6.4.08

Brother

-Tobucil, Senin 31 Maret 2008-

Sebuah mesin jahit terparkir di ruang belakang Tobucil. Dia rendah hati dan mebumi. Dibiarkannya benang-benang melingkupi, bahkan nyaris menimbunnya. Karena si mesin jahit di-display di tempat yang tidak tinggi, untuk sejajar dengannya, seseorang cukup duduk melantai. Menjahit bersamanya jadi terasa seperti permainan anak-anak.

Bentuknya seperti pistol, tetapi fungsinya berkebalikan. Dia memperbaiki, bukan menghancurkan. “Ini mesin jahit ibu saya,” ujar Mbak Tarlen, “Pertamanya, dia hadiah ulangtahun dari tetangga sayasuami teman kantor ibu saya, Pak Tani, untuk istrinya, Ibu Yati. Tapi waktu keluarga Pak Tani nggak punya uang lagi, dengan berat hati mesin jahit ini dijual. Bu Yati sempet pesen supaya ibu saya ngejaga mesin jahit ini baik-baik,” cerita Mbak Tarlen.

Tobuciler mengamati mesin jahit itu. Ternyata namanya Brother! Pantas saja Tobuciler langsung merasakan suasana hangat kekeluargaan saat bertemu dengan dia. Pantas saja dia menyatukan, bukan mematahkan. Pantas saja Pak Tani dan Bu Yati begitu sayang padanya.

Tiba-tiba gambar perpisahan keluarga Pak Tani dengan Brother melintas di kepala Tobuciler. Brother seperti menyanyikan sebuah lagu, mengiringinya,

The road is long
With many a winding turn
That leads us to who knows where

Who knows when
But I'm strong
Strong enough to carry him
He ain't heavy, he's my brother.

So on we go
His welfare is of my concern
No burden is he to bear

We'll get there
For I know
He would not encumber me ….

He Ain’t Heavy He’s My Brother –Rufus Wainwright

………………… semakin jauh

tetapi tetap jelas sekali.

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin