lokal”. Pertemuan perdana pun dilangsungkan selepas azan magrib dikumandangkan pada Jumat (14/6) lalu.

Hening  pun sempat mewarnai klab pada mulanya. Namun, hal ini tidak berlangsung lama ketika Sophan Ajie yang berbalutkan kaos Batman membuka pertemuan klab. Seperti biasa, pengajar klab menulis itu bukan hanya menyampaikan nilai-nilai penting yang akan diterima oleh setiap peserta pada delapan pertemuan ke depan,  tetapi juga yang tak kalah penting filosofi dari menulis itu sendiri dan sidang karya yang merupakan ciri khas dari Klab Menulis Tobucil.

Kecerdasan seorang penulis dilihat dari bagaimana dia melepaskan norma-norma yang ada untuk membangun sense of art”, tutur Sophan Ajie kepada peserta yang hadir pada saat itu. Sebagai pengantar, pria yang kerap disapa Ophan ini pun memberikan strategi penulisan fiksi yang didasari oleh ketiga sudut yang membentuk sebuah segitiga kreatif. Sudut-sudut tersebut adalah rasio (membuat penulis selalu bertanya kritis dan membantu dalam pembuatan alur), afeksi (pengolahan rasa dan pemilihan kata), dan imajinasi (merangsang rasio dan afeksi untuk mencitrakan apa yang ada di benak penulis). Lagi pula, imajinasi penulis menentukan dalam pembentukan disasosiasi –pencitraan yang tidak sesuai dengan realita–  sehingga penulis memiliki perspektif yang berbeda terhadap sebuah objek. Pengajar klab menulis ini menyimpulkan bahwa sudut-sudut tersebut merupakan sebuah refleksi dari proses yang kreatif.

Setelah itu, para peserta klab ditekankan untuk mempertanggungjawabkan setiap kata yang ditulisnya sehingga tidak ada istilah “pengarang telah mati”. Selain menceritakan pengalamannya dalam menulis,  Sophan Adjie pun memberikan masukan-masukan mengenai segmentasi pembaca sehingga penulis mengetahui apa yang hendak dia tulis (style menulis) dan siapa yang hendak membaca karya penulis tersebut.

Terakhir, klab ditutup dengan menyisakan rasa penasaran untuk melatih observasi dan imajinasi para kedelapan peserta di pertemuan selanjutnya. Para peserta pun mengumpulkan contoh tulisannya mengenai kenangan masa kecil mereka yang berharga. Sayang, hanya empat peserta yang membuat sehingga penggalan cerita menarik mereka tertunda untuk dibacakan. Namun. itu tak berarti antusias para peserta Klab Menulis Angkatan XIVsurut begitu saja, mereka hanya baru saja “menggeliat” untuk menjadi penulis.

Bandung, 16 Juni 2013

Firdhan Aria Wijaya
Google Twitter FaceBook

Wednesday, June 5, 2013

Klab Filsafat Tobucil: Membahas Film Dokumenter Time (2005)

Senin, 4 Juni 2013

Sesuai apa yang disepakati sebelumnya, Klab Filsafat Tobucil sore itu memilih untuk menonton sebuah film dokumenter dari BBC yang berjudul Time (2005). Film yang terdiri dari empat seri tersebut bercerita tentang segala hal mengenai waktu yang dibahas secara saintifik oleh Michio Kaku.

Peserta diskusi memilih menyaksikan yang nomor dua karena beberapa diantaranya seperti Liky dan Irwan sudah menonton yang seri pertama. Seri kedua sendiri bercerita tentang hubungan waktu dan kematian. Dipaparkan oleh Michio Kaku bagaimana sesungguhnya orang-orang yang relatif sudah tua akan menyadari bahwa waktu di sekelilingnya semakin cepat, sedangkan orang-orang muda menyadari sekelilingnya adalah lambat. Hal tersebut diketahui lewat eksperimen dari Michio sendiri. Orang tua dan orang muda diminta secara instingtif menebak kapan persisnya waktu satu menit itu. Ternyata orang tua lebih sering terlambat dalam menentukan waktu satu menit, sedangkan orang muda umumnya lebih cepat. 

Dalam film tersebut juga dilakukan eksperimen mengenai bagaimana perbedaan seleksi memori antara orang tua dan orang muda. Orang muda dapat mengenali gambar-gambar dengan mudah, baik yang terasosiasikan positif maupun negatif. Orang tua? Ternyata mereka secara umum hanya mengenali gambar-gambar yang terasosiasikan secara positif. Artinya, makin tua, seseorang makin meninggalkan perasaan-perasaan yang mengganggu mereka dan memilih untuk mengingat hal-hal yang menyenangkan saja. Pengalaman mereka akan waktu hanya yang di dalamnya terkandung sesuatu yang positif. 

Lantas, Michio memberi wacana tentang elixir of life. Semacam minuman agar sel-sel tidak cepat tua dan dipercayai bisa membuat orang awet muda. Rata-rata orang tua ingin minum ramuan semacam itu agar dirinya memuda kembali -meskipun ada juga yang khawatir ia malah hidup sendiri karena orang-orang dekatnya semakin lama semakin berkurang karena kematian-. Sedangkan orang muda, karena rata-rata belum memikirkan kematian, mereka memilih untuk tidak meminumnya. 

Film tersebut, yang berdurasi kurang dari satu jam, melengkapi pemahaman para peserta yang beberapa pertemuan sebelumnya pernah membahas soal masa tua dan kematian. Bedanya, dalam film Time ini, keresahan-keresahan dasariah manusia (kata Heidegger) akan masa tua dan kematiannya dikaji secara ilmiah. Peserta sendiri, ketika ditanya apakah ingin meminum elixir of life, mereka serentak menjawab mau. Kata Ping, "Kalau bosan hidup, gampang, kita bisa bunuh diri," katanya sembari tertawa. Pembahasan seputar film ini pun tidak terlalu panjang karena pertama, Tobucil menjelang tutup. Kedua, pembahasan mengenai baik masa tua maupun kematian pernah dibahas dan masih segar dalam ingatan. Apa yang dibawa pulang oleh para peserta pada hari itu adalah suatu kesadaran bahwa ada orang yang begitu serius melihat problem eksistensial dalam kacamata saintifik. Meski ada beberapa hal yang sanggup diobjektivikasi, namun tetap kematian menyisakan misteri.




Google Twitter FaceBook

Thursday, May 30, 2013

Penutupan Kelas Filsafat Tobucil Angkatan VI

Delapan pertemuan sudah dilalui Kelas Filsafat Tobucil Angkatan VI yang mengangkat tema "Etika dan Problem Keseharian". Kelas asuhan Rosihan Fahmi dan Syarif Maulana ini berbeda dengan Klab Filsafat Tobucil hari Senin. Jika klab memfokuskan kegiatannya pada diskusi umum dan terbuka, kelas ini lebih tertutup, berbayar, dan membicarakan hal-hal yang lebih teoritik.

Kelas yang digagas oleh Bambang Q-Anees ini pernah membahas mulai dari filsafat Yunani, filsafat abad pertengahan hingga filsafat modern. Khusus yang kali ini, pembahasan berkaitan dengan salah satu aspek aksiologis (praktis) dari filsafat yakni mengenai etika. Peserta yang mendaftar relatif sedikit yakni dua orang saja. Meskipun demikian, dua orang peserta yakni Reni Indardini dan Yunanto Ismail tidak pernah sepertemuan pun absen. Mereka pun tidak lalai mengerjakan tugas dari Kang Ami berupa tulisan yang dikumpulkan di pertemuan pamungkas. Isi tulisannya? Renungan-renungan pribadi mengenai etika.

Kelas "Etika dan Problem Keseharian" -seperti yang sudah diungkapkan di atas- berlangsung selama delapan pertemuan. Pembahasan berkaitan dengan etika Sokrates, etika Hellenisme, etika modern, dan etika kontemporer. Terdapat juga pertemuan yang membahas studi kasus dan kaitan antara etika dan agama. Yunanto menyebut kelas ini melengkapi pemahamannya yang sudah cukup lama dijejali oleh filsafat Islam. Sedangkan Reni, ia merasa bahwa ia jadi cukup punya banyak pilihan dalam bertindak dalam menghadapi permasalahan sejak belajar etika.

Etika adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat kebaikan. Selain itu, etika juga membahas tentang apa yang seharusnya manusia lakukan terkait dengan kehidupan konkritnya. Artinya, etika tidak berkutat di masalah-masalah ontologis seperti misalnya hakikat manusia atau hakikat alam semesta. Boleh dibilang, etika lebih terkait dengan hal-hal praktis dalam keseharian manusia.

Syarif Maulana

Yunanto Ismail (kiri)

Reni Indardini (kiri)

Google Twitter FaceBook

Tuesday, May 28, 2013

Penutupan Kelas Foto Cerita Angkatan VI

Sabtu, 25 Mei 2013

Kelas Foto Cerita Angkatan VI yang berlangsung selama sebulan, seperti biasa, menutup kelasnya dengan melakukan pameran. Meski pesertanya relatif sedikit -dua orang-, namun Mba Arum Tresnaningtyas selaku tutor tetap menyelenggarakan pameran rutin tersebut dengan penuh semangat.
Mba Arum (ungu) memberikan sambutan.
Pameran tersebut, yang dijadwalkan mulai pukul tiga sore, mundur sekitar satu jam karena menanti beberapa audiens yang terjebak macet akibat pertandingan Persib di Stadion Siliwangi. Sejak pukul setengah tiga, para peserta sudah mulai memajang foto-foto mereka di beranda Tobucil. Peserta itu yang pertama ada Fajar. Ia memamerkan foto-foto yang bercerita tentang kawan-kawannya yang membuat band bernama Liquid Stone. Perjalanan singkat band tersebut diabadikannya lewat kumpulan foto hitam putih dalam judul Individu Merdeka. Sedangkan Dega, peserta lainnya, memamerkan kumpulan fotonya yang bercerita tentang kegiatan di dapurnya dalam judul Bon Appetit, Mon Cheri!.



Setelah hadir penonton sekitar enam orang, dimulailah acara pameran tersebut dengan pembukaan berupa Mba Arum sendiri menyanyikan lagu berjudul Dia dari Reza Artamevia. Setelah itu, Fajar mendapat giliran untuk mempresentasikan karya fotonya dalam bentuk slideshow. Diiringi lagu berjudul Individu Merdeka dari band Seringai, Fajar menyajikan satu per satu gambar tentang band Liquid Stone mulai dari ketika mereka berada di studio latihan, panggung, hingga ketika kelima personilnya beraktivitas sebagai siswa di kelas. Yang menarik dan menjadi pujian beberapa penonton adalah ketika Fajar berhasil menangkap momen para personil sedang dihukum gurunya di depan kelas. Walaupun Mba Upi, salah seorang audiens kecewa ketika tahu foto tersebut ternyata sudah diatur sehingga bukan terjadi secara alamiah. "Wah, saya terlalu jujur ya. Harusnya bilang aja foto tersebut alami tanpa diatur," demikian kata Fajar yang baru saja lulus UN SMA ini, polos.

Fajar tengah melakukan presentasi.

Dega kemudian mendapat giliran berikutnya. Ia mempresentasikan tentang kehidupan di dapurnya tempat ia belajar memasak. Tadinya, Mba Arum khawatir bahwa apa yang ditampilkan Dega akan berupa tutorial cara memasak. Namun ternyata Dega berkisah mulai dari bagaimana ia berbelanja, cuci beras, hingga suasana di sekitar dapurnya. Sehingga lengkaplah, sesuai tema yang diusung Mba Arum, bahwa foto-foto yang ditampilkan oleh peserta menyajikan sebuah cerita utuh. Satu foto adalah kepingan bagi foto yang lainnya.

Setelah kedua peserta selesai presentasi, Mba Arum kemudian menanyai audiens satu per satu tentang pendapatnya mengenai foto-foto yang terpampang. Mereka diminta untuk memilih foto favoritnya. Mengomentari kumpulan foto milik Fajar, rata-rata dari mereka seleranya beragam. Vokalis band Liquid Stone yang kebetulan hadir misalnya, ia pribadi suka foto yang memperlihatkan mereka dengan latar belakang penonton yang berhasil dikondisikan agar kelihatan membludak. Hal ini membuat ia kagum, "Gak nyangka Fajar kemampuan motretnya bisa kayak gini." Sedangkan audiens yang lain ada yang senang dengan foto ketika mereka latihan dan fokus kamera ditujukan pada mikrofon. Sedangkan pada foto milik Dega, pun demikian halnya dengan respon pada Fajar, para penonton pun menunjukkan keberagaman selera. "Saya suka foto ketika Dega sedang mencuci beras," ujar salah seorang diantaranya. "Saya suka foto piring berisi makaroni dan dilukisi di sisi piringnya dengan bentuk hati," kata yang lainnya.

Kelas foto cerita angkatan VI pun ditutup dengan manis, dengan alunan suara merdu Mba Arum yang menyanyikan lagu L.O.V.E. Sampai jumpa di angkatan berikutnya!

Syarif Maulana










Google Twitter FaceBook

Monday, May 20, 2013

Klab Filsafat Tobucil: Mengapa Harus Tanpa dan Ada Masalah?

Senin, 30 Mei 2013

Klab Filsafat Tobucil sore itu berkumpul lagi dengan Nugraha Sugiarta sebagai pemasalahnya. Seperti lumrahnya Nunu, panggilan akrabnya, ia selalu mengawali pemaparannya dengan sebuah cerita yang cukup panjang mengenai pengalaman pribadinya. Meski panjang, namun peserta terlihat menyimak oleh sebab cara penuturan Nunu yang jenaka. Tiga puluh menit pemaparan pun menjadi tidak terasa.
Nunu tengah bercerita.
Apa sesungguhnya yang diceritakan Nunu? Ia menceritakan tentang proses perkuliahan ia selama S2. Katanya, "Biayanya cukup mahal, tapi saya bersikeras untuk tidak dibantu oleh orangtua meski dalam hal ini bapak saya memaksa untuk membantu." Berkali-kali ditolak oleh Nunu, akhirnya pada suatu ketika ia menyerah dan menerimanya juga. Namun, ungkap Nunu, ia tetap berjuang mengembalikan uang yang pernah diberikan bapaknya tersebut dengan cara mencicil. Sampai akhirnya si bapak berkata seperti ini pada Nunu, "Nu, kamu tuh suka mempersulit yang sudah mudah. Dari kecil loh kamu suka cari-cari masalah yang tadinya tidak ada." Nunu kemudian menutup pemaparannya dengan lontaran: Silakan diskusikan saja.

Diskusi kemudian langsung disambut dengan pertanyaan Ping: Apakah masalah itu ada yang konkrit, atau cuma ada dalam pikiran saja? Liky kemudian giliran memaparkan tentang pengalaman pribadinya. Ia bercerita, "Sekarang saya ini sedang tidak punya pekerjaan dan saya merasa senang-senang aja. Tapi ternyata hal ini masalah buat ibu saya. Ia terus mendesak saya untuk bekerja, sehingga pada akhirnya desakan ibu menjadi masalah tersendiri buat saya." Kalimat terakhir itu disambut tawa para peserta lainnya. Kemudian juga timbul pertanyaan-pertanyaan dalam forum: Apakah masalah yang konkrit sesungguhnya cuma masalah ekonomi? Apakah masalah-masalah sesungguhnya lebih banyak disebabkan oleh lingkungan sosial?

Kemudian Nino memaparkan kekesalannya pada motivasi-motivasi dari Mario Teguh yang kebanyakan mengubah mindset masalah jadi tantangan. Namun Ijal tidak melihat hal tersebut sebagai masalah, justru bagus ketika mindset masalah diubah menjadi tantangan sehingga baunya menjadi optimistik. Menanggapi hal ini, Dini bertanya pada Ijal, "Memang menurutmu apa bedanya masalah dengan tantangan?" Ijal kemudian mencoba menalar, "Masalah itu sepertinya kemungkinan-kemungkinan menyelesaikannya belum terlalu jelas, sedangkan tantangan itu sudah terlihat bagaimana proses untuk membereskannya, tinggal dijalani saja." Kape kemudian, yang hampir sepanjang diskusi terlihat diam, akhirnya angkat bicara menyoal masalah ini, "Menurut saya, manusia itu tidak suka mencari masalah, hanya saja orang yang mencari masalah itu adalah mereka yang seringkali bosan dengan hidupnya. Misal, orang-orang yang bermain game."

Kemudian diskusi masuk ke soal agama. Pernah dalam suatu kelas di Extension Course Filsafat Unpar, Pak Bambang Sugiharto mengungkapkan tentang masalah dunia hari ini yang lebih mengarah pada lingkungan. Seorang bapak kemudian berkata, "Dalam agama, jikapun dunia ini hancur, maka tidak ada masalah apapun dengannya. Hancur ya hancur saja." Demikian mungkin saja bahwa agama ini punya ajaran tentang bagaimana mengomodifikasi sehingga segala sesuatu masalah itu tidak lain merupakan kehendak-Nya saja yang mesti diterima. "Pada titik ini, agama memberikan suatu obat bagi kegelisahan eksistensi manusia," demikian ujar Ijal. Lantas, kembali dipertanyakan, jadi apa masalah sesungguhnya bagi manusia? Ekonomi-kah? Kematian-kah? Desakan sosial-kah? Atau, pikiran-kah?




Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin