26.10.08

Pelayanan

oleh : Budiernanto

Saya mudik ke Bandung. Entah itu bisa dikatakan mudik atau tidak. Yang pasti saya bersilaturahmi di Bandung. Bandung ketika lebaran sudah pasti penuh, jumlah manusianya bertambah dalam waktu sekejap. Bagi saya Bandung adalah kota biasa, suasananya tak jauh berbeda dengan kota lainnya.

Kota Kembang, ya Kota Kembang adalah sebutan lain untuk Bandung. Tepatnya karena dulu Bandung begitu penuh dengan kembang. Bandung dulu begitu sepi, masih dingin, belum berpolusi, belum dilirik oleh manusia yang haus akan uang.

Tahukah Anda, bahwa plat kendaraan yang awalnya bertuliskan huruf B adalah kendaraan dari Jakarta? Yang ngga tahu berarti SIM-nya nembak!!! Nah, Bandung sekarang dipenuhi oleh kendaraan yang khususnya mobil ber-plat B. Penuh sekali! Bahkan kota sekecil Bandung pun bisa macet, walah?! Tidak heran sekarang Bandung menjadi pusat mode, begitu banyak kawasan pemukiman alias residence berubah penampilan menjadi factory outlet.

Lebih baik Bandung ditanami lagi dengan kembang, biar kembali menjadi kota kembang.
Itu ucapan enyak saya yang menimpali ucapan saya saat saya mengeluh dengan macetnya Bandung saat ini. Saya sering bertanya dalam hati, apa sih bangganya punya rumah di Bandung? Apa sih bangganya beli baju di Bandung? Apa sih bangganya pergi ke Bandung yang cuma sekali pergi terus langsung pulang? Sebenarnya pertanyaan itu langsung bisa terjawab oleh saya sendiri.

Namun Bandung masih lebih baik daripada Jakarta. Saya sangat menyukai pedestrian, dan saya bisa menemuinya di Bandung. Trotoar begitu baik untuk pejalan kaki seperti saya, yang mampu membuat saya berinteraksi dengan manusia lain tanpa dipisahi dengan jendela kaca yang memantulkan bayangan saya sendiri. Kata tante Wiki, trotoar itu jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang bersangkutan. Di Jakarta, saya pernah memprotes pengendara motor yang melintas di trotoar, namun saya tidak berani protes saat bapak Polisi yang aneh ikut-ikutan melintas.

Walaupun trotoar di Bandung terkadang membuat saya menggeleng-gelengkan kepala, saya masih suka berjalan-jalan di trotoar Bandung. Trotoar di Bandung itu masuk kategori aneh bin dableg! Pohon ditanam di tengah-tengah trotoar, lebarnya hanya bisa untuk dua orang berjalan beriringan, dijadikan tempat parkir, di tengahnya ada tiang listrik, dibuat pot bunga.

Namun sekali lagi, saya suka berjalan-jalan di Bandung. Itulah saya, yang bangga berjalan-jalan di trotoar Bandung, tapi kadang-kadang doang sih, soalnya saya suka males jalan kaki, hehehe.. Oh iya, gambar dari sini


Budernanto

Saya bernama Budi Ernanto, masih mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Nasional angkatan 2006. Hobi saya membaca buku yang bagus, mulai dari komik sampai buku literatur. Koran pun saya baca, apalagi majalah. Papan pengumuman, mading di SMA atau SMP, spanduk, poster, bahkan sebuah blog juga saya baca. Tapi hobi saya bukan cuma membaca, saya suka nonton, olah raga, tidur, dan ketawa.

Pertama kali lahir di dunia ini pada tahun 1988 dan itu yang pertama dan yang terakhir, soalnya saya ngga percaya sama yang namanya reinkarnasi. TK di Lampung, SD sampai kelas 4 caturwulan pertama di Lampung juga, SD lanjutan di Jakarta, SMP juga di Jakarta, serta menempuh SMA selama 3 tahun juga di Jakarta, bahkan menjadi mahasiswa demi mencari gelar sarjana pun di Jakarta (sigh, bored).
Itu saja perkenalannya…

untuk melihat versi lengkap tulisan ini, klik di sini

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin