6.4.08

Tujuan

-Tobucil, Rabu 02 April 2008-

Madrasah filsafat

“Apa yang hari ini kamu anggap sebagai start yang baik?” tanya Mas Ami.

“Eng … dari pagi mataharinya udah cerah …,” sahut Tobuciler.

Seorang Bapak bernama Pak Sokris tahu-tahu menyambung, “Menurut saya, ketika memulai hari, seharusnya Anda sudah menentukan tujuan hidup Anda. Yang paling penting adalah tujuan hidup …,” selanjutnya Pak Sokris berbicara panjang lebar penuh bunga-bunga tentang tujuan hidup.

Beranjak dari sana, tema “start” hari itu menyempit jadi “tujuan dari titik start”. “Menurut saya, sih, kita mencapai tujuan yang deket-deket dulu aja,” pendapat Novi, seorang mahasiswi berkerudung. “Kalau pendapat saya, tujuan itu harus dilihat secara arif. Kalau memang baik, ya diikutin, kalau enggak, ya jangan, “ kata mahasiswa berbatik bernama Jarwo.

Beberapa jenak kemudian, Mas Dauz memasuki arena untuk mengobrak-abrik ketentraman. “Orang yang punya tujuan cenderung menemukan, tidak lagi mencari. Jadi sekarang masalahnya Anda lebih suka mencari atau menemukan?!” tanya Mas Dauz dengan nada provokatif. Sepertinya “Dauz merah muda” telah kembali ke hakikatnya; “Dauz merah padam” (baca postingan minggu lalu).

Forum bergolak. “Yang penting tujuan hidup. Misalnya ada yang punya tujuan hidup menjadi dokter, ya cobalah menjadi dokter yang baik, seandainya …” “Saya mau tanya. Tujuan hidup Bapak apa,” Mas Dauz memotong tajam pendapat Pak Sokris.

“Saya pernah punya tujuan mau kuliah, tahu-tahu saya ditelpon ditawarin kerjaan. Itu kan artinya saya menemukan tanpa mencari,” ungkap Iqbal. “Kamu terbalik. Itu justru mencari. Orang yang hanya menemukan, berjalan lurus karena tujuannya sudah pasti. Dia tidak akan peduli walau di jalan ada intan berlian,” Mas Dauz mengoreksi pernyataan Iqbal. Berbagai pendapat terlontar. Dengan cecar style-nya yang khas, Mas Dauz mengejar para pengungkap pendapat “hingga ke liang kubur”.

Tampak mulai tidak nyaman dengan suasana yang terbangun, Reza mencoba berkomentar netral, “Memperdebatkan ‘mencari dan menemukan’ sama seperti memperdebatkan mana duluan ‘ayam atau telur’ .” Setali tiga uang dengan Reza, Jarwo ikut bicara, “Orang bijak adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Kalau ketika punya pendirian orang merasa dirinya lebih tahu, ya sudah, ancur. Segala sesuatu harus dinilai lebih arif.”

Mas Dauz langsung menatap lurus kepada Jarwo, “Jadi menurut kamu yang arif itu yang bagaimana?”

“Ya itu. Jangan mempertentangkan pendapat orang lain,“

“Kalau begitu buat apa ada diskusi, dong?”

“Maksudnya, Akang mungkin punya pendapat, orang lain juga punya. Janganlah Akang merasa pendapat Akang yang paling benar …”

Mas Dauz mengacungkan jempol, “Ya sudah, kalau begitu saya nggak perlu menjawab lagi. Kalau tidak, nanti ada pendapat lain, nanti ada pertentangan lagi …”

Sementara itu, pemuda yang sama dengan minggu lalu, masih menempati posisi paling marjinal di ruang diskusi (baca postingan minggu lalu). Kali ini, bukan hanya duduk di kursi terluar, dia bahkan duduk di atas sebuah motor yang tidak lagi mencari. Motor yang telah menemukan tujuannya dalam kemapanan parkir.

… tapi ngomong-ngomong soal tujuan, bukankah tema besar hari itu adalah “start” ? Kenapa “tuju”, ya? Bukankah angka dimulai dari “satu” ….?

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin