Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Friday, March 21, 2014

DIY Simple Science with HackteriaLab!

Tepat hari Kamis kemarin, tobucil kedatangan tamu dari Swiss. Mark yang akrab disapa Marjono karena lama tinggal di Jogja ini mempresentasikan dirinya sebagai wakil dari komunitas Hackteria. Apa itu Hackteria? Pada mulanya kami juga bingung untuk beberapa saat, namun setelah Mark menjelaskan, kami lalu ber “ooooo...” ria.


Kebanyakan orang ketika mendengar kata science pasti akan langsung berkerut kening. Mengingat bahwa ketika di sekolah dahulu pelajaran kimia, fisika, dan pelajaran lainnya yang berscience gampang sekali membuat kita pusing kepala. Hahaha. Mark sebagai penggila per-science­-an sangat tidak setuju pada hal itu. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuat hatinya tergerak untuk membuka wawasan orang-orang bahwa “Hey, science isnt so hard. It is simple and fun.” Ucap bule gondrong itu.

Mark, kanan berkaos coklat
Setelah berkeliling dari kota ke kota di seluruh dunia untuk mempresentasikan apa yang dibawanya, Mark akhirnya bertandang ke Indonesia. Berawal dari pertemuan dengan Ucok penggiat organisasi Life Patch yang juga bergerak di bidang citizen initiative in art, science and technology maka cocoklah sudah, Mark akhirnya bergabung. Berhubung topik yang dibawa olehnya sangat pas untuk kebutuhan di negeri kita tercinta ini.

Mark beserta teamnya membawa beberapa alat sederhana – yang bagi orang awam seperti saya sempat bertanya-tanya, apa alat itu sebenarnya? – dari bahan-bahan recyle yang ternyata dapat menciptakan alat baru yang luar biasa.


Pada awal diskusi Mark memperkenalkan komunitas Hackteria, dia memperlihatkan hasil kunjungannya ke suatu sekolah di Indonesia saat mengajarkan siswa-siswanya untuk membuat Hardware dari bahan CPU tak terpakai namun menjadi Hardware yang berguna bagi CPU lainnya, setelahnya ia memperagakan alat-alat ciptaannya satu per satu. Yang pertama adalah mikroskop. Bukan sembarang mikroskop loh, alat ini dibuat Hackteria dari webcam biasa. Webcam yang banyak terdapat di laptop atau bahkan kamera smartphone teman-teman sekalian. Amazing! Lalu alat transport suara. Bentuknya kecil, hanya terdiri dari batere, chip-chip kecil, dan voala. Sentuhkan satu jarimu di plat kuningan dan satu jarimu yang lain di tempat manapun maka akan keluar suara yang berbeda-beda. Lalu ada ikan-ikan, ternyata eh ternyata ikan itu Mark bawa bukan karena dia memeliharanya, namun ternyata ikan itu adalah sumber energi penghasil listrik!

Mark memperagakan kamera mikronya.
Berbagai macam perangkat Mark tampilkan dalam diskusi kemarin, selain menimbulkan kekaguman, kita pun menyadari bahwa ternyata science tidaklah serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa membuatnya sendiri dari bahan-bahan disekitar kita. J

Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :)
Setelah tiga jam terpesona oleh presentasi Mark, diskusi pun selesai ditutup dengan performance Larry Bang Bang, sang tattoo artist unik yang menerapkan bakat briliannya dengan menggunakan BOR! Tentu saja, para peserta yang hadir langsung mengantri untuk mencoba bor tatonya Lary. :D

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

Sunday, March 16, 2014

Satu Bulan Sekali ber-CRAFTPARTY!!!


Berawal dari kegiatan saling tukar kado antara para crafter, maka timbulah ide untuk mengembangkan pertukaran kado tersebut menjadi sesuatu yang bermakna. Tidak hanya sekedar mendapatkan kado yang berupa barang jadi, tapi juga saling berbagi pengetahuan sederhana dalam berkreasi.


Pesta pertama dimulai bulan ini yaitu Maret 2014 tepat hari Sabtu tanggal 15. Tema pertama adalah Friendship-Bracelets. Yup, membuat gelang persahabatan dari jalitan benang dengan pattern yang dapat dipilih sesuka hati di sini. Cocok sekali bukan. Sama seperti CRAFTPARTY ini, semoga saja dengan saling berbagi pengetahuan baru, bisa terjalin persahabatan yang erat dalam berkreasi. J





Siap-siap untuk tema bulan April teman-teman; Daur Ulang di hari Bumi! Siapapun yang berminat silakan hadir ke Tobucil and Klabs, jalan Aceh 56, informasi lebih lanjut hubungi 022-4261548. Silakan bawa ide proyek daur ulangmu sendiri! Lets go Craft Party!

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

Saturday, February 22, 2014

Step By Step Menuju Final Project!

Seperti di angkatan-angkatan sebelumnya, pada akhir silabus pertemuan selalu akan ada final project. Sebuah karya agung hasil pembelajaran dari seluruh pertemuan dan kemudian di sidangkan sebagai pertanggung-jawaban. Proses sidang karya nantinya tidak akan terpaku kepada hasil, tetapi juga proses kreatif selama karya tersebut dibuat. Dimulai dari latar belakang pemilihan topik, proses pengumpulan data, riset, dan aspek lainnya.



Setelah menempuh tujuh angkatan, kelas menulis feature angkatan kedelapan kali ini lebih diawasi secara ketat oleh sang mentor Adi dalam melangkah menuju final. Belajar dari angkatan sebelumnya, angkatan kedelapan ini sudah memulai fokus pada final project di pertemuan ke enam. Dimulai dari mengangkat tema atau topik karya, lalu di uraikan secara terbuka baik oleh teman-teman peserta kelas maupun oleh sang mentor.

Sugi memilih topik yang langsung fokus, satu titik, dengan satu masalah inti yang diangkat dalam berbagai sisi dan sudut pandang penulisan. Ia memilih topik ‘nelayan sampah sungai citarum’. Sedangkan Bobi memilih ‘underground dan saparua’ menurut Adi, topik yang Bobi pilih masih terlalu luas, pengekerucutan fokus pada topiknya masih diperlukan dalam pertemuan ini. Dengan metode sederhana yang tokcer Adi menuliskan topik pilihan Bobi pada selembar kertas kemudian menggambar peta pikiran dari topik tersebut. Teman-teman peserta lain membantu Bobi dalam menemukan fokus yang akan diangkat nantinya.

Lain Sugi, lain Bobi, lain pula ketiga perserta cantik ini, Ratna, Meitha, dan Langit. Mereka memilih tema besar dari kesastraan namun dengan pemilihan topik yang berlainan sama sekali. Meitha pada mulanya ingin mengangkat sebuah resort indah di Bali namun urung karena setelah ditelaah hanya bisa menghasilkan sedikit sekali fokus yang menarik. Ia akhirnya memilih topik seorang penulis sastra wangi ‘Djenar Maesa Ayu’ untuk projectnya. Masih tentang sastra, perempuan manis asal Garut, Ratna, memilih topik ‘pameran sastra solo’ sebagai benih karya finalnya nanti. Lalu dari sudut pandang pembaca sastra, Langit memilih topik ‘pembajakan buku’. Sungguh sangat menarik!


Pertemuan ditutup dengan bekal ‘mentah’ dari topik masing-masing peserta untuk kemudian dibawa pulang dan tentunya mulai dieksekusi menuju sebuah karya agung dalam feature. :)

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

Tuesday, January 28, 2014

Memunguti Sudut Menarik di Pertemuan Ketiga

Tidak seperti biasanya, pertemuan kelas menulis feature kali ini bertempat di Taman Lansia dan dilakukan lebih awal yaitu hari Senin (27/01/14). Sebagai keberlanjutnya dari pertemuan minggu lalu, pertemuan kali ini tidak lagi membahas teori, namun penerapan langsung dari salah satu bagian menulis yaitu pre-writing.

“dengan terjun langsung ke lapangan seperti ini, para peserta dapat merasakan langsung bagaimana proses observasi itu, dan bagaimana mereka dapat menemukan sudut masalah yang akan diangkat dalam tulisan mereka nantinya.” Ucap Adi sembari memangku macbooknya.

Tepat pukul sembilan pagi peserta berkumpul dan mendapat arahan singkat dari mas Adi berhubung mas Zaky tak hadir. Para peserta pun diberikan waktu dua jam untuk berpencar menuju tempat observasi pilihannya masing-masing.



Pemilihan tempat taman Lansia merupakan hasil pemungutan suara para peserta, menimbang banyaknya spot yang menarik di sana. Seperti dua museum yang bersebelahan dengan taman tersebut. Museum perangko di sebelah kiri taman yang gratis biaya masuk, dan museum geologi di seberang yang penuh dengan pengunjung. Para peserta dibebaskan menentukan topik yang akan di angkat dalam tulisan sesuai dengan pilihannya masing-masing.

Tepat pukul sebelas, para peserta kembali berkumpul di taman dan sedikit berbagi kesan hasil kunjungannya. Museum perangko yang membagikan gantungan kunci gratis pada pengunjungnya, fasilitas museum yang kurang maksimal, koleksi perangko yang langka, hingga bincang-bincang singkat dengan petugas museum yang berhasil memberikan data pengunjung kepada salah satu peserta.


Setelah pertemuan kali ini, sebuah karya tulisan pun dituntut untuk dihasilkan agar proses menulis menjadi utuh. Penasaran dengan karya-karya yang akan dihasilkan? Mari kita lihat di pertemuan berikutnya. J

Google Twitter FaceBook

Thursday, January 23, 2014

Seluk Beluk Feature dalam Pertemuan Kedua

Setelah sesi perkenalan pada pertemuan pertama, Kamis ini (23/01/14) menjadi pendalaman terhadap feature itu sendiri. Anggap saja pertemuan ini adalah sesi bersahabat dengan feature. Bagaimana sifat sang feature, dan bagaimana menjadi dekat dengan jenis tulisan unik ini. Sebagai pembuka pertemuan, mas Adi membagikan ‘tubuh’ feature kepada peserta yang hadir.



Pre-Writing
Sebuah tulisan atau karya pasti memiliki karakternya masing-masing. Seperti halnya angka-angka dalam rumus matematis, jenis tulisan pun terutama non-fiksi berkelompok dalam kategori yang berbeda-beda. Dalam karya jurnalistik, bentuk umum yang berbeda disebut News dan Views yang terbagi-bagi lagi menjadi jenis tulisan yang lebih spesifik.

Jenis tulisan bentuk News dibagi berdasarkan derajat berita, cara peliputan, kedalaman berita, teknik penulisan, wilayah, dan spesialisasi dalam bidang tertentu. Sedangkan Views menyajikan opini atau pendapat, dan ulasan atas suatu topik yang dapat disajikan ke dalam jenis yang berbeda-beda. Seperti tajuk rencana, artikel, kolom, dan lain-lain.

Tulisan feature dapat dikatakan sebagai pengembangan dari bentuk Views yang memiliki bentuk penyajian yang unik. Seperti yang dijelaskan oleh mas Adi, keunikan feature dapat dihasilkan dari unsur-unsur pembangun tulisan yang sama sekali tak terduga. Contoh sederhananya, dalam menentukan sudut pandang masalah dalam tulisan. Jika berita menyajikan topik banjir yang sedang hangat dengan menuliskan korban-korban, sejauh mana pemerintah turun tangan, atau keadaan di TKP, di dalam feature kita dapat menuliskan seseorang yang justru dapat mengais rejeki lebih banyak di saat banjir seperti tukang pemulung, ojek perahu, dan lainnya yang sama sekali berbeda.

“salah satu sifat dasar feature yang menjadikannya sebuah tulisan unik adalah tulisan yang dihasilkan tidak akan pernah terasa basi.” Sahut mentor berambut gondrong itu.

Selain menentukan sudut pandang masalah, yang harus dilakukan pertama kali dalam menulis feature adalah menentukan atau mengetahui sejauh mana fokus yang akan dibangun dalam tulisan. Menurut Zaky, hal tersebut penting dilakukan karena akan memudahkan proses penulisan nantinya, lalu berlanjut pada menggali bahan yang dibutuhkan dengan observasi, wawancara, dan mencari sumber data yang relevan (dapat dipercaya).

Writing
Layaknya tulisan kebanyakan, sebuah judul pasti di letakkan di awal tulisan, tidak mungkin di akhir kan (hehehe). Tentunya feature pun begitu. Hanya saja pada prosesnya, menentukan judul dalam feature dapat dilakukan setelah tulisan selesai dibuat. Di dalam feature judul juga menjadi sebuah nilai jual dari bentuk tulisan itu sendiri. Harus berkenaan dengan fakta yang ada dalam berita tetapi tidak menjelaskan isi berita. Memilih kata yang ringkas dan menarik perhatian pembaca.

Selain judul tulisan, perbedaan lain terletak pada lead (pembuka/teras) berita. Lead dalam feature dapat disajikan ke dalam beberapa jenis seperti bercerita, pengandaian, pertanyaan, kutipan, dan paparan deskriptif. Kedudukan lead pada feature pun menentukan semenarik apa tulisan itu bagi pembaca. Berkaitan dengan judul, lead yang tepat dalam feature dapat meningkatkan rasa penasaran pembaca pada saat mereka melirik tulisan itu pertama kali.

Selanjutnya adalah isi berita. Fokus masalah yang dipaparkan jangan sampai menyimpang. Memilih diksi dan tatanan kalimat yang menarik memang penting, namun tetap harus sesuai dengan fakta yang didapatkan. Kalimat-kalimat pembangun berita pun sebaiknya adalah kalimat sederhana yang pendek namun kronologis.

“sebaiknya menggunakan kalimat aktif. Dengan menggunakan kalimat aktif akan mempermudah dalam meneruskan tulisan daripada kalimat pasif yang biasanya membuat kalimat lanjutannya mati.” Ujar Adi.

Membangun penutup tulisan dalam feature pun dapat disajikan dengan bentuk yang bermacam-macam, seperti bentuk ringkasan, penutup yang menyengat, bentuk klimaks, atau penutup yang mengambang.

Post-Writing
Sebuah prosedur akhir dari proses menulis adalah editing. Proses editing terbagi ke dalam dua tahap yaitu editing isi dan editing redaksional. Dalam tahapan ini, sang penulis membaca ulang keseluruhan tulisan dan meneliti kalimat atau paragraf yang digunakan. Apakah terlalu panjang, atau tidak berkaitan. Pemilihan kata pun dilihat ulang, apakah penggunaan kata sudah sesuai atau berlebihan. Apakah isi tulisan sudah sesuai dengan visi, tidak mengandung SARA dan lain sebagainya.

----

Setelah mendalami cukup lama, para peserta pun tenggelam dalam pemahamannya masing-masing. Sebagai keberlanjutan dari pertemuan kali ini, mas Adi dan Zaky memberikan tugas khusus untuk pertemuan berikutnya yaitu... terjun ke lapangan! :)


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin