31.8.07

Madrasah Falsafah Agustus: Dari Anak Perempuan Bapak sampai Hidup Normal

Foto dan review oleh tarlen

Pertemuan madrasah falsafah, setiap rabu rupanya tak pernah sepi peminat. Partisipannya pun beragam. Mulai dari mahasiswa, dosen, wartawan, pengangguran, pensiunan, guru. Tanggal 29 Agustus 2007 lalu, tema yang dibahas adalah 'Hidup Normal'. Seru karena ternyata batas antara normal dan tidak normal sangat tergantung darimana memandanganya. Di madrasah falsafah, semua partisipan bisa berbagi pengalaman hidupnya dan saling menarik pelajaran satu sama lain.



Sementara tema di minggu sebelumnya, 22 Agustus 2007, membahas hubungan 'Anak Perempuan dan Bapaknya'. Ada tiga orang bapak dari latar belakang yang berbeda hadir pada pertemuan kali ini: Pak Ismail, single parent yang membesarkan 3 orang anak perempuannya, punya hubungan khusus dengan anak-anaknya, sangat dekat bisa menjadi orang tua sekaligus sahabat; Pak Erik, bapak asal Amerika yang sudah lama tinggal di Bandung, punya anak perempuan berusia 17 tahun, hal yang menarik yang dia katakan di akhir pertemuan adalah: "Buat kalian anak perempuan, jangan segan untuk mengatakan apa yang kalian inginkan dari ayah kalian, karena sering kali mereka tidak tau apa yang kalian inginkan dari mereka." Sementara Pak Amrizal Salaya, seorang pematung mengaku terus terang, bahwa ia sering kali tidak tau bagaimana semestinya mengahadapi anak perempuannya. Baginya anak perempuannya seperti patung porselen, ia takut menghancurkannya.

Forum yang jarang terjadi, dimana para bapak-bapak ini bisa berterus terang tentang apa yang mereka rasakan dari hubungannya dengan anak-anak perempuan mereka, juga para partisipan yang sebagian adalah anak-anak perempuan bisa mengungkapkan harapan mereka dari seorang bapak.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin