31.3.08

Manfaat Kisah Cinta Mohammad Syafari Firdaus

-Tobucil, Rabu 26 Maret 2008-

Madrasah Filsafat

Rindu kita masih juga seperti maut itu

Perjalanan menuju rumah dalam entah

yang menyimpan senja asing

dan pesta cemas merintih, bersitahan dalam sakit

mereguk kepayang birahi

dalam geliat kelahiran di rahim sunyi

:nanar kita, abadi !

-Mohammad Syafari Firdaus-

Mas Ami sedang jatuh cinta. Jadi, senja itu, madrasah filsafat yang dijadwalkan bertema “manfaat” membahas “cukup bermafaatkah saya bagi pasangan saya dan sebaliknya?”. Agak maksa, memang, tapi tidak masalah. Tema itu membuat madrasaf filsafat lebih hidup.

Setelah seminggu sebelumnya Mas Dauz dan seni pra-sejahteranya membintangi Rabu malam, hari itu lagi-lagi dia bersinar di tengah-tengah madrasah filsafat. “Hari ini saya 35 tahun,” dia mengumumkan. Serentak masyarakat madrasah filsafat riuh bersorai. Di hari ulangtahunnya itu, khusus untuk madrasah filsafat dan pembaca blog Tobucil, Mas Dauz membagi kisah cintanya 15 dan 2 tahun terakhir.

“Saya berkubang di lubang yang sama selama 15 tahun,” begitu Mas Dauz mengawali. “Dia tahu saya masih cinta. Pertemuan dengan dia selalu jadi puisi. Bahkan waktu awal-awal, setiap minggu, puisi saya (yang tentang dia-red) dimuat di koran, termasuk puisi yang saya anggap jelek sekali.”

Saat ini cinta platonis Mas Dauz sudah menikah dan punya tiga orang anak. Meski begitu, Mas Dauz tidak merasa harus “move on”. “Kalau memang masih cinta, kenapa harus bilang sudah nggak cinta? Lagi pula saya tahu itu harga yang harus saya bayar. Saya memilih untuk mencintai dia, dan kalau pilihan itu sudah saya perhitungkan, kenapa harus menyesal?” sahut Mas Dauz patriotik.

“Apa selama lima belas tahun ini dia benar-benar the one, Mas?” tanya Tobuciler. Tahu-tahu seniman yang biasanya gahar look dan gahar attitude ini bersemu merah, … ada, sih …dua tahun lalu, saya sempat jatuh cinta yang kayak anak SMA …” Kembali masyarakat madrasah filsafat bersorai riuh, “Ayo, dong, ceritain … ,” desak semua peserta madrasah. “Waktu itu … ah, enggak ah …,” Mas Dauz semakin mengepiting rebus. Sambil geleng-geleng dia menelungkupkan kepalanya ke meja. “Ayo, dong ….”

Setelah dibujuk sedemikian rupa, akhirnya Mas Dauz mau juga bercerita. “Saya ketemu dia cuma dua kali. Waktu pertemuan pertama, sih, biasa aja. Tapi di pertemuan ke dua, baru kerasa ada sesuatu. Soalnya waktu itu kita pakai baju yang sama.” “Emang pakai baju apa?” tanya seorang peserta madrasah filsafat. “Si Dauz emang pakai apa lagi, sih,” sambar peserta yang lain. Tetapi semuanya segera kembali diam, takut Mas Dauz mogok cerita lagi. “Saat itu saya betul-betul nggak enak perasaan, keringet dingin, nggak bisa ngomong apa-apa. Jadi saya cuma ngasih buku dan bilang, ‘Ini buku untuk kamu. Dibaca, ya …’

“Waktu dia mau pulang ke Medan, saya nganter ke stasiun. Udah kebayang, tuh, mau tiba-tiba ikut ke Jakarta sama dia, nggak peduli apa yang bakal terjadi. Pasti akan sangat dramatis. Tapi kereta terus melaju dan saya diam saja. Mau bilang ‘I love you’ oge, naha teh poho (kenapa lupa-red) ? Sambil mikirin itu, saya yang harusnya naik angkot malah jadi jalan kaki terus. Bukannya ke rumah, malah sampai IP (Istana Plaza-red). Saya sempet kirim sms ‘aku padamu’ … tapi nggak dibales …” Kembali masyarakat madrasah filsfat berderai tawa.

“Tapi …,” ternyata cerita Mas Dauz belum selesai, “Saya sempet ge-er sama dia.Pada suatu kali, dia sempet sms, ‘aku mau menikah. Tapi kami jauh, beda pulau, dan baru dua kali ketemu…’ Ciri-ciri itu kan seperti saya,” cerita Mas Dauz berbunga-bunga. “Sayangnya pertanyaan terakhir dia bikin saya tremor …” lalu jeda. Masyarakat madrasah filsafat hening. Akhirnya Mas Dauz melanjutkan, “dia tanya: apakah saya percaya Tuhan?” Blarrrr …. Madrasah filsafat kembali riuh. Ada yang tertawa, ada yang melontarkan celetukan jahil, ada yang geleng-geleng kepala …

…dan ternyata, di luar forum madrasah filsafat, ada seorang pria yang diam-diam pasang telinga. Meski tampak asyik menghadap laptop, setiap kelucuan di cerita Mas Dauz membuat dia mengulum senyum. Apa kisah cinta Mas Dauz bermanfaat buat dia? Bisa kita tanyakan sendiri…

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin