Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Friday, October 24, 2014

Cinta dan Masokisme

Apakah Anda bahagia? Anda mungkin akan menjawab, tidak selalu, bergantung pada situasi dan kondisi kita. Ketika kita sedang mendapat musibah, bagaimana mungkin kita merasa bahagia? Yang ada adalah derita? Ketika musibah datang, apalagi beruntun, kita menambah penderitaan itu dengan menyalahkan siapa saja yang bisa kita temukan. Musibah memang dinisbahkan kepada siapa saja, tetapi derita hanya dinisbahkan kepada kita. Keberuntungan datang dari mana saja, tetapi kebahagiaan hanya datang dari kita.
Hal di atas memberikan kejelasan bahwa baik penderitaan maupun kebahagiaan, kedua-duanya adalah pilihan kita. Namun mungkin kita akan bertanya, apakah kita menderita karena pilihan? Apakah ada orang sengaja memilih menderita?.
Dalam kajian psikologi dikenal istilah Sadomasokisme, Istilah "sadis" dan "masokis" secara terpisah memiliki makna spesifik; apabila ia lebih menikmati perannya sebagai pihak yang menyakiti (aktif), maka ia disebut sadis, sedangkan jika ia lebih menikmati perannya sebagai pihak yang disakiti (pasif), maka ia disebut masokis. Meskipun demikian, banyak pelaku sadomasokisme menggambarkan diri mereka sebagai "BDSM bergantian", yaitu orang yang dapat merasakan kenikmatan di kedua sisi; baik sebagai pihak yang menyakiti (penyiksa) atau pihak yang disakiti (tersiksa).
Masokis dapat dipahami sebagai orang yang menikmati penderitaan. Di tangan masokis penderitaan tidak dilihat sebagai lawan dari kebahagiaan, namun sebagai fenomena langit yang serba sakral dan transenden. Ia ingin membaca penderitaan sebagai fenomena yang sepenuhnya manusiawi. Ia menukik ke dalam proses-proses kejiwaan yang mempengaruhi perilaku kita dalam kehidupan, membuka "topeng-topeng" kita, dan menjawab pertanyaan "mengapa hal ini terjadi.

Pemateri Ardi Boang (Boim) pada diskusi Klab Baca Minggu Sore pada 12 Oktober 2014 melukiskan masokisme (cinta) dengan membuka diskusi melalui kisah versi dari salah satu novel tentang tanda cinta iblis yang begitu besar pada Tuhan yang mewujud dalam kepatuhan mutlaknya untuk tidak mau menyembah Adam yang manusia. Dengan konsekuensinya yang sangat besar iblis menjalani semuanya hingga api neraka dirasanya sebagai api cinta. 

Dalam keseharian, kita bisa melakukan apa saja atas nama cinta,walau dalam prosesnya ada rasa sakit yang harus dijalani.  Diskusi juga berlanjut dengan wacana bahwa tidak semua manusia bisa mengalami apa yang diberi judul cinta. Hingga ada ungkapan bahwa cinta butuh pengorbanan. Bagaimana pengertian pengorbanan kemudian? Apakah bila didasari rasa yang tulus segala tindakan yang disebut pengorbanan masih disebut pengorbanan juga? Bagaimana juga dengan segala apa yang kita sebut ritual? Bentuk tanda cinta masokis jugakah?

Menarik memang melihat bagaimana pendekatan masokisme secara tidak sadar kita pratekkan dalam kehidupan sehari-hari.



~ Ardi Dg Boang
~ Ping
Google Twitter FaceBook

Sunday, September 14, 2014

Bincang-Bincang Novel "Bandar" bersama Zaky Yamani

Klab baca kali ini berlangsung di hari Sabtu 13 September 2014 dengan mendatangkan Kang Zaky Yamani untuk membincangkan karya novelnya yang berjudul “Bandar”.

Novel ini kental dengan nuansa Bandung. Penulis yang memang begitu mengenal Bandung, lahir dan dibesarkan di Bandung; juga profesi kesehariannya sebagai jurnalis memiliki data base Bandung dengan cukup lengkap untuk menjadikannya bahan tulisan.

Bertutur tentang kisah perjuangan sebuah keluarga tiga generasi dengan latar cerita masa paska kemerdekaan, saat bangkitnya gerakan Darul Islam khususnya di Garut Jawa Barat. Dibalut dengan (meminjam ungkapan Mas R.E. Hartanto dalam tulisan resensi blognya tentang novel ini) aksi laga dalam dunia preman dan mafia, penuh intrik dan kekerasan. Walau secara garis besar novel ini lebih bercerita tentang sebuah kisah tragedi.  

Berangkat dari gagasan untuk menggambarkan sesuatu tentang Bandung yang belum pernah atau jarang diungkap. Dengan bekal penulis yang lahir dan besar di lingkungan yang kental dengan sisi gelap dan keras kota Bandung, citra ruang Bandung yang dikenalnya dalam kehidupannya adalah citra ruang Bandung yang keras. Zaky menjadi saksi hidup yang merekam sebagian momen-momen kerasnya salah satu tekstur kehidupan Bandung.

Novel Bandar ingin menangkap realita yang dituangkan dalam cerita fiksi. Perlu proses sepuluh tahun (2002-2012) waktu yg dibutuhkan Zaky untuk menyusun naskah novel yang melibatkan kisah latar sejarah yang merentang sejak masa DI/TII, momen 1965, Orde Baru, hingga krisis ekonomi menjelang Orde Reformasi. Ada sosok Dewi dalam novel tokoh yang menjadi metafor, sosok imajiner Ibu Pertiwi yang mengalami  kehidupan sejak masa kemerdekaan dengan berbagai konflik. Melahirkan anak-anaknya dengan perilaku yang beringas, kasar, yang menjadi personifikasi Orde Baru yang tenang, makmur tetapi penuh dengan kekerasan. Ada juga tokoh generasi terakhir keluarga yang bernama Parlan, merupakan perwakilan generasi masa kini. Generasi yang tidak mau tahu atau yang buta sejarah panjang keluarga. Generasi yang ketika diwarisi sesuatu, generasi ini gamang, tidak tahu harus berbuat apa. Langkah yang diambil untuk masa depannya tidak berpijak pada apa pun kecuali imajinasi-imajinasi tentang apa yang dirasa lebih baik. Karenanya novel ini bercerita tentang seorang bapak (Gopar) yang menceritakan sejarah keluarganya tentang mengapa bisnis keluarganya itu harus diteruskan. Usaha yang bukan semata bisnis. Usaha yang menjadi akar di mana darah dan daging di mana sebuah individu dalam keluarga tumbuh. Sejarah panjang yang tidak tiba-tiba saja muncul. Ada jalan nasib yang diambil Sang Emak (Dewi) yang menentukan jalan hidup dua generasi setelahnya.

Menurut Zaky, konflik-konflik yang dituturkan oleh sejarah formal seringkali berbeda versi, memiliki rasa yang beda dengan apa yang dirasakan oleh orang biasa. Tokoh-tokoh dalam novel merupakan orang-orang biasa yang tidak terlibat dalam konflik politik secara langsung, tetapi mereka berada di antara konflik itu. Seperti dituturkan dalam novel bagaimana orang-orang biasa itu menyiasati situasi perbenturan antara kaum pemberontak dan tentara yang mewakili negara dan mereka terjepit di tengah-tengah.  Tentang bagaimana mereka harus bertahan hidup. Sebab sejarah selama ini hanya mengisahkan para tokoh besar dan abai untuk bisa mengisahkan kisah dari sisinya yang lain. Sejarah akan lebih mudah diapresiasi bila ditempatkan dalam format kisah, cerita karenanya.

Sebuah tulisan (dalam novel yang baik) merupakan bentuk tangkapan momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia. Sebab di sana melibatkan proses refleksi untuk bisa melahirkan sebuah kedalaman. Mengapresiasi sebuah karya novel, sastra, seni; secara umum mengenalkan dan membuka realita baru untuk kita tidak mudah memandang, menghakimi sesuatu secara hitam putih. Seorang Zaky Yamani dengan jiwa seorang jurnalisnya membawanya untuk berpihak pada mereka yang kalah oleh kehidupan. Bahwa ada proses panjang dalam hidup apa yang kita sebut seorang penjahat. Mungkin kita yang menjadi bagian dari lingkungan masyarakat turut terlibat membentuk diri mereka yang seperti itu. Bahwa tidak ada orang yang terlahir sebagai penjahat.  Penjahat itu diciptakan masyarakat dan budaya yang mengiringinya, ketidakadilan, serta sempitnya kesempatan untuk hidup layak.

Mencuplik pandangan Karl Marx tentang bagaimana peran seni (yang bisa teraplikasikan juga dalam karya tulis novel), bahwa fungsi sejati dari seni adalah kritik sosial. Seni seharusnya membuat orang memahami dengan cara yang lebih mendalam mengenai apa yang tidak beres, apa yang salah, dalam masyarakat di mana mereka tinggal, dan apa saja yang tidak beres dalam relasi mereka dengan masyarakat, dan apa yang salah dengan hidup mereka sendiri. Novel Bandar mengajak kita untuk terjun menghayati realita yang sedemikian. Kalau para filsuf selama ini sibuk menafsirkan dunia dengan berbagai macam cara, sebuah karya seni/sastra justru menjadi ujung tombak untuk bagaimana mengubah dunia karenanya. Semoga.
~ Ping





Google Twitter FaceBook

Thursday, September 4, 2014

Klab Baca: Utopia

Minggu sore 17 Agustus 2014, Klab Baca Minggu Sore mengambil tema diskusi Utopia dengan Gingin Gurmilang sebagai pemasalah mengangkat tema kecil tentang Venus Project yang digulirkan oleh Jacque Fresco.

Situasi ketidakidealan membuat manusia  terus membuat konsep.  Ketika sebuah konsep yang dianggap ideal dilaksanakan dalam dunia praktis akan lahir konsep anti tesisnya. Titik ideal yang semula hampir teraih kemudian menjauh.

Suatu ide disebut utopia atau tidak hal yg menentukannya adalah soal cara. Kalau cara pencapaiannya sudah ada maka bukan disebut lagi utopis.

Ada banyak masalah-masalah serius yang dihadapi oleh masyarakat modern kita, diantaranya tindak kriminal, pengangguran, populasi yang meledak, kemiskinan, perang ,sampai rusaknya ekosistem. Namun usaha yang kita lakukan seakan hampir tidak memberikan dampak yang benar-benar terasa dan menyeluruh. Venus Project yang didirikan di Venus, Florida, Amerika Serikat oleh seorang Insinyur bernama Jacque Fresco adalah proyek penelitian yang menawarkan sebuah rancangan peradaban yang tertata dengan sangat mutakhir dan menawarkan solusi yang lebih baik melalui pengembangan dan penerapan teknologi yang sudah berkembang dengan pesat. Seperti menggantikan kendaraan dan mesin bertenaga minyak yang mulai langka, mahal, terbatas, dan merusak lingkungan dengan listrik yang sumbernya hampir tidak terbatas (angin, ombak, panas bumi, matahari, dll.) serta merancang sebuah kota yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan terotomatisasi dengan mesin sehingga memungkinkan terjadinya dunia tanpa uang, pemerintah, dan hukum.

Dengan dasar keberlimpahan sumber daya alam tanpa perlu diperjual belikan atau ditukar, mesin yang diprogram otomatis untuk melayani masyarakat dalam sebuah kota dan untuk mencegah prilaku kriminal dan lingkungan buruk yang menyebabkan manusia berbuat jahat. 

Semua itu dapat terjadi bila kita mempunyai kesadaran untuk bekerja sama membangunnya bersama dan tidak perlu bersaing untuk memenuhi kebutuhan karena menurut Fresco, kelangkaan adalah mitos yang membuat sistem yang sudah usang ini terus berputar. Sistem peradaban ini sangat mendukung agar manusia mempunyai tujuan lain dalam hidup agar tidak sekedar memenuhi kehidupan, melainkan agar terus belajar untuk membuat masyarakat, manusia, dan alam lebih baik serta memahami eksistensi kehidupan mereka. 
Venus Project hanya menawarkan rancangan belaka yang sebetulnya memang terkesan utopis dan futuristik, namun sangat mungkin bisa dilaksanakan jika kesadaran masyarakat telah bangkit secara masal.

Ketika kesalahan diminimalisir atau hampir dinihilkan, lalu apa yg menjadi tempat belajar bagi manusia? Apakah manusia masih mengerti konsep salah dan benar?

Venus project hanyalah perangkat. Satu modal utama untuk konsep Venus Project ini bias terealisasikan, sebagaimana konsep-konsep ideal Anarko bisa diaplikasikan sepertinya dibutuhkan kesadaran bersama tentang konsep ini di setiap kepala para warganya. Akan menjadi lebih mudah bila populasi terbilang kecil, sedikit. Lalu kemudian di tengah arus dan atmosfir dunia hari ini dengan melibatnya keserakahan manusia dengan alam hidupnya yang kompetitif bagaimana menanamkan kesadaran di tiap-tiap kepala dan tetap terjaga konsistensinya?

~ ping


Google Twitter FaceBook

Wednesday, September 3, 2014

Menghidupkan Kembali Klab Baca di Sabtu Sore

Di bulan September 2014 ini, Tobucil & Klabs memulai kembali kegiatan diskusi santai di Sabtu sore dengan nama Klab Baca. Klab Baca bukanlah klab baru dan asing bagi Tobucil. Klab Baca adalah klab pertama sekaligus program regular pertama di Tobucil dan pertama kali digelar pada bulan September 2002 (12 tahun yang lalu) setiap hari minggu sore, ketika Tobucil masih beralamatkan di Jl. Ir. H. Juanda No. 139a (Trimatra Center) Bandung. Saat itu, Klab Baca berfokus pada obrolan seputar buku dengan pendekatan ringan dan santai. Siapa pun dari berbagai usia dan kalangan dapat bergabung dengan kegiatan ini.

Kegiatan Klab Baca sempat vakum ketika Tobucil mengalami perpindahan tempat dari Trimatra ke Kyai Gede Utama (tahun 2003) dan ke Jalan Aceh (tahun 2007), waktu vakum yang cukup lama. Kevakuman itu salah satunya disebabkan oleh pembagian kegiatan yang spesifik sesuai tema. Klab Baca sempat mengalami pengerucutan tema menjadi Klab Baca Pramoedya yang secara spesifik lebih membahas dan mengkaji karya-karya penulis Pramoedya Ananta Toer. Ketika kegiatan Klab Baca Pramoedya berubah wadah menjadi Pramoedya Institut, kegiatan Klab Baca mengalami kevakuman panjang. Klab yang mewadahi kegiatan diskusi di Tobucil lebih banyak diwakili oleh kegiatan klab lainnya, yaitu Madrasah Falsafah yang kemudian berganti nama menjadi Klab Filsafat. 

Dinamika kegiatan Klabs di Tobucil, membawa Klab pada pasang surutnya ketika beradaptasi dengan konteks dan situasi yang ada. Format kegiatan berubah mengikuti daya hidupnya. Seiring perubahan dan perkembangan yang terjadi di Tobucil, akhirnya pada bulan September 2014, Klab Baca di hidupkan kembali untuk mewadahi kegiatan-kegiatan diskusi dan pembahasan. Klab Baca kemudian tidak hanya berfokus pada pembahasan buku, namun tema-tema yang lebih luas yang bisa dijadikan bahan kajian. Tema-tema yang biasanya dibahas di Klab Filsafat bisa  di bahas di Klab Baca, begitu pula pembahasan-pembahasan buku/karya. Tobucil ingin mengembalikan lagi definisi membaca ke dalam arti yang lebih luas, bahwa membaca tidak hanya sebatas apa yang tertulis pada teks (teks tentu saja menjadi landasan) namun membaca fenomena, persoalan-persoalan di sekelilingnya menjadi penting untuk membangun pemahaman yang lebih utuh. 

Selamat bergabung kembali di Klab Baca, setiap sabtu minggu ke 2 & 4 Pk. 15.00 WIB

Salam hangat,
Tobucil & Klabs
Google Twitter FaceBook

Friday, March 21, 2014

DIY Simple Science with HackteriaLab!

Tepat hari Kamis kemarin, tobucil kedatangan tamu dari Swiss. Mark yang akrab disapa Marjono karena lama tinggal di Jogja ini mempresentasikan dirinya sebagai wakil dari komunitas Hackteria. Apa itu Hackteria? Pada mulanya kami juga bingung untuk beberapa saat, namun setelah Mark menjelaskan, kami lalu ber “ooooo...” ria.


Kebanyakan orang ketika mendengar kata science pasti akan langsung berkerut kening. Mengingat bahwa ketika di sekolah dahulu pelajaran kimia, fisika, dan pelajaran lainnya yang berscience gampang sekali membuat kita pusing kepala. Hahaha. Mark sebagai penggila per-science­-an sangat tidak setuju pada hal itu. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuat hatinya tergerak untuk membuka wawasan orang-orang bahwa “Hey, science isnt so hard. It is simple and fun.” Ucap bule gondrong itu.

Mark, kanan berkaos coklat
Setelah berkeliling dari kota ke kota di seluruh dunia untuk mempresentasikan apa yang dibawanya, Mark akhirnya bertandang ke Indonesia. Berawal dari pertemuan dengan Ucok penggiat organisasi Life Patch yang juga bergerak di bidang citizen initiative in art, science and technology maka cocoklah sudah, Mark akhirnya bergabung. Berhubung topik yang dibawa olehnya sangat pas untuk kebutuhan di negeri kita tercinta ini.

Mark beserta teamnya membawa beberapa alat sederhana – yang bagi orang awam seperti saya sempat bertanya-tanya, apa alat itu sebenarnya? – dari bahan-bahan recyle yang ternyata dapat menciptakan alat baru yang luar biasa.


Pada awal diskusi Mark memperkenalkan komunitas Hackteria, dia memperlihatkan hasil kunjungannya ke suatu sekolah di Indonesia saat mengajarkan siswa-siswanya untuk membuat Hardware dari bahan CPU tak terpakai namun menjadi Hardware yang berguna bagi CPU lainnya, setelahnya ia memperagakan alat-alat ciptaannya satu per satu. Yang pertama adalah mikroskop. Bukan sembarang mikroskop loh, alat ini dibuat Hackteria dari webcam biasa. Webcam yang banyak terdapat di laptop atau bahkan kamera smartphone teman-teman sekalian. Amazing! Lalu alat transport suara. Bentuknya kecil, hanya terdiri dari batere, chip-chip kecil, dan voala. Sentuhkan satu jarimu di plat kuningan dan satu jarimu yang lain di tempat manapun maka akan keluar suara yang berbeda-beda. Lalu ada ikan-ikan, ternyata eh ternyata ikan itu Mark bawa bukan karena dia memeliharanya, namun ternyata ikan itu adalah sumber energi penghasil listrik!

Mark memperagakan kamera mikronya.
Berbagai macam perangkat Mark tampilkan dalam diskusi kemarin, selain menimbulkan kekaguman, kita pun menyadari bahwa ternyata science tidaklah serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa membuatnya sendiri dari bahan-bahan disekitar kita. J

Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :)
Setelah tiga jam terpesona oleh presentasi Mark, diskusi pun selesai ditutup dengan performance Larry Bang Bang, sang tattoo artist unik yang menerapkan bakat briliannya dengan menggunakan BOR! Tentu saja, para peserta yang hadir langsung mengantri untuk mencoba bor tatonya Lary. :D

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin