6.4.08

Punakawan Main Gitar Klasik

-Tobucil, Minggu 06 April 2008-

Klab Klasik

Punakawan adalah salah satu bagian menarik dalam perwayangan. Kelompok ini terdiri dari empat tokoh jenaka yang tidak penting namun penting juga. Kejenakaan dan kemerakyatan membuat mereka jadi sangat fleksibel. Begitu fleksibel hingga mereka diadaptasi dalam komik-komik Tatang. S. dan acara “Ria Jenaka” TVRI.

Empat teman dari Klab Klasik mengingatkan Tobuciler pada tetokoh wayang fenomenal itu. Seperti Punakawan, yang merakyat dan jenaka di tengah kepriyayian perwayangan, Syarief, Harish, Bill, dan Roy (featuring Ay salah satu teman mereka yang kebetulan ikut datang) pun tampak merakyat dan jenaka di tengah musik klasik yang berkesan aristokrat. “Kita kurang kompak, lho,” ujar Syarief. “Enggak, lagi, kita sebenernya kompak, tapi pura-pura kurang kompak,” tanggap Roy. “Iya, kita kompak banget. Sampai ini (menunjuk gula, kopi, air, dan kue di meja-red), semuanya cuma satu buat barengan,” Harish, yang terus menerus menambahkan gula ke kopi, ikut berkomentar.

Di dalam pembicaraan penuh canda itu, teman-teman Klab Klasik membahas rencana mengadakan “Classical Guitar Fiesta”. Apa itu ? “Ini acara untuk mewadahi gitaris-gitaris klasik ‘menengah ke atas’. Bentuknya bukan kompetisi, tapi konser. Kalau kompetisi kan yang menang pasti yang udah ‘kelas atas’ (senior dan advance player-red),” papar Roy. Untuk acara ini, Klab Klasik akan mengundang Jubing, gitaris klasik yang juga menulis buku.

Hari itu, agenda Klab Klasik adalah membicarakan anggaran untuk acara. “Anggaran. Main anggar?” tahu-tahu Syarief cekikikan sendiri. Ketiga temannya ikut cekikikan melihat ekspresi Syarief. “Apa, sih, yang lucu?” tanya Tobuciler. “Tulis aja (di blog-red), nanti pasti ada yang ketawa,” saran Bill. Selanjutnya, mereka membicarakan berapa dana yang dibutuhkan, apa dana yang bisa dikurangi, dan apa yang harus ditambah. “Ini honor juri (untuk audisi-red) mau dinaikkin, nggak?” tanya Roy. “Naikkin aja, dua ribu,” saran Harish sang ketua acara. Ketika membicarakan dana keamanan, Syarief mengusul, “Kita-kita aja, yuk, pake baju hansip, biar jadi Mang Dagang … hehehehe …,” katanya sambil mengingat tokoh hansip dalam sinteron Suami-suami Takut Istri.

“Soal poster, tanggal sepuluh udah harus beres, ya, tanggal 14 harus abis disebarin,” kata Harish. “Penyebarannya ke mana aja? Ke kampus-kampus? ITB ?” tanya Ay. “Kalau ke ITB Harish nggak mau, ah, Harish pernah disangka copet di sana,” tolak Harish segera. Kami tertawa bersama-sama sementara Harish tampak merinding mengenang peristiwa kejar-kejarannya di kampus terkemuka tersebut.

“Kayaknya salah, nih, kita Klab Lawak, ya, bukan Klab Klasik,” ujar Syarief. “Mustinya tadi ada bunyi ‘tak jedes’ (bunyi alat musik pukul seperti di lenong-lenong –red), tuh,” sambung Harish. “Atau keyboard yang kalo dipencet bunyi ‘hahahahaha’ kayak ketawa orang,” Bill pun ikut mengomentari.

Saat warna langit sudah biru tua, pertemuan ditutup dengan permainan gitar. Sonata in D Minor mengiringi matahari yang semakin lama semakin melorot; mengubah biru tua menjadi semakin tua dan semakin tua lagi hingga akhirnya utuh hitam. Suasana jenaka seperti ikut melorot bersama matahari, menjelma menjadi kesentimentalan yang terdengar perih dalam petikan gitar berkunci minor.

Tobuciler teringat pada badut-badut di rombongan sirkus Gypsi. Di tengah ketertawaan, sesungguhnya hidup mereka paling perih dan dramatis …

(Sundea)

Untuk mengikuti audisi “Classical Guitar Fiesta” dan menanyakan info selengkapnya, kirim email ke klabklassik@yahoo.com. Nantikanlah kabar selanjutnya di blog Tobucil ^_^

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin