16.11.08

Althoung We've Come to the End of the Road ...

-Tobucil, Senin 10 November 2008-

Klab Nulis

Pada hari perpisahan Klab Nulis, hujan turun sederas di film-film India. Meski tidak ada air mata, ke-mellow-an membungkus beranda Tobucil.

“Setelah tiga bulan bersama, saya merasakan kedekatan emosional,” ujar Ophan, Sang Tutor, dengan sungguh-sungguh. “Waktu presentasi terakhir, saya merasa sentimentil. Setelah cinlok (cinta lokasi-red) selama tiga bulan, saya sempat berpikir, ‘yah … abis ini nggak ketemu lagi, deh …’” tambah Wiku Sang Koordinator Klabs.

“Kemarin, saya juga udah nge-sms temen-temen satu-satu, minta mereka nyiapin pesan dan kesan untuk Klab Nulis. Tapi karena nggak sempet ditulis, kayaknya disampein lisan aja,” Syarif Si Badung ternyata berinisiatif membuat kejutan. Ophan, Wiku, dan Mbak Anjar tersenyum terharu.

Selanjutnya, bergantian teman-teman Klab Nulis menyampaikan pesan dan kesan mereka. “Saya datang ke sini untuk membeli sebuah tawa. Ternyata, di sini saya bukan hanya mendapat ilmu, tapi juga entertainment,” kata Mbak Fetty sambil menoleh kepada Syarif yang menanggapi dengan ekspresi “selalu galau”-nya yang khas. “Saya jadi tahu apa yang tidak saya ketahui tentang menulis. Terima kasih,” ungkap Rudy. “Saya cukup senang di sini, seperti mengenang masa TK, bermain dan belajar, tapi ngerti,” sambung Ivan. Terakhir, Syarif menyampaikan kesannya sendiri, “Klab Nulis ini membuat saya menantikan hari Senin … TGIS …” “TGIM ! Thank’s God It’s Monday, masa’ thank’s God it’s Senin ?!” ralat Kirana cepat.

Cerpen “Antara” yang ditulis Ivan, keluar sebagai cerpen favorit versi pemirsa. Ivan yang tak menyangka akan menang, tampak gembira menyambut ucapan-ucapan selamat dan bingkisan dari Tobucil.

Ivan diberi ucapan selamat



Berdasarkan penilaian dewan juri, ada tiga cerpen yang dianggap kuat dari segi kreativitas dan orisinalitas, yaitu cerpen Mbak Fetty, Ivan, dan Syarif. Setelah dikerucutkan dan dikerucutkan lagi, “Sepenggal Kamus Cinta untuk Sarah” karya Mbak Fetty terpilih sebagai cerpen terbaik. “Sistematis, kans-nya besar di media, dan rasa tulisannya sudah ada,” Mbak Anjar mengungkapkan alasannya. Kemeriahan ucapan selamat kembali meluap, hangat seperti air untuk mandi.

Psst … teman-teman kita ini sedang mempersiapkan jurnal kompilasi karya mereka, lho … seru, ya? Ingin belajar menulis seperti mereka ? Ikuti Klab Nulis Angkatan IV. Klik di sini untuk keterangan lebih lanjut …

Mbak Fetty

Sundea




Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin