31.8.07

Prof. Mikihiro Moriyama di Tobucil




Foto-foto diskusi tentang Daya Hidup Bahasa Sunda di Era Poskolonial, Prof. Mikihiro Moriyama bersama partisipan diskusi dalam suasana santai. Foto by tarlen

Hasil diskusi akan di update pada postingan berikutnya

Tulisan tentang Profil Mikihiro Moriyama di, Suplemen Kampus Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2007
Mikihito Moriyama
Tetap Ingin Jaga Tradisi


"Walaupun saya nanti di rumah jompo, saya tidak akan merasa kesepian. Karena sepanjang hayat saya harus terus belajar."

SENYUM yang memperlihatkan sedikit susunan gigi yang rapi kerap mengembang. Cara bicaranya santun dengan logat bahasa Sunda yang fasih. Orang pun kerap terheran-heran dengan kemampuan dari kawan dosen yang lahir di Kyoto, Jepang, pada 16 September 1960 itu.

Dia, Mikihiro Moriyama, merupakan seorang profesor pada bidang kajian Indonesia di Departemen Asian, Fakultas Studi Luar Negeri, Universitas Nanzan, Jepang. Keahliannya pada kajian sastra dan budaya Sunda.

Tahun 2005, ia membuat kalangan budayawan dan intelektual lokal mulai banyak memperbincangkan dirinya. Sebuah disertasi yang disusun selama 13 tahun berubah menjadi buku yang banyak mengundang diskursus. Buku itu berjudul "Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19" yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

"Saya hampir bosan menyusun buku itu," katanya bergurau.

Buku itu adalah buku ketujuh selama perjalanan hidup Miki. Buku tentang Sunda lainnya, misalnya, buku berjudul Sundanese Conversation (Sunda-go Kaiwa in Japanese). Selain tentang kesundaan, ia pun jatuh cinta pada karya seniman Putu Wijaya. Pada tahun 1998, mengalihbahasakan karya Putu berjudul Telegram ke bahasa Jepang.

Karya-karya itu tidak akan muncul jika cita-cita kecilnya menjadi pegawai di kantor swasta perdagangan atau menjadi diplomat diteruskan. Jika saja ia tidak bertemu budayawan Sunda, Ajip Rosidi, di salah satu kelasnya, mungkin Miki membuat karya lain.

Tinggal di kampung

Miki, pemuda desa dari Ayabe. Ayahnya adalah seorang pekerja kantor pemerintah. Ia menyebut pekerjaan di kantor pemerintahan sebagai pekerjaan yang statis dan tidak berkembang. Miki muda tidak ingin seperti itu. Ia ingin bekerja di kantor perdagangan swasta agar bisa naik pangkat.

Ia ingin keluar negeri, tetapi masih di kawasan Asia. Ia mencari negeri dengan pelajaran bahasa yang mudah dipahami. Lantas pilihan pun jatuh pada pengajaran bahasa Indonesia.

"Kawan-kawan di sana menyebut aneh. Kenapa saya pilih Indonesia?" tutur Miki.

Wajar pertanyaan itu muncul. Sejak Restorasi Meiji, Jepang sudah bercita-cita setara dengan negeri-negeri Barat dan ingin menjadi nomor satu di Asia. Oleh karena itu, banyak anak muda Jepang yang belajar ke Eropa dan Amerika Serikat. Jika ada pilihan yang tidak pada kedua wilayah itu, maka akan disebut aneh.

Namun, Miki tidak menggubris pendapat itu. Menurutnya, perjalanan ke negeri yang tidak pernah tersentuh seperti Indonesia merupakan tantangan. Tantangan itu akan membawa pada berkah pengetahuan dan pelajaran yang berlimpah. Untuk itu, ia masuk Department of Indonesian, Osaka University of Foreign Studies.

Tahun 1980, Miki pergi melihat negeri yang tak pernah dilihatnya. Modal uang 200 ribu yen hasil kerja sambilan sebagai pemandu wisata, satpam, pedagang buah di supermarket sampai guru privat.

"Tahun 1980-an, saya jalan-jalan sebulan ke Bali, Tana Toraja, Yogyakarta, sampai Bandung. Dan, saya hanya sendirian di pesawat Singapore Airlines menuju Indonesia," ujarnya mengenang.

Kembali ke Jepang, ia bertemu dengan Ajip Rosidi yang mengajar di salah satu kelasnya. Identitas Sunda yang melekat pada diri budayawan itu memberi inspirasi untuk mengenal tentang Sunda lebih dalam. Melalui dorongan (alm) Prof. Kenji Tsuchiya, ia memilih Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai awal membuka tabir budaya Sunda. Di kampus ini ia mendapat bimbingan dari tokoh Sunda ternama (alm) Edi S. Ekadjati.

"Saya melihat sosok Ajip Rosidi (budayawan Sunda). Integritasnya terhadap budaya Sunda memberi inspirasi kepada saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang Sunda," ujar Miki pada Kampus saat berbincang di teras kamar penginapannya yang asri, Jumat (24/8),

Modal beasiswa Rp 75 ribu per bulan, ia manfaatkan benar. Kuliahnya dijalani seminggu sekali, Miki lebih banyak mencari seniman, budayawan, dan wartawan yang memahami budaya dan bahasa Sunda. Bahkan, ia rajin ikut rombongan tari jaipongan sampai ke pelosok Jawa Barat.

Tidak cukup bergaul di Kota Bandung, Miki memilih tinggal di kampung bernama Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat. Selama 6 bulan ia belajar bahasa Sunda, adat istiadat, sampai mengaji setelah magrib. Apakah pindah agama? Tidak, ia belajar untuk mengetahui budaya masyarakat lokal.

Dari Wanayasa, ia ke Cianjur sampai ke Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Dari sana ia bisa belajar menghayati kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Menghargai alam sebagai tempat hidup yang mesti dijaga keseimbangannya dan dijauhkan dari pengeksploitasian berlebihan. Hubungan manusia yang tidak berlandaskan kepentingan sesaat, tetapi corak kebersamaan dan toleransi sebagai individu untuk saling membantu.

Hal itu ia tidak dapatkan jika berada di kota besar. Antara kota dengan desa seperti dua negara yang berbeda. Kesederhanaan desa dengan glamor kota merupakan dua wilayah kontras yang kasat mata. Akan tetapi, ia tidak menyembunyikan bahwa kekuasaan uang pun larut di ibu kota kabupaten yang dekat dengan kota besar.

**

MIKI duduk tegap di kursi nomor dua dari belakang. Pembawaannya tenang, tetapi tidak lepas memandang tiap wajah anak-anak kelas V di SD Negeri Soka, Bandung, Jawa Barat. Senyumnya tak pernah lepas menghias wajahnya ketika anak-anak balas memerhatikannya.

Belakangan ini, dia sering datang ke sekolah-sekolah dasar dan menengah. Ia mengamati metode pengajaran bahasa Sunda di sekolah sekaligus mencari tahu bahasa pengantar anak-anak jika berada di rumahnya. Data-data ini untuk persiapan bukunya yang terbaru tentang bahasa Sunda.

Namun, ada hal lain yang ia perhatikan. Di Indonesia, anak-anak belajar ilmu pengetahuan seimbang dengan pengetahuan agamanya, terkhusus Islam. Hal yang berbeda di Jepang yang lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dibanding agama.

Sains mengejar kebenaran, tetapi sebenarnya manusia tidak bisa mencapai kebenaran itu sendiri. Menurutnya, absolutisme kebenaran hanyalah milik pemilik jagat raya ini. Namun, tidak semua orang menyadari akan hal itu sebagaimana Miki alami sendiri di negeri lain.

Manusia, katanya, hanya bisa mendekati kebenaran itu sendiri. Manusia bisa menyadari hal ini ketika kebutuhan akan rohaninya terpenuhi. Keseimbangan antara kapasitas intelegensia dan spiritual mendorong manusia tidak ambisius, baik dalam hal materi atau apa pun. Keseimbangan akan mendatangkan kebahagiaan.

"Saya suka dengan orang Sunda di kampung karena mereka tidak ambisius. Mereka tidak menonjolkan diri mereka walaupun mereka memiliki kemampuan untuk tampil," tuturnya.

Di panti jompo

Ia mengaku, ilmu kesederhanaan dan perpaduan sains dengan agama yang ia peroleh selama penelitiannya memberi perubahan pada dirinya. Saat ini ia lebih sering bertanya bahwa dirinya terus bertanya tentang bagaimanakah manusia hidup?

Pertanyaan-pertanyaan itu lantas ia jawab dengan menekuni bidang akademis. Menurutnya, menjadi peneliti merupakan langkah untuk menjawab pertanyaan itu. Peneliti akan berjalan mendekati kebenaran dan terus mengujinya. Ruang pekerjaan akademis tidak akan terganggu oleh waktu usia menjelang tua. Walaupun nanti tinggal di panti jompo, proses menjawab pertanyaan tadi akan terus bergulir.

Sebagai akademisi, Miki tetap punya fokus yang ingin ia teruskan. Demi menjawab pertanyaan tentang makna kehidupan dirinya, eksistensinya dirasa berguna untuk mengulas tentang budaya literasi Sunda.

"Yang saya cari ilmu dan kebenaran. Dalam dua tahun, kenapa dagang tidak penting dan tidak menarik, saya ingin kembalikan apa yang saya telah peroleh dari masyarakat Sunda," katanya.

Lantas, apakah Miki mau menjadi warga negara Indonesia? "Tidak," jawabnya.

Pasalnya, sebagai anak sulung Miki punya tanggung jawab terhadap warisan nenek moyang di desanya, seperti sawah, hutan, dan makam. Termasuk tanggung jawab sebagai warga desa untuk membantu membersihkan desa setiap bulan.

Miki tetap memegang paspor Jepang, tetapi bukan berarti kehidupannya terbatas di satu tempat. Ia masih ingin berkelana untuk menjawab pertanyaannya. Hal yang bisa membawanya diam di tempat adalah tugasnya sebagai pemegang nilai tradisi nenek moyangnya.***

agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com
Google Twitter FaceBook

1 comment:

Anonymous said...

Hey, I am checking this blog using the phone and this appears to be kind of odd. Thought you'd wish to know. This is a great write-up nevertheless, did not mess that up.

- David

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin