Monday, March 31, 2008

Reni Renita : Antara Jajan dan Kak Dizan

Reni Renita adalah gadis kecil delapan tahun yang hidup rukun bertetangga dengan Tobucil. Bagaimana tidak rukun? Selain tinggal sepekarangan dengan Tobucil, kru Tobucil tentu menyambut gembira Reni yang hampir setiap hari datang untuk jajan penganan.

Selain gemar jajan, ada hal lain yang ternyata digemari si manis kelahiran 12 September 1999 ini. Berikut adalah interview Tobucil dan Reni. Perlu diketahui, interview ini dilakukan sambil ajojing karena Reni, siswi kelas 3 SD PN Sabang ini, tak bisa diam selama menjawab pertanyaan-pertanyaan Tobucil.

Tobucil : Ren, kenapa, sih, seneng jajan di sini?

Reni : Deket

Tobucil : Biasanya di sini jajan apaan aja, Ren?

Reni : Makanan sama minuman.

Tobucil : Lah … kan yang dijual di warung ini emang makanan sama minuman. Maksudnya makanan sama minumannya apa?

Reni : Banyaaaakkk … males, ah, nyebutinnya satu-satu.

Tobucil : Ren, udah punya pacar belom?

Reni : beloooom….

Tobucil : Kalo kecengan …?

Reni : (tampak malu-malu)

Tobucil : Hayoooo … pasti ada, dehhhh ….cerita, dong ….

Setelah melakukan berbagai gerakan khas salah tingkah, akhirnya Reni bersedia bercerita.

Reni : Ada, anak kelas 4B. Tim volley juga.

Tobucil : Woooow …namanya siapa?

Reni : Kak Dizan.

Tobucil : Oooo … Kak Dizan. Orangnya kaya gimana, sih?

Reni : Mirip artis yang huruf depannya A.

Tobucil : Hyah … siapa? Kan banyak ….

Reni : Adly Fairus ….

Tobucil : Oooo … yang main Cinta Fitri itu, ya …?

Reni : (mengangguk malu-malu)

Tobucil : Reni lebih suka mana, jajan atau Kak Dizan?

Reni : Kak Dizan. Soalnya Jaja jelek, Kak Dizan lebih ganteng.

Tobucil : Bukan Jaja, Ren, jajan …

Reni : Kak Dizan-lah, soalnya jajan enak …

Tobucil : Hum ?

Reni : …. tapi Kak Dizan lebih ok ….

Tobuci : Hahahahahaha … bisa aja ….

Reni : Kak, waktu itu Kak Dizan pernah ke kelas aku, lho. Tapi pas akunya lagi jajan mi. Uh!

Tobucil : Yah … lain kali sekalian aja Kak Dizannya kamu jajanin, Ren, kalo perlu ajak jajan ke sini, biar kita-kita ngeliat.

Reni : Ah, nggak mau!

Tobucil : Yah … masa naksir nggak mau ngejajanin?

Reni : Nggak mau, ah, males …

Selanjutnya Reni bercerita lebih banyak lagi. Tentang kesukaannya pada kupu-kupu, tentang cita-citanya menjadi penyanyi dan pemain film, tentang pengalamannya dikejar anjing, tentang sepupu-sepupunya, dan lain-lain.

Ketika Tobuciler ingin mengambil fotonya, Reni menghindar. Maka terjadilah kejar-kejaran antara Reni dan Tobuciler. Memang tidak tersangkal. Reni kecil punya energi besar. Dan tentunya, itu karena jajanan-jajanan Tobucil yang dia konsumsi, hehehehe ….

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Kembalinya Trio Macan Plus

-Tobucil, Senin 24 Maret 2008-


Siang–siang di Tobucil, yang sudah lama sepi, kembali gempita. Mbak Elin featuring Angga Reksa Rizki Chandra, Ocha, dan Laras, kembali memeriahkan Tobucil. Setelah sekian lama absen, banyak hal yang harus diselesaikan; mulai dari menyusun daftar buku sampai mengupload folder-folder penting. “Tadinya saya yang ngerjain, tapi bisi nanti keteter karena saya ngurus si dede, jadi saya ngajarin ini, nih, anak-anak kembar saya,” kata Mbak Elin sambil menunjuk Ocha dan Laras yang tampak pusing menghadapi data-data di layar komputer.

Kasir Tobucil jadi penuh cicitcuwit. Kadang obrolan serius, kadang candaan tak tentu arah. Tahu-tahu si kecil Angga menangis sekuat tenaga. Dengan segera Mbak Elin meninggalkan “anak kembar”-nya untuk menengok Angga.

“Ya ampun, laper lagi,” kata Mbak Elin sambil menggendong Angga. “Dia teh musti dikasih nenen. Nggak mau minum dari botol. Kalau begitu terus, saya yang repot. Dia nggak bisa ditinggal, padahal sayanya musti kerja. Banyak, lho, temen saya yang terpaksa berenti kerja karena musti nenenin anaknya, “ curhat Mbak Elin. Mbak Elin menimang bayinya. Penuh kasih sekaligus prihatin, dia memperhatikan wajah Angga.

Tahu-tahu, tak terduga Mbak Elin bertukas, “Mustinya mah bikin aja dot yang bentuknya nenen mamahnya, ya, jadi nenen mamahnya dicetak aja ku pabrik …” JREEEENG …

Hmmmm … ada yang mau … mewujudkan …?

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Benang di Tangan Kananmu, Kripik di Tangan Kirimu … (dinyanyikan nada lagu Madu dan Racun)

-Tobucil, Senin 24 Maret 2008-

Di luar ruang Tobucil, lepas dari kemeriahan yang diciptakan Trio Macan Plus, ada seseorang yang tampak asyik dengan kesoliterannya. Sambil ngemil kripik, Mas Andre menggulung benang. Dua meja dirapatkan. Benang yang sedang digulung diletakkan di bawah, sementara benang-benang yang sudah digulung tertumpuk rapi sesuai warna di keluasan meja.

“Enakan mana, Mas, nggulung di sini ato di dalem?” tanya Tobuciler. “Di sini. Abis kalo di sana (meja kasir-red) semua barang numpuk. Terus semuanya goyang-goyang, sampe monitor aja goyang-goyang,” papar Mas Andre. “Lagian meja yang ini lebih megang kalo dipasangin ini (alat penggulung benang-red), lebih enak aja jadinya,” lanjutnya sambil terus menggulung.

“Emang benang-benangnya harus beres digulung hari ini, ya?” tanya Tobuciler lagi. “Enggak juga, sih, gue aja yang pengen cepet beres biar bisa dijual. Udah banyak pesenan, Bo!” sahut Mas Andre.

Sampai bersaat-saat berikutnya, Mas Andre masih sibuk menggulung benang. Dan mulutnya pun belum berhenti menggulung kripik.


(Sundea)



Google Twitter FaceBook

Manfaat Kisah Cinta Mohammad Syafari Firdaus

-Tobucil, Rabu 26 Maret 2008-

Madrasah Filsafat

Rindu kita masih juga seperti maut itu

Perjalanan menuju rumah dalam entah

yang menyimpan senja asing

dan pesta cemas merintih, bersitahan dalam sakit

mereguk kepayang birahi

dalam geliat kelahiran di rahim sunyi

:nanar kita, abadi !

-Mohammad Syafari Firdaus-

Mas Ami sedang jatuh cinta. Jadi, senja itu, madrasah filsafat yang dijadwalkan bertema “manfaat” membahas “cukup bermafaatkah saya bagi pasangan saya dan sebaliknya?”. Agak maksa, memang, tapi tidak masalah. Tema itu membuat madrasaf filsafat lebih hidup.

Setelah seminggu sebelumnya Mas Dauz dan seni pra-sejahteranya membintangi Rabu malam, hari itu lagi-lagi dia bersinar di tengah-tengah madrasah filsafat. “Hari ini saya 35 tahun,” dia mengumumkan. Serentak masyarakat madrasah filsafat riuh bersorai. Di hari ulangtahunnya itu, khusus untuk madrasah filsafat dan pembaca blog Tobucil, Mas Dauz membagi kisah cintanya 15 dan 2 tahun terakhir.

“Saya berkubang di lubang yang sama selama 15 tahun,” begitu Mas Dauz mengawali. “Dia tahu saya masih cinta. Pertemuan dengan dia selalu jadi puisi. Bahkan waktu awal-awal, setiap minggu, puisi saya (yang tentang dia-red) dimuat di koran, termasuk puisi yang saya anggap jelek sekali.”

Saat ini cinta platonis Mas Dauz sudah menikah dan punya tiga orang anak. Meski begitu, Mas Dauz tidak merasa harus “move on”. “Kalau memang masih cinta, kenapa harus bilang sudah nggak cinta? Lagi pula saya tahu itu harga yang harus saya bayar. Saya memilih untuk mencintai dia, dan kalau pilihan itu sudah saya perhitungkan, kenapa harus menyesal?” sahut Mas Dauz patriotik.

“Apa selama lima belas tahun ini dia benar-benar the one, Mas?” tanya Tobuciler. Tahu-tahu seniman yang biasanya gahar look dan gahar attitude ini bersemu merah, … ada, sih …dua tahun lalu, saya sempat jatuh cinta yang kayak anak SMA …” Kembali masyarakat madrasah filsafat bersorai riuh, “Ayo, dong, ceritain … ,” desak semua peserta madrasah. “Waktu itu … ah, enggak ah …,” Mas Dauz semakin mengepiting rebus. Sambil geleng-geleng dia menelungkupkan kepalanya ke meja. “Ayo, dong ….”

Setelah dibujuk sedemikian rupa, akhirnya Mas Dauz mau juga bercerita. “Saya ketemu dia cuma dua kali. Waktu pertemuan pertama, sih, biasa aja. Tapi di pertemuan ke dua, baru kerasa ada sesuatu. Soalnya waktu itu kita pakai baju yang sama.” “Emang pakai baju apa?” tanya seorang peserta madrasah filsafat. “Si Dauz emang pakai apa lagi, sih,” sambar peserta yang lain. Tetapi semuanya segera kembali diam, takut Mas Dauz mogok cerita lagi. “Saat itu saya betul-betul nggak enak perasaan, keringet dingin, nggak bisa ngomong apa-apa. Jadi saya cuma ngasih buku dan bilang, ‘Ini buku untuk kamu. Dibaca, ya …’

“Waktu dia mau pulang ke Medan, saya nganter ke stasiun. Udah kebayang, tuh, mau tiba-tiba ikut ke Jakarta sama dia, nggak peduli apa yang bakal terjadi. Pasti akan sangat dramatis. Tapi kereta terus melaju dan saya diam saja. Mau bilang ‘I love you’ oge, naha teh poho (kenapa lupa-red) ? Sambil mikirin itu, saya yang harusnya naik angkot malah jadi jalan kaki terus. Bukannya ke rumah, malah sampai IP (Istana Plaza-red). Saya sempet kirim sms ‘aku padamu’ … tapi nggak dibales …” Kembali masyarakat madrasah filsfat berderai tawa.

“Tapi …,” ternyata cerita Mas Dauz belum selesai, “Saya sempet ge-er sama dia.Pada suatu kali, dia sempet sms, ‘aku mau menikah. Tapi kami jauh, beda pulau, dan baru dua kali ketemu…’ Ciri-ciri itu kan seperti saya,” cerita Mas Dauz berbunga-bunga. “Sayangnya pertanyaan terakhir dia bikin saya tremor …” lalu jeda. Masyarakat madrasah filsafat hening. Akhirnya Mas Dauz melanjutkan, “dia tanya: apakah saya percaya Tuhan?” Blarrrr …. Madrasah filsafat kembali riuh. Ada yang tertawa, ada yang melontarkan celetukan jahil, ada yang geleng-geleng kepala …

…dan ternyata, di luar forum madrasah filsafat, ada seorang pria yang diam-diam pasang telinga. Meski tampak asyik menghadap laptop, setiap kelucuan di cerita Mas Dauz membuat dia mengulum senyum. Apa kisah cinta Mas Dauz bermanfaat buat dia? Bisa kita tanyakan sendiri…

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Naga Kesepian dan Gadis Kecil Tiga Belas Bulan

-Tobucil, Sabtu 29 Maret 2008-

Klab Dongeng Interaktif
terselenggara atas kerja sama Tobucil dan Semi Palar

Namaku Uniqua. Umurku tiga belas bulan. Hari ini aku ikut kakakku Rendi ke Tobucil. Katanya ada Klab Dongeng Interaktif. Apa itu ? Aku penasaran. Jadi, waktu abangku dan teman-temannya duduk di beranda Tobucil mengikuti Klab Dongeng, aku berdiri merapat pada kursi panjang yang memagar membatasi arena Klab.

“Sekarang Cyrusnya kita panggil dulu, yuk. CYRUUUUUS ….,” ajak Kak Caroline. “CYRUUUUUS ….,” kakakku dan teman-temannya mengikuti. “Udah keluar, belum? Belum, ya? Ayo kita panggil lagi. CYRUUUUUUS ….,” panggil Kak Caroline lebih kuat. “CYRUUUUUUSSSSS !!!!!” kakakku dan teman-temannya berseru tak kalah kuat. Lalu, di layar putih luas, tampil gambar naga hijau berwajah sedih. Oh … ternyata naga itulah yang bernama Cyrus.

Cyrus tinggal kesepian di lautan. Dia mencoba mengajak hiu berteman. “Kira-kira hiunya mau, nggak, berteman dengan Cyrus? Siapa yang bilang mau?” tanya Kak Caroline. Beberapa teman kakakku mengacungkan jari. “Siapa yang bilang enggak?” tanya Kak Caroline lagi. “Jangan diangkatin tangannya, nanti hiunya jadi nggak mau main sama si naga, nanti naganya sedih!” larang Kak Sabit, salah satu teman kakakku.

… tapi harapan Kak Sabit tidak terpenuhi. Si hiu tetap tak mau berteman dengan Cyrus. Cyrus tetap kesepian. Dia malang melintang di lautan tanpa seorang teman pun.

Pada suatu kali, sebuah kapal terhuyung di lautan. Badai menghantam dan merusak layarnya. Cyrus yang baik hati dengan sigap menjadikan tubuhnya layar. Maka, selamatlah si kapal dari ketenggelaman. “Kalau tenggelem nanti kayak pesawat Adam Air!” komentar Kak Chrissy, teman kakakku yang berambut panjaaaaang sekali.

Namun, masalah si kapal tidak selesai di sana. Sekelompok bajak laut tahu-tahu datang menyerbu. Lagi-lagi Cyrus menyelamatkan. Dengan kepalanya yang kuat, Cyrus menghantam kapal bajak laut sampai berkeping. Meskipun menjadi pusing, Cyrus merasa senang. Kenapa? Karena ketika menarikkan kapal yang diselamatkannya, Cyrus jadi punya teman. Dia berkenalan dengan para awak kapal.

Kakakku dan teman-temannya seperti betul-betul bertemu dengan Cyrus. Mereka bisa ikut berperan dalam jalannya cerita, mencoba menarik kapal seperti Cyrus, bahkan ikut tidur ketika Cyrus tidur. Aku jadi kepingin ikutan. Maka, akupun mencoba melampaui kursi panjang yang membatas. Heup …hup …ughhhh … aduh ! Ternyata aku tidak berhasil, teman-teman. Bukan hanya pembatas arena yang tak dapat kulampaui, tetapi juga batas usia. Aku baru tiga belas bulan, sementara acara ini diadakan untuk kakak-kakak berusia empat sampai enam tahun …
***

Setelah didongengi, teman-teman peserta pindah ke pekarangan Tobucil. Di sana, mereka diajak membuat naga warna-warni. Pertama-tama, mereka menggambar wajah naga pada karton putih. Selanjutnya, tubuh dan buntut si naga dibuat dengan kertas minyak dan krep warna-warni. Terakhir, teman-teman kecil memasang sumpit di ujung depan dan belakang si naga. Lalu si naga siap merentang dan mengkerut. Siapa nama nagamu?

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Mercon Dingin untuk Merayakan Hari

-Tobucil, 30 Maret 2008-

Drotoktoktok … jeledag … drotoktoktok ….

“Hujan es … hujan esssss …. !!!!” seru seseorang di luar Tobucil. Spontan seisi Tobucil menghambur keluar untuk menyaksikan kejadian langka tersebut.

Bongkahan-bongkahan kecil kekristalan jatuh seperti meteor. Ada yang mencium batu, menjitak atap, dan tersangkut di jaring-jaring. Setiap orang yang membawa kamera mengabadikannya dalam kamera. Sementara yang hanya membawa hati, mengabadikannya di dalam hati.

Hari itu ulangtahun Mbak Tarlen dan welcoming party untuk si kecil Angga. Segenap alam tampak ingin ikut merayakan. Sengaja mereka memadatkan air hujan menjadi es; menciptkan bunyi “droktoktok-jeledag” yang mirip mercon tahun baru. Kenapa mercon tahun baru? Karena hari itu ada dua orang yang sedang merayakan sesuautu yang baru. Yang satu memasuki usia baru, yang satu lagi baru memasuki usia.

Sebentar saja “droktoktok-jeledag” itu berakhir. Es yang jadi air lagi mendarat dengan lebih sunyi dan santun. Pertunjukkan selesai. Semua penonton kembali ke aktivitas masing-masing.

Seperti mercon-mercon lainnya, mercon dingin hanya membuka. Ia tidak serta di sepanjang acara.

(Sundea)


Google Twitter FaceBook

Kacamata Ruben

Kacamata Ruben, sepupu Dea, kelindes motor. Pas dia naek mobil, nggak sengaja tangannya ngedorong kacamatanya sampe mental keluar. Abis itu … NGEEEENG … tau-tau ada motor lewat, ngelindes si kacamata.

Pas Ruben mau turun untuk ngambil, ada motor lewat lagi. NGEEEENG … kelindeslah si kacamata untuk yang ke dua kalinya. Sesudah itu Ruben nyerah. Dia pergi ninggalin kacamatanya di jalan.

Denger cerita Ruben, Dea jadi sedih sendiri. Dea bisa mbayangin kagetnya si kacamata waktu tau2 kepental keluar. Sambil nggeletak kebingungan, mereka pasti minta tolong ke Ruben. Tapi sebelom Ruben sempet mungut mereka, motor lewat duluan dan …. JLESS … kelindeslah si kacamata.

Abis kelindes yang pertama, mereka pasti panik dan tereak tambah keras, “TOLOOONG … TOLOOONG …”. Unfortunately, Ruben keduluan lagi. Sesudah itu Ruben pergi. Dea yakin si kacamata kecewa dan ngerasa ditinggalin banget. Remuknya pasti di luar dan di dalem.

Dea ngerti kalo Ruben nggak mungkin nerjang jalan raya untuk ngelamatin kacamatanya. Tapi apa Si Kacamata ngerti itu, ya? Kata Ruben, pas Ruben lewat jalan itu lagi, Si Kacamata udah nggak ada. Artinya, Ruben nggak sempet ngejelasin ke kacamata kalau sebenernya dia nggak pernah bermaksud ninggalin Si Kacamata begitu aja.

Dea tau-tau kepengen nangis. Iya, kepengen nangis.

Karena ini tentang kacamata, mata pasti yang paling ngerti …

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Monday, March 24, 2008

Dunia Adin


Judul Buku : Dunia Adin
Pengarang : Sundea
Harga asli : Rp 39.000,00
Harga Tobucil : Rp. 35.100,00


Review:
Adin adalah gadis kecil berusia enam tahun. Dia suka menggambar dunia di dinding kamarnya. Dunia Adin warna-warni dan kaya cerita. Di sana dia dan Coki, sahabatnya, pernah menyelamatkan seekor ikan yang hampir dimasak. Pernah juga bertemu penyihir yang ternyata bidadari. Adin juga pernah bermain dengan Dombiru, seekor domba berwarna biru. Pernah pula mewarnai melati jepang dengan spidol ungu.

Seorang teman tertarik dengan dunia Adin. Dia mencatat keseharian Adin untuk kita semua. Setelah terlibat dalam keseharian Adin, mungkin kamu pun akan menemukan dirimu di sana. Lalu, tanpa kamu sadari, dunia Adin tahu-tahu sudah menjadi duniamu juga.
Google Twitter FaceBook

Adi Marsiela dan Rajutan Misteriusnya

Adi Marsiela adalah satu dari sedikit laki-laki yang merajut di Tobucil. Di tengah kesibukannya sebagai kuli tinta di harian Suara Pembaruan, Adi kadang mampir ke Tobucil untuk menuntaskan rajutannya yang bernuansa putih dan ungu. “Emang lagi bikin apaan, sih?” tanya Tobuciler. “Ada, deh, pokoknya gua lagi mau bikin’sesuatu’,” jawabnya agak misterius.

Adi Marsiella, lulusan Jurnalistik Unpad ini, adalah teman yang akan Tobucil perkenalkan minggu ini. Berikut adalah interview lieur Tobucil dengan Adi.

Tobucil : Apa kabar ?

Adi : Biasa-biasa aja.

Tobucil : Ceritain, dong, tentang pekerjaan kamu sehari-hari.

Adi : Keliling-keliling cari berita, trus sore-sore liat internet beritanya dimuat apa enggak, kalo enggak, ya berarti nggak dibayar …. hehehehehe …

Tobucil : Sekarang dimuat nggak?

Adi : Enggak, tuh, enggak melulu, makanya duitnya susah.

Tobucil : Jangan-jangan kamu ngerajut buat ngilangin stress ?

Adi : Iya. Soalnya kalo main cewek kan mahal. Banyak penyakit, lagi. Kalo mabok, entar nggak bisa pulang. Naik motornya miring-miring.

Tobucil : Emang udah mulai ngerajut dari kapan?

Adi : Tanggal 14 Februari.

Tobucil : Cieeeee … pas hari kasih sayang nih yeeee …. ada hubungannya sama Valentine, nggak?

Adi : Ah, nggak juga.

Tobucil : Terus kenapa harus mulai tanggal segitu?

Adi : Soalnya pas tanggal segitu Tarlennya lagi ada, duitnya juga lagi ada.

Tobucil : Katanya kamu bintang film, ya?

Adi : Iya, dulu mau main sama Nanda, tapi gagal casting, kalah sama Amet.

Tobucil : Wah …

Adi : Kamu percaya, lagi?

Tobucil : …

Adi (panik) : Eh, yang itu jangan ditulis, ya. Itu bohong. Lagian kamu aja percaya, apa lagi orang-orang yang baca …

Tobucil : Tulis, aaaahhhh …

Adi : ….

Tobucil : Kamu lahirnya tanggal berapa?

Adi : 10 Maret 1980

Tobucil : Wah … opa aku meninggalnya tanggal 10 Maret, lho …

Adi : Bagus, kan, artinya tanggal 10 Maret banyak kenangan …

Tobucil : ….

Selanjutnya Adi terus dan terus dan terus merajut. Gosip yang beredar, dia sedang merajut tutup mobil. Menurut gosip yang lainnya lagi, dia sedang merajut “tutup orang”. Tetapi ketika dia membentangkan rajutannya pada Puput, laptop putih kesayangannya ….




(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Werrr ... Werrrr ... Werrr ... Pet

-Tobucil, Selasa 18 Maret 2008-

Werrrr … werrr …werrrrr …. alat penggulung benang diputar di meja kasir. Benang pink dan hijau semakin berlapis dan berlapis, menggendut menjadi sebuah gulungan. Werrr … werrr … werrrr … pet ! Pada kegendutan tertentu, mereka dicabut dari penggulung kemudian diberi label.



Tobucil menjual benang rajut. Warna-warni dan beragam. Setelah berkilo-kilo benang datang dari pabrik, penjaga Tobucillah yang berkewajiban menggulungkannya. Hari itu Mas Andre dan Laras sedang bertugas. Jadi, mereka kebagian job me-werrrr …werrrr …werrr … pet. Seperti dalam kompetisi, mereka bercepat-cepat

menambah gulungan. Serius dan terampil mereka mengayuh penggulung dan merentang benang.


Werrr … werrr … werrr …. pet. Menjelang senja, Laras berhenti menggulung. Sang Bunda sudah menunggu di halaman Tobucil, Laras harus segera pulang. Mas Andre pun berhen

ti sejenak. Dia meninggalkan kursi untuk menengok benang stok di ruang belakang Tobucil.

Sepasang penggulung benang lalu tampak asyik bercakap. Bukan dengan werrrr … werrrr …werrr … pet karena bahasa mereka justru tanpa bunyi.





(Sundea)


Untuk pemesanan benang, buka www.tobucil.multiply.com

Google Twitter FaceBook

Tobuciler dan Benang

-Tobucil, Selasa 18 Maret 2008 –

Tobuciler ingin ikut menggulung benang. Jadi, sore itu Mas Andre mengajarinya. “Pertama, ambil benangnya, terus masukin ke sini,” kata Mas Andre sambil meloloskan benang ke semacam lubang jarum besar, “Abis itu ke sini,” lanjutnya sambil menyelipkan benang tadi ke sebuah celah di kepala penggulung benang. “Terus puter sampe segini,” Mas Andre menunjukkan segulung benang yang sudah dilabeli. Tobuciler mengangguk-angguk paham.

Ternyata menggulung benang tak semudah kelihatannya. Ketika tahu-tahu kekusutan terjadi, Tobuciler kebingungan. “Udah, lo cabut aja dulu benang yang ini, terus lo gulung ulang. Kalo gulungannya udah bener, baru kita sambung lagi,” Mas Andre menyarankan. Kemudian dia mencabutkan benang dari penggulung dan memutus hubungan gulungan dengan pusat benang.

Gulungan kecil benang melantai. Tobuciler menarik ujungnya dan memasangnya di alat penggulung. Ketika Tobuciler mulai mengayuh, si gulungan kecil melompat-lompat tak tentu arah. Sepertinya dia berusaha melarikan diri. “Ketauan … ketauaaaaaan … kamu pasti kusut karena mau kabur, ya …?” tebak Tobuciler.

Benang tidak menjawab. Tetapi semakin cepat kayuhan Tobuciler, semakin menggila juga lompatannya.

(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Merajut Masa Depan Seni Pra-Sejahtera

-Tobucil, Rabu 19 Maret 2008-

(Seharusnya) Klab Filsafat

Mohammad Syafari Firdaus alias Mas Dauz mengawali ketibaannya di Tobucil dengan kalimat ini, “Saya frustrasi dengan sastra dan hampir putus asa dengan teater!” DHUEEEERRRR !

Sore itu hujan turun seperti air terjun. Madrasah filsafat absen dan teman-teman memilih duduk-duduk mencari kehangatan di ruang belakang Tobucil. Kami pikir di sana kami akan terlindung dari hujan dan segala antek-anteknya, tidak tahunya petir menyelundup lewat gelegar kalimat pembuka Mas Dauz.

Tapi … menarik juga. Sejenak kami menghentikan ativitas dan menunggu kelanjutan tuturan Mas Dauz. Dia pun segera berbicara panjang lebar mengenai dunia sastra dan teater saat ini, kurangnya kritikus dan cengkraman pasar.

Menurut Mas Dauz, dunia kritisi sastra di Indonesia penuh hujat-menghujat. Kritik seringkali tidak membangun, alih-alih menunjuk pada hal-hal personal yang tidak terlalu berhubungan dengan karya. “Misalnya suatu kali Tarlen nulis. Bukannya bicara tentang tulisan Tarlen, orang malah ngomong, ‘Tarlen kan punyanya toko buku. Jadi dia harusnya jual buku aja’,” Mas Dauz mencontohkan.

“Jadi kritikus sastra dan teater di Indonesia memang susah. Soalnya, dari antara kesenian-kesenian lainnya, sastra dan teater masih termasuk seni pra-sejahtera. Dan saya berkecimpung di dua bentuk kesenian itu,” keluh Mas Dauz. “Akhirnya pasar mengambil alih. Mereka menciptakan konsumen dan punya ideologi : ‘juallah barang seburuk apapun barang itu’. Lalu laku atau tidak menjadi ketentuan baik atau buruk,” tambah Mas Dauz semakin frustrasi.

Mas Dauz juga mengungkapkan, terbentuknya keseragaman ekspresi akibat konstruksi yang dibangun pasar. “Membuat puisi itu gampang, tapi membuat puisi yang bagus, nggak gampang. Banyak orang menulis puisi berdasarkan trend saja. Dan semuanya kembali lagi karena masalah ini,” ujar Mas Dauz sambil menunjuk perutnya.

Teman-teman Tobucil mendengarkan Mas Dauz sambil terus merajut. Apa Mas Dauz terinspirasi ikut merajut untuk meredam frustrasi? Ketika ditanya, Mas Dauz menjawab, “Namanya juga seniman pra-sejahtera. Saya mana punya banyak waktu?” Tahu-tahu Mbak Tarlen tersenyum jahil, “Iya, sebagai warga seni pra-sejahtera, justru kamu yang harus dirajut masa depannya … hahahahaha …”

Iya juga, ya …

Teman-teman, ada yang tertarik merajutkan masa depan seni teater dan sastra?


(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Gedung Dwi Warna

“De, tau, nggak, kemaren anginnya kenceng banget sampe gedung Dwi Warna atepnya copot,” cerita Erick, temen Dea, pada suatu hari. “Oh, ya?” tanggep Dea. “Iya, dan itu beberapa jam setelah gue dan cewek gue ngunjungin museum di sebelahnya,” kata Erick lagi. Setelah itu, Erick cerita tentang museum yang dia kunjungin dan dia baru nyadar kalo udah lama dia nggak maen ke museum.


Sementara itu, Dea malah mikirin si Gedung Dwi Warna. Apa betul atepnya copot karena angin lagi kenceng ? Ato sebaliknya, angin jadi sekenceng itu karena Gedung Dwi Warna marah-marah? Perasaan Dea berat ke yang ke dua. Trus, kalo Gedung Dwi Warna emang marah, kok sampe segitunya? Dea jadi mikir … mikir … mikir … dan …

“Eh, Rick, abis dari museum, lo maen ke Gedung Dwi Warna, nggak?”

“Nggak, sih …”

“Nah, itu dia masalahnya …”

Mungkin waktu Erick maen ke museum, Si Gedung Dwi Warna ngerasa girang. Dengan deg-degan dia nunggu2, “Erick dan Amanda yang jarang maen ke museum sekarang ke sana. Bentar lagi mereka pasti ngunjungin aku … “ Waktu ternyata Erick dan Amanda pulang gitu aja, kayaknya Gedung Dwi Warna tergoncang jiwanya. Namanya juga udah tua dan rindu kunjungan hangat, jadi harapan itu besar banget artinya buat dia. Waktu harapan itu dicabut, Gedung Dwi Warna keilangan segalanya. Makanya dia jadi ngamuk secara berlebihan … mungkin berlebihan menurut kita, soalnya kita nggak tau betapa sepi perasaan dia.

Belakangan ini angin sering banget bertiup kenceng dan ngerusak. Dea jadi kepikiran. Siapa lagi yang udah tua, kesepian, dan kecewa, ya?

(Sundea)


Google Twitter FaceBook

Monday, March 17, 2008

Malam Jumat Kliwon yang Raya Ceria

-Tobucil, Kamis 13 Maret 2008-

Komunitas Komik Manyala

Komunitas Komik Manyala bergerak di bidang cergam. Setiap bulan di Tobucil, komunitas ini mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan cergam.

Malam Jumat Kliwon. Tanggal 13 pula. Horor? Tidak. Di hari yang menyandang lambang-lambang kekeramatan itu, Tobcuil justru jauh dari suasana mencekam.

Keceriaan dan kelucuan anak-anak menghisap dingin dan mendung sisa hujan yang meliputi Tobucil. Dibimbing Kak Rendra dari sekolah komik Pipilaka, anak-anak mengikuti workshop komik yang diadakan komunitas Manyala.

“Hari ini, kita membuat komik yang harus bisa dibaca dari bagian manapun,” umum Kak Rendra. Para fasilitator workshop kemudian membagikan selembar pola dadu kepada tiap peserta. Bermodal sebuah gambar di salah satu sisinya, peserta harus membuat sebuah komik yang padu. Sebentar kemudian teman-teman kecil Tobucil sudah asyik menggambari sisi-sisi dadu yang masih kosong; mencoba menjalin sebuah cerita.

Tiap teman punya gaya mengomik (baca:mengerjakan komik) sendiri-sendiri. Ada Angga yang sibuk menggambar sambil bercanda slapstick dengan Farhan atau Alam yang anteng dan asyik sendiri. Saking asyiknya, Alam dengan pasti namun tetap cool segera menolak ketika Toubuciler meminta dia menceritakan isi komiknya.

Sesuai dengan gaya bercandanya, komik Farhan agak slapstick. Menggambar orang yang gepeng tertabrak angkot, Farhan mengaku pernah melihat kakek-kakek tertabrak bus. Berbeda dengan Fadlia, satu-satunya gadis kecil yang menjadi peserta workshop. Komik perempuan berpayung yang dibuatnya tidak bersifat ke-Tom and Jerry-Tom and Jerry-an.

Seiring runduknya matahari, komik teman-teman kecil menyelesai. “Huaaaaaah …. lama,” celetuk Alam sambil menguap. Ketika teman-temannya masih sibuk melipat dan mengelem, komik Alam sudah rampung berbentuk dadu.

Selanjutnya, sambil menunggu jemputan, teman-teman kecil menikmati snack yang dibagikan para fasilitator. Saat itu pukul enam sore. Tetapi matahari-matahari kecil itu membuat hari masih seperti siang.

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Sunday, March 16, 2008

Klab Melipat Wajah

-Tobucil, Sabtu 15 Maret 2008-

(Seharusnya) Klab Melipat Kertas

Sabtu itu, Klab melipat kertas sedang tak ada. Nia, sang tutor, sedang menduduki tampuk kekasiran.

Jadi penjaga baru? Wah, bukan, bukan, sekedar stuntwoman, kok …



Penjaga tetap Tobucil yang hanya empat-empatnya itu sama-sama sedang berhalangan. Mas Andre ada keperluan keluar, Mbak Elin cuti melahirkan, Ocha terserang cacar air, dan Laras terjangkit thypus. Ketika Nia menggantikan, Klab melipat kertas hari itu menjelma jadi klab melipat wajah. Nia yang baru memulai karir sebagai stuntwoman berubah-ubah ekspresi. Kadang panik, kadang bingung, kadang senang, dan kadang datar-datar saja.




Sabtu itu, Klab melipat kertas sedang tak ada. Nia, sang tutor, sedang menduduki tampuk kekasiran.

Jadi penjaga baru? Wah, bukan, bukan, sekedar stuntwoman, kok …

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Semester Padat di Akhir Pekan


-Tobucil, Sabtu-Minggu, 15-16 Maret 2008 –

Workshop Critical Discourse Analysis

Terselenggara atas kerja sama Tobucil dan Bandung School of Communication Studies (Bas Comm). Untuk mengetahui lebih banyak, klik www.literasimedia.wordpress.com




Hati-hati. Di balik banyak hal manis, sebentuk kekuasaan kerap mengintai dan siap mencengkram. Dipersenjatai Critical Discourse Analysis (CDA), seorang peneliti menelaah ideologi tersembunyi yang membungkus sebuah teks. Itu sebabnya, peneliti yang menggunakan CDA harus “penuh dengan kecurigaan”.

CDA adalah model analisis yang membongkar teks sampai ke tingkat makro (nilai-nilai sosio kultural yang melatari teks). Teks sendiri mengandung makna yang lebih luas daripada tulisan secara umum. “Motor itu pun sebuah teks,” ujar Ibu Santi, dosen Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menjadi pembimbing workshop, sambil menunjuk Honda Vario yang terparkir di halaman Tobucil.

Jika Keluarga Berencana mengusung semboyan “dua anak cukup”, pada hari pertama, workshop menganut paham “dua peserta cukup”. Taufan yang lulusan H.I Unpad mengikuti sejak awal workshop. Supriyanto alias Supri, datang agak terlambat. “Apa saya masih bisa mendaftar? Katanya materinya sudah terlalu jauh …,” tanyanya. “Masih, kok. Kita belum masuk ke CDA-nya,” jawab Ibu Santi. Saat itu dia memang baru menjelaskan metode kuantitatif dan kualitatif yang merupakan pengantar menuju CDA. Maka, Supri yang sedang menjalani program S3 di Unpad pun segera berabung.

Pembahasan CDA baru dimulai setelah istirahat makan siang. Di sana barulah terjelaskan mengapa untuk memasuki materi, Ibu Santi harus memaparkan mengenai penelitian kuantitatif dan kualitatif. “CDA jelas kualitatif, sebab dia subyektif, berpihak kepada sisi yang dikooptasi oleh kekuasaan,” ujar Bu Santi. “Apa harus berpihak pada yang dikooptasi itu, Bu?” tanya Taufan. Ibu Santi menanggapi pertanyaan Taufan dengan pertanyaan lainnya, “Bagaimana kita bisa membongkar praktik kekuasaan jika kita ada di dalam struktur kekuasaan itu?”

Sekitar pukul tiga sore, workshop hari itu ditutup. Ibu Santi menugaskan peserta workshop membaca makalah yang dibagikan untuk mengikuti materi keesokan harinya.

Pada hari berikutnya, peserta workshop berkembang biak menjadi tiga orang. Rauf yang baru lulus dari Antropologi Unpad, ikut bergabung. Hari itu, setelah menjelaskan beberapa teori yang umum dipakai dalam CDA, peserta diajak berlatih menggunakan CDA dalam analisis wacana. Sebuah artikel bertajuk “Janggal, Kasus Penculikan Ketua Golkar Minahasa Tenggara” dibedah bersama. Jejak-jejak keberpihakan terlihat nyata. Mulai dari judul yang langsung menggiring opini pembaca untuk menuding pihak tertentu, hingga atribut-atribut negatif dalam artikel yang disandangkan kepada pihak yang terkooptasi. Selanjutnya, ditelaahlah media yang memuat artikel, latar belakangnya, dan konteks politik yang terjadi saat itu. Pada titik ini, peneliti memasuki wilayah makro. Artinya, penelitian CDA sudah dilakukan.

Sebagai latihan terakhir, setiap peserta diminta memilih masing-masing sebuah artikel dalam surat kabar dan mencoba menganalisnya dengan CDA. Cukup menarik. Rauf, misalnya, “mencurigai” foto calon gubernur bersaing yang dijajarkan berdampingan. “Yang ini fotonya sangat foto kampanye. Kalau yang ini ekspresinya keliatan ngotot,” kata Rauf sambil menunjuk kedua foto tersebut. Selanjutnya, dia menganalisis media yang memuat artikel tersebut, di mana saja media tersebut umum beredar, siapa kekuatan besar yang menghidupi media tersebut, dan lain sebagainya.

Seperti pada hari sebelumnya, workshop berakhir pukul tiga sore. “Pusing, ya? Biasanya materi ini saya berikan selama satu semester, lho …” ujar Bu Santi. Peserta workshop tidak mejawab. Entah karena memang pusing, atau sedang meresapi materi yang baru saja dibagikan.

(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Mengapa Kembali Konfrontasi

-Tobucil, Rabu 12 Maret 2008 –

Sore itu, setelah hujan angin mereda, Tobucil meramai. Sekelompok teman dari Japmi (Jaringan Pers Mahasiswa Independen) membahas ketidakmerdekaan di tengah negara kita yang “merdeka”. Esei “Mengapa Konfrontasi” yang ditulis Soedjatmoko menjadi pijakan.

“Masyarakat kita seolah-olah tidak bergerak lagi. Gerak-gerik yang masih ada sesungguhnya tak lain dari suatu gerak-gerik kembali, seolah-olah kita mundur kembali mencari ketentraman yang meliputi suasana sendiri yang lama, menolak dengan takut-takut segala sesuatu yang baru, kecuali jika yang baru itu menyajikan diri dengan kedok lama yang sudah dikenal. Gerak-gerik ini dilahirkan oleh ketakutan jiwa, ketakutan terhadap apa yang baru dan belum dikenal. Dan ia berakar di dalam kemandulan serta ketidakpercayaan dalam daya pencipta sendiri,” demikian Soedjatmoko menyampaikan keprihatinannya.

Teman-teman dari Japmi kuatir pola itu masih terbawa hingga saat ini. Mental tunduk terhadap kekuatan yang lebih besar masih kentara, termasuk dalam pers yang seharusnya menyuarakan kebenaran. Coba tilik bagaiman media menulis mengenai mantan presiden Suharto pasca-berpulangnya beliau. Lihat juga bagaimana sebuah media besar menampilkan iklan yang mengafirmasi bahwa lumpur Lapindo adalah bencana alam. Ironisnya, semua itu dilakukan media dengan dalih profesionalisme.

“Wah, kita harus berhati-hati, ya …,” ujar Tobuciler. “Saya kurang suka dengan kata ‘hati-hati’. Kesannya defensif. Saya lebih suka konfrontasi,” ujar Budi Yoga, salah satu teman dari Media Parahyangan. Melihat ekspresi kaget Tobuciler, Budi Yoga segera menyambung, “Tapi konfrontasi yang bagaimana dulu, nih …”

Menurut Budi Yoga, ayam yang keluar dari cangkangnya pun berkonfrontasi. Hal itu dilakukannya agar dapat terus hidup. Kita pun harus keluar dari cangkang keterjajahan agar dapat terus hidup. “Untuk keluar dari cangkang, kita harus percaya diri,” kata Budi Yoga lagi. Seperti diungkapkan Soedjatmoko, bangsa Indonesia tidak meninggalkan pola semasa penjajahan karena tidak percaya akan kemampuan dirinya sebagai bangsa. Hingga kini, bentuk ketidakyakinan diri tersebut kadang masih terlihat. Misalnya, bangsa Indonesia tahu-tahu kelojotan ketika Malaysia mengklaim Reog Ponorogo sebagai kesenian Malaysia. “Padahal kalau kita PD, sih, santai aja. Sudah jelas Reog Ponorogo tidak terlihat seperti kesenian Melayu. Kalau kita yakin diri, kita tidak takut orang lain menganggap kesenian itu bukan kesenian Indonesia,” Budi Yoga memaparkan.

Kemerdekaan dan keyakinan diri itu jugalah yang mendasari setiap bentuk kreativitas. Pun membuat eksplorasi tidak berhenti. Kembali kepada pers, jiwa merdeka dan keteguhan atas prinsip yang diyakini itulah yang membuat kebenaran tidak berhenti disuarakan. Melalui diskusi ini, sebagai sebuah lembaga yang belum jauh terjebak dalam jerat kekuasaan, pers mahasiswa diajak lebih kritis dan bertanggung jawab atas penyuaraan kebenaran tersebut.

Dan sebuah slogan klasik mengatmosfiri diskusi hari itu.

merdeka

atau …

mati !

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Anak Matahari


“I believe the sun will never set upon an argument..”

Affirmation – Savage Garden

Kemaren2 ini, di lapangan kosong depan BKI Marga Hurip, Dea ngeliat anak tujuh taunan yang mirip matahari. Biarpun udara dingin dan mendung, dia keliatan cerah-cerah aja. Mukanya selalu ketawa dan suaranya ringan kayak angin.

Dia maen sepeda bareng temen-temennya. Dibanding sepeda temen-temennya, sepeda dia paling kecil dan butut. Mungkin gara2 itu dia selalu kalah kalo lomba sepeda, tapi keliatannya buat dia nggak masalah. Meskipun dia selalu jadi yang nomor empat dari empat peserta, dengan lantang dan gembira dia selalu nyeruin, “Ka opat!” Dari situ Dea beranggepan kalo sebetulnya balapan itu dimenangin si matahari kecil.

Terus dia maen bola. Meskipun sering didorong-dorong dan jarang dapet bola, dia tetep lari-lari dengan gembira. Yang paling lucu, waktu semua anak udahan maen bola, tiba-tiba dia ngambil bolanya dan nggiring bola itu ke gawang. Waktu bolanya masuk, dengan girang sendiri dia berseru, “Gooool !!!!” Dea sampe ngakak2 ngeliatnya.

Biarpun matahari udah tenggelem, kecerahan anak itu nggak tenggelem2 juga. Giginya ompong satu, tapi dia nggak takut ketawa lebar. Udara dingin banget, tapi dia nggak keliatan kedinginan meskipun pake baju kutung; mungkin karena dia matahari, jadi pada hakikatnya dia emang anget. Kecerahan anak itu nular ke Dea, bikin Dea punya bekel matahari untuk dipasang semalaeman.

Google Twitter FaceBook

Friday, March 14, 2008

Bertemu Temanku dari Negeri Lautan

Klab Dongeng

Halo adik-adik ...
Ada kunjungan, nih dari negeri lautan. Siapa, ya, dia? Wajahnya lucu sekali, ya ...

Kita dengerin, yuk, cerita teman baru dari negeri lautan itu. Abis itu, kita mau bikin sesuatu sama-sama.

Dateng, ya, supaya kita bisa maen bareng teman-teman. Sampai ketemu, ya ...

----

Waktu/tempat : Tobucil, Sabtu, 29 Maret 2008

Jam: 09.00-11.00

Biaya: Rp. 20.000,00/ anak

Usia : TK (4-6 Tahun)

Pencerita : Kak Caroline

Contact : Vanie (022-70173412) atau Tobucil Jln. Aceh no.56 Bandung (022-4261584)

Maksimal 25 anak.

Acara ini terselenggara atas kerja sama Semi Palar dengan Tobucil dan Klabs
Google Twitter FaceBook

Sunday, March 9, 2008

Gogo

Klab Rajut

-Tobucil, Minggu 9 Maret 2008 -

Satu … dua … tiga …. empat teman asyik merajut di Tobucil. Mbak Jo membuat kaus kaki, Mbak Lusi membuat motif, Mbak Yuchan membuat topi, dan Mbak Upik membuat syal mungil.




Di antara satu … dua … tiga … empat teman di Klab Rajut, ada seorang teman kecil yang tidak merajut. Namanya Gogo. Dia adalah beruang kecil milik Mbak Jo. Besarnya hanya setelapak tangan. Warnanya kecokelatan. Di kepalanya tersandang beban yang membuat si kepala tak dapat berdiri tegak. Kunci … kunci … kunci … dan … wah … ada sebuah gunting kecil !


Meski bukan perajut, Gogo punya peranan dalam Klab Rajut. Gunting yang tergantung di kepalanya membantu Mbak Jo memutus benang. Dengan setia dia menunggui Mbak Jo merajut. Gogo tidak mengeluh meski kadang tertimpa barang atau terselip di antara benang



Satu …dua .. tiga … empat teman masih sibuk merajut. Sementara Gogo sendiri sudah telentang. Kepalanya lelah menanggung besi-besi yang membeban.

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Klab Komik Manyala

Hadirilah, Klab Komik Manyala


Kamis, 13 Maret 2008, pukul 16.00 s/d selesai

Tema: "Belajar Komik untuk Anak"

Peserta: anak-anak

Pendamping: komikus dari komunitas Manyala

Gratis!
Google Twitter FaceBook

Saturday, March 8, 2008

Sofa BT di Rase FM

Hari ini Dea dateng ke Rase FM. Waktu disuruh nunggu di depan studio, Dea langsung duduk di salah satu sofa yang ada di situ.

Di depan sofa yang Dea dudukin, ada dua sofa yang ngeliatin Dea dengan ekspresi nggak enak. Mereka agak diagonal, jadi posisinya bener2 kayak nyidang Dea yang duduk di depan mereka. Warnanya coklat. Kakinya besi. Trus di sandaran mereka ada gurat-gurat yang bikin mereka keliatan kayak lagi beteeeeeeeee….banget.

Di antara sofa2 itu ada meja berdebu. Di atas meja itu ada pot yang isinya taneman yang njulur2 lunglai nggak karuan dan bikin suasana tambah nggak enak. Dea jadi risih sendiri. Masalahnya biasanya benda2 ramah sama Dea, kenapa atuh dua sofa ini keliatan segitu sebelnya sama Dea?

Pas Mas Syauqie, penyiar Rase, duduk di salah satu sofa cemberut itu, Dea laporan, “Sofa2 ini dari tadi kayak cemberut aja dan kayak sebel sama Dea.” Trus Mas Syauqie bilang, “Bukannya sofa makin jarang didukin emang makin sedih? Dulu sofa2 ini ditaro di tangga, baru2 ini dipindahin ke sini. Pas ditaro di tangga, lebih nggak pernah ada lagi orang yang mau duduk di sofa ini.” Denger penjelasan Mas Syauqie Dea jadi ngeh, “Oh…pantesan…”

Mungkin saking jarangnya didudukin, sofa2 itu jadi rendah diri dan sensitif. Makanya pas Dea milih duduk di sofa sebrang mereka, mereka langsung punya pikiran2 jelek, “Tu kan…kita emang jelek, sih. Biarpun kita udah dipindahin ke depan studio, tetep aja orang nggak mau ndudukin kita.” Abis itu mereka jadi natap Dea penuh kebencian sampe daun di sebelah mereka ikutan layu. Mungkin tatapan mereka artinya kecewa. Mungkin defense. Mungkin sedih. Mungkin iri. Mungkin…

Dea langsung bediri trus ndudukin salah satu dari mereka, “Jangan mikir macem2, ya…aku nggak punya maksud apa2 waktu duduk di sofa sebrang kalian. Itu kebetulan aja, bener, kok. Percaya, deh, kalian juga nyaman…”

Abis itu Dea ngerasa pegangan si sofa minder tadi meluk Dea dengan penuh kasih sayang.


(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Kardus-kardus Buku yang Selalu Tersenyum

-Tobucil, Rabu 05 Maret 2008 –

Di ruang belakang Tobucil, ternyata Tobuciler dikelilingin kardus-kardus buku yang selalu tersenyum. Siang ini Tobuciler baru sadar. Dan dalem seminggu ini, baru sekarang Tobuciler ngebales senyum mereka.

Nggak ada jeleknya kalo beberapa Tobuciler kenalin sama kamu. Jadi, kalo suatu waktu duduk-duduk juga di ruang belakang Tobucil, kamu udah agak familiar sama beberapa dari mereka ^_^


Ini Si 82. Matanya kena katarak.

Karena nggak bisa ngeliat dengan jelas, kayaknya senyumnya agak kagok. Jadi, tadi Tobuciler ndeketin muka Tobuciler ke muka dia, supaya dia yakin kalo Tobuciler juga ngebales senyum dia.



Ini Si 132.

Menurut Tobuciler, dia kardus paling feminin. Senyumnya kalem dan keibuan. Tobuciler nggak banyak ngobrol sama dia, tapi kalo lagi jenuh, Tobuciler selalu nengok ke dia. Senyum dia selalu bikin perasaan Tobuciler jadi lebih enak.


Ini SI 67.

Di kehidupan kardus, mungkin dia polisi ato detektif. Keliatan dari senyum dan matanya yang jaim2 berwibawa. Menurut Tobuciler, dia sedikit misterius. Tapi, biar gimana juga, Tobuciler seneng temenan sama dia ^_^



Ini Si 142. Dia kardus favorit Tobuciler.

Dia tampak agak gendut dan ramah. Senyumnya cukup lepas dan bikin seneng. Kayaknya kardus ini agak tengil dan bisa diajak becanda yang gila-gila. Dia juga sukaaaaa … banget makan buku. Karena itulah dia jadi segendut itu.


Dan ini Si 71.

Sebagai kardus, dia cukup baik. Senyumnya sederhana dan apa adanya. Kayaknya karakter dia, sih, mainstream2 aja. Tapi ke-easy going-an dia bikin dia bisa jadi temen yang menyenangkan.



Di sini masih banyak kardus lainnya.

Kayak apa sifat mereka?

Mmmm …

Gimana kalo kamu yang nyari tau …? ; )



(Sundea)

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin