9.11.08

Pria Kopi Kental dan Gadis Kelapa Muda

-Tobucil, Senin 03 November 2008-

Klab Nulis

Seorang lelaki millennium memasuki beranda Tobucil. Tobuciler terkesiap. “Apa-apaan ini ? Ini ‘kan Klab Nulis, bukan pembuatan film futuristik,” pikir Tobuciler. Sedikit dramatis, lelaki itu membuka helmnya dan … JREEENG … ternyata dia Ivan Sontani, satu dari dua penampil terakhir dalam sidang Klab Nulis angkatan ini.


Penampilannya saat sidang pun ternyata tak kalah dramatis. Ditemani kopi aroma dan mengenakan jaket mirip jas, Ivan duduk bertopang kaki. Dengan suara berat, ia menceritkan cerpennya. Kisah seorang kolektor bernama Gusto, sebuah lukisan berjudul “Antara” (yang juga menjadi judul cerpen Ivan), prestise, serta tema surga dan neraka yang diusung lukisan tersebut. “Kenapa surga dan neraka ?” tanya Ophan, tutor Klab Nulis. “Karena surga dan neraka adalah puncak dan jurang. Kenapa kita nggak berada di ‘antara’ saja, nggak perlu di titik ekstrim,” Ivan menjelaskan.

Suasana “high art” yang serius tersebut masih dilanjut dengan penampilan Syarif dan Bil dari Klab Klasik. Dengan gitar, mereka membawakan “Invention in A Minor” gubahan Bach yang terdengar perih mendayu-dayu. “Supaya kebayang lukisan ‘Antara’,” alasan Syarif setelah lagu selesai.

Namun, ketegangan itu segera dipecah oleh penampilan Kirana yang ceplas-ceplos dan bersuara sesegar es kelapa muda. Peserta termuda di Klab Nulis angkatan ke tiga tersebut menulis “Catatan Harian di Rumah Eyang”, sebuah cerpen berformat catatan harian.

Melalui cerpennya, Kirana mengangkat kisah seorang nenek yang tidak mau dipindahkan dari rumahnya. “Kenapa kepindahan Eyangnya nggak digambarkan di awal?” tanya Mas Paskalis. “Soalnya dari pertama (mulai bikin cerpen), temanya berubah-ubah terus,” jawab Kirana.


“Kamu pernah nulis diary, nggak?” tanya Mbak Anjar.

“Pernah, waktu SD,” sahut Kirana.

“Bentuknya gimana?”

“Ngasal, soalnya kan waktu itu masih SD …”

“Misalnya hari ini kamu ke Tobucil, apa yang kamu certain di diary?”

“Kemarin saya ke Tobucil. Udah gitu aja.”

GERRR … hadirin tertawa mendengar jawaban Kirana yang seadanya. Selanjutnya, Mbak Anjar menjelaskan bahwa format buku harian tampaknya tidak cocok untuk cerpen Kirana. Bahasa di cerpen tersebut kurang mengalir seperti umumnya buku harian. “Kamu kalau manggil saya apa?” tanya Mbak Anjar lagi. “Tante,” jawab murid kelas dua SMA tersebut polos. DHIEEERRR !

… dan hari itu, sidang berakhir. “Minggu depan ada acara penutupan, penyerahan sertifikat, dan pengumuman cerpen terbaik,” umum Wiku. Psst … kamu juga bisa ikut menyumbang suara, lho. Klik di sini atau lihat di posting ini untuk membaca keenam cerpen yang ditulis teman-teman kita, lalu ikuti pollingnya.

Mau mengalami keseruan-keseruan seperti ini ? Pantau terus blog Tobucil.

Nantikan pengumuman kami selanjutnya … ^_^

Sundea



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin