-Rabu, 10 September 2008-
Madrasah Filsafat
Tak lama setelah kepulangannya, Mbak Tarlen langsung diminta membawa masalah di madrasah filsafat. Sesuai dengan kebarudatangannya, permasalahan yang dibawa Mbak Tarlen adalah “Kembali Pulang”. Dia menceritakan kekuatirannya jobless di New York, perjalanannya yang cukup panjang, bayangannya tentang orang-orang yang akan ia jumpai di Amerika, hingga nasihat meneduhkan dari seorang teman, “Tenang aja, langit di sana masih langit yang sama …”
Mengenai langit, Mbak Tarlen membaca sebuah keterhubungan. “Kita bisa melihat, bahwa dalam perjalanan ini, kita tidak kehilangan keterhubungan dengan titik ketika kita berangkat. Perjalanan adalah mengambil jarak dari rumah dan melihat rumah dari luar pagar. Makna perjalanan sesungguhnya justru ada setelah pulang itu; sebab sesudah perjalanan menjadi sebuah lingkaran yang utuh, apakah saya mendapatkan sesuatu dari perjalanan itu ?” Mbak Tarlen mengakhiri pengantarnya dengan sebuah pertanyaan.
Selanjutnya berbagai pendapat berlontaran. Mas Heru Hikayat yang pernah pergi ke Australia sebagai kurator, akhirnya kembali ke Indonesia. “Bukan karena ngerasa Indonesia itu rumah saya. Di sana sebetulnya lebih enak, tapi persaingannya lebih berat saja, jadi susah,” ungkapnya terus terang.
Chris, pendatang baru yang mengenal Tobucil melalui Classical Guitar Fiesta, punya pendapat juga. “Kenapa kita ngebela tempat yang ‘pejet’ (ini adalah istilah Chris untuk babak belur-red) ? Itu bergantung gimana kita melihat apa yang disebut rumah. Ada pepatah Cina, kita mau jadi kepala ular atau ekor naga ? Kalau jadi ekor naga, kita ngebela-belain; berusaha maju sedikit-sedikit supaya makin lama makin jadi kepala. Kalo jadi kepala uler, kita latih supaya uler itu jadi sekuat naga …” Berangkat dari sana, pembicaraan sedikit melebar ke arah nasionalisme.
“Indonesia mau gimana juga nggak apa-apa. Yang penting jangan ngapa-ngapain keluarga saya. Yang saya perjuangin keluarga saya karena mereka yang memberi banyak,” kata Mas Agus Rakasiwi, ketua AJI Bandung. Mas Heru pun jadi teringat pada buku Jihad Lipstik yang menceritakan perempuan Iran yang dibesarkan di Amerika, namun sejak kecil didoktrin untuk tidak melihat Amerika sebagai rumah. “Meskipun dia belum pernah pergi ke Iran, dia diajarkan bahwa Iran adalah rumah dan tanah airnya, tempat dia berasal.” Apakah bisa ? Tidak tahu juga …
“Pulang adalah kembali kepada orang di mana kita tidak harus menjelaskan siapa diri kita,” menjelang berakhirnya madrasah filsafat, Mbak Tarlen berpendapat lagi.
Hmmm … mungkin juga. Bisa jadi itu yang mendorong Obbie Mesakh menciptakan lagu untuk dilolongkan Betharia Sonata pada suatu masa, “Pulangkan saja, aku pada ibuku, atau ayahkuuuu …”
Bookmark this post: |

1 comment:
wiw, komentar g "siga sunda pisan, nya?" >_<. dibuat lebih corporate donk >_<. supaya kelihatan professional
Post a Comment