9.11.08

Berawal dari Cinta Mati Desiyanti ...


-Tobucil, Rabu, 05 November 2008-

Madrasah Falsafah

“… you’re the victim of your crime,

too much love will kill you every time …”

-Too Much Love Will Kill You – Queen


Sore itu, perempuan cantik berstelan serba hitam berkunjung ke Tobucil. Namanya Desiyanti alias Mbak Echie. Sebagai pemasalah madrasah falsafah, ia membawa masalah patah hati yang cukup serius. “Gua cinta sama Indonesia. Ujuk-ujuk cinta wae nggak tau kenapa, tapi gua ngerasa cinta gua bertepuk sebelah tangan,” curhatnya sedih. Sebagai perempuan, ia merasa banyak kebijakan di Indonesia yang mengriminalkan tubuh perempuan. “Misalnya RUU APP (Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi Pornoaksi) yang sudah disahkan jadi UU APP itu,” kata Mbak Echie.

Sebagai seorang warga negara keturunan, Adi Marsiella punya pengalaman patah hati yang serupa. “Saya lahir tahun 80-an. Jelas-jelas udah WNI (Warga Negara Indonesia). Tapi mau bikin passport masih susah. Masih ditanya sampai ke kakek-nenek saya segala,” ungkapnya. Ketika ditanya, apakah setelah kejadian itu Adi masih cinta terhadap Indonesia, Adi mengangguk, “cinta …”

“Menurut aku, cintanya harus bisa dijelaskan …,” kata Mas Heru Hikayat, kurator independent yang analitis. “Mungkin karena … saya seumur hidup makan hasil bumi dari negara ini, minum air yang mengalir dari negara ini, jadi timbul keterikatan dengan negara ini. Saya sempet di Austria, tapi baru sebentar udah pengen pulang ke Indonesia. Kangen batagor,” Mbak Echie mencoba merasionalkan perasaannya.

“Menurut aku, cinta itu rasa dan rasa itu nggak rasional. Bernegara mungkin seperti hubungan manusia dengan ibunya, sebab mereka juga lahir dari ibunya, makan dari ibunya, makanya negara kita disebut Ibu Pertiwi. Negara lain juga disebut motherland kan,” pendapat Mas Ami. “Cinta itu masalah hati, kayak misalnya kita mencintai seseorang, meskipun dia dengan orang lain atau apa, rasa cintanya mah tetep ada,” sambung Bumi.

“ … mungkin saja yang terjadi dengan kita itu bukan cinta. Bisa saja kita di sini karena kita sedang menggerogoti Indonesia …,” tahu-tahu Mas Dauz yang senantiasa kontroversial punya pendapat lain. JREEENG …

Secepat angka di bursa saham, berbagai kasus melintas di kepala Tobuciler.

Administrasi. Birokrasi. Korupsi. Diskriminasi. Masalah hukum. Kemiskinan. Pendidikan. Kesehatan. Lingkungan. Brrrt … brrrt … brrrt …. Zappp ! Lalu gelap. Dan gambaran ibu pertiwi yang gundul muncul perlahan dalam warna hitam-putih …

Selambat kakek-kakek bersepeda ontel, sebuah lagu daerah mendengung di kepala Tobuciler,

Gundul gundul pacul cul gelelengan

Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi dak ratan

Wakul ngglimpang segane da ... di ... sak.. ra ... tan ....

-Gundul-Gundul Pacul, lagu daerah Jawa-

Sundea

Klik di sini untuk melihat makalah Desiyanti

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin