24.3.08

Merajut Masa Depan Seni Pra-Sejahtera

-Tobucil, Rabu 19 Maret 2008-

(Seharusnya) Klab Filsafat

Mohammad Syafari Firdaus alias Mas Dauz mengawali ketibaannya di Tobucil dengan kalimat ini, “Saya frustrasi dengan sastra dan hampir putus asa dengan teater!” DHUEEEERRRR !

Sore itu hujan turun seperti air terjun. Madrasah filsafat absen dan teman-teman memilih duduk-duduk mencari kehangatan di ruang belakang Tobucil. Kami pikir di sana kami akan terlindung dari hujan dan segala antek-anteknya, tidak tahunya petir menyelundup lewat gelegar kalimat pembuka Mas Dauz.

Tapi … menarik juga. Sejenak kami menghentikan ativitas dan menunggu kelanjutan tuturan Mas Dauz. Dia pun segera berbicara panjang lebar mengenai dunia sastra dan teater saat ini, kurangnya kritikus dan cengkraman pasar.

Menurut Mas Dauz, dunia kritisi sastra di Indonesia penuh hujat-menghujat. Kritik seringkali tidak membangun, alih-alih menunjuk pada hal-hal personal yang tidak terlalu berhubungan dengan karya. “Misalnya suatu kali Tarlen nulis. Bukannya bicara tentang tulisan Tarlen, orang malah ngomong, ‘Tarlen kan punyanya toko buku. Jadi dia harusnya jual buku aja’,” Mas Dauz mencontohkan.

“Jadi kritikus sastra dan teater di Indonesia memang susah. Soalnya, dari antara kesenian-kesenian lainnya, sastra dan teater masih termasuk seni pra-sejahtera. Dan saya berkecimpung di dua bentuk kesenian itu,” keluh Mas Dauz. “Akhirnya pasar mengambil alih. Mereka menciptakan konsumen dan punya ideologi : ‘juallah barang seburuk apapun barang itu’. Lalu laku atau tidak menjadi ketentuan baik atau buruk,” tambah Mas Dauz semakin frustrasi.

Mas Dauz juga mengungkapkan, terbentuknya keseragaman ekspresi akibat konstruksi yang dibangun pasar. “Membuat puisi itu gampang, tapi membuat puisi yang bagus, nggak gampang. Banyak orang menulis puisi berdasarkan trend saja. Dan semuanya kembali lagi karena masalah ini,” ujar Mas Dauz sambil menunjuk perutnya.

Teman-teman Tobucil mendengarkan Mas Dauz sambil terus merajut. Apa Mas Dauz terinspirasi ikut merajut untuk meredam frustrasi? Ketika ditanya, Mas Dauz menjawab, “Namanya juga seniman pra-sejahtera. Saya mana punya banyak waktu?” Tahu-tahu Mbak Tarlen tersenyum jahil, “Iya, sebagai warga seni pra-sejahtera, justru kamu yang harus dirajut masa depannya … hahahahaha …”

Iya juga, ya …

Teman-teman, ada yang tertarik merajutkan masa depan seni teater dan sastra?


(Sundea)

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin