16.11.08

Seberanda Marshmallow di Tobucil

-Tobucil, Jumat 14 November 2008-

Peluncuran teenlit “Marshmallow”

Nuansa pink-putih melingkupi beranda Tobucil. Teenlit “Marshmallow” siap diluncurkan. Evi Sri Rejeki, sang penulis yang cantik dan imut pun, mengenakan busana pink-putih; matching dengan setting dan marshmallow yang disediakan khusus untuk hadirin hari itu.

Apa yang ada di bayanganmu ? Segerombol ABG yang ceriwis dan centil ? Lagu mellow-cute-girlie yang up to date ? Artis sinetron ganteng yang membuat cewek-cewek histeris ? Kalau iya, Anda salah. Sebagian besar hadirin justru seniman gondrong orkes bergaya hardcore. Peluncuran pun dibuka dengan penampilan Mahatir, mas-mas kribo bergaya eksentrik. Sambil duduk di meja konsumsi, ia menyanyikan lagu Benyamin.S dengan gaya cuek, “Eh ujan gerimis aje …” .

Di atas meja lainnya (tepatnya meja pembicara), seorang anak laki-laki yang tengil menggemaskan, duduk dengan gaya duyung. Namanya Abing. Sambil makan marshmallow, dia malah menonton hadirin.

Dipandu oleh Deni Maung, dipembicarai oleh Ophan (tuor Klab Nulis), Tiya dan Destya (murid SMUN 1), serta Evi sendiri, acara berjalan cair dan manis seperti isi marshmallow. “Di toko permen, marshmallow langsung kelihatan meskipun warnanya hanya putih. Luarnya (kemasannya) bagus, dalemnya juga enak dan manis. Semua orang, terutama remaja, yang masalah utamanya ingin mengeksiskan diri, ingin menjadi marshmallow,” papar Evi.




Ketiga pembicara lainnya mengamini kemanisan Alina, tokoh utama teenlit “Marshmallow”. “Tapi untuk anak seusianya, Alina sangat dewasa. Dalam hal problem solving, dia sangat kritis, sangat cepat, bahkan sepertinya dia itu sudah siap nikah. Menurut saya karya ini jadi karya setengah teenlit,” komentar Ophan. “Kalo aku di posisi Alina, pasti nyeleseinnya nggak gitu. Anak SMA kan banyak dilebay-lebaykannya,” pendapat Tiya, sejalan dengan Ophan. “Alinanya emang remaja setengah, dewasa setengah, soalnya dia banyak tersusupi pemikiran Evi (yang sudah mahasiswa),” Evi mengaku sambil tersenyum malu-malu.

Tersebutlah Alina, remaja SMU yang tidak menarik secara fisik, namun baik hati dan berprestasi. Berkendara Alina, Evi mencoba menyampaikan berbagai masalah sosial; bagaimana bertahan menghadapi cemoohan, single parent, plagiat, dan lain sebagainya. “Saya ingin memasukkan unsur edukasi dalam sebuah teenlit,” ujar Evi.

Namun, banyaknya masalah yang diangkat, membuat beberapa unsur cerita luput dijelaskan, misalnya, “Di akhirnya ada Jimi. Jimi itu siapa?” tanya Destya. “Marshmallow-nya tidak banyak dijelaskan di buku ini,” ujar Ophan.

Acara ditutup dengan sumbangan suara Inti, penyanyi bersuara empuk dan manis yang selalu merasa menjadi Alina seumur hidupnya. Mengisi kemungilan beranda, Inti mengumandangkan lagu bertajuk “Marshmallow”, “ How can I tell you about something I don’t know …”

Iya. How can you tell me about something you don’t know? Cover “Marshmallow” hampir polos tanpa petunjuk. Tak ada ringkasan cerita. Tak ada profil penulis. Bahkan judul buku pun dicetak emboss, nyaris tak terlihat. Sebetulnya secara tampilan, cover buku ini sangat menarik. Warnanya “shocking pink”, seperti meramalkan bahwa “shocking things” akan hadir di peluncuran buku tersebut.

Tobuciler senyum-senyum sendiri. Meski bukan cerita misteri, buku ini menyimpan banyak misteri …

Sundea

"Ngomongin Marshmallow", makalah Ophan



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin