26.10.08

Andrea Hirata ???


Lantaran Laskar Pelangi meledak di bioskop-bioskop (untung tidak memakan korban jiwa), saya jadi ingat sebuah peristiwa kecil yang membuat saya menyesal.

Siang di bulan puasa tahun 2006 itu, saya dan seorang teman sedang mencari buku di bibliothèque (perpustakaan) CCF untuk keperluan tugas. Saat sedang pusing-pusingnya mencari buku, ditambah jet lag karena habis dicekoki soal-soal ujian tengah semester, seseorang menghampiri kami.

“Mbak, Mbak,” panggilnya. Kami menoleh dan agak terkejut waktu melihatnya. Seorang lelaki berambut ikal agak gondrong dan mengenakan kaos (yang menurut saya tampak belel). Kami tidak tahu siapa ia. Kami tak pernah melihatnya di CCF. Lantas kami berpikir, siapa ia? Mungkin karena waktu itu penerangan di perpustakaan CCF tidak begitu bagus, kami sempat mengira orang itu hantu penunggu CCF. Atau yah, yang agak mendingan: salah seorang OB tempat itu.

“Ya?” tanya saya sambil bengong. Teman saya pun tak kalah bengongnya. Siapa orang ini? Ada perlu apa? Begitu pikir kami.
“Ada launching buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Bukunya udah ada di Gramedia. Mbak mau datang nggak?” tanya lelaki itu.
Saya dan teman saya tak segera menjawab. Pikiran kami disibukkan dengan pertanyaan: buku apaan tuh? Siapa Andrea Hirata? Orang ini siapa? Kenapa kami yang diundang?
“Di mana? Kapan?” Kami penasaran.
Orang itu lantas memberitahu tempat dan waktunya. Saya lupa persisnya, tapi kira-kira di daerah Dipati Ukur bulan Desember.
“Kalau mau, undangannya saya kirim lewat e-mail. Gimana?”
Belum juga kami mengatakan mau atau tidaknya datang ke acara itu, orang itu sudah menawarkan kebaikan. Terkesan agak memaksa sih. Tapi, undangan dikirim lewat e-mail? Terkesan tidak resmi, tapi cara itu memang praktis.
Akhirnya kami mengangguk. Berhubung saya jarang membuka e-mail, maka teman saya memberikan alamat e-mail-nya pada orang itu, yang tetap kami tidak tahu siapa. Bodohnya, kami sendiri tidak menanyakan hal itu langsung padanya.

Orang itu lalu pamit. Entah mencari mangsa lain, entah ke mana. Kami tidak lagi peduli dengan orang itu. Tugas menanti untuk dikerjakan. Tapi saya berniat, sepulang dari CCF saya akan mampir dulu ke Gramedia. Tinggal lompat pagar.

Saya tidak ingat wajah lelaki mencurigakan tadi. Sewaktu mau naik ke lantai paling atas, di tangga saya berpapasan dengan seorang lelaki berambut ikal agak gondrong dan mengenakan kaos (yang menurut saya tampak belel). Ia menyunggingkan senyum pada saya. Sembari berpikir, berusaha mengingat-ingat orang itu, saya pun membalas senyumnya. Takutnya saya kenal orang itu, dan kalau saya cuek, nanti dikira sombong. Sampai akhirnya, begitu sampai di lantai atas, saya baru ingat, orang itu adalah lelaki mencurigakan di CCF tadi. Oh, betapa parahnya amnesia saya!

Di lantai atas itu, saya cari novel Laskar Pelangi. Tidak ada. Orang itu pembohong, begitu pikir saya waktu itu. Dan saya semakin curiga, jangan-jangan undangan itu juga palsu.

Beberapa minggu kemudian, saya kembali mengunjungi Gramedia. Sekadar iseng, melihat-lihat buku. Dan seperti biasa, saya langsung ke lantai atas tempat novel-novel dipajang. Begitu sampai, mata saya langsung tertuju pada sebuah buku dengan judul yang pernah saya dengar sebelumnya: Laskar Pelangi. A-ha! Buku itu ada, rupanya. Orang itu tidak bohong.
Dan sewaktu saya melihat sampul belakang, terkejutlah saya. Foto sang pengarang di sampul itu… Andrea Hirata???

Karena parahnya amnesia saya, saya tidak tahu apakah lelaki dalam foto itu sama dengan lelaki yang mencurigakan, yang berambut ikal agak gondrong dan mengenakan kaos (yang menurut saya tampak belel), yang menghampiri saya dan teman saya di CCF? Kalau benar, berarti saya sudah bertemu dengan penulis buku ini. Dan membaca beberapa komentar pakar, saya sedikit menyesal. Apalagi setelah cerita tersebut dibuat film dan sukses. Kenapa dulu saya tidak datang ke launching bukunya? Teman saya pun terlambat membuka e-mail. Ia juga tampak menyesal sewaktu melihat foto Andrea Hirata.

“Ini kan orang yang nyamperin kita dulu?”



Rie-Yanti

Rie Yanti, lahir di Bandung, 21 Juni 1984. Suka baca dan nulis. Baca apa aja dan nulis apa aja. Suka ngelamun juga. Makanya pengen jadi penulis. Rajin nulis cerpen dan dipajang di website (www.ploe.freezoka.com), atau nebeng dibuat e-book di www.warungfiksi.wordpress.com. Selain ngefans sama karya-karya Andrea Hirata, Rie juga suka karya-karya Dewi “Dee” Lestari dan Jujur Prananto. Cita-cita luhurnya: pengen bikin novel kayak “Le Petit Prince” (Pangeran Kecil) dan jadi juru dongeng buat anak-anak.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin