20.7.08

Lilin Devosi di Gereja

Hari ini, Dea ikut Pram ke gereja Katolik. Karena telat, kita dapet tempat duduk marjinal di pojok gereja.

Di area marjinal itu, ada lilin-lilin devosi. Mereka dinyalain berjajar di besi yang mirip-mirip panggangan barbeque. Selama misa, mereka kayak rame2 nari-nari sambil manggilin Dea, “Halo Dea … halo … halo … “. Jadi Dea nyapa balik, “Halo juga lilin-lilin … halo … halo ….”

Lilin-lilin itu keliatan seneng banget. Semakin leleh memendek badan mereka, apinya malah semakin tinggi dan riang nari-nari. Lilin yang baru dinyalain belom keliatan terlalu gembira. Apinya bersinar jaim-jaim dan tariannya nggak terlalu seru.

Ada dua sudut pandang yang bisa diliat dari lilin-lilin itu. Badan yang leleh memendek, ato api yang raya meninggi. Dea lebih suka yang ke dua. Selama di gereja, hati Dea jadi ikut nari-nari juga.

Pas pulang, Dea cerita ke Pram. Pram nanggepin lebih serius, “Waktu lilin itu abis, eksistensi dia justru jadi utuh.” Mmmm … iya. Mungkin juga begitu. Lilin-lilin itu keliatannya gembira karena tau idup mereka ada artinya.

Sebenernya Dea agak lupa di gereja tadi khotbahnya apa. Yang Dea tau, pulang dari gereja Dea kepengen nari-nari sepanjang hari. Tarian api lilin. Dea tau hari itu Tuhan menjelma menjadi lilin.

Sundea

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin