2.11.08

Ketika Agus Rakasiwi Mengayomi

-Tobucil, Kamis 30 Oktober 2008-

Masih ingat dengan pemuda berikut ini ? Setelah menjadi bintang utama yang kelenong-lenongan di blog edisi lalu, kali ini ia tampil berwibawa dan mengayomi. Di tengah pertemuan teman-teman Jaringan Pers Mahasiswa Independen (Japmi), Mas Agus Rakasiwi yang Ketua Aliansi Jurnalis Indepen Bandung (AJIB) berposisi sebagai “kakak tertua”.

Pada pagi menjelang siang di “hari keseimbangan” itu, teman-teman Pers Mahasiswa (Persma) se-Jawa Barat serius mencari “titik seimbang”.

“Posisi mahasiswa kan sementara. Perlu, nggak, kita merumuskan kode etik jurnalisme kita sendiri ? Perumusan ini juga akan meningkatkan profesionlisme di kalangan Persma,” ujar Dito, mahasiswa Universitas Parahyangan (Unpar) yang juga aktif sebagai pengurus Japmi. Berbagai pendapat pun berlontaran. “Kalau kita udah bikin kode etik, apakah semua (kebutuhan Persma) bisa terpenuhi ?” tanya Satria yang juga pengurus Japmi. “Sebetulnya jurnalis mahasiswa itu apa, sih ? Memang wartawan, atau sekedar hobi menulis ?” Gita dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran ikut melempar wacana. “Nggak semua Persma anggota Japmi. Kira-kira apa kita sudah cukup representatif untuk jurnalis mahasiswa?” Angga dari Jumpa, media Unviersitas Pasundan (Unpas) pun urun pendapat.

Selama kurang lebih dua setengah jam, berbagai pertanyaan dan pernyataan memantul-mantul di sekitar meja kotak Tobucil. Dengan saksama, Mas Agus Rakasiwi mendengarkan, Sesekali ia melontarkan pendapat yang sifatnya menyeimbangkan, “Di bawah rektorat, persma tetap dapat mempertahankan independensi, kok. Logikanya sederhana saja, uang yang disetor di kampus kan uang mahasiswa juga …” atau “Persma membawa misi ideologi pembebasan, lho, waktu koran tidak berani menulis masalah-masalah lokal, media mahasiswa bisa lebih berani …” atau lagi, “Persma akan diakui atau tidak, bergantung bagaimana kalian menjalankan eksistensi. Sudah dengar kasus jurnalis di Afganistan yang diancam dua puluh tahun penjara ? Dia jurnalis mahasiswa, tapi dia mendapat perhatian dari Reporters without Borders .”

Karena kode etik belum sempat dirumuskan, teman-teman sepakat untuk mengadakan diskusi lanjutan. “Target diskusi hari ini sekedar membuka pola pikir kita akan kesadaran pentingnya aturan dalam persma,” simpul Satria sang moderator. “Saya seneng karena temen-temen serius membahas kode etik ini. Di situ ada idealisme dan perasaan kalau yang teman-teman jalani ini profesionalisme. Tapi jangan terus-terusan diskusi sampai nggak nulis, ya …,” pesan Mas Agus. Meski sambil tertawa kecil, teman-teman persma mengangguk patriotik.

Seiring berakhirnya diskusi, angin sepoi-sepoi masuk ke beranda. Menerpa kulit dan rambut teman-teman yang hadir saat itu. Meniupkan pesan yang harus diterjemahkan dengan bahasa yang bukan kata-kata.

Tahu-tahu Tobucil teringat. Delapan puluh tahun Sumpah Pemuda baru saja lalu.

Sundea




Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin