26.10.08

Suratan Takdir Syarif dan Nilam


-Tobucil, Senin 20 Oktober 2008-

Klab Nulis

Gerobak biru bakso malang terparkir di halaman Tobucil. Tidak jauh dari sana, Syarif dan Nilam yang membiru dan merasa malang mempersiapkan diri menghadapi sidang Klab Nulis. “Pas sidang (skripsi) gua aja gua nggak setegang ini,” Nilam mengaku. “Itu penguji-penguji lagi pada ngapain, sih? Jangan-jangan ngomongin kita,” Syarif melirik parno ke arah Mbak Anjar dan Mas Paskalis yang sedang membaca karya Syarif dan Nilam sambil makan bakso malang.

Hari itu, sidang perdana Klab Nulis dilaksanakan. Suratan takdir menunjuk Syarif dan Nilam sebagai penampil perdana. Syarif menulis cerpen filosofis bertajuk “TGIF” alias “Thank God It’s Friday”. Dengan latar rutinitas kerja, Syarif mempertanyakan makna keterasingan dan kesadaran. Meski sempat mencapai sebuah kesadaran, di akhir cerita, Marah, si tokoh utama, kembali membenamkan dirinya dalam rutinitas. “Merenung itu mengerikan,” simpul Marah. “Saya berencana, di endingnya, Marah sadar kemudian hidup bebas. Tapi ketika ditulis, tokoh saya seperti menceritakan dirinya sendiri dan saya hanya mengikuti. Terdengar ilusif, tapi memang seperti itu,” papar Syarif di tengah presentasinya.

Nilam menulis cerpen bernafas anak-anak. Judulnya “Doa Matahari dan Bumi”. “Tadinya saya mau bikin novel grafis,” kata Nilam.

Melalui cerpennya yang personifikatif, Nilam bercerita tentang kerusakan lingkungan. Pohon, bunga, dan benda-benda alam lainnya digambarkan hidup dan bisa marah serta berkeluh kesah. “Tapi tetap ada harapan, kata ‘doa’ di judulnya maksudnya ke situ,” ujar Nilam optimis.

Mbak Anjar dan Mas Paskalis menyampaikan kritik dan saran secara obyektif. Mulai dari masalah logika cerita, sampai tata bahasa. Sebagai penulis yang telah malang melintang di dunia media, Mbak Anjar dapat dengan jeli menangkap kelebihan dan kekurangan dalam cerpen Syarif dan Nilam. Mas Paskalis yang berpengalaman mengajar pun tahu betul bagaimana membaca secara cermat dan menyampaikan koreksi dengan tepat.

“Kedua cerpen ini temanya berani berbeda, penggambarannya juga menarik,” kata Mas Paskalis sebelum menutup sidang. “Jangan berhenti menulis,” tambah Mbak Anjar memberi dukungan.


Hari bersejarah itu hampir ber-ending happy sampai Wiku sang koordinator klabs tahu-tahu menceletuk, “… dan untuk Syarif, mohon melunasi pembayaran Klab Nulis, sebab Syarif belum membayar sedikit pun … “

Sound effect lenong yang ilusif pun menghajar udara :

“TAK JEDES !!!!”

Sundea







Nilam dan Syarif


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin