16.3.08

Mengapa Kembali Konfrontasi

-Tobucil, Rabu 12 Maret 2008 –

Sore itu, setelah hujan angin mereda, Tobucil meramai. Sekelompok teman dari Japmi (Jaringan Pers Mahasiswa Independen) membahas ketidakmerdekaan di tengah negara kita yang “merdeka”. Esei “Mengapa Konfrontasi” yang ditulis Soedjatmoko menjadi pijakan.

“Masyarakat kita seolah-olah tidak bergerak lagi. Gerak-gerik yang masih ada sesungguhnya tak lain dari suatu gerak-gerik kembali, seolah-olah kita mundur kembali mencari ketentraman yang meliputi suasana sendiri yang lama, menolak dengan takut-takut segala sesuatu yang baru, kecuali jika yang baru itu menyajikan diri dengan kedok lama yang sudah dikenal. Gerak-gerik ini dilahirkan oleh ketakutan jiwa, ketakutan terhadap apa yang baru dan belum dikenal. Dan ia berakar di dalam kemandulan serta ketidakpercayaan dalam daya pencipta sendiri,” demikian Soedjatmoko menyampaikan keprihatinannya.

Teman-teman dari Japmi kuatir pola itu masih terbawa hingga saat ini. Mental tunduk terhadap kekuatan yang lebih besar masih kentara, termasuk dalam pers yang seharusnya menyuarakan kebenaran. Coba tilik bagaiman media menulis mengenai mantan presiden Suharto pasca-berpulangnya beliau. Lihat juga bagaimana sebuah media besar menampilkan iklan yang mengafirmasi bahwa lumpur Lapindo adalah bencana alam. Ironisnya, semua itu dilakukan media dengan dalih profesionalisme.

“Wah, kita harus berhati-hati, ya …,” ujar Tobuciler. “Saya kurang suka dengan kata ‘hati-hati’. Kesannya defensif. Saya lebih suka konfrontasi,” ujar Budi Yoga, salah satu teman dari Media Parahyangan. Melihat ekspresi kaget Tobuciler, Budi Yoga segera menyambung, “Tapi konfrontasi yang bagaimana dulu, nih …”

Menurut Budi Yoga, ayam yang keluar dari cangkangnya pun berkonfrontasi. Hal itu dilakukannya agar dapat terus hidup. Kita pun harus keluar dari cangkang keterjajahan agar dapat terus hidup. “Untuk keluar dari cangkang, kita harus percaya diri,” kata Budi Yoga lagi. Seperti diungkapkan Soedjatmoko, bangsa Indonesia tidak meninggalkan pola semasa penjajahan karena tidak percaya akan kemampuan dirinya sebagai bangsa. Hingga kini, bentuk ketidakyakinan diri tersebut kadang masih terlihat. Misalnya, bangsa Indonesia tahu-tahu kelojotan ketika Malaysia mengklaim Reog Ponorogo sebagai kesenian Malaysia. “Padahal kalau kita PD, sih, santai aja. Sudah jelas Reog Ponorogo tidak terlihat seperti kesenian Melayu. Kalau kita yakin diri, kita tidak takut orang lain menganggap kesenian itu bukan kesenian Indonesia,” Budi Yoga memaparkan.

Kemerdekaan dan keyakinan diri itu jugalah yang mendasari setiap bentuk kreativitas. Pun membuat eksplorasi tidak berhenti. Kembali kepada pers, jiwa merdeka dan keteguhan atas prinsip yang diyakini itulah yang membuat kebenaran tidak berhenti disuarakan. Melalui diskusi ini, sebagai sebuah lembaga yang belum jauh terjebak dalam jerat kekuasaan, pers mahasiswa diajak lebih kritis dan bertanggung jawab atas penyuaraan kebenaran tersebut.

Dan sebuah slogan klasik mengatmosfiri diskusi hari itu.

merdeka

atau …

mati !

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin