16.3.08

Semester Padat di Akhir Pekan


-Tobucil, Sabtu-Minggu, 15-16 Maret 2008 –

Workshop Critical Discourse Analysis

Terselenggara atas kerja sama Tobucil dan Bandung School of Communication Studies (Bas Comm). Untuk mengetahui lebih banyak, klik www.literasimedia.wordpress.com




Hati-hati. Di balik banyak hal manis, sebentuk kekuasaan kerap mengintai dan siap mencengkram. Dipersenjatai Critical Discourse Analysis (CDA), seorang peneliti menelaah ideologi tersembunyi yang membungkus sebuah teks. Itu sebabnya, peneliti yang menggunakan CDA harus “penuh dengan kecurigaan”.

CDA adalah model analisis yang membongkar teks sampai ke tingkat makro (nilai-nilai sosio kultural yang melatari teks). Teks sendiri mengandung makna yang lebih luas daripada tulisan secara umum. “Motor itu pun sebuah teks,” ujar Ibu Santi, dosen Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menjadi pembimbing workshop, sambil menunjuk Honda Vario yang terparkir di halaman Tobucil.

Jika Keluarga Berencana mengusung semboyan “dua anak cukup”, pada hari pertama, workshop menganut paham “dua peserta cukup”. Taufan yang lulusan H.I Unpad mengikuti sejak awal workshop. Supriyanto alias Supri, datang agak terlambat. “Apa saya masih bisa mendaftar? Katanya materinya sudah terlalu jauh …,” tanyanya. “Masih, kok. Kita belum masuk ke CDA-nya,” jawab Ibu Santi. Saat itu dia memang baru menjelaskan metode kuantitatif dan kualitatif yang merupakan pengantar menuju CDA. Maka, Supri yang sedang menjalani program S3 di Unpad pun segera berabung.

Pembahasan CDA baru dimulai setelah istirahat makan siang. Di sana barulah terjelaskan mengapa untuk memasuki materi, Ibu Santi harus memaparkan mengenai penelitian kuantitatif dan kualitatif. “CDA jelas kualitatif, sebab dia subyektif, berpihak kepada sisi yang dikooptasi oleh kekuasaan,” ujar Bu Santi. “Apa harus berpihak pada yang dikooptasi itu, Bu?” tanya Taufan. Ibu Santi menanggapi pertanyaan Taufan dengan pertanyaan lainnya, “Bagaimana kita bisa membongkar praktik kekuasaan jika kita ada di dalam struktur kekuasaan itu?”

Sekitar pukul tiga sore, workshop hari itu ditutup. Ibu Santi menugaskan peserta workshop membaca makalah yang dibagikan untuk mengikuti materi keesokan harinya.

Pada hari berikutnya, peserta workshop berkembang biak menjadi tiga orang. Rauf yang baru lulus dari Antropologi Unpad, ikut bergabung. Hari itu, setelah menjelaskan beberapa teori yang umum dipakai dalam CDA, peserta diajak berlatih menggunakan CDA dalam analisis wacana. Sebuah artikel bertajuk “Janggal, Kasus Penculikan Ketua Golkar Minahasa Tenggara” dibedah bersama. Jejak-jejak keberpihakan terlihat nyata. Mulai dari judul yang langsung menggiring opini pembaca untuk menuding pihak tertentu, hingga atribut-atribut negatif dalam artikel yang disandangkan kepada pihak yang terkooptasi. Selanjutnya, ditelaahlah media yang memuat artikel, latar belakangnya, dan konteks politik yang terjadi saat itu. Pada titik ini, peneliti memasuki wilayah makro. Artinya, penelitian CDA sudah dilakukan.

Sebagai latihan terakhir, setiap peserta diminta memilih masing-masing sebuah artikel dalam surat kabar dan mencoba menganalisnya dengan CDA. Cukup menarik. Rauf, misalnya, “mencurigai” foto calon gubernur bersaing yang dijajarkan berdampingan. “Yang ini fotonya sangat foto kampanye. Kalau yang ini ekspresinya keliatan ngotot,” kata Rauf sambil menunjuk kedua foto tersebut. Selanjutnya, dia menganalisis media yang memuat artikel tersebut, di mana saja media tersebut umum beredar, siapa kekuatan besar yang menghidupi media tersebut, dan lain sebagainya.

Seperti pada hari sebelumnya, workshop berakhir pukul tiga sore. “Pusing, ya? Biasanya materi ini saya berikan selama satu semester, lho …” ujar Bu Santi. Peserta workshop tidak mejawab. Entah karena memang pusing, atau sedang meresapi materi yang baru saja dibagikan.

(Sundea)
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin