23.8.07

Penaklukan Bahasa: Daya Hidup Bahasa Sunda di Era Pos Kolonial

Sabtu, 25 Agustus 2007, Pk. 15.00
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung

Bersama:
Mikihiro Moriyama (Profesor di Jurusan Studi Asia, Universitas Nazan, Nagoya, Jepang)

Moderator: Bambang Q-Anees

Tak jarang timbul salah paham terhadap studi Mikihiro Moriyama yang dibukukan dalam buku berjudul Semangat Baru (edisi bahasa Indonesia) terutama di kalangan orang-orang Sunda sendiri----atau mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa studi Moriyama itu sesungguhnya membuka suatu bahan perdebatan yang sangat penting perihal formasi bahasa dan sastra Sunda, khususnya dalam konteks tatanan kehidupan pada zaman kolonial. Oleh karena studi Moriyama beranjak dari kebijakan pemerintah kolonial di Jawa Barat sehubungan dengan bahasa dan sastra Sunda, dan memanfaatkan kekayaan dokumen dan literatur dari 'zaman Belanda' (baik dari Perputakaan KITLV maupun dari Universitet Bibliotheek di Leiden, dll.), sebagian pembaca buku tersebut akan mudah beranggapan bahwa studi Moriyama masih meneruskan kecenderungan Eropa sentris dalam ilmu-ilmu sosial tentang Indonesia, sebagaimana anggapan yang dikemukakan bahkan oleh Dr Edi S Ekadjati, salah seorang promotor disertasi Moriyama di Leiden yang menulis kata pengantar untuk edisi bahasa Indonesia dari buku tersebut. Selain itu, anggapan keliru yang sangat simplistik di kalangan pembaca buku tersebut, yakni anggapan yang seakan-akan melihat bahasa dan sastra Sunda merupakan 'ciptaan Belanda'. Anggapan keliru yang disebutkan belakangan ini terutama cenderung ditekankan oleh komentator yang hendak mempersoalkan 'orisinalitas' bahasa dan sastra Sunda itu sendiri.

Kenyataan historis yang menunjukkan bahwa sebelum kolonialisme Belanda merasuk ke Tatar Sunda, masyarakat Sunda dan bahasanya sendiri sudah ada, jelas tidak bisa dipungkiri. Dalam hal bahasa, misalnya, bahkan sebelum para peneliti, sarjana dan pemerintah Belanda yang dikaji oleh Moriyama memastikan bahwa memang ada yang disebut 'bahasa Sunda', orang Inggris yang bernama Jonathan Rigg pada 1862 telah mempublikasikan 'A Dictionary of Sunda Language of Java'. Demikian pula jika kita meninjau lebih jauh ke belakang, jelas bahwa jauh-jauh hari sebelum kedatangan Belanda, di Tatar Sunda sudah berkembang tradisi lisan berupa 'carita pantun', dan tradisi tertulis berupa sejumlah manuskrip tua dari abad ke-16. Dalam hal ini, kita perlu mencatat (sekali lagi) bahwa studi Moriyama itu tidak beranjak dari zaman 'carita pantun' atau 'naskah buhun', melainkan dari awal terbentuknya tatanan politik kolonial Belanda hingga menjelang berdirinya Commisie voor Volkslektur (yang kelak dikenal dengan nama Balai Poestaka itu). Dalam kaitan inilah, berdasarkan studi Moriyama, kita bisa mengatakan bahwa modernisasi bahasa dan sastra Sunda beserta segala implikasi dan konsekuensinya jelas tidak bisa dilepaskan dari dampak-dampak kolonialisme Belanda di Indonesia, khususnya pada abad ke-19.

(Pengantar ini di kutip dari email yang dikirimkan Hawe Setiawan kepada Heru Hikayat untuk kepentingan acara ini)
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin