23.11.08

Hari Merajut dengan Benang Sisa


-Tobucil, Sabtu 22 November 2008-

Klab Rajut

Rudy datang ke Tobucil dengan sebuah syal berwarna oranye dengan gemerlap glitter perak. “Ihhh … bagusss …” “Keren, geura, Rud … “ “Wah, ini kamu yang bikin … ?” komentar Mbak Tarlen, Mbak Upi, Bu Endah, dan Tobuciler yang saat itu berkumpul di beranda Tobucil. “Iya,” sahut Rudy, “kebetulan di rumah ada benang sisa …”

Hari itu memang hari merajut dengan benang sisa. Mbak Upi mengeluarkan sekardus benang sisa dan membiarkan peserta-peserta Klab Rajut memilih benang yang mereka suka untuk merajut. “Paling banyak berapa, nih, Mbak ?” tanya Bu Endah. “Secukupnya, “ sahut Mbak Upi. “Secukupnya ?” tanya Bu Endah lagi. “Iya. Secukupnya mah gimana perlunya, Bu. Kayak orang minum teh gulanya bisa tiga, bisa lima … hehehehe …,” sahut Mbak Upi lagi.

Maka dengan suka ria sore itu teman-teman Klab Rajut memilih benang lucu-lucu yang disediakan. Ada yang membuat topi, tas, syal … ada yang memilih benang merah, putih, cokelat, dan lain sebagainya.

“Nyokap lo suka ngerajut juga, ya, Rud ?” tanya Tobuciler. “Enggak, ibu saya mah, sukanya ngerenda,” sahut Rudy sambil terus menekuni benang merah-putih yang sedang digarapnya.

“Nah, terus ini benang sisa siapa ?” tanya Tobuciler lagi.

“Nggak tau, ada kayak rok gitu di rumah, terus dibongkar lagi sama saya …”

“Hah ? Rok siapa … ?”

“Nggak tau. Ibu saya kayaknya …”

“Hah ? Yakin lo itu rok bekas dan benangnya benang sisa … ?”

JREENG …

Kalau kelak Rudy tidak muncul lagi di kegiatan-kegiatan Tobucil, kemungkinan dia sudah dikutuk menjadi batu. Bisa jadi kisah Rudy menjadi kisah Malin Kundang yang disesuaikan dengan zaman; “Maling Benang”.

Sundea




Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin