Percayalah. Selama lima edisi “teman Tobucil”, interview ini adalah yang paling serius. Tidak bisa jadi lucu meskipun Tobuciler sudah berusaha melucu-lucukannya. Andikha menulis sebuah esei tentang dirinya; tentang mengapa dia menulis dan bagaimana rasanya menjadi “homoseksual dalam lemari”. Personal dan jujur. Tobuciler, yang membacanya persis sebelum mewawancara, langsung terbawa suasana liris dan sentimental. “Moga-moga (esei) ini nggak ngeganggu spontanitas lo,” kata Andikha prihatin. “Oh … nggak … kok …,” sahut Tobuciler agak mengambang.
Andikha Budiman adalah teman Tobucil yang menerjemahkan diskusi “Emerging Queer Books” 29 Februari2008 lalu dalam bentuk cerita. Cerita tersebut dimuat secara bersambung dalam blog Tobucil, mulai dari edisi ini.
Tobucil : Di esei lo, lo nulis kalo elo “homoseksual dalam lemari”. Bisa dijelasin, nggak?
Andikha: Jadi, istilah “homoseksual dalam lemari” itu saya terjemahkan dari istilah “closetted homosexual”. Itu salah satu alasan yang memicu saya menulis. Saya menulis karena ingin diperhatikan. Memilih jadi “homoseksual dalam lemari” berdampak pada semakin sempitnya pilihan untuk tetap hadir tanpa jadi bulan-bulanan.
Tobucil : Terus apa yang akhirnya bikin kamu “keluar dari lemari” ?
Andikha: Mungkin saya belum bisa dibilang “keluar dari lemari”, soalnya keluarga saya belum saya kasih tau.
Tobucil : Ooo … tapi ini nggak apa-apa kan ditulis di blog?
Andikha: Nggak apa-apa.
Tobucil : Kapan, sih, kamu ngakuin secara verbal kalau kamu gay?
Andikha : Di Klab Nulis*). Waktu itu Arief (tutor tamu di Klab Nulis) nyuruh kita bikin esei tiga ribu kata tentang alasan menulis. Dia ngomong sambil bercanda, “Jangan-jangan dalam tulisan kalian, ada yang bisa mengakui kalau dia adalah gay …” Dan memang iya.
Seminggu kemudian, Arief nggak dateng. Setelah saya pikir-pikir, kalau saya bisa jujur sama Arief, kenapa sama yang lain enggak? Sempet ragu, sih … tapi kalau saya nggak bilang, berarti kan nggak ada kemajuan.
Tobucil : Waktu lo ngakuin, gimana reaksi anak-anak?
Andikha: (sambil tertawa) Waktu gua bilang, “teman-teman, saya mau membuat pengakuan”, Erick (tutor Klab Nulis saat ini) bercanda, “Lo mau bilang kalau elu gay, yaaaa …?” Terus gua jawab, “Memang iya”. Anak-anak sempet diem. Tapi Myra (salah satu anggota Klab Nulis) ngomong, “Udah sering ada temen yang ngaku ke gua. Elu malah yang ke tiga …”
Gua rasa seseorang bisa nyebut dirinya homoseksual saat dia mengakui dirinya ke orang lain. Menurut gua itu puncak dari grey area dia. Sesudah gua ngomong, gua justru ngerasa lebih utuh. Takut? Sebenernya gua takut terhadap apa? (Sesudah gua ngomong) sama-sama aja.
Tobucil : Lo nyiptain tokoh Intan dan kakaknya. Hampir selalu cerita lo tokohnya mereka; Intan yang vokal dan kritis, dan kakak laki-lakinya yang bahkan nggak pernah disebut namanya. Ada hubungannya nggak, sih, mereka ini sama “kedalamlemarian” lo?
Andikha : Mungkin awalnya aja. Tapi lama-lama mereka jadi terpisah dari diri gua. Mereka tokoh-tokoh yang hidup. Intan memang diciptain lebih kritis, dan kakaknya berfungsi mendeskripsikan keadaan dalam cerita. Gua emang tertarik sama hubungan kakak-adik, Intan dan kakaknya kayak gua dan kakak cowok gua.
Tobucil: Lo lebih vokal dari kakak lo?
Andikha: Enggak juga. Kalau gua sama kakak gua, vokal enggaknya bergantung siapa yang memulai pembicaraan. Mungkin gua sama kakak gua nggak sedekat Intan dan kakaknya. Kita nggak gitu cocok kalau ngomongin bisnis, tapi untuk urusan ngejemput, diskusi, dan bacaan, kita deket. Kita kompak … eh .. jangan ditulis kompak, deh, terdengar cheesy …
Tobucil : Terus apa?
Andikha: Mmm … jadi gini. Misalnya pas ibu saya sakit. Kakak saya nangis dan saya yang menenangkan. Saya juga heran kenapa saya bisa begitu, padahal biasanya saya lebih nggak solid dari kakak saya.
Tobucil : Itu kan namanya kompak, Andikha …
Andikha: Iya, sih …. tapi ….kompak kesannya cheesy. Eh, ini untuk rubrik teman Tobucil kan? Lo nggak nanya-nanya yang ada hubungannya sama Tobucil?
Tobucil: Hmmm … iya, ya. Ngomong-ngomong, apa pendapat lo tentang Tobucil?
Andikha: Gua suka Tobucil karena menurut gua tempat ini nggak intimidatif.
Tobucil : Pas diskusi “Emerging Queer Books” itu kan lumayan horor-horor intimidatif, bukan?
Andikha: Menurut gua intimidatif itu misalnya seperti media kampus saya. Para penulisnya biasanya nulis hard politics, bukan hubungan satu orang dengan orang yang lainnya. Gua orang yang cukup sulit, tapi gua ok sama kondisi Tobucil. Gua nggak suka di-push, terlalu dibiarin juga nggak bisa.
Tobucil : Kapan lo pertama kali ke Tobucil?
Andikha: Awal-awal kuliah, awal 2006, dua minggu sebelum ultah gua. Ceritanya habis UTS gue ngerasa lemah banget dalam penulisan esei. Terus gua ikut klab nulis di toko buku yang selalu gua lewatin setiap gua pulang kuliah ini (waktu itu Tobucil masih berada di Kyai Gede Utama-red). Pertamanya gua sebel karena instruksinya rada nggak jelas, disuruh nulis bebas, tapi ternyata semua nulis cerita fiksi sementara gua nulis berita kemenangan petenis Belgia dalam kejuaraan tenis akhir taun. Untungnya gua memberikan kesempatan ke dua pada Klab Nulis, dan berikutnya, waktu nulis tentang rumah, Erick memberikan instruksi yang lebih jelas… hehehehehe …
Andikha dan Tobuciler mengobrol sampai matahari runduk serunduk-runduknya. Sebelum wawancara berakhir, Andikha punya request yang agak aneh, “Gua pengen difoto deket kulkas, dong …”
Dalam perjalanan pulang, Tobuciler mencoba menelaah. Apa wawancara hari itu kehilangan spontanitasnya?
Saat duduk di angkot, Tobuciler menyimpulkan dalam hati, “Bukankah perasaan sentimental yang tahu-tahu muncul itu malah sangat spontan sifatnya?”
Tobuciler tersenyum sendiri sambil meminum minuman yang telah terbebas dari dalam lemari es Tobucil. Hari itu jalanan lengang dan bersahabat.
(Sundea)


*)Klab Nulis angkatan Andikha dan kawan-kawan sudah pindah ke Reading Lights, setiap Sabtu jam 4 sore. Di Tobucil akan diadakan Klab Nulis baru.
Untuk informasi lebih lanjut, pantau terus www.tobucil.blogspot.com atau datang langsung ke Tobucil