20.7.07

Madrasah Falsafah Sophia di Tobucil

Mulai 16 Juli lalu kegaitan baru di tobucil baru, mulai dilaksanakan. Namanya Madrasah Falsafah Sophia. Kegiatan ini terbuka untuk umum. Gratis. Setiap Rabu Pk. 17.00 - 20.00.

Jangan bayangkan bahwa berfalsah kening harus berkerut dan pandai mengutip kata si ini kata si itu. Saat kita memikirkan bagaimana memaknai hidup ini, tanpa kita sadari kita tengah berfalsafah dalam hidup kita sendiri. Akan lebih menyenangkan jika kemudian kita bertemu banyak teman yang bisa kita ajak bertukar pikiran. Jangan ragu untuk gabung di Madrasah falsafah ya..

****


MADRASAH FALSAFAH SOPHIA
“BERFILSAFAT DARI KEHIDUPAN SEHARI-HARI”


--dalam dialog Socrates, setiap jawaban memunculkan pertanyaan; sedang dalam dialog resmi ilmiah setiap pertanyaan menghasilkan jawaban.

Socrates menjadikan kehidupan sehari-hari sebagai dasar dan tujuan kegiatan berfilsafat. Tidak ada istilah yang ruwet dalam kegiatan berfilsafat a la Socrates. Semua orang bisa melakukannya.

I. Mengapa Jalan a la Socrates yang Ditempuh?
1. Semua orang memiliki dunia kehidupannya. Dunia kehidupan ini belum tentu telah dijalani dengan baik sehingga menghasilkan kebahagiaan yang tulus. Bisa saja dunia kehidupan itu dilakukan dengan terpaksa atau menuruti kebiasaan orang kebanyakan. Dengan merunut pada kebiasaan awam semisal itu, bisa dipastikan tidak dapat menghasilkan kebahagiaan. Inti dialog adalah melahirkan kesadaran hidup baik dari diri sendiri dan kawan bicara. Bagaimana orang harus hidup merupakan urusan semua orang, karena itu dialog dengan tujuan hidup baik penting bagi siapapun.
2. Semua orang memiliki kegelisahan akan kehidupan yang terus-menerus dibayangi kegelisahan atau ketidakpuasan. Namun ketidakpuasan ini jarang terungkap, seringkali kita menganggapnya sebagai gejala kejiwaan yang biasa-biasa saja. Jadi tak pernah dipersoalkan. Lama kelamaan ketidakpuasan itu terus menumpuk dan menghasilkan kesadaran palsu, kita jadi teramat pemarah tanpa alasan yang jelas atau menjadi sangat pemalas. Kita jadi pemarah karena ketidakpuasan yang telah menumpuk itu tak menemukan cara pembebasannya, ia terkurung dan ingin diekspresikan. Namun sekianlama tidak dibahasakan membuat kesadaran itu menjadi sulit dipahami. Pada saat itu yang muncul adalah emosi-emosi yang tak juntrung sebabnya. Demikianpun dengan rasa malas, biasanya rasa malas bermula dari keputusasaan: karena hidup selalu tidak memuaskan maka tak perlu lagi ada usaha. Dialog model Socrates merupakan pembebasan.
3. Semua orang memiliki pertanyaan terhadap dunia kehidupannya. Juga memiliki sejumlah gagasan dan impian mengenai bagaimana cara hidup yang bahagia. Metode Socrates membutuhkan kejujuran terhadap apa yang dialami, dipikirkan dan dilakukan untuk dikemukakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dan rumusan-rumusan sederhana. Metode Socrates tidak membutuhkan pertanyaan yang ruwet atau jawaban yang ilmiah. Pertanyaan/jawaban yang baik adalah pertanyaan/jawaban yang berasal dari pengalaman kehidupan. Pertanyaan/jawaban yang berdasar teori merupakan kebiasaan kaum sofis, ini ditentang oleh Socrates.
4. Saat ini kita sebenarnya hidup di tengah kerumunan ”masyarakat Sofis”. Ada banyak barang yang kita gunakan bukan berdasar kebutuhan kita terhadap barang tersebut, namun karena kemasan iklan yang merayu secara cerdik. Misalnya, karena di kepala kita sudah tertanam bahwa “hanya yang ilmiah sajalah yang benar, hanya yang telah diuji di laboratium sajalah yang benar” maka kita tertarik untuk membeli detergen tertentu setelah melihat iklan yang sedemikian ilmiah. Ingat ungkapan Kaum Sofis, “kebenaran atau kesalahan tergantung pada pengolahan kata-kata”. Seluruh iklan itu pada dasarnya cara pengolahan barang agar terkesan lebih berkualitas ketimbang barang lain yang sejenis, walaupun belum tentu demikian.

II. Bagaimana Cara Melakukan Dialog a la Socrates?

Untuk kepentingan MADRASAH FALSAFAH buku karya Christopher Philips, yang berjudul Socrates Café, dapat dijadikan rujukan utama. Christopher Philips mengajak kita semua untuk mengaplikasikan kembali metode Socrates dalam kehidupan sehari-hari. Mengenai metode ini Philips menuliskan:
1. Metode Socrates bisa disebut sebgai metode elenchus, artinya penyelidikan atau uji silang. Melalui penyelidikan seseorang secara jujur memeriksa kesadaran yang dimilikinya dan melihat konskeunsi yang dihasilkan dari kesadaran itu. Jika ternyata konsekuensinya mengarah pada ketidakbahagiaan, keyakinan itu harus dirumuskan kembali.
2. Dialog Socrates meminta kita untuk secara rela memeriksa seluruh kebenaran yang selama ini kita yakini, juga segala hal-hal yang selama ini dianggap remeh.
3. Dialog Socrates menegaskan bahwa kearifan tidak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan kawan dialog (bukan lawan) untuk setiap pencarian kebahagiaan. Kawan dialog ini secara kritis terus memberikan pandangan lain dari dalam dirinya. Pandangan lain itu bisa berbentuk hipotesis, keyakinan, dugaan atau teori-teori yang ditawarkan kawan dialog; kesemuanya menjadi cermin bagi seluruh keyakinan kita. Seluruh ketidaksetujuan dan penentangan merupakan cermin yang sangat dibutuhkan agar kita bisa berkaca dan menemukan cacat dari kesadaran yang selama ini dianggap telah sempurna.
4. Untuk bisa mencapai dialog model Socrates dibutuhkan kejujuran dari semua peserta dialog. Melalui kejujuran orang akan sering memeriksa keyakinannya sendiri, karena kejujuran akan mengatakan bahwa “saya tahu bahwa saya tak tahu” atau “saya sadar bahwa keyakinanku bisa salah kaprah”. Kejujuran pula yang membuat kita bisa berdialog dengan rendah hati; kita bisa menerima dengan tulus apa pun yang dikemukakan orang lain walaupun berbeda atau bertentangan dengan kepercayaan kita sendiri.

Socratesisasi Kelompok
1. Buatlah kelompok dialog, yang secara sukarela mau mengobrolkan persoalan-persoalan keseharian dan keyakinan secara terbuka.
2. Mulailah dengan tema-tema sederhana, misalnya tentang rumah, pacaran, kerja, tetangga, belajar, dll.
3. Buatlah dengan pertanyaan-pertanyaan, seperti: apa maksudnya? Siapa yang setuju dan siapa yang menentang hal itu? Adakah cara-cara lain untuk memikirkannya, yang lebih masuk akal dan lebih dapat untuk terus dipertanggungjawabkan? Seluruh pertanyaan diupayakan untuk terus-menerus menggali konsekuensi-konsekuensi gagasan tertentu dan kemudian menawarkan alternatif dan keberatan yang menantang.
4. Seluruh sanggahan, rumusan, pertanyaan, dan komentar peserta dialog sangat berharga. Jadi tak ada satupun yang dianggap remeh, semuanya berharga bagi perbaikan kesadaran masing-masing peserta dialog.
5. Jika dialog tersebut tidak menyentuh kesadaran kita, tidak menyusahkan secara mental dan spiritual tidak menantang dan membingungkan dengan cara yang indah dan menggairahkan, dialog tersebut bukanlah dialog Socrates.

Socratesisasi Individual

1. Jika tidak bisa memiliki kelompok, mulailah menyiapkan mental untuk selalu membuka diri terhadap pelbagai macam pengalaman orang lain. Bisa dilakukan dengan cara berdialog langsung dengan orang-orang di sekitar kita, atau dengan membaca buku, menikmati karya seni dan lainnya.
2. Pengalaman orang lain (siapapun dia, apapun derajat sosialnya, apapun agamanya) dianggap sebagai cara pandang alternatif yang bisa jadi berguna bagi perbaikan kesadaran kita. Hanya saja, agar kita tidak mudah terpengaruh oleh pelbagai pandangan yang berbeda kita harus terus-menerus kritis. Kita harus menanyakan alasan apa yang mendukung atau menentang masing-masing pandangan yang berbeda itu.
3. Socratisasi secara individual sebenarnya lebih susah, namun bukan tak mungkin dilakukan. Salah satu sebabnya adalah kita harus terlebih dahulu memeriksa kesadaran-kesadaran yang selama ini diyakini, lalu memilih salah satunya untuk diperbincangkan dengan pengalaman orang lain. Berbeda jika dalam kelompok, kita bisa mendapatkan bahan pembicaraan dari peserta dialog, bahan-bahan yang semua dianggap remeh tetapi kemudian disadari sebagai hal yang penting untuk diperiksa kembali. Untuk mengatasi kesulitan itu, lakukanlah dialog secara santai (tidak memaksakan tema yang telah disediakan). Biarkanlah arah dialog melaju ke wilayah yang tak terduga, asalkan menghasilkan kesadaran baru.
4. Kejujuran, keterbukaan, berpikir rasional dan daya imajinasi sangat dibutuhkan dalam seluruh proses dialog. Kejujuran dan keterbukaan mengantarkan kita untuk menghargai semua kebedaan dan perbendaan. Berpikir rasional menjaga kita dari kepercayaan tanpa alasan. Sedangkan daya imajinasi membuat kita bisa menghubungkan apa-apa yang dibicarakan orang lain dengan apa yang kita bicarakan dan kita lakukan.

Contoh Dialog a la Socrates, Petikan Dialog dari Buku Socrates Café:
(percakapan antara Philips dan seorang dokter)

“Anda berasal dari mana?”
“Saya tinggal di Roma selama bertahun-tahun. Saya seorang dokter anak di sana. Tetapi saya tidak menganggap tempat itu sebagai rumah saya”.
“Apakah Anda berasal dari Jerman?”
“Dalam arti tertentu, ya. Saya dilahirkan di sana. Tetapi saya rasa dalam kenyataannya saya tidak pernah benar-benar memiliki rumah. Saya tidak yakin apakah yang disebut rumah itu memang ada”.
Rumah tidak ada? Saya tidak mendesak agar ia menjelaskan pernyataanya saat itu juga karena sudah saatnya Café Socrates dimulai. Ruang tempat kami berkumpul bersifat informal, hampir seperti di rumah sendiri. Ruang itu bermeja antik berbentuk bundar, dengan taplak kain berwarna putih cerah dan kursi-kursi berbantal yang nyaman.
“Apa itu rumah?” Saya bertanya kepada sekitar tiga puluh peserta atau lebih yang ada di ruangan itu, sambil bertukar pandang dengan wanita yang berbicara dengan saya tadi. Pada saat yang bersamaan ia tersenyum dan mengerutkan dahi padaku.
Wanita yang duduk persis di sebelahnya, sebut saja “Mildred” berkata, “Saya akan mengatakan pada anda apa yang bukan rumah itu?”. Sambil menepukkan tangannya pada kursi tempat ia duduk, ia lalu mengatakan dengan penuh perasaan, “Tempat ini bukan rumah saya, satu-satunya alasan mengapa saya di sini adalah bahwa anak-anak saya membuang saya ke sini. Saya ingin berada di tempat lain di manapun kecuali di sini.”. Kemudian ia sedikit mengenang masa lalunya di New York. Dengan kebanggaan yang sangat kentara itu, ia mengatakan bahwa ia pindah ke sana enam dekade yang lalu untuk menjadi seorang pekerja sosial. Hal itu bertentangan dengan harapan keluarganya, “saya meninggalkan rumah yang besar dan nyaman di Midwest atas pilihan saya sendiri dan membangun rumah baru untuk diri saya sendiri di Bronx”. Ia hampir kelihatan bersinar penuh kebanggaan ketika mengatakan hal itu. Lalu ekspresinya tampak meredup kembali. Ia memandang semua orang di dalam ruangan itu, “Tetapi saya tidak berada di sini karena pilihan saya sendiri. Maka, ini bukan rumah saya sendiri. Rumah adalah tempat yang anda pilih untuk hidup”.
Alex : Sangat sedikit di antara kita yang memiliki kemewahan untuk memilih di mana kita hidup. Saya hidup di tempat di mana saya dapat menemukan pekerjaan dan menyediakan rumah yang nyaman bagi istri dan anak-anak saya.
Anne : “Rumah adalah tempat di mana anda tidur. Tempat ini adalah tempat di mana saya tidur. Tempat ini adalah rumah saya.”
Lalu Mildred berteriak, “Berapa orang di antara anda yang merasa bahwa tempat ini adalah rumah anda?”
Hanya tiga orang yang mengacungkan tangannya, dan mereka melakukannya dengan ragu-ragu. “Saya harus mengakui bahwa saya terkejut karena sedikit sekali di antara anda yang menganggap tempat ini sebagai rumah anda,” kata Anne.
“Tempat ini adalah salah satu rumah saya, “ ujar Susan (wanita berambut abu-abu cerah terurai sebatas punggung), “saya juga masih punya rumah di Florida”.
“Apakah anda tinggal di rumah-rumah itu secara bergantian,” tanya saya.
“Tidak sih, tetapi saya tidak pernah merencanakan untuk menjualnya. Selama saya memiliki rumah itu, saya merasa bahwa saya masih memiliki rumah di sana”, Susan berhenti sejenak. “Bagaimana dengan ungkapan ‘buatlah diri anda kerasan seperti di rumah sendiri?” Hal itu membuat saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, ‘Dimanakah saya dapat kerasan seperti di rumah sendiri? Sekalipun saya telah tinggal di sini selama beberapa tahun, tempat ini masih saja terasa sebagai bangunan tempat tinggal semata. Di sini saya masih merasa seperti ketika dulu saya pertama kali pindah ke rumah saya di Florida. Bulan pertama saya tinggal di sana, rumah tersebut masih semata-mata merupakan bangunan tempat tinggal. Diperlukan waktu beberapa lama untuk menjadikan bangunan itu sebuah rumah – tidak hanya bangunan rumahnya namun keseluruhan tempat itu. tapi akhirnya rumah tersebut lebih dari sekadar rumah –rumah tersebut menjadi tempat saya belajar masak, di mana saya menjalin persahabatan yang langgeng dengan beberapa teman, di mana saya jatuh cinta”. Ia berhenti sejenak, menghela nafas, “saya pikir, pada akhirnya saya akan memandang tempat itu sebagai rumah, tetapi saya belum akan memandangnya demikian. Tempat itu masih merupakan sekadar bangunan tempat tinggal”.
“Bagaimana sebuah bangunan rumah dapat benar-benar menjadi benar-benar rumah?” tanya saya, memancing.
Robert, seorang peserta yang sinis, berkata, “saya kira pertama-tama anda harus tinggal di sana. Bahkan jika ada tempat lain yang mungkin lebih anda sukai, jika anda sudah memilih

***
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin