26.10.08

Ketika Agus Rakasiwi Mencontek


-Tobucil, Jumat 24 Oktober 2008-

Conversation Club

“So, what the topic for today?” tanya Mbak Tarlen sebelum memulai conversation club. “It’s up to you. But I will love to hear about Indonesia,” sahut Dylan, native speaker kami. Serentak seluruh peserta menoleh pada Mas Agus Rakasiwi yang ketua AJI. “Gus, apa topik menarik minggu-minggu ini ?” tanya Mbak Tarlen. Ketika diminta menjawab dengan bahasa Inggris, butiran keringat sebesar kelereng mengalir di dahi dan leher Mas Agus. Tanggapannya pun tampak kegagu-gaguan, “A…ae … eu …hahahahaha …”

Singkat cerita, meski dengan susah payah, akhirnya Mas Agus berhasil menjelaskan, “It’s about welfare and professionalism.” Dia bertutur tentang jurnalis di Indonesia yang dibayar sangat rendah. Akibatnya, mereka tidak dapat memberikan informasi maksimal kepada publik. Pembicaraan pun berkembang ke arah tenaga kerja “blue collar” di Indonesia, UMR Bandung yang hanya Rp.900.000,00 per bulan, dan masyarakat yang sudah dapat dianggap menengah ke atas dengan penghasilan RP.20.000,00 saja per hari.

Sementara conversation terus berlangsung, Mas Agus yang duduk di sebelah Tobuciler buru-buru mengakses kamus online. “Ih … gitu dia …,” reaksi Tobuciler. Mas Agus hanya menyeringai khas. Selanjutnya, ia jadi cukup aktif dalam percakapan, meskipun kadang tersendat karena harus menanti contekan dari sederet.com.

“In America, people expect a lot. So, they always spend more than what they have. That is why they always think they are underpaid,” cerita Dylan. “One of my friend is … miskin … what is miskin …,” Mas Agus kembali sibuk mencari contekan, “… eu …he doesn’t work, but he can play billiard, go to café …,” akhirnya Mas Agus melanjutkan sendiri. “Did your friend borrow money?” tanya Dylan. “I think … yes …I think he is … gali lubang tutup lubang …,” sahut Mas Agus. Dylan tampak kebingungan.

Kami pun menjelaskan makna “gali lubang tutup lubang” tersebut pada Dylan. “Oh. We have that idiom too in America,” ujar Dylan setelah paham, “We say that as ‘you borrow from Peter to pay Paul’.” Tiba-tiba Mas Agus menceletuk absurd, “Paul is better than hole … kan hole lubang …” TAK JEDES! (:sound effect lenong).

Sepulangnya Dylan, Mas Agus curhat, “Kenapa, ya, urang teh bahasa Inggris suka lancar suka enggak? Kemaren waktu sama Rosa urang lancar pisan. Iya kan …?” Mas Agus menoleh pada Tobuciler. Tobuciler mengangguk. Mas Agus memang tampak seperti pemandu wisata saat berbahasa Inggris di hadapan Rosa Verhoeve dan teman-teman pada hari Senin (20/10) lalu. Cas … cis … cus … dan penuh percaya diri.

“Kayaknya bahasa mah masalah mental. Waktu itu juga pernah, ya, gua disuruh nemenin doktor-doktor ekonomi. Hari pertama … a-eu-a-eu. Hari ke dua, a-eu-a-eu. Pas diajak ke Ancol, tau-tau lancar …,” cerita Mas Agus.

Apa conversation club ini perlu diadakan di Ancol sekali-sekali, ya ? Ide menarik. Mungkin Si Manis Jembatan Ancol pun bisa kita ajak ikut bergabung …

Sundea









Agus Rakasiwi,
Ketua AJIB tersebut

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin