12.10.08

Paskalis Trikaritasanto yang Tak Pernah Mengajar Sendiri

Seorang laki-laki berkemeja biru duduk mengoreksi tugas di meja beranda Tobucil. Namanya Paskalis Trikaritasanto … hiyaaa … namanya terdengar asing, ya … ?

“Karitas artinya cinta kasih. Kakak saya yang pertama punya nama yang berarti iman, yang ke dua punya nama yang berarti pengharapan. Iman, pengharapan, dan kasih disebut di Korintus 13 (Alkitab),” ungkap guru agama Katolik SLTP Waringin ini.

Sejak kecil aktif di lingkungan gereja, sempat masuk seminari, dan akhirnya menjadi guru agama Katolik. “Saya menikmati jadi guru agama karena itu adalah satu-satunya pelajaran yang ngajarnya tidak sendiri,”ungkapnya dengan mata berbinar. Tidak sendiri begimana ?

Mas Paskalis : Iya, tidak sendiri, karena Tuhan saat itu juga ngajar. Jadi kadang kalo kita nge-blank sebagai manusia, ide-idenya muncul lagi karena Tuhan …

Tobucil : Bukannya itu berlaku untuk semua guru di semua mata pelajaran, ya, Mas ?

Mas Paskalis : Beda. Pelajaran lain sifatnya lebih empiris, lebih butuh definisi yang pasti. Agama sifatnya lebih terbuka. Wahyunya lebih kerasa. Misalnya, waktu motor saya mogok. Sebetulnya saya tidak sedang mengajar tentang kepasrahan, tapi saat itu saya pasrah, “Tuhan kalau Engkau mau berkarya melalui kejadian ini, silakan, aku siap …” Ternyata begitu saya sampai di kelas, anak-anak bertanya tentang kepasrahan.

Tobucil : Tapi hal-hal begitu kan tetep aja bisa berlaku di semua pelajaran dan di setiap aspek kehidupan…

Mas Paskalis: Betul, tapi kan cuma pelajaran agama yang membicarakan Tuhannya. Di pelajaran lain, kalaupun dihubungkan dengan Tuhan, intinya kan bukan Tuhannya …

Tobucil : Mas, misalnya si agama itu kejebak jadi dogma gimana?

Mas Paskalis : Jadi begini. Kalau kita berhenti sampai tahap empiris, dogma, kita membuka pikiran. Tapi kalau kita kita menerapkan dogma itu dalam kehidupan sehari-hari, artinya kita membuka hati.

Tobucil : Ooo … begitu, ya. Nah, sekarang, menurut Mas Paskalis, Tuhan itu apa ?

Mas Paskalis : Tuhan itu adalah … kalau buatku … adalah Bapaku, Bapa yang ideal. Dia dekat saat kita butuh dekat, tegas saat kita butuh tegas. Kalau definisinya, menurutku dia adalah segalanya.

Tobucil : Terus menurut Tuhan, kira-kira Mas Paskalis apa ?

Mas Paskalis : Oh … kalau menurutku, Tuhan melihat aku sebagai citra-Nya.

Tobucil : Sabunnya, lotionnya atau apanya ?

Mas Paskalis : Hah ? Maksudnya gimana ?

Tobucil : Ya seperti juga Ponds atau Viva, Citra itu kan produk perawatan … hehehehe …

Mas Paskalis : Hahaha … kalau begitu memang “Citra” karena dia kan (produk) yang pertama …

Tobucil : Mas, yang pertama kan jamu tradisional …

Mas Paskalis : Hahaha … kalau begitu, keduanya. Sabun iya, lotion iya. Sabun kan menyegarkan badan …

Tobucil : yakin bikin seger Tuhan, Mas ?

Mas Paskalis : Ya iya, dengan kelakuanku, mungkin Dia jadi tertawa …

Tobucil : Kalau lotion karena kenapa ?

Mas Paskalis : Figur Tuhan menjadi halus dalam diriku. Tuhan jadi tidak jauh, begitu dekat.

Tobucil : Hmmm. Mas, cerita, dong, tentang asal muasalnya jadi guru agama …

Mas Paskalis : Sebenernya gua ditempatkan di sana. Gua bisa nolak, tapi gua yakin Tuhan mau berbuat sesuatu, jadi, ya, gua ACC. Saat itu gua udah ngajar sosiologi dan gua nggak ngerasa gagal. Gua kerja dari taun 2001-2007. Saat itu gua mengandalkan rasio. Tawaran jadi guru agama bikin gua ngerasa ditantang, “mau nggak kamu meninggalkan rasio dengan menggunakan iman ?” Nah, itu bikin gua berpikir, “Tuhan mau bicara apa, nih ?” Konsekuensi logisnya, gua meninggalkan materi, soalnya kalo gua ngajar sosiologi kan gua bisa mencari ke tempat lain, kalo jadi guru agama, gua cuma bisa ngajar di sekolah Katolik dan gua nggak bisa nego harga. Tapi apa yang terjadi sekarang ? Gua bisa punya komputer,printer, dan kebutuhan seorang guru kan itu. Waktu gua ngajar sosiologi, itu malah nggak tercukupi …

Tobucil : Oh, begitu, ya, pengalamannya … hehehehe … iya, deh, tararengkyu. Selamat ngoreksi lagi …

Mas Paskalis : (tersenyum)

Mas Paskalis meneruskan koreksiannya. Dengan penuh kesungguhan dan teliti, dia membaca tulisan murid-muridnya.


Beberapa saat kemudian, dia merentangkan tangannya sambil menyeringai. Kenapa ? Tidak tahu …


Sundea



Google Twitter FaceBook

1 comment:

JOURNALISM, IT, AND BROADCASTING said...

mas paskalis, senang dulu pernah mengenalmu...selamat menuju ke keabadian ya, mas...

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin