7.9.08

Membaca Perempuan Bersama Mulyani Hasan

Mulyani Hasan adalah satu-satunya perempuan yang tergabung sebagai pengurus AJI (Aliansi Jurnalis Independen), Bandung. Wawancara yang direncanakan akan lucu-lucu ini, ternyata berjalan sangat serius. Secara kritis dan tegas, Mbak Yani berbicara panjang lebar mengenai perempuan, khususnya perempuan jurnalis.

Tobucil : Gimana, Mbak, rasanya disarang penyamun ?

Mbak Yani : Maksudnya di AJI ? Nggak ada pengaruh apa-apa. Persoalan perbedaan kelamin di AJI udah beres. Saya nggak merasa perempuan didiskriminasi di AJI karena itu juga yang dikampanyekan AJI. Sebenernya AJI juga mau menjaring jurnalis perempuan …

Tobucil : Oh … terus kenapa di AJI Bandung perempuan masih jarang?

Mbak Yani : Anggotanya banyak, pengurusnya yang cuma satu. Mungkin karena kesadaran untuk berorganisasi dan beradvokasi masih minim di antara jurnalis perempuan. Kebanyakan perempuan jurnalis terfokus pada masalah bekerja, mendapatkan uang, bukan berorganisasinya. Kita kan berorganisasi terutama karena punya gagasan dan cita-cita.

Tobucil : Ooo … emang kalau laki-laki lebih nggak terfokus pada masalah mendapatkan uang dan bekerja, ya, Mbak ?

Mbak Yani: Mungkin gerakan Perempuan masih sangat sektoral, sangat mementingkan persoalan domestik perempuan, sehingga mereka jarang memberi waktu untuk melihat persoalan-persoalan yang lebih luas.

Tobucil : Mungkin, nggak, karena posisi mereka lebih tertekan di masyarakat?

Mbak Yani : Mungkin. Tapi kita nggak boleh menggeneralisasi. Jurnalis perempuan memang rentan terhadap perlakuan yang berbeda, padahal jurnalis harus dilihat sebagai jurnalis, bukan laki-laki atau perempuan.

Tobucil : Mbak Yani pernah dapet perlakuan yang berbeda juga, nggak ?

Mbak Yani : Sering. Misalnya, karena sadar saya perempuan, mereka (narasumber-red) bikin janji malam-malam, dan itu terjadi di tingkat orang-orang elit.

Tobucil : Hiiii … terus, Mbak Yaninya gimana ?

Mbak Yani : Ya dengan profesionalisme saya sebagai wartawan, saya tidak akan melakukan pendekatan di luar profesi saya. Misalnya, saya berbicara dengan tegas dan simpel. Semua narasumber saya perlakukan sama. Mungkin tindakan ini membuat orang dapat memperlakukan saya sebagai jurnalis, bukan perempuan. Hal-hal seperti ini tidak ada teorinya. Jurnalis harus mempunya insting sendiri, konsepsi sendiri, untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang timbul di lapangan. Pengalaman membuat kita akhirnya menemukan formula untuk menghadapi diskriminasi itu.

Tobucil : Wueits … keren … nah, sekarang kalo pendapat Mbak Yani sendiri tentang perempuan di masyarakat gimana ?

Mbak Yani : Apanya ?

Tobucil : Ya … apanya aja. Yang paling kesorot sama Mbak Yani.

Mbak Yani : Perempuan itu … dia terdiskriminasi dalam segala aspek kehidupan. Sebagai manusia, mereka terzalimi oleh kultur yang ada di masyarakat. Dulu perempuan bercocok tanam, laki-laki berburu. Posisi itu disempitkan, dianggapnya perempuan tidak mobile. Pemikiran primitif itu dikukuhkan oleh feodalisme yang beranggapan perempuan hanya mengurus persoalan-persoalan domestik.

Meskipun karir terbuka bagi perempuan, mereka tidak diakui sebagai manusia sepenuhnya. Mereka masih diharuskan jadi makhluk yang bukan dirinya sendiri, termasuk dalam keluarga. Mereka dianggap harus menjadi makhluk yang “berbudi luhur”, selalu tampil cantik, padahal sifat alami manusia kan pada umumnya sama. Misalnya, mereka punya kecenderungan untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrim … wah … kalau bicara soal perempuan nggak akan ada selesainya, coba kamu sempitkan lagi pertanyaannya …

Tobucil : Hehehehe … apa, ya? Ngomong-ngomong, Mbak, sekarang kan bulan puasa. Kenapa wawancara kita malah lebih mirip wawancara hari Kartini gini, ya .. ?

Mbak Yani : Justru bulan puasa persoalan perempuan sangat penting. Sebab, persoalan moral menjadi masalah yang disorot di bulan puasa. Misalnya, perempuan tidak boleh berpakaian seksi. Laki-laki kan tidak disorot. Kalau kita berbicara egalitarian, laki-laki yang bertelanjang dada, bercelana pendek, harusnya juga disorot.

Tobucil : Oooo … iya, ya … menurut Mbak Yani, agama dan jurnalisme ada hubungannya nggak ?

Mbak Yani : Intinya kan kehidupan. Agama dan jurnalisme sama-sama untuk kehidupan. Kehidupan itu untuk laki-laki dan perempuan, tidak menyorot jenis kelamin.

Tobucil : Apa alesan Mbak Yani milih profesi sebagai jurnalis ?

Mbak Yani : Karena bagi saya, jurnalisme adalah alat menuju sebuah tatanan kehidupan yang adil. Tiap orang punya cara untuk mencapai cita-citanya. Saya merasa jurnalisme itu adalah alat untuk mencapai tatanan kehidupan yang lebih baik.

Tobucil : Top, dah ! Sekarang aktif jadi jurnalis di mana, Mbak ?

Mbak Yani : Freelance. Dulu, sih, saya sempat freelance di Pantau, Playboy Indonesia, beberapa koran lokal di Aceh, kalau sekarang konsen di mediabersama.com sebagai editor …

Pemaparan Mbak Yani sore itu seperti lampu baca. Ketika dinyalakan, kita tersadara masalah perempuan diam-diam hidup di tengah-tengah kita. Mungkin menggantung pada orang-orang terdekat kita; atau tanpa kita sadari, justru terbawa di langkah kita sendiri. Ayokitabaca !

Hmm … Tobuciler jadi berpikir. Sebetulnya Tobucil ini berkelamin netral, laki-laki, atau perempuan, ya? Rentankah dia atas permasalahan gender ? Ayokitabaca !

Sundea


Google Twitter FaceBook

2 comments:

Desiyanti said...

Lho, fotonya Yani kok berwajah sendu gitu, sih? Hayooo... waktu wawancara diapain, hayooo..?

^_^

Hubby dan Bayi said...

wahh hebat!!!

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin