8.12.08

Antara Rindu, Dendam, dan Rintik Hujan

Bagian 1

Cerita nyata tak semudah untuk dibuang. Hanya mimpi yang gampang terlupakan. Senang yang datang bagai hujan di tengah padang gersang. Namun kala sakit menjangkit, hati seperti ditusuk belati. Tersayat, tercabik, terkoyak, memporak-porandakan seisi badan seakan takan kembali tersembuhkan.

Itu kira-kira sepenggal kalimat yang dapat membuat banjir darah di ranah yang disebut cinta. Tiba-tiba saja suara berisik grudug-grudug pintu pagar rumah yang terbuka mengagetkanku dari asyiknya melamun. Suara hujan yang rintik-rintik seakan mendukung hati yang dilanda segudang rindu pada seseorang nan jauh di sana.

Kulihat ke arah kaca jendela sambil mengernyitkan dahi. Kaca jendela agak tertutup kabut akibat hujan yang masih turun rintik-rintik. Namun, samar, terlihat sesosok tubuh tinggi semampai berrambut panjang mendekat ke arah pintu rumah.

"Assalamualaikum ...,” benar saja, tak harus menunggu lama terdengar suara.

"Wallaikumusallam ... tunggu sebentar ...,” bergegas aku beranjak dari kursi malasku.

Sesosok tubuh yang membuatku penasaran tak kubiarkan menjadi kedinginan di luar. Semoga saja kebaikan hatiku membukakan pintu menjadi nilai empati baginya dan berlanjut dengan tuker-tukeran ilmu kanuragan (upss..salah no HP maksudnya).

Saat hendak membukakan pintu, tiba-tiba saja pikiranku menerawang menjelajah alam khayal yang begitu dahsyat. Teringat adegan dalam buku cerita novel Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang berjudul “Ratu Mesum Bukit Kemukus”

Kala itu diceritakan Sawitri langsung menarik Wiro Sableng masuk ke dalam bangunan itu. Begitu sampai di dalam, perempuan muda bertubuh sintal dan putih ini terus saja membuka baju dan angkin yang membelit pinggangnya. Murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede jadi terperangah ketika di lain kejap dia dapatkan Sawitri sudah dalam keadaan tidak berpakaian lagi. Lalu enak saja perempuan ini menelentangkan tubuhnya di atas hamparan baju dan kain panjangnya, dan …

"Assalamualaikum"

Kontan aku tersadar dari khyalan setan yang menyesatkan.

”Wallaikumsal ...,” betapa kagetnya aku ketika membukakan pintu dan melihat seseorang yang selama ini telah menghilang dari kehidupanku ….

Bersambung …

“Papantulis” adalah ruang terbuka untuk menulis apa saja. Kirimkan tulisanmu ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto dan biodata singkatmu. Ditunggu, yaaa …

Didi Supardi, lahir di Majalengka, 22 April 1982. Selain suka menggambar, nonton film dan travelling, lulusan Desain Komunikasi Visual Unpas 2006 ini kini mulai menyukai menulis. Bekerja sebagai Graphic Designer, tidak menghalangi hobi barunya menulis di sela-sela waktu luangnya. Penikmat musik Reggae ini mempunyai cara tersendiri dalam menikmati hidup dengan cara santai namun pasti dan mengalir apa adanya sesuai dengan aliran bermusiknya. Untuk mengenal lebih jauh bisa mengunjungi rumahnya di :

http://didisupardi.blogspot.com

http://didisupardesign.multiply.com

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin