4.5.08

Mengikuti Diskusi Buku di Tobucil

cerita bersambung, seri ke tiga
Oleh Andika Budiman

BUDA: Kalau saya dua tahun. Setahun buat menulis. Setahun buat menawarkan naskah. Gramedia tertarik, tapi nggak berani menerbitkan karena isinya agak sensitif. Grasindo nggak memberi kabar, untung ketemu Gragas! Awalnya ada adu argumen antara saya dan editor. Saya mau ada gambar kecoa di sampul bukunya, tapi ditolak editor. Akhirnya mereka menggantinya dengan menempatkan gambar kecoa di setiap halaman. Thanks Wendy!

REZA: Saya tiga tahun. (Hadirin tertawa) Awalnya Sarcastic Romance saya maksudkan sebagai sebuah cerita pendek, tapi banyak teman yang menyarankan, ‘Ini dibuat novel saja!’. Akhirnya saya panjangkan dan saya akui, pada buku saya ada banyak kekurangan misalnya timeline, karakterisasi yang nggak konvensional, dan beberapa lainnya. Mungkin kurang tepat kalau buku saya disebut novel. (Mengisap rokok) Dalam usaha buat menerbitkannya, saya juga mengalami banyak hambatan. Suatu hari saya ketemu seorang penulis chicklit senior. Naskah saya kasih, dia baca dan bilang bakal kasih naskah saya ke editornya. Dia nggak janji apa-apa. Lama nggak ada kabar, suatu hari saya dihubungi Gragas, sisanya tinggal sejarah.

Sesi tanya jawab penulis bersama moderator berlangsung selama kurang lebih satu jam. Dari sesi ini kelihatan bahwa Toni cukup pendiam, Wendy bersuara nyaring dengan bahasa tubuh yang agak berlebihan, Buda dan Reza sama-sama ramah walaupun dagu Reza cukup sering terangkat bila menjawab pertanyaan. Meskipun belum membaca ketiga buku mereka, tanya jawab ini mengesankanku bahwa Toni, Wendy, Buda, dan Reza merupakan para penulis pionir. Mereka berani mengangkat tema yang jarang diangkat: homoseksualitas. Setelah kehabisan pertanyaan, Erha pun memberikan kesempatan bertanya kepada hadirin, “Ada yang mau tanya?” Perempuan keriting berbaju hitam yang duduk di belakang Intan mengacungkan tangan. “Ya silakan, Mbak.”

PENGUNJUNG 1: Saya Edis dari Warta Perempuan. Kebetulan saya baru baca Sarcastic Romance saja, yang lain belum. Waktu baca Sarcastic Romance, saya menempatkan diri di posisi yang sangat kanan, ultra konservatif. Maksudnya buat menguji, apakah buku ini memberikan gambaran yang menjelaskan tentang komunitas homoseksual? Dan saat bukunya selesai dibaca, saya mendapati bahwa Sarcastic Romance malah jadi pembenaran atas sikap skeptis masyarakat konservatif terhadap komunitas homoseksual. Padahal saya tahu pada dasarnya komunitas homoseksual sama saja dengan komunitas heteroseksual. Kehidupannya nggak melulu soal seks. Saya mendambakan buku bertema LGBT yang bisa membuat masyarakat konservatif mengerti.

REZA: Jadi pertanyaannya apa?

Aku dan Intan bertukar pandang. “Itu kan kritik yang disampaikan secara halus!” bisik Intan. Aku mengangguk. Edis kembali mengulangi komentarnya dengan penekanan yang lebih jelas bahwa menurutnya Sarcastic Romance tak memberikan gambaran menyeluruh tentang komunitas homoseksual.

REZA: Tulisan saya adalah potret dari realitas yang ada! (Dagu terangkat) Seks adalah hal yang umum. Seandainya tokoh cerita saya adalah pasangan laki-laki dan perempuan, tentu nggak bakal dipertanyakan. Masalahnya tokoh cerita saya adalah laki-laki dan laki-laki. Asal Mbak tahu berdasarkan penelitian yang baru-baru ini dilakukan sebuah lembaga yang kredibel, laki-laki memikirkan seks setiap tujuh detik. (Hadirin riuh rendah)

EDIS: Saya nggak memaksa Mas menulis buku yang memberi gambaran positif tentang homoseksual, kok. Saya cuma menyampaikan kerinduan terhadap buku bertema homoseksualitas yang bisa membuat masyarakat umum mengerti. Salah seorang teman baik saya adalah lesbian, dan dia suka menulis. Saya harap teman saya bisa menulis buku yang mudah-mudahan menjadi buku yang saya dambakan.

WENDY: Pada dasarnya Gragas menyambut baik naskah seperti apapun, bertema seperti apapun, yang dikirim ke redaksi kami. Asalkan bagus, kami memberi kesempatan buat diterbitkan.

REZA: (Mengangguk) Masih terkait dengan komentar Mbak Edith. (“EDIIS!” seru hadirin) Ada banyak, kok, buku-buku yang mengangkat tema seks dengan lebih gamblang. Ada Lady Chatterley’s Lover, Madame Bovary, sampai The Unbearable Lightness of Being. (Tertawa kecil) Semuanya malah mengangkat seks lebih gamblang dari buku saya.

“Konteksnya beda!” gumam perempuan berambut merah di belakangku. Ia pun mengacungkan jari. “Yak,” Erha mempersilakan.

PENGUNJUNG 2: Saya Netral. Menurut saya konteks buku anda berbeda dengan buku-buku yang anda sebut. Dalam Lady Chatterley’s Lover dan Madame Bovary, seks ditulis sebagai bentuk perlawanan terhadap hipokrasi dan ketatnya tatanan sosial. Dalam The Unbearable Lightness of Being, seks merupakan pelarian dari tekanan rezim komunis di Ceko. Lha, dalam buku anda apanya yang dilawan? (Menghela napas) Saya pikir suara komunitas homoseksual adalah suara yang memiliki sedikit kesempatan buat bicara. Sangat disayangkan ketika sekalinya dapat kesempatan, bentuk suara itu adalah sebuah buku yang kurang mewakili, yang penulisnya terkesan masih euforia tentang perilaku seksualnya.

WENDY: Sekali lagi saya menekankan bahwa Gragas, sebagaimana penerbit yang lain, berkomitmen menerima naskah seperti apapun, dengan tema seperti apapun. Asalkan bagus, pasti bakal diterbitkan! Gragas nggak memiliki porsi tertentu, mana yang bertema heteroseksual dan mana yang bertema homoseksual. Jadi saya kira peluang bagi suara komunitas homoseksual terbuka lebar.

ERHA: Nah! (Menatap hadirin) Di sini ada yang menulis, nggak? Mbak Wendy sudah menjamin terbuka lebarnya pintu-pintu bagi tema apapun asalkan naskahnya memang betul-betul bagus! Ada lagi yang mau bertanya?

PENGUNJUNG 3: Saya Wilku. Sebetulnya saya bukan pengamat buku yang bagaimana-bagaimana. Saya hanya pedagang buku kecil. Saya juga baru baca Sarcastic Romance. Tadi dikatakan setiap buku yang diterbitkan Gragas mesti melalui….

bersambung ....

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin