Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Sunday, June 29, 2008

Linda Rahmawati yang Rajin Membawa Kue

Belakangan ini, Madrasah Filsafat menjadi salah satu Klab yang paling mengenyangkan. Bergabungnya Mbak Linda Rahmawati, seiring sejalan dengan bergabungnya kue-kue yang hampir selalu dia bawa.


Ramah, manis, murah senyum, bersahaja, rajin sholat, tidak terlalu konfrontatif, tapi betah dan setia menghadiri madrasaf filsafat yang topiknya senantiasa menggalaukan. Mungkin di dunia luar Mbak Linda termasuk mainstream. Tapi untuk masyarakat madrasah filsafat, dia negong sekali (lain sendiri, bahasa Sunda-red).

Tobucil : Kok bisa tertarik main ke sini, Mbak ? Taunya dari mana ?

Mbak Linda : Tau dari Pikiran Rakyat. Kebetulan latar belakang kuliah saya filsafat (di UGM, Yogya). Saya pikir eksplorasi kan nggak cuma waktu kuliah. Setelah kuliah, perlu eksplorasi lebih lanjut supaya wawasannya tidak membeku. Lagi pula topiknya asyik, pengalaman sehari-hari yang dibahas secara radikal.

Tobucil : Radikal begimana, tuh, Mbak ?

Mbak Linda : Ya … ke mana-mana. Kayak misalnya kemarin, dari masalah keyakinan nyangkut ke masalah cinta dan lain-lain.

Tobucil : Hahahaha … eh, iya, Mbak, menurut Mbak, apa yang menarik dari filsafat sampai Mbak pas kuliah ngambil itu ?

Mbak Linda : Ya … itu kebetulan aja, sebenernya kepengennya psikologi …

Tobucil : Ooo … terus nyesel, nggak, Mbak ?

Mbak Linda : Pertamanya terpaksa, tapi lama-lama enggak. Soalnya dengan belajar filsafat, aku ngerasa bisa ngeliat dari berbagai sudut pandang.

Tobucil : Berhubungan sama kerjaan Mbak … ?

Mbak Linda : Sekarang, sih, aku masih cari-cari kerja. Pengennya, sih, jadi PR (Public Relation) atau marketing di tv lokal.

Tobucil : Kenapa?

Mbak Linda : Soalnya aku seneng bersosialisasi. Meskipun latar belakangku bukan marketing atau PR, ilmunya bisa dipelajari secara singkat. Yang penting kan cara berpikirnya.

Tobucil : Jadi sekarang kegiatan Mbak Linda apa aja ?

Mbak Linda : Ikut kursus-kursus agama, ikut madrasah filsafat, dan ikut kursus Bahasa Inggris juga …

Tobucil : Wah … kenapa milih kursus agama ?

Mbak Linda : Aku lagi nyari pencerahan spiritual.

Tobucil : Emang ngerasa nggak cerah, ya, Mbak spiritualitasnya ? Hehehehe ….

Mbak Linda : Agak-agak burem … hehehe … wawasanku sedikit, pengetahuan agamaku sedikit, jadi aku kepingin ngeksplor aja supaya bisa merasakan kenikmatan beribadah.

Tobucil : Ada hubungannya, nggak, kenikmatan kue dan kenikmatan beribadah ?

Mbak Linda : Ya … sama-sama bisa dinikmati … sama-sama … masalah rasalah …

Tobucil : Ada hubungannya, nggak, Mbak, sering bawa kue sama spiritualitas ?

Mbak Linda : Nggak seringlah, baru dua kali …

Tobucil : Ya lumayan kali, Mbak, Mbak Linda kan belum lama ikut madrasah filsafat. Yang lebih lama ikut aja jarang bawa kue … hehehehe …

Mbak Linda : Ya itu kan hanya untuk mencairkan suasana, untuk menambah keakraban. Di situ kita berbagi kasih sayang, saling memberi … (tersenyum ramah)

Tobucil : Lha … kan yang memberi Embak doang …

Mbak Linda : Yang lain juga memberi, kok. Dengan aku membawa kue dan mereka memakan kueku, aku merasa dihargai. Nah, dari situ suasana jadi akrab.

Tobucil : Wah … manis sekali … terakhir, Mbak, apa kesan-kesan Mbak selama ikut madrasah filsafat ?

Mbak Linda : Asyik, asal jangan disuruh jadi moderator, nanti aku melarikan diri. Aku kan kapasitasnya saat ini cuma untuk mendengarkan. Aku belum ngerasa berkapasitas untuk membagi …

Tobucil : Kecuali membagi kue, ya, Mbak …? Hehehehe …

Mbak Linda : Yah … mungkin … (tersenyum)

Ternyata hari itu Mbak Linda membawa tiga kotak kue lagi. Istilah “memberi lebih baik daripada menerima” tampaknya sangat terjiwai oleh Mbak Linda. Teman-teman madrasah filsafat menjadi kenyang dan bahagia. Dari sudut pandang yang lain, Mbak Linda juga.

Berikut ini adalah foto kue-kue Mbak Linda sebelum mewujud jadi kehangatan.

Sundea


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin