“Lolongan kekosongan hatiku tiba-tiba menggeliat…”
Sudah tentu lolongan para peserta yang menunggu Klab Menulis Angkatan XIV
selang beberapa bulan itu terbayar sudah. Sebagaimana, penggalan salah satu karya peserta, Belia, Klab Menulis
resmi “menggeliat” kembali dengan berisukan “Menembuh Batas,
Menggali Kecerdasan Lokal”. Pertemuan perdana pun dilangsungkan selepas azan
magrib dikumandangkan pada Jumat (14/6) lalu.
Hening pun sempat mewarnai klab pada mulanya. Namun, hal ini tidak
berlangsung lama ketika Sophan Ajie yang berbalutkan kaos Batman membuka
pertemuan klab. Seperti biasa, pengajar klab menulis itu bukan hanya
menyampaikan nilai-nilai penting yang akan diterima oleh setiap peserta pada
delapan pertemuan ke depan, tetapi
juga yang tak kalah penting filosofi dari menulis itu sendiri dan sidang karya
yang merupakan ciri khas dari Klab Menulis Tobucil.
“Kecerdasan
seorang penulis dilihat dari bagaimana dia melepaskan norma-norma yang ada
untuk membangun sense of art”, tutur Sophan Ajie kepada peserta yang hadir
pada saat itu. Sebagai pengantar, pria yang kerap disapa Ophan ini pun
memberikan strategi penulisan fiksi yang didasari oleh ketiga sudut yang
membentuk sebuah segitiga kreatif. Sudut-sudut tersebut adalah rasio (membuat
penulis selalu bertanya kritis dan membantu dalam pembuatan alur), afeksi
(pengolahan rasa dan pemilihan kata), dan imajinasi (merangsang rasio dan
afeksi untuk mencitrakan apa yang ada di benak penulis). Lagi pula, imajinasi
penulis menentukan dalam pembentukan disasosiasi –pencitraan yang tidak sesuai
dengan realita– sehingga penulis
memiliki perspektif yang berbeda terhadap sebuah objek. Pengajar klab menulis
ini menyimpulkan bahwa sudut-sudut tersebut merupakan sebuah refleksi dari
proses yang kreatif.
Setelah itu, para peserta klab
ditekankan untuk mempertanggungjawabkan setiap kata yang ditulisnya sehingga
tidak ada istilah “pengarang telah mati”.
Selain menceritakan pengalamannya dalam menulis, Sophan Adjie pun memberikan masukan-masukan mengenai
segmentasi pembaca sehingga penulis mengetahui apa yang hendak dia tulis (style menulis) dan siapa yang hendak
membaca karya penulis tersebut.
Terakhir, klab ditutup dengan menyisakan
rasa penasaran untuk melatih observasi dan imajinasi para kedelapan peserta di
pertemuan selanjutnya. Para peserta pun mengumpulkan contoh tulisannya mengenai
kenangan masa kecil mereka yang berharga. Sayang, hanya empat peserta yang membuat
sehingga penggalan cerita menarik mereka tertunda untuk dibacakan. Namun. itu
tak berarti antusias para peserta Klab Menulis Angkatan XIVsurut begitu saja,
mereka hanya baru saja “menggeliat” untuk menjadi penulis.
Firdhan Aria Wijaya
Bookmark this post: |








