Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Sunday, May 18, 2008

Mimpimimpi

-Tobucil, Rabu 14 Mei 2008-

Madrasah filsafat

“… I’ll cross the stream, I have a dream …”

I Have a Dream –ABBA

Hari itu tema madrasah filsafat terbilang menarik. Mimpi. Whuaaaa …

Seperti minggu sebelumnya, lagi-lagi beranda Tobucil dipadati mahasiswa. Cukup menyenangkan karena beberapa dari mereka melempar wacana yang menarik. Misalnya Acan, mahasiswa jangkung bermata sendu, “Kalau menurut saya, mimpi itu jenisnya macam-macam. Ada yang kayak sinetron, ada yang kayak iklan, ada yang kayak sinetron hidayah, ada juga yang kayak iklan adzan maghrib …” mendengar istilah yang terakhir, segenap masyarakat madrasah filsafat tergelak. “Iya, ya, adzan maghrib itu iklan agama …,” pendapat Mas Ami.

Kisah yang sedikit mencekam juga ada. “Saya pernah mimpi gigi saya lepas. Waktu saya mau cerita, sama ibu saya disuruh diem. Dia bilang liat aja semingguan lagi. Ternyata seminggu kemudian ada anggota keluarga saya yang meninggal,” cerita Gadis, mahasiswi manis berrambut panjang.

“Mimpi itu seperti buah. Seperti hati buahnya cinta, kalau otak kita buahnya mimpi,” Putri mengungkapkan pendapat yang manis dan segar seperti buah, “Di Amerika katanya ada sekolah yang khusus untuk menafsirkan mimpi. Aku jadi kepingin ke sana, Kak, ” lanjutnya dengan mata berbinar.

“Muhammad berhasil merebut pemaknaan atas tafsir mimpinya,” Eka, pemuda yang tampak nasionalis dengan busana merah-putih, ikut bicara. “Salah satu cara wahyu hadir adalah lewat mimpi. Muhammad mempengaruhi masyarakat mayoritas pada masa itu karena tafsiran mimpinya.”

“Iya, Descartes pernah mimpi jadi kupu-kupu. Terus kupu-kupu itu tertidur dan bermimpi jadi Descartes. Lalu Descartes bermimpi lagi jadi kupu-kupu. Sesudah itu dia terbangun. Sadar. Dari situlah lahir ‘cogito ergo sum’-nya Descartes, ‘aku berpikir maka aku ada’,” papar Mas Ami.

“Kalau saya pernah mimpi berserial. Mimpinya, sih, nggak sama, tapi saya selalu ngerasain perasaan yang sama setelah mengalaminya. Rasanya kayak … apa, ya …. Lampu minyak yang makin lama makin redup. Sambil ngetik – ngetik abis mimpi itu, gua menikmati perasaannya. Kalau harus memberinya nama, gua ngasih nama serial mimpi itu ‘rasa’,” Bumi membagi pengalamannya dengan liris dan puitis.

“Ada orang yang bertanya kepada saya. Waktu kamu bermimpi dan ada yang memukul kamu, siapa yang memukul kamu?” kata Mas Iman. “Tergantung mukulnya pakai apa, kalau pakai sapu artinya indung urang (ibu saya, bahasa Sunda-red),” celetuk Mas Ami. “Eh … tapi kadang-kadang orang di mimpi memang suka nggak jelas. Saya tadi mimpi beli kacamata sama perempuan berjilbab. Mimpinya jelas, tapi perempuan berjilbab itu entah siapa,” cerita Mas Dauz. “Kamu, kapan kamu terakhir kali mimpi?” tanya Mas Ami kepada Dina, seorang mahasiswi berjilbab. “Terakhir mimpi … tadi,” jawab Dina dengan suara yang tidak terlalu keras, tapi cukup terdengar oleh Mas Dauz, “Nah, jangan-jangan yang tadi ada di mimpi saya itu kamu.”

Berbagai wacana berlompatan di tengah ruang diskusi. Ada yang tertangkap,

ada yang hilang di udara,

seperti mimpi itu sendiri …


Sundea
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin