oleh : -em-
Tulisan saya ini bukan untuk mengenang cerpen Seno Gumira Ajidarma, apalagi membedah kumpulan cerpennya itu. Judulnya justru baru terpikir menjelang saya mau memulai tulisan ini. Kalau ide-nya sendiri muncul ketika saya membaca satu kutipan yang sedikit membesarkan hati saya sebagai “one of the hottest bathroom singer in the world” Ya ampun.. panjang banget tuh julukan!
Alkisah, Saya punya kesempatan untuk membaca majalah Reader Digest yang sudah datang hampir seminggu. Salah satu rubrik favorit saya di majalah Reader Digest adalah rubrik kutipan. Rubrik ini merupakan kumpulan perkataan-perkataan selebritis yang dipotong sehingga konteksnya mungkin sedikit hilang. Mungkin ada beberapa orang yang bisa paham. Bagi saya yang seringnya tidak mengerti, potongan-potongan tersebut justru menarik karena saya bisa menafsirkan sendiri sesuka hati saya. Dengan begitu, saya bisa menggunakannya sesuai kebutuhan saya. Dan di edisi kali ini, kutipan milik Josh Groban sedikit banyak menyenangkan hati sekaligus bisa menjadi senjata bagi saya. Begini dia bilang, “Jangan setengah-setengah saat bernyanyi di kamar mandi. Kalau tidak seperti bintang rock, ya diva opera”
Mmm …
Sejak kecil saya memang punya kebiasaan bernyanyi di kamar mandi. Sampai-sampai kakak-kakak saya paling kesal kalau saya sampai mandi lebih dulu dari mereka. Bukan hanya karena suara saya melanglang buana ke seluruh kampung. Namun karena saya harus menyelesaikan satu album saat bernyanyi di kamar mandi. Pernah saking kesalnya kakak saya karena menunggu. Dia menendang pintu kamar mandi hingga jebol. Untung saya sedang tidak bergaya di depan pintu. Dasar memang sudah gaya hidup, tetap saja setelah itu saya kembali bernyanyi di kamar mandi.
Sewaktu tinggal dia asrama Unpad dulu, saya juga tidak segan-segan bernyanyi. Meski kamar mandinya hanya seukuran 1x1 meter, tidak surut gairah saya untuk bernyanyi di kamar mandi. Hingga suatu hari pernah tiba-tiba seorang perempuan berkata, “em.. albumlu udah berapa sekarang?” Barulah saya sadar bahwa suara saya terdengar kemana-mana kalau bernyanyi di kamar mandi. Ya iyalah, teman perempuan saya ini, tinggal di lantai 3 di asrama seberang. Ternyata saya terkenal sekali yah?
Lain lagi sewaktu saya tinggal di kost-an, masih di Jatinangor. Awal-awal saya masih jaim, bernyanyi pelan-pelan di kamar mandi. Namun seiring waktu, volume suara saya semakin keras. Kadang-kadang teman kost saya iseng teriak, “Woii.. gandeng woii..”. Siapa peduli, sayapun terus bernyanyi.
Bapak kost saya juga pernah bilang, “Kamu kalau nyanyi lagunya yang bagus”. Namun lama-lama dia juga terbiasa dengan pilihan lagu saya.
Atau kawan yang lain kalau melihat saya membawa handuk bertanya, “mau mandi ya em?”
“Yoi”
“Wah gue mau nyalain radio keras-keras deh”
Sialan! Namun lebih lebih sialan ketika saya baru balik ke kost-an setelah berlibur hampir satu bulan di Jakarta. Hampir semua warga kost-an bilang, “em gue kangen sama suaralu yang membisingkan kost-an ini”. Yee bolehnya jatuh cinta.
Nah, sama halnya di tempat kost saya sekarang juga. Seluruh warga kost-an sudah menerima bahwa saya tidak mungkin tidak bernyanyi di kamar mandi. Pernah suatu kali, saya bangun pagi sekali. Bahkan Pak Dodi yang biasa bangun paling pagi di kost-an belum bangun. Saya mandi dan bernyanyi-nyanyi. Setelah selesai saya keluar dari kamar mandi. Saya dengar suara alarm pak Dodi dan melihatnya sudah berada di luar kamarnya. Lalu sambil nyengir-nyengir dia bilang, “em, besok-besok kamu bangun jam segini terus ajah, biar saya nggak pasang weker”. Yah baguslah, setidaknya mereka membutuhkan saya walau hanya sebagai weker hehehe..
Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan suara saya yang keluar itu? Apa cukup layak untuk didengar? Akh, mana saya peduli, yang penting saya bahagia. Sebagai “one of the hottest bathroom singer in the world”, saya berpendapat mandi tanpa bernyanyi itu seperti sayur asem yang tak asem. Jadi bukan mandi namanya. Lagian sebuah pesan dari Zibabwe bilang. “if you can walk, you can dance, if you can talk you can sing” Cukup membesarkan hati bukan?
-em-
Putra Betawi yang gak suka daging ini, lahir pada tanggal 6 Agustus 1982. Hobi bernyanyinya suka bikin orang di sekitarnya gerah dan kangen. Punya kebiasaan iseng berjalan kaki di malam hari bersama sohib sambil mencari tempat asik wat ngopi atau ngeteh sambil diskusi. Bekerja sebagai pustakawan di sekolah Cikal serta aktif sebagai relawan Forum Indonesia Membaca. Di sela-sela penulisan novel anaknya yang tidak kunjung rampung, Em menulis tentang hidupnya dalam beberapa blog. PenggemarAstrid Lindgern ini bisa dijumpai di multiply, friendster, facebook dengan alamat imel mudination@yahoo.com.
kirimkan tulisanmu tentang apa saja ke tobucil@yahoo.com dengan subject "papan tulis". Sertai foto dan biodata singkatmu. Ditunggu, yaaaa ....
Tulisan saya ini bukan untuk mengenang cerpen Seno Gumira Ajidarma, apalagi membedah kumpulan cerpennya itu. Judulnya justru baru terpikir menjelang saya mau memulai tulisan ini. Kalau ide-nya sendiri muncul ketika saya membaca satu kutipan yang sedikit membesarkan hati saya sebagai “one of the hottest bathroom singer in the world” Ya ampun.. panjang banget tuh julukan!
Alkisah, Saya punya kesempatan untuk membaca majalah Reader Digest yang sudah datang hampir seminggu. Salah satu rubrik favorit saya di majalah Reader Digest adalah rubrik kutipan. Rubrik ini merupakan kumpulan perkataan-perkataan selebritis yang dipotong sehingga konteksnya mungkin sedikit hilang. Mungkin ada beberapa orang yang bisa paham. Bagi saya yang seringnya tidak mengerti, potongan-potongan tersebut justru menarik karena saya bisa menafsirkan sendiri sesuka hati saya. Dengan begitu, saya bisa menggunakannya sesuai kebutuhan saya. Dan di edisi kali ini, kutipan milik Josh Groban sedikit banyak menyenangkan hati sekaligus bisa menjadi senjata bagi saya. Begini dia bilang, “Jangan setengah-setengah saat bernyanyi di kamar mandi. Kalau tidak seperti bintang rock, ya diva opera”
Mmm …
Sejak kecil saya memang punya kebiasaan bernyanyi di kamar mandi. Sampai-sampai kakak-kakak saya paling kesal kalau saya sampai mandi lebih dulu dari mereka. Bukan hanya karena suara saya melanglang buana ke seluruh kampung. Namun karena saya harus menyelesaikan satu album saat bernyanyi di kamar mandi. Pernah saking kesalnya kakak saya karena menunggu. Dia menendang pintu kamar mandi hingga jebol. Untung saya sedang tidak bergaya di depan pintu. Dasar memang sudah gaya hidup, tetap saja setelah itu saya kembali bernyanyi di kamar mandi.
Sewaktu tinggal dia asrama Unpad dulu, saya juga tidak segan-segan bernyanyi. Meski kamar mandinya hanya seukuran 1x1 meter, tidak surut gairah saya untuk bernyanyi di kamar mandi. Hingga suatu hari pernah tiba-tiba seorang perempuan berkata, “em.. albumlu udah berapa sekarang?” Barulah saya sadar bahwa suara saya terdengar kemana-mana kalau bernyanyi di kamar mandi. Ya iyalah, teman perempuan saya ini, tinggal di lantai 3 di asrama seberang. Ternyata saya terkenal sekali yah?
Lain lagi sewaktu saya tinggal di kost-an, masih di Jatinangor. Awal-awal saya masih jaim, bernyanyi pelan-pelan di kamar mandi. Namun seiring waktu, volume suara saya semakin keras. Kadang-kadang teman kost saya iseng teriak, “Woii.. gandeng woii..”. Siapa peduli, sayapun terus bernyanyi.
Bapak kost saya juga pernah bilang, “Kamu kalau nyanyi lagunya yang bagus”. Namun lama-lama dia juga terbiasa dengan pilihan lagu saya.
Atau kawan yang lain kalau melihat saya membawa handuk bertanya, “mau mandi ya em?”
“Yoi”
“Wah gue mau nyalain radio keras-keras deh”
Sialan! Namun lebih lebih sialan ketika saya baru balik ke kost-an setelah berlibur hampir satu bulan di Jakarta. Hampir semua warga kost-an bilang, “em gue kangen sama suaralu yang membisingkan kost-an ini”. Yee bolehnya jatuh cinta.
Nah, sama halnya di tempat kost saya sekarang juga. Seluruh warga kost-an sudah menerima bahwa saya tidak mungkin tidak bernyanyi di kamar mandi. Pernah suatu kali, saya bangun pagi sekali. Bahkan Pak Dodi yang biasa bangun paling pagi di kost-an belum bangun. Saya mandi dan bernyanyi-nyanyi. Setelah selesai saya keluar dari kamar mandi. Saya dengar suara alarm pak Dodi dan melihatnya sudah berada di luar kamarnya. Lalu sambil nyengir-nyengir dia bilang, “em, besok-besok kamu bangun jam segini terus ajah, biar saya nggak pasang weker”. Yah baguslah, setidaknya mereka membutuhkan saya walau hanya sebagai weker hehehe..
Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan suara saya yang keluar itu? Apa cukup layak untuk didengar? Akh, mana saya peduli, yang penting saya bahagia. Sebagai “one of the hottest bathroom singer in the world”, saya berpendapat mandi tanpa bernyanyi itu seperti sayur asem yang tak asem. Jadi bukan mandi namanya. Lagian sebuah pesan dari Zibabwe bilang. “if you can walk, you can dance, if you can talk you can sing” Cukup membesarkan hati bukan?
-em-Putra Betawi yang gak suka daging ini, lahir pada tanggal 6 Agustus 1982. Hobi bernyanyinya suka bikin orang di sekitarnya gerah dan kangen. Punya kebiasaan iseng berjalan kaki di malam hari bersama sohib sambil mencari tempat asik wat ngopi atau ngeteh sambil diskusi. Bekerja sebagai pustakawan di sekolah Cikal serta aktif sebagai relawan Forum Indonesia Membaca. Di sela-sela penulisan novel anaknya yang tidak kunjung rampung, Em menulis tentang hidupnya dalam beberapa blog. PenggemarAstrid Lindgern ini bisa dijumpai di multiply, friendster, facebook dengan alamat imel mudination@yahoo.com.
kirimkan tulisanmu tentang apa saja ke tobucil@yahoo.com dengan subject "papan tulis". Sertai foto dan biodata singkatmu. Ditunggu, yaaaa ....
Bookmark this post: |
1 comment:
Temen-temen, Em kalo ga afal lagunya suka ngarang teks sendiri, lho ... Dulu kalo maen ke kosan Em, Dea suka ndengerin Em nyanyi sambil meratiin bagian mana aja dari lagu yang dia karang ... hehehe ...
Post a Comment