14.12.08

That's why it is Called "Live"



Crafty Days 02 Recycle Attack
Selepas hujan, beranda Tobucil di-recycle menjadi panggung live music. Dilingkupi aroma rumput basah dan dilampui matahari meleleh yang jingga-ungu, teman-teman kita tampil bergantian.
Musik mereka yang beragam hadir seperti pelangi selepas hujan. Pada hari pertama, diiringi harmonika Bad Boy Blues, hadir Independent Scarlett dengan lagu-lagu popnya yang cute, disambung Kang Mukti-Mukti dengan lagu-lagu baladanya yang menonjok. Pada hari ke dua, teman-teman kita dari MK3 (Musik Klasik SMU 3) tampil lengkap dengan gitar, keyboard, dan strings section. Menyusul Syarif, Ophan, berbintang tamu Mbak Tarlen, menyajikan lagu-lagu Pearl Jam dan Nirvana dengan gaya Srimulat.
Sesuai namanya, pemain live music harus betul-betul menginsyafi ke-live-annya. Bukan sekedar tampil, mereka harus meniupkan nafasnya kepada ruang. Independent Scarlett sepertinya luput mencapai hal itu. Lagu-lagu lucu dan suara renyah Manda tidak cukup memeluk kemungilan beranda Tobucil, bahkan menggandeng tiupan harmonika Bad Boy Blues. Independent Scarlett memang tampak berusaha memberi ruang pada Bad Boy Blues, namun pada kesempatan itu, Bad Boy Blues tidak butuh “diberi ruang”. Ia justru butuh “dijadikan bagian dari ruang”.
Berkebalikan dengan Independent Scarlett, Kang Mukti tampak kenal betul rahasia live music. Lagu-lagunya tidak hadir telanjang. Ia membawakannya dengan improvisasi yang fleksibel dan cair seperti air yang mengikuti wadah. “Ayo … prepetpetpet … prett … prettt …,” dengan jenaka ia menirukan suara harmonika, memancing Bad Boy Blues yang sempat hanya tersenyum rikuh-rikuh santun karena tak mengenal lagu-lagu Kang Mukti.
Nada-nada pancingan Kang Mukti ternyata menafasi Bad Boy Blues, lalu dihembuskan lagi lewat tiupan harmonika. Petikan gitar, nyanyian Kang Mukti, dan harmonika Bad Boy Blues bersenyawa di udara; jadi penuh; lalu jatuh seperti hujan yang baru di kemungilan beranda Tobucil. Di tengah kebercandaannya, Kang Mukti menyanyikan lagunya dalam berbagai bahasa asing yang dikarang sendiri. Penonton tertawa-tawa. Komunikatif secara emosional, meski tidak secara kata-kata.
Sebelum menutup acara, Kang Mukti akhirnya mempersembahkan lagu “The Revolution Is”-nya dalam bahasa Indonesia,
Memahami mata yang kau pejamkan,
adalah pulau yang jauh di ufuk timur matahari.
Kita yang masih bertani berdiri menatap matahari
Menitip mati
Esok pagi
Revolusi …
Penonton terpekur. Suara tawa perlahan tertelan bersama lirik patriotik. Menjadi nutrisi . Namanya makna.
Setiap hari kita menitip mati.
That’s why “live” sounds close with “leave”.
Untuk melihat foto-foto live music yang lainnya, kunjungi www.flickr.com/photos/tobucil

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin