2.11.08

Kado Pelipur Kegalauan Rosihan Fahmi

Gembong madrasah falsafah ini sempat menghilang cukup lama dari peredaran. Baru belakangan ia kerap muncul di kemungilan Tobucil sekitar pukul dua-tiga siang. “Ke sini sekalian nunggu ngejemput istri,” ungkap Rosihan Fahmi (Ami) dengan wajah berbunga ala film-film Rano Karno.

Handphone tak pernah lepas dari genggamannya. Sesekali ia tampak tersenyum-senyum membalas sms Mbak Yunda, Sang Istri. Meski mendapat kado pernikahan sebesar balita dari Mbak Linda, bagi Mas Ami, Mbak Yunda tetap kado terbesarnya …

Tobucil : Ke mana aja, Mas …?

Mas Ami : Sibuk berrumah tangga, sibuk menjadi kepala sekolah di Madrasah Alliyah Baul Huda. Tapi orang-orang pada nggak percaya, lho, kalo saya ini kepala sekolah …

Tobucil : Sebenernya kalo Mas Ami bilang Mas Ami bukan kepala sekolah,mungkin orang-orang nggak percaya juga. Bukan masalah kepsek ato bukannya, tapi apa yang Mas Ami bilang yang diragukan … hehehehe …

Mas Ami : Mungkin juga … hehehe … mungkin karena masa lalunya aku urakan, ya …

Tobucil : Tapi sekarang enggak, kok … keliatan udah jauh lebih tenang. Ngomong-ngomong, gimana ceritanya, Mas, bisa jadi kepala sekolah ?

Mas Ami : Jadi ceritanya, keluarga saya mengelola Madrasah Ibtidiyyah, tadinya dikepalai sama kakakku. Udah berjalan sebelas tahun dan udah nggak ke-handle lagi. Setelah mengalami seleksi, aku yang dipilih megang SMA-nya. Kenapa saya yang dipilih ? Teuing eta mah … tapi ini semacam kado pernikahan juga buatku.

Tobucil : Karena … ?

Mas Ami : Ya … itu seperti amanah, kepercayaan, sama seperti pernikahan, itu juga amanah kepercayaan.

Tobucil : Hmmm … begitu. Sekarang kita ngomongin kado-kado aja, deh, Mas … gimana rasanya dapet kado pernikahan segede-gede gini dari Mbak Linda ?

Mas Ami : Tersanjung.

Tobucil : Kalo kado pernikahan paling berkesan buat Mas Ami apa ?

Mas Ami : Istriku itu udah kado. Kado itu kan identik dengan sebuah pengharapan, kebahagiaan, dan kasih sayang. Nah, istriku terepresentasikan lewat penjelasan tadi …

Tobucil : Switswiiiiw … romantis, euuuuuy …. Btw, Mas Ami ngerasa kado, nggak, buat istri Mas Ami ?

Mas Ami : Aku berharap begitu. Tapi buat aku, pemberian itu bukan barang jadi. Menurutku semuanya berproses. Aku tetap harus menjaga kepercayaan dan aku berharap membuat dia merasa nyaman.

Tobucil : Mas Ami sama Mbak Yunda kenal di mana ?

Mas Ami : Katanya ngomongin kado …

Tobucil : Lah … kan kata Mas Ami Mbak Yunda kado … hehehe …

Mas Ami : Dikenalin sama temen. Pertama kali ketemuan pas ngejemput kuliahnya. Sesudah itu, ngejemput-nganter dia jadi rutinitas.

Tobucil : Pertama kali ada ‘jreng-jreng-jreng’ ?

Mas Ami : Dari pertama kali ngeliat dia, aku udah ngerasa dia ini cocok buat jadi istri. Kalo diliat secara sakralnya, kayak ada suara lain yang meng-guide.

Tobucil : Bahagia ?

Mas Ami : Insya Allah. Apalagi ada perbandingannya, yang dulu, jadi yang sekarang mah insya Allah bahagia.

Tobucil : Berarti yang dulu (ketika pernikah pertama-red) nggak bahagia ?

Mas Ami : Bisa dikatakan begitu.

Tiba-tiba terdiam.

Tobucil : Soal kado, bingung mau nanya apaan lagi, Mas. Soalnya jawabannya pasti Mbak Yunda … hehehe …

Mbak Tarlen : Ini, nih, penyakit jurnalis. Nggak jadi mengeksplor karena ngerasa udah tau jawaban narasumbernya. Mi, sesudah menikah, apa yang kamu cari ? Passion atau rasa nyaman ?

Mas Ami : Dalam konteks aku, ketika menjadi kami, (semuanya) tiba pada frame konversi. Jadi menurutku, itu sudah satu paket. Dalam berrumah tangga, keduanya harus ada. Bagaimana mungkin juga kita bermimpi tanpa ada passion ? Tujuan aku dan kamu pun menjadi tujuan kami.

Tobucil : Bisa dirumuskan, nggak, Mas, apa tujuan ‘kami’-nya Mas Ami dan Mbak Yunda ?

Mas Ami : Semua itu berjalan sesuai kebutuhan. Seperti kata aku tadi, sifatnya berproses. Nilai ukurnya ada pada perasaan nyaman dan pertautan rasa. Materi hanya bentuk perwujudan dan kadang malah membuat jadi tidak nyaman.

Mbak Tarlen : Menurut kamu, gimana pertautan rasa bisa dijaga terus menerus ?

Mas Ami : Dasar ibadah, sih, yang paling dominan. Apa yang kita lakukan untuk hari ini bukan semata-mata untuk hari ini. Menggantungkan pada sesuatu yang abstrak kadang menimbulkan rasa nyaman. Di situ ada harapan, seperti percaya dan menggantungkan harapan pada surga …

Handphone Mas Ami berbunyi. Ternyata panggilan cinta. “Saya jemput istri dulu, ya,” pamitnya dengan senyum berbunga ala film Rano Karno.

Sepeninggal Mas Ami, sesuatu melintas di kepala Tobuciler. Kalau Mas Ami diumpamakan sebagai Rano Karno, kira-kira Mbak Yunda cocok jadi siapa, ya ? Yessy Gusman atau Lydia Kandou … ? Tidak tahu juga. Yang pasti bagi Mas Ami, dia adalah kado dan surga …

Sundea




Google Twitter FaceBook

2 comments:

Nandien said...

Hmmm,,,nice husband. Semoga semua semua bisa menghargai istri dan istri bisa menghargai suami dan rumah tangga akan selalu menenangkan.

Ah, jadi kangen my Love :) Met malam tobucil ^_^

tobucil said...

Iya, Tobucil sampe turut bahagia dan terharu pas ngobrol sama Mas Ami ...

Moga2 kamu sama "your love" semesra itu juga, ya, Tobucil doain ... ^_^

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin