Tuesday, April 29, 2008

Klab Nulis Tobucil

membuka kelas baru dengan konsep yang baru


Dengan silabus :


Keindahan Sastra

Pengalaman dan Imajinasi Sang Tokoh

Realita Kaum Muda dan Sastra

Laboratorium Sastra I


Bersama dengan :


Albertus Sophan Ajie Setiarmo


Kumpulan Karya


Albertus Sophan Ajie Setiarmo :


  1. Penulis naskah sekaligus sutradara dari adaptasi Novel Beraja, Anjar dengan judul “Pemuja Rahasia”. Produksi Beraja Manajemen. (dipentaskan di CCF Bandung, April 2005)

  2. Dalang drama boneka “Kakek Sinterklas”. Produksi Bina Iman Anak St. Odilia, Bandung. (dipentaskan di Gereja St. Odilia, Bandung, Desember 2005)

  3. Penulis naskah Drama Remaja berjudul “Tuan Langka”, produksi sanggar Pratikara, Bandung (di pentaskan di STSI Bandung, Desember 2005)

  4. Sutradara naskah “The Lesson” karya Eugine Eunesco. Produksi Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Bandung. (dipentaskan di STSI Bandung, April 2006)

  5. Penulis naskah sekaligus sutradara Opera Remaja berjudul “Save Our Earth”. Produksi SMP St. Ursula Bandung. (dipentaskan di STSI Bandung, Januari 2007)

  6. Sutradara Drama Kolosal “Passion Of The Christ”. Produksi kaum muda Gereja Kamuning, Bandung. (dipentaskan di Gereja Kamuning, Maret 2007,2008)

  7. Penulis naskah drama komedi “Cepat Pulang Bujang!”. Produksi Sanggar Remaja Green Symphony, Bandung. (dipentaskan di CCF Bandung, Agustus 2007)

  8. Penulis naskah dan sutradara drama komedi Gatot Kaca Mencari Cinta. Produksi SMA Trinitias XII IPA 3. (dipentaskan di SMA Trinitas, November Bandung 2007)

  9. Sutradara naskah adaptasi “Lysisstrata”. Produksi SMP Waringin, Bandung. (dipentaskan di Universitas Maranatha, Bandung, November 2007)

  10. Penulis Buku Menantang Diktaktor, Perang Udara Di Eropa, (Penerbit Buku Kompas)


Waktu dan Tempat :

setiap senin selama bulan Mei 2008 (6, 13, 20, 27 Mei 2008) (5,12,19, 26 Mei 2008)

jam 17.30 - 19.30 WIB


Pendaftaran :

biaya Rp 50.000 (fasilitas: modul)


Waktu pendaftaran :

pandaftaran dibuka sampai dengan 4 Mei 2008, jam 19.00 WIB


Info :


tobucil & klabs

jalan aceh 56, bandung

022-4261548

tobucil.multiply.com

Google Twitter FaceBook

Sunday, April 27, 2008

Editorial

Salamatahari ....
Selamat pagi ...

Setelah tadi pagi merasa sedih karena komputer setempat di tidak mau diakrabi (lihat postingan "Komputer Setempat Ngambek" ), akhirnya Tobuciler berhasil menemukan komputer lain yang lebih kooperatif. Komputer ini tinggal di rumah yang sama dengan "komputer setempat". Mereka masih bersaudara. Bedanya, komputer yang satu ini lebih ramah. Waktu Tobuciler curhat, dengan baik hati dia bilang "Coba di aku aja, nanti aku bantu ..." dan ternyata dia memang sangat membantu. Proses uploading pun terhitung cukup cepat dan menyenangkan.

Jadi ...

Hari ini Tobuciler tetap bisa memostingkan cerita-cerita untuk teman-teman, deh ... =D Sebagai ucapan terima kasih, foto si komputer baik Tobuciler hadirkan di editorial ini ...

Tobuciler masih menantikan ucapan selamat ulangtahun dari teman-teman sampai tanggal 2 Mei mendatang. Untuk informasi lebih lengkap, baca postingan "Ulang Tahun Tobucil".

Ok. Segitu dulu ... semoga blog Tobucil dan segenap ketobucilan Tobucil selalu mencerahkan hari ....

Tobuciler


komputer baik di kamar Tante Joyce,
tantenya Tobuciler
Google Twitter FaceBook

Yusnita Hawilaruth Simanjuntak, Sang Penggali Kubur Burung Hantu



Pada suatu hari Minggu, Yusnita Hawilaruth Simanjuntak, yang akrab dipanggil Yuchan, tampil dengan rok terusan bermotif bunga-bunga. Ada apa gerangan? Karena gerakan go green sedang populerkah?

Tobucil : Kok tumben, Chan ... biasanya dandanannya cuek ...
Yuchan : Iya, saya mau ke gereja ...
Tobucil : Wah ... itu juga tumben. Bertobat, ya?
Yuchan : Bukan gitu, saya ke gereja karena burung hantu saya mati. Sebenernya bukan burung hantu aku, sih, burung hantu kembaran aku, tapi aku ikut merasakannya. Sekarang kita ke gereja untuk mendoakannya ...

Tobucil : Wah ... aku turut berduka cita. Gimana kejadiannya?
Yuchan : Matinya tiba-tiba. Iya ... matinya tiba-tiba. Aku curigany dia flu burung. Emang flu burung ciri-cirinya gimana, sih?

Tobucil : Lha ... nggak tau ...
Yuchan: Burung hantu aku nggak mau makan. Tadinya hari Senin (sehari setelah wawancara ini dilakukan-red), Burhan mau dibawa ke dokter. Eh ... keburu mati ...

Tobucil : Ooo ... burung hantunya namanya Burhan, ya?
Yuchan : Bukan, burhan itu (singkatan dari) burung hantu. Burung hantunya, sih, namanya Deden.

Tobucil: Deden?
Yuchan: Iya, soalnya kecengan kembaran aku namanya Deden.
Tobucil : Ooo ... gitu. Btw, Si Deden dikubur di mana?
Yuchan : Di halaman belakang, di bawah pohon mangga. Tanah yang cocok cuma di situ. Yang lain ada rumputnya-lah, ada batunya-lah ...

Tobucil: Ceritain, dong, peristiwa penguburannya ...
Yuchan:Pagi-pagi Si Yolan (kembaran Yuchan-red) nggak bisa apa-apa. Dia nangis-nangis terus. Ya udah, aku yang ngegaliin kuburan burung hantunya.

Tobucil: Wah ... perkasa juga, ya ...ada rencana beli burung hantu lagi, nggak?
Yuchan: Kayaknya enggak, deh ...
Tobucil : Masih sedih, ya?
Yuchan : (mengangguk pilu) Tapi aku pengen beli doggy, padahal sama mama aku nggak boleh karena mama aku nggak suka binatang peliharaan. Tadinya mau beli tanpa bilang-bilang ke mama, mumpung mama lagi nggak di rumah. Tapi takutnya nasibnya kayak si Deden.

Tobucil: Lho? Emang Si Deden kenapa?
Yuchan: Si Deden kan dibeli pas mama nggak ada. Maunya pas mama pulang kita ngakunya burung hantu itu dikasih. Taunya sebelum mama pulang dia udah mati.

Tobucil: Wah ... tragis juga ternyata, ya ...

Mas Andre datang bergabung, "Bohong, Yuchan ke gereja karena barjes, bukan karena burung hantu!" Barjes? Binatang apa, tuh? "Barjes itu barudah Jesus. Si Yuchan kan lagi cari kecengan," sambung Mas Andre. Ooo ... begitu, ya?

Sebuah mobil datang menjemput Yuchan. Yuchan berlari-lari menyambut
nya. Sebetulnya Yuchan jadi "gadis bunga" karena barjes atau burhan?

Hanya Tuhan yang tahu ...

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Mengikuti Diskusi Buku di Tobucil

cerita bersambung, seri ke dua oleh: Andika Budiman

koordinator kegiatan Tobucil, mengajak kami mengikuti diskusi buku bertema seram ini.

Gadis-kacamata-penjaga-buku-tamu kini berdiri dan mengetukkan sendok ke gelas beberapa kali. “Harap tenang! Acaranya mau dimulai!” serunya lantang. “Selamat sore! Selamat datang di diskusi buku bertema LGBT yang diselenggarakan Qmunity bersama Tobucil sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Q! Film Festival. Sebelumnya saya ingin memberitahu ada kotak donasi sukarela di dekat buku tamu—berhubung Qmunity adalah lembaga nirlaba.” Hadirin mengangguk maklum. “Sekarang langsung saja saya serahkan kepada Erha sebagai moderator!”

Seorang perempuan berambut sebahu maju ke depan pengunjung. “Terima kasih, Rina! Sebelum mulai berdiskusi pertama-tama saya memperkenalkan dulu empat orang penulis kita kali ini!”

Berhadapan dengan hadirin, telah duduk empat orang penulis yang tengah asyik bercakap. Mereka terdiri dari seorang wanita mungil dan tiga pria-pria tambun. “Di paling kiri ada Toni,” ujar Erha. “Toni ini salah satu penulis Mengalami Taik dan editor senior di penerbit Gragas.” Toni tersipu saat penonton bertepuk tangan.

“Di sebelah Toni ada Wendy,” lanjut Erha. Wendy melambai menyambut tepukan tangan penonton. “Selain bekerja sebagai pemimpin redaksi Gragas, Wendy juga menulis Mengalami Taik bersama Toni.”

“Selanjutnya ada Buda, produser radio yang buku pertamanya Joker, berhasil memenangkan Khatulistiwa Literary Awards 2007 kategori penulis muda berbakat!” umum Erha.

“Cuma nominator, kok!” ralat Buda malu-malu. “Kalah dari Susy Susanty!”

“Dan yang terakhir ada Reza,” ujar Erha. “Penulis Sarcastic Romance ini sehari-hari bekerja sebagai event organizer dan translator sastra klasik Indonesia!” Dari keempat penulis yang diperkenalkan, Reza inilah yang secara fisik paling menonjol. Ujung-ujung rambutnya dicat kuning jagung. Wajah Reza belang tersengat sinar matahari. Tak tanggung-tanggung, ia mengenakan jaket motif lap dapur di atas kemejanya. Tanpa bermaksud jahat, dapat dikatakan Reza menjadi contoh kasus bahwa pakaian mahal memang bukan untuk semua orang–ya, sekalipun yang bersangkutan memang mampu untuk membelinya.

ERHA: Oke kita ke pertanyaan pertama. (Melihat kertas di genggaman) Dari perkenalan barusan kita kan tahu bahwa selain sebagai penulis, kalian semua juga punya pekerjaan yang lain. Ada nggak sih waktu yang paling baik untuk menulis?

BUDA: Kalau saya biasanya mencuri-curi waktu ketika ke toilet. Sambil buang hajat, saya memikirkan karakter dan konfliknya. Bisa dibilang saya lumayan sering dapat inspirasi kalau sedang di toilet. Kadang-kadang malah saya jongkok di jamban sambil memangku laptop, bercanda! (Tertawa)

WENDY: Kalau saya mesti mencuri-curi waktu untuk menulis. Tahu sendiri, lah! Konsekuensi bagi penulis yang bekerja sebagai editor, saya sibuk berkutat dengan tulisan orang lain. Ada ratusan naskah yang setiap minggunya masuk ke Gragas, dan kami sadar betul setiap penulis, sekalipun ditolak, menginginkan adanya feedback dari Gragas. Kami nggak mungkin mengembalikan naskah tanpa perbaikan apa-apa. Dan apabila sebuah naskah dianggap menarik, naskah itu mesti melewati rapat penerbit buat menentukan apakah naskah itu layak terbit atau nggak. Sebagai pemimpin redaksi yang bertanggung jawab pada setiap proses itu, proses menulis saya nggak tentu dan agak lama.

TONI: Saya sama kayak Wendy. Buat mengakalinya biasanya saya bangun pagi-pagi, dan langsung menyalakan komputer. Belum mandi belum apa, langsung menulis. Saya memanfaatkan waktu sebelum ke kantor.

REZA: (Menyalakan rokok) Kalau saya mungkin agak high maintenance, ya? Saya menulis pakai laptop di kafe tingkat teratas Grand Hyatt, ditemani cappucinno dan iPod berisi lagu-lagu yang sudah diatur sesuai mood yang mau dikeluarkan. Saya biasa melakukan ini larut malam waktu suasana sepi dan nggak ada lagi telepon yang masuk.

ERHA: Mudah-mudahan royalti Mas Reza bisa menutupi biaya menulisnya, ya? (Hadirin tertawa) Pertanyaan selanjutnya, berapa lama, sih, waktu yang diperlukan dari melakukan proses menulis sampai tulisan kalian bisa terbit sebagai sebuah buku?

bersambung ....
Google Twitter FaceBook

Jika Menipu ....

Pada hari Jumat 18 April 2008, Semi Palar tampak meriah. Berbagai stand memenuhi pendopo, di antaranya stand toko buku Omunium.

Omunium, yang terkenal sebagai toko buku berkarakter agak-agak metal ini, ternyata mempunyai seorang "penipu ulung". Mas Tri, demikian nama penipu tersebut, hadir di hari buku Semi Palar dan ... menipu banyak sekali anak kecil.

Tapi ...

jika menipu membawa keceriaan yang mudah menular, kenapa harus khawatir ? Ketika Mas Tri melancarkan trik "mengeluarkan koin dari mulut dan telinga" atau "membuat karet turun sendiri", tawa ceria anak-anak yang bebas mengudara menyusup ke diri setiap orang, membekali orang-orang itu dengan energi yang bertahan sepanjang hari.

Pernah nonton Monster Inc. ? Tawa anak-anak adalah energi yang kuat efeknya, bahkan untuk para monster ...









(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Seandainya Adin Jadi Temanku

Sepanjang minggu yang lalu, tanggal 21-27 April, Tobuciler utuh menjadi Sundea. Absen dari kegiatan menjadi kuncen di Tobucil, Sundea mempersiapkan "Seandainya Adin Jadi Temanku", lomba menggambar di "dinding kamar". Adin.

Menggambar di "dinding kamar" ? Maksudnya ...?

Begini. Karena Adin sudah pindah rumah, Sundea mengangkut dinding kamarnya ke Beranda Komunitas Museum Bank Mandiri, Jakarta. Di sana, sedang diadakan acara World Book Day Indonesia 2008.

Pada tanggal 23 April, anak-anak dari beberapa SD di Jakarta diberi kesempatan menyampaikan pesan untuk Adin dengan menggambar di dinding kamarnya. Tiga penggambar terkreatif mendapat hadiah dari panitia.

Berikut ini adalah foto-foto "Seandainya Adin Jadi Temanku" yang dirampok Sundea dari Bowo, tim dokumentasi World Book Day Indonesia 2008.

Makasih banyak, ya, Wo ... ^_^ V

(Sundea)

P.S
Dunia Adin mendapatkan dua kategori penghargaan dari Kelas Ajaib Award-nya Mas Benny Rhamdani. Cek, deh, ke sini.





















































Google Twitter FaceBook

Ada Aku


Pada suatu hari Sabtu, ujan turun deres dan nggak brenti2. Dea jadi stucked di Reading Lights, toko buku di daerah Siliwangi. Sambil minum teh, Dea duduk di kursi Reaeding Lights yang paling deket sama jendela.

Di luar sana, semuanya keliatan dingin, basah, dan rusuh. Karena udah malem, langit juga udah gelap. Dea jadi gloomy. Sambil naro kepala di meja Reading Lights, Dea ngegumam, "Dea kangen matahari ..."

Tau2 ada suara kecil dari sebrang jalan, "Dea, ada aku !" Pas Dea liat, ternyata yang ngomong lampu jalan. "Ada aku juga," sambung suara lain yang ternyata lampu garasi rumah orang. "Aku juga ada," lampu mobil yang lewat nggak mau kalah. "Ada aku juga ..." "Ada aku ..." "Ada aku ..."

Lama2 suaranya jadi banyak. Kendaraan2 yang gantian lalu lalang kaya' rebutan bilang, "Ada aku" ke Dea. Belakangan ada minibus masuk ke pekarangan Reading Lights, nyorotin lampunya persis ke muka Dea. Suaranya berat dan kuat, "Dea, ada aku juga ..."

Sesudah si minibus parkir, nggak sengaja Dea bertatapan sama bayangan Dea sendiri di kaca jendela. Ternyata, persis di atas Dea pun ada lampu baca yang dari tadi bersinar diem-diem. Dia bikin Dea jadi bisa liat muka Dea sendiri di jendela.

Dea jadi sadar kalo Dea nggak gloomy lagi. Dea udah bisa senyum lebar. Makasih, ya, matahari-matahari kecil, karena kamu semua, Dea jadi terang dan siang ... meskipun di luar gelap dan malem..

(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Komputer Setempat Ngambek

Hari ini Tobuciler bangun pagi sekali.

Dari tempat yang bukan Bandung, Tobuciler yang kangen berbagi cerita, segera duduk menghadap komputer setempat untuk posting blog.

Tapi ....

Ternyata komputer setempat kurang ramah pada Tobuciler. Dia tidak mau memuat foto-foto yang di-uploadkan Tobuciler. "Aku nggak mau bantu kamu! Pokoknya nggak mau!" begitu katanya keras kepala.

Tobuciler jadi sedih. Segala daya upaya dan bujuk rayu Tobuciler tidak ditanggapi oleh komputer. Waktu Tobuciler tanya apa Tobuciler pernah punya salah, si komputer tetap tak mau menjawab. Ya ... sudah ... Tobuciler pasrah.

Setelah minggu lalu lahir prematur, minggu ini postingan blog Tobucil lahir terlambat. Maafkan, ya ...
Besok, hari Selasa, Tobuciler akan segera posting. Pssst ... sekadar bocoran, minggu ini ada oleh-oleh dari tempat-tempat yang bukan di Tobucil.

Salamatahari ...
Semoga komputer setempat ini tidak marah lagi pada Tobuciler
dan semoga besok, kegiatan posting-memosting dan berjalan selancar biasanya.

Doakan, ya ....
Google Twitter FaceBook

Sunday, April 20, 2008

Editorial

Punten ...

Minggu ini, karena satu dan lain hal, blog Tobucil posting lebih awal. Meskipun Lebaran sudah lama berlalu, moga-moga semangat memaafkan masih berkobar di hati pembaca =D

Mulai edisi ini, blog Tobucil menyediakan rubrik "Papan Tulis"; sebuah ruang yang mewadahi tulisan kreatif teman-teman sekalian. Sebagai perintis, Andikha Budiman menyumbangkan cerita fiksinya untuk dimuat bersambung di rubrik ini. Sekedar informasi, cerita Andikha ini ditulis berdasarkan diskusi "Emerging Queer Books" di Tobucil pada tanggal 29 Februari lalu.

Teman-teman pun bisa mengirimkan tulisan kreatif teman-teman ke Tobucil@ yahoo.com. Tulisan yang dimuat akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan yang Maha Kuasa dan salam hangat dari segenap kru Tobucil.

Eh ... tapi sesi yang berhadiah betulan juga ada, kok, baca, deh, postingan "Ulang Tahun Tobucil"

Kabar lainnya, pada tanggal 21-23 April ini, Klab Melipat Kertas menjadi bagian dalam pameran "Should I Hate Architecture?" di Universitas Katolik Parahyangan . Yang disuguhkan oleh Klab Melipat Kertas adalah ... niiiiit ... kalau mau lihat, dateng, dong, ke sana .... hehehehehe ...

Terakhir, mulai edisi ini editorial akan dilengkapi dengan foto pilihan dari Tobucil.

Iya, deh, segitu dulu. Semoga blog Tobucil selalu mencerahkan hari.

Salamatahari ...
Tobuciler
menjelang keberangkatan Mbak Tarlen
Google Twitter FaceBook

Ulang Tahun Tobucil

Tanggal 2 Mei mendatang, Tobucil merayakan ulang tahun yang ke tujuh, lhoooo ...

Dalam rangka ulang tahunnya sendiri, Tobucil minta diberi ucapan selamat (lho?)

Iya, bentuknya boleh karya tulis (word) maupun grafis (jpeg) , dikirimkan ke Tobucil@yahoo.com dengan subject "ucapan selamat untuk Tobucil" . Buat sekreatif dan se-out the box mungkin, yaaaaa ....

Karyamu ditunggu sampai 2 Mei 2008. Tiga Dua karya terkreatif akan dimuat di blog Tobucil edisi ulang tahun, 5 Mei 2008. Pemenangnya boleh memilih salah satu dari hadiah berikut ini:

  • Mengikuti kursus rajut/melipat kertas secara gratis selama sebulan di Tobucil
  • minum kopi selama sebulan empat kali di Tobucil + merchandise keren Tobucil

Ditunggu, yaaaa ... ^_^
Google Twitter FaceBook

Andikha Budiman (Mungkin) Telah Keluar dari Lemari

Percayalah. Selama lima edisi “teman Tobucil”, interview ini adalah yang paling serius. Tidak bisa jadi lucu meskipun Tobuciler sudah berusaha melucu-lucukannya. Andikha menulis sebuah esei tentang dirinya; tentang mengapa dia menulis dan bagaimana rasanya menjadi “homoseksual dalam lemari”. Personal dan jujur. Tobuciler, yang membacanya persis sebelum mewawancara, langsung terbawa suasana liris dan sentimental. “Moga-moga (esei) ini nggak ngeganggu spontanitas lo,” kata Andikha prihatin. “Oh … nggak … kok …,” sahut Tobuciler agak mengambang.

Andikha Budiman adalah teman Tobucil yang menerjemahkan diskusi “Emerging Queer Books” 29 Februari2008 lalu dalam bentuk cerita. Cerita tersebut dimuat secara bersambung dalam blog Tobucil, mulai dari edisi ini.

Tobucil : Di esei lo, lo nulis kalo elo “homoseksual dalam lemari”. Bisa dijelasin, nggak?

Andikha: Jadi, istilah “homoseksual dalam lemari” itu saya terjemahkan dari istilah “closetted homosexual”. Itu salah satu alasan yang memicu saya menulis. Saya menulis karena ingin diperhatikan. Memilih jadi “homoseksual dalam lemari” berdampak pada semakin sempitnya pilihan untuk tetap hadir tanpa jadi bulan-bulanan.

Tobucil : Terus apa yang akhirnya bikin kamu “keluar dari lemari” ?

Andikha: Mungkin saya belum bisa dibilang “keluar dari lemari”, soalnya keluarga saya belum saya kasih tau.

Tobucil : Ooo … tapi ini nggak apa-apa kan ditulis di blog?

Andikha: Nggak apa-apa.

Tobucil : Kapan, sih, kamu ngakuin secara verbal kalau kamu gay?

Andikha : Di Klab Nulis*). Waktu itu Arief (tutor tamu di Klab Nulis) nyuruh kita bikin esei tiga ribu kata tentang alasan menulis. Dia ngomong sambil bercanda, “Jangan-jangan dalam tulisan kalian, ada yang bisa mengakui kalau dia adalah gay …” Dan memang iya.

Seminggu kemudian, Arief nggak dateng. Setelah saya pikir-pikir, kalau saya bisa jujur sama Arief, kenapa sama yang lain enggak? Sempet ragu, sih … tapi kalau saya nggak bilang, berarti kan nggak ada kemajuan.

Tobucil : Waktu lo ngakuin, gimana reaksi anak-anak?

Andikha: (sambil tertawa) Waktu gua bilang, “teman-teman, saya mau membuat pengakuan”, Erick (tutor Klab Nulis saat ini) bercanda, “Lo mau bilang kalau elu gay, yaaaa …?” Terus gua jawab, “Memang iya”. Anak-anak sempet diem. Tapi Myra (salah satu anggota Klab Nulis) ngomong, “Udah sering ada temen yang ngaku ke gua. Elu malah yang ke tiga …”

Gua rasa seseorang bisa nyebut dirinya homoseksual saat dia mengakui dirinya ke orang lain. Menurut gua itu puncak dari grey area dia. Sesudah gua ngomong, gua justru ngerasa lebih utuh. Takut? Sebenernya gua takut terhadap apa? (Sesudah gua ngomong) sama-sama aja.

Tobucil : Lo nyiptain tokoh Intan dan kakaknya. Hampir selalu cerita lo tokohnya mereka; Intan yang vokal dan kritis, dan kakak laki-lakinya yang bahkan nggak pernah disebut namanya. Ada hubungannya nggak, sih, mereka ini sama “kedalamlemarian” lo?

Andikha : Mungkin awalnya aja. Tapi lama-lama mereka jadi terpisah dari diri gua. Mereka tokoh-tokoh yang hidup. Intan memang diciptain lebih kritis, dan kakaknya berfungsi mendeskripsikan keadaan dalam cerita. Gua emang tertarik sama hubungan kakak-adik, Intan dan kakaknya kayak gua dan kakak cowok gua.

Tobucil: Lo lebih vokal dari kakak lo?

Andikha: Enggak juga. Kalau gua sama kakak gua, vokal enggaknya bergantung siapa yang memulai pembicaraan. Mungkin gua sama kakak gua nggak sedekat Intan dan kakaknya. Kita nggak gitu cocok kalau ngomongin bisnis, tapi untuk urusan ngejemput, diskusi, dan bacaan, kita deket. Kita kompak … eh .. jangan ditulis kompak, deh, terdengar cheesy …

Tobucil : Terus apa?

Andikha: Mmm … jadi gini. Misalnya pas ibu saya sakit. Kakak saya nangis dan saya yang menenangkan. Saya juga heran kenapa saya bisa begitu, padahal biasanya saya lebih nggak solid dari kakak saya.

Tobucil : Itu kan namanya kompak, Andikha …

Andikha: Iya, sih …. tapi ….kompak kesannya cheesy. Eh, ini untuk rubrik teman Tobucil kan? Lo nggak nanya-nanya yang ada hubungannya sama Tobucil?

Tobucil: Hmmm … iya, ya. Ngomong-ngomong, apa pendapat lo tentang Tobucil?

Andikha: Gua suka Tobucil karena menurut gua tempat ini nggak intimidatif.

Tobucil : Pas diskusi “Emerging Queer Books” itu kan lumayan horor-horor intimidatif, bukan?

Andikha: Menurut gua intimidatif itu misalnya seperti media kampus saya. Para penulisnya biasanya nulis hard politics, bukan hubungan satu orang dengan orang yang lainnya. Gua orang yang cukup sulit, tapi gua ok sama kondisi Tobucil. Gua nggak suka di-push, terlalu dibiarin juga nggak bisa.

Tobucil : Kapan lo pertama kali ke Tobucil?

Andikha: Awal-awal kuliah, awal 2006, dua minggu sebelum ultah gua. Ceritanya habis UTS gue ngerasa lemah banget dalam penulisan esei. Terus gua ikut klab nulis di toko buku yang selalu gua lewatin setiap gua pulang kuliah ini (waktu itu Tobucil masih berada di Kyai Gede Utama-red). Pertamanya gua sebel karena instruksinya rada nggak jelas, disuruh nulis bebas, tapi ternyata semua nulis cerita fiksi sementara gua nulis berita kemenangan petenis Belgia dalam kejuaraan tenis akhir taun. Untungnya gua memberikan kesempatan ke dua pada Klab Nulis, dan berikutnya, waktu nulis tentang rumah, Erick memberikan instruksi yang lebih jelas… hehehehehe …

Andikha dan Tobuciler mengobrol sampai matahari runduk serunduk-runduknya. Sebelum wawancara berakhir, Andikha punya request yang agak aneh, “Gua pengen difoto deket kulkas, dong …”

Dalam perjalanan pulang, Tobuciler mencoba menelaah. Apa wawancara hari itu kehilangan spontanitasnya?

Saat duduk di angkot, Tobuciler menyimpulkan dalam hati, “Bukankah perasaan sentimental yang tahu-tahu muncul itu malah sangat spontan sifatnya?”

Tobuciler tersenyum sendiri sambil meminum minuman yang telah terbebas dari dalam lemari es Tobucil. Hari itu jalanan lengang dan bersahabat.

(Sundea)






*)Klab Nulis angkatan Andikha dan kawan-kawan sudah pindah ke Reading Lights, setiap Sabtu jam 4 sore. Di Tobucil akan diadakan Klab Nulis baru.

Untuk informasi lebih lanjut, pantau terus www.tobucil.blogspot.com atau datang langsung ke Tobucil

Google Twitter FaceBook

Mengukuti Diskusi Buku di Tobucil

oleh : Andikha Budiman

Titik air kecil-kecil berjatuhan di kepala saat aku dan adik perempuanku, Intan, turun dari angkutan kota. “Ya Tuhan mudah-mudahan jangan sampai deras, nanti kami repot pulang,” aku mengeluh. Setelah membayar, kami masuk ke pekarangan Tobucil—kependekan dari toko buku kecil.

“Doa yang egois!” omel Intan menyebalkan. “Buat apa takut hujan. Kita kan sama-sama bawa payung!”

“Cuma bercanda, kok!” tukasku, cemberut pada ketidakmampuan Intan membedakan mana yang serius dan mana yang kurang serius. “Paling juga nggak dikabulkan. Awannya juga sudah abu-abu begitu.”

“Cepat, Mas! Jangan-jangan kita nggak kebagian tempat duduk!” ajak Intan, mempercepat langkah. Ia benar, sore ini suasana Tobucil lebih ramai dari biasanya. Riuh rendah obrolan dari toko terdengar sampai ke pekarangan. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Diskusi buku bersama penulis di serambi Tobucil akan segera dimulai.

Mataku menangkap poster besar menempel di salah satu pintu serambi. Poster itu memuat sebuah potret para pria dan wanita yang berpose dalam pakaian yang tak menuruti identitas kelamin masing-masing. Di atas potret tertulis, ‘Qmunity proudly present: Q! Film Festival. Aku dan Intan bertukar pandang. Di pintu yang lain tertempel poster sampul buku-buku yang akan dibahas: Mengalami Taik dan Sarcastic Romance. Sebenarnya ada satu buku lagi, Joker, Misery Loves Company, tetapi berhubung pintu sudah penuh tempelan, poster Joker ditempatkan di belakang tempat duduk para penulis. Ketiga buku ini sama-sama mengangkat tema lesbian, gay, bisexual, dan transgender, disingkat LGBT.

Lalu kami masuk ke serambi Tobucil yang serba hijau. Bangku-bangku panjang yang berderet sudah setengah penuh diduduki pengunjung. Ada laki-laki flamboyan, perempuan berambut cepak, sampai sepasang perempuan berjilbab. Selain itu aku mengenali beberapa wajah: Mirta, Ani, dan Ian, ketiganya teman sesama anggota Klab Nulis. “Halo!” sapa Mirta yang pertama kali melihatku. “Sudah isi buku tamu?”

“Belum.” Aku menggeleng. “Teman-teman ini Intan, adikku. Intan ini Mirta, Ani, sama Ian. Siapa tahu di masa depan salah satu di antara kami bakal menang Penghargaan Pulitzer?”

“Siapa tahu?” sahut Ani, menyambut uluran tangan Intan.

Pasangan perempuan berjaket coklat dan lelaki berambut gimbal lewat di dekat kami. “Eda!” panggilku dan Intan berbarengan.

Si perempuan menoleh. “Hei,” sapanya agak lesu. “Aku flu, nih!”

Setelah melalui serangkaian ‘Halo!’, aku dan Intan menghampiri gadis berkacamata yang duduk dekat meja tamu. “Mau ikut diskusi? Isi buku tamu dulu, dong!” pintanya sembari membuka buku tamu dan menyediakan bolpen. Kami pun mengisi nama, nomor telepon, dan alamat e-mail. Lalu aku dan Intan diberi masing-masing sebuah poster, kalender, majalah, katalog film, dan penggalan buku. Kerepotan membawanya, kami cepat-cepat duduk dan bersiap untuk mengikuti diskusi buku.

***

Sebagai kutu-kutu buku yang gemar meloncat dari satu toko buku ke toko buku lainnya, aku dan Intan tak pernah puas dengan hanya satu toko buku langganan. Hati kami sering terbelah antara tempat yang menawarkan harga murah dan tempat yang menawarkan kenyamanan berbelanja. Meskipun begitu, ada satu toko buku yang rutin aku dan Intan kunjungi: Tobucil. Kunjungan kami kebanyakan tak untuk beli buku—baik koleksi maupun diskon buku Tobucil sebetulnya tak terlalu istimewa. Namun berhubung di sana diadakan kegiatan mingguan yang menarik, paling tidak aku dan Intan datang ke Tobucil sekali dalam seminggu. Aku ikut Klab Nulis dan Intan ikut Madrasah Falsafah Sophia. Tobucil beroperasi di paviliun salah satu rumah tua di Jalan Aceh, Bandung. Toko buku ini menegaskan statusnya sebagai toko buku kecil sejati dengan berbagi paviliun bersama sekretariat Aliansi Jurnalis Independen Bandung dan sebuah kantor konsultan pajak. Cukup akrab dengan Tobucil, aku dan Intan langsung mengiyakan ketika Wilku, .... (bersambung)

* Papan Tulis adalah rubrik yang memuat tulisan kreatif dalam bentuk apapun
Google Twitter FaceBook

So Spread Your Wings and Fly

-Tobucil, Senin 14 April 2008-

“…spread your wings and prepare to fly ….”

Butterfly – Mariah Carey

Hari itu Mbak Tarlen, “bos besar” segenap kru Tobucil, berangkat ke New York untuk memenuhi beasiswa magang. “Gimana, Mbak, perasaannya?” tanya Tobuciler. “Tegang-tegangnya, mah, udah minggu lalu. Sekarang saya sudah memasrahkan diri kepada perjalanan,” jawabnya santai.

Lewat pukul dua belas, Tobucil mendadak penuh. Mbak Hera, salah seorang teman Tobucil yang sempat menjual pisang aroma kreasinya di Tobucil, datang membawa seplastik bumbu instant masakan Indonesia dan serenceng sereal, “Buat kalau kamu sibuk dan nggak sempet bikin sarapan, Len,” pesannya keibuan.

Sayangnya, Mbak Tarlen sudah packing. Meski sereal bisa dibawa seluruhnya, bumbu masak terpaksa ditinggal sebagian di Tobucil. Kru Tobucil yang selalu lapar tentu saja menyambutnya dengan suka ria. “Yuk, besok kita masak-masak … ,” ajak Mas Andre yang disambut antusias oleh Mbak Elin dan Laras. Dengan segera mereka memilih-milih bumbu yang cocok untuk masakan yang akan dieksekusi esok hari.

Di antara keriaan itu, Mbak Upi duduk memojok di ruang belakang Tobucil. Tampak tidak tertarik dengan kebersamaan menjelang keberangkatan Mbak Tarlen. Lho kenapa? Oooo …rupanya Mbak Upi sedang sibuk dengan “kupluk kejar tayang”-nya. “Kupluk ini harus selesai sekarang, kan mau dibawa sama Tarlen,” kata Mbak Upi sambil terus merajut. “Ini sebenernya harusnya belum selesai, tapi sama gua dipaksa ditutup … hehehehe…,”lanjut Mbak Upi sambil menyudahi rajutannya.

Menjelang sore, mobil travel yang menjemput Mbak Tarlen datang. Semua kru dan teman-teman Tobucil mengantar Mbak Tarlen sampai ke pintu. Peluk-pelukan sentimental pun terjadi. “Ati-ati, ya … kalau sudah sampai kasih laporan pandangan mata …,” pesan kami.

Mobil berangkat meninggalkan pekarangan Tobucil. Kami semua masih melambai-lambai. Setelah mobil betul-betul pergi, kru Tobucil saling bertatapan bengal, “Besok tokonya kita tutup aja, yuk … sekarang kita makan-makan pakai duit benang ….” Jreeeng ….

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Berikan Sayapmu Agar Aku Pulang

-Tobucil, Selasa 15 April 2008-

“ …aku ingin pulang,

ingin cepat pulang,

berikan sayapmu,

agar aku pulang …”

Pulang-Nidji

“Asalnya saya mau ngasih lagu ini ke Tarlen,” kata Mbak Eli pagi itu. “Yah, Mbak, nyampe aja belom udah disuruh pulang lagi,” tanggap Tobuciler. “Biarin aja. Entar lagunya mau saya kirim, ah, pake multiply …,” Mbak Elin kekeuh.

Hari itu adalah hari pertama tanpa Mbak Tarlen di Tobucil. Bangku kotak-kotak hijau Mbak Tarlen sendirian hingga hari siang dan laptop putih Mbak Tarlen tidak lagi bertengger di meja. Akan terus begitu sampai empat bulan ke depan.

“Sekarang mah belom kerasa, entar, geura lama-lama kerasa sepinya, kayak waktu Tarlen kerja di Bank Dunia,” curhat Mbak Elin.

Mungkin iya. Ketika seseorang baru berangkat satu hari, sebagian dari dirinya seperti masih tinggal di dalam ruang. Mbak Tarlen tidak terasa sedang pergi jauh ke New York. Betul-betul tidak terasa sejauh itu.

Hari itu kegiatan Tobucil berjalan seperti biasa. Anehnya, entah mengapa pengunjung sedang banyak sekali. Mungkin keseimbangan memang selalu terjadi secara alamiah. Ketika ada yang pergi, selalu ada yang ditugaskan menambal kekosongan …

Mbak Tarlen, seems like we miss you already …. ;)

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Terminal Tas


Pernah tau toko tas yang namanya Terminal Tas? Kemaren Dea baru lewat situ dan tiba-tiba Dea punya imajinasi aneh…

Terminal Tas adalah terminal tempat tas-tas naik-turun bis. Kadang mereka dianter-jemput sama sodaranya yang tas juga, dan kadang mereka nyewa jongos yang wujudnya juga tas.

Ng…ntar dulu. Kalo mereka tas, apa yang mereka bawa? Buat apa mrk. nyewa jongos? Nah, kalo di terminal manusia kita biasa liat manusia bawa-bawa tas, di terminal tas kita bisa liat tas bawa-bawa manusia. Jongos2 di terminal tas berwujud tas yg. guedeeeee…banget (lebih gede dari carrier) dan mampu masukin manusia seberat apapun ke dalem badannya.

Di terminal tas, manusia kadang ditumpuk2. Kalo terlalu banyak, mereka dilipet-lipet supaya muat dimasukin ke badan jongos.

….

Kok serem, ya? Manusia dikuasain sama tas? Dunia apaan, tuh?



(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Tuesday, April 15, 2008

Festival Film Perancis

Sabtu, 19 April 2008

14.30 La vérité ou presque
17.00 Mon petit doigt m'a dit
19h30 Bled number 1
22h00 Dans les cordes

Minggu, 20 April 2008
14.30 Mon petit doigt m'a dit
17.00 Dans les cordes
19.30 La vérité ou presque
22.00 Bled number 1

Tempat :
Blitz Megaplex, Mall Paris Van Java, Jalan Sukajadi no.137-139

Tiket gratis bisa didapatkan di Tobucil

TERBATAS
Google Twitter FaceBook

Sunday, April 13, 2008

Curhat TIita


Judul buku : Curhat Tita

Pengarang : Tita Larasati

Harga Asli : Rp. 25.000,00

Harga Tobucil : Rp. 22.500,00


"Dengan mengajak kita 'membaca' dunia keseharian, Curhat Tita menjadikan dunia itu lebih dekat, akrab, dan bermakna, yang di dalam abad informasi kini justru semakin berjarak dari kita, baik secara fisik maupun psikis.


Kita diajak untuk 'merebut' kembali dunia harian yang 'nyata' itu, yang nyaris tergilas oleh hiruk-pikuk dunia urban, nyinyir media massa dan banalitas dunia hiburan. Kini kita perlu merasakan kembali nikmatnya memasak, bermain di lapangan, senam pagi, menggambar, bersepeda, mereparasi perabot, di dalam dunia yang dipenuhi oleh segala artifisialitas dan banalitas.


Selamat membaca !


Selamat berkelana di dunia nyata ! "


-Yasraf Amir Piliang-
Google Twitter FaceBook

Agus Rakasiwi yang Terus Ketawa-ketiwi

Agus Rakasiwi adalah ketua AJI Bandung. Profesi kharismatik ini ternyata membuatnya punya banyak penggemar. Menurut gosip yang beredar di Tobucil, salah satunya bahkan pernah mengirimi Mas Agus tanaman mahal. Siapa pengirim tanaman itu? Bagaimana kelanjutan hubungan Mas Agus dengan si pengirim tanaman tersebut?


Tobucil : Emang siapa, sih, yang ngasih taneman?
Agus : Seorang cewe' ....
Tobucil : Siapakah ...?
Agus : Iya, jadi ... hihihihi .... jadi gua mungkin emang mempesona cewe itu ... hihihihi ...
Tobucil : Emang hubungan Mas Agus sama cewe itu gimana?
Agus : Pernah nonton Closer ?
Tobucil : Belom ...
Agus : Ya dia ... hihihihi .... pemudi idaman .... hihihihi .... bukan, deh, dia Tanti (maksudnya Tante-red) idaman ...hihihihi .... enggak, ding, kita kan seumuran ....

Tobucil : (????) Katanya belom sehari tanemannya udah ilang dicuri, ya?
Agus : Iya. Tapi udah dikirimin bunga lagi. Kan Tobucil harus lebih hijau ... hihihi ... taneman itu buat Tobucil, kok, waktu itu aja banyak yang suka nyiramin .... hihihihi ....

Tobucil : Sekarang tanemannya masih ada?
Agus : Ada.
Tobucil : Mana?
Agus : Di rumah saya.
Tobucil : Lah ... katanya buat Tobucil ....
Agus : Enggak, buat saya, ding .... hihihihi ... buat saya, buat saya. Itu karena saya mempesona sekali ... hihihihi ....

Tobucil : Mas, gosipnya baru pulang dari Bali, ya? Katanya pulang-pulang Mas Agus jadi gembira banget. Emang ke Bali sama siapa, sih?

Agus : (ehm) Itu ... itu agak berat emang persoalannya, agak berat ... hehehehehe .... sampai ... Laras (memanggil penjaga Tobucil yang sedang bertugas saat itu) ada rokok ? Atau kopi, kopi ... satu, aja .... hihihihihi ....

Tobucil : Mas emang biasa ketawa-ketawa gini, ya?
Agus : Emang gua gila ... hiihihii .... gua panas dingin ditanya-tanya gini .... hihihihi ... jadi nggak enak bodi ....

Tobucil : Jadi, Mas, siapa perempuan yang beruntung itu?
Agus : Biasanya yang ngirim bunga itu orang yang abis gua wawancara. Tapi, salah, cewe itu nggak beruntung. Dia pasti belum makan wortel .... hihihihi .... jadi matanya belom terbuka ...

Tobucil : Lah ... tadi katanya Mas Agus mempesona, sekarang jadi nggak PD. Mana yang bener, nih ?

Agus: Nggak ada yang bisa lo percaya. The truth is outthere ... hihihihi ....

Telpon Mas Agus berbunyi. Mas Agus mengangkatnya. Setelah berbicara sebentar, dia menutup telpon sambil pamit, "Gua pergi dulu, ya, entar gua balik lagi, kok, mau ke dokter ..."

Dokter ?!!! Dokter apa, nih?!! Jangan-jangan ketawa-ketawa tak tentu Mas Agus tadi karena ....

(Sundea)


Google Twitter FaceBook

Manda


-Tobucil, Senin 07 April 2008-


Nengsih, kucing betina yang rajin menghadiri peristiwa makan-makan di Tobucil, tahu-tahu sudah melahirkan. Yang lebih mengejutkan lagi, anaknya ternyata sudah lumayan besar. "Namanya Manda," kata Reni sambil menggotong keranjang berisi anak kucing itu.


Jadi ingat. Berwaktu-waktu yang lalu, Tobucil juga pernah punya kru bernama Manda. Pada masa bertugasnya, Manda yang manis, lembut, ramah, dan sabar adalah "kembang kasir". Tidak sedikit penjaga pengunjung Tobucil, terutama para pria, yang singgah lama-lama di kasir Tobucil untuk sekedar mengobrol dengan Manda.


Mejelang sore, tiga mahasiswi datang membeli benang. "Kita dari teknik lingkungan ITB, bareng Manda. Kenal kan?" kata Gita, yang bersuara paling berat. Wah ... Manda lagi ...


Katanya Manda resign dari Tobucil untuk menyelesaikan kuliahnya. Lalu bagaimana kabar dia sekarang, ya ...?


(Sundea)


Google Twitter FaceBook

Ternyata Sedekat Itu ...


-Tobucil, Rabu 09 April 2008-


Pada hari Rabu pagi, Tobucil dikunjungi Ibu Neneng, Ibu Hani, dan Ibu Imelda. Mereka jauh-jauh datang dari Jakarta untuk memborong tiga ratus lebih benang Tipi yang dijual di Tobucil.


Tunggu dulu. Jauh-jauh? Jika ketiga ibu itu berangkat ke Bandung selepas mengantar anak-anak ke sekolah, kemudian kembali ke Jakarta untuk menjemput setelah sempat belanja benang dan makan siang di Bandung, masih dapat dibilang jauhkan Bandung-Jakarta?


Tiba-tiba saja jarak dan waktu jadi seperti mainan ...


(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Hap ! Lalu Ditangkap



-Tobucil, Kamis 10 April 2008-

Seekor lalat hijau terbang-terbang di ruan belakang Tobucil. Suaranya ribut tak menentu, "Ngreeeengrewwwwng ..."

Dia lincah sekali, peka terhadap setiap gerakan yang mengancamnya. Seberhati-hati apapun, Tobuciler tidak berhasil enangkap si lalat. Akhirnya Tobuciler menyerah. Meskipun terganggu, Tobuciler terpaksa membiarkan bunyi "Ngreeengreeewwwng" itu meneror telinga.

Tahu-tahu seekor cecak gendut muncul dari balik kardus buku. Tanpa suara, dia merayap ke jendela.

Si lalat terbang-terbang di sekitarnya, tanpa menyadari adanya bahaya. Setengah mendesis, Tobuciler bernyanyi, "Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap, datang seekor lalat ..." lalu jeda. Tobuciler mengamati kuda-kuda si cecak dan kenaifan si lalat. Ketika dengan cepat cecak memerangkap lalat di mulutnya, Tobuciler mengakhiri lagu dengan penuh kemenangan, "Hap! Lalu ditangkap!"

Bunyi "Ngreeeengngreewwwwng" pun seketika berhenti. Tobuciler kembali menulis-nulis dalam ketentraman.

Tapi ... tunggu dulu ... bunyi "ngreeengnrewwwwng" itu lalu berganti dengan bunyi "ngiiiiinggg..." yang tak putus. Kata orang itu namanya keheningan.

Apa iya? Tobuciler tidak yakin. Jangan-jangan itu lalat hijau yang sudah menghantu ...

(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Anggap Saja Rumah Sendiri

-Tobucil, Kamis 10 April 2008-

Klab Melipat Kertas


Selain bertetangga dan keluarga RT, Tobucil juga bertetangga dengan kantor AJI Bandung. Beberapa hari yang lalu, kantor AJI yang baru dirapikan dan dipasangi rak, tampak bersih dan luas. Kebersihan dan keluasan itu mengundang Nia, nahkoda Klab Melipat Kertas, untuk bertamu dan menggunting-gunting pola di sana.

Tobuciler ikut-ikutan bertamu. "Sebenernya pola ini untuk apa, sih?" tanya Tobuciler sambil tidur-tiduran. "Ini pola dodekahedron untuk pameran 'I Hate Architecture' tanggal 21-23 April di Unpar (Universitas Parahyangan-red)," papar Nia. Klab Melipat Kertas menyambangi pameran ini untuk refreshing. Mereka jenuh dengan rencana pameran di Semarang yang tidak jelas-jelas kemajuannya. "Cari kertas buat pameran yang di Semarang susah banget. Butuhnya kan seratus ribu lebih, ukuran A5, tapi maunya sisa brosur yang belakangnya putih polos, soalnya kalo beli mahal," curhat Nia.

Nia dan pola dodekahedronnya semakin merajalela di kantor AJI. Tahu-tahu Mas Agus Rakasiwi, ketua AJI Bandung, muncul. "Eh... ada yang punya rumah," sapa Nia sambil menumpuk pola-pola guntingannya.

Agak sulit menentukan etika bertamu jika Tobucil dan AJI semesra kembar siam. Masalahnya, kebertetanggaan mereka bahkan tak tersekat pintu.

(Sundea)





Google Twitter FaceBook

Dea dan Kubangan



Baru2 ini, Dea makan di DU. Tau2 ujan deras. Jadi abis makan Dea nggak bisa langsung pulang.

Sambil nungguin ujan brenti, Dea ngeliat2 sekeliling Dea. Akhirnya Dea ngeliat ke solokan di deket kursi Dea.

Aer di dalem solokan itu keliatan idup, temen2. Dia ngelompat-lompat, pengen keluar dari solokan, tapi nggak berhasil-berhasil. Yang Dea salut, si aer solokan itu tampak pantang menyerah. Dia lompaterus, lompaterus, dan lompaterus. Dan keliatannya, karena dia terus berusaha, makin lama lompatannya makin tinggi.

“Ayo, air, kamu pasti bisa, kamu pasti bisa, terus coba, terus, terus, terus …!” kata Dea. Disemangatin begitu, air solokan tambah kuat berusaha. Lama-lama lompatannya berhasil nyentuh bibir solokan. “Dikit lagi, air, dikit lagi, ayo …!” Dea juga jadi tambah seru ngasih semangat. Dan air lompaterus, lompaterus, lompaterus, dan …. bluuuuurrrrp …. akhirnya dia berhasil berpijak di bibir solokan, memenuh di sekitar jalan. Dea girang, “Horeeeee… hebat-hebat … kamu akhirnya berhasil!” Tapi orang2 jadi panik dan ngomel2. Jalanan kerendem.

Mungkin kalo nggak liat usaha si air solokan, Dea sama BT-nya sama orang-orang di jalan. Tapi karena tau usaha keras si air solokan, Dea jadi ikut seneng ngeliat dia berhasil.

Ujan akhirnya brenti. Jalanan masih kerendem. Dea juga jadi musti jalan dengan kaki kerendem di aer solokan. Jorok? Iya, sih … tapi karena aer solokan itu udah jadi temen Dea, it’s not a big deal.
(Sundea)
Google Twitter FaceBook

Sunday, April 6, 2008

Sophan Adjie Ajie dan Kasbon Kopi di Tobucil

Sophan Adjie Ajie yang akrab disapa Ophan tampak panik. Sore itu semua ATM bank (niiiit, sensor) tewas bersama-sama. “Gua jadi nggak bisa bayar kopi,” katanya sambil menunjuk cangkir kopi kosong di meja Tobucil. Akhirnya, dengan terpaksa dia menghampiri Mas Andre yang hari itu jaga di kasir Tobucil, “Maaf, ya … ATM-nya mati, jadi saya nggak bisa ngambil uang. Saya … ng … boleh ngebon dulu, nggak ?” tanya Ophan malu. “Oh, kalo gitu dicatet dulu aja …” sahut Mas Andre cukup ramah. Maka pengutangan terjadi. Pun mungkin pertemanan yang lebih akrab antara Ophan dan Tobucil.

Tobucil : Pertama kali, ya, ngutang di Tobucil?

Ophan : Pertama kali dan jangan pernah lagi.

Tobucil : Jadi ngerasa bertambah akrab sama Tobucil, nggak, setelah ngutang?

Ophan : Bertambah malu yang pasti … tau, nggak, tadinya abis bayar kopi gua mau ke BIP, makan bakso. Tiap hari gua makan bakso, lho, kalo sehari belom makan bakso, gue ngerasa belom makan. Gua suka banget bakso, apalagi kalo pake ceker. Eh nggak taunya ATM-nya… oh, iya, catet, ya gue ngutang karena ATM-nya mati …

Tobucil : Beres, beres …eh … ngomong-ngomong, gimana, sih, lo bisa temenan sama Tobucil?

Ophan : Gua diajak temenan sama Tobucil. Masa’ ada yang ngajak temenan gua nggak mau?

Tobucil : Gimana, tuh, ngajaknya …?

Ophan : Gua ditawarin ngurus Klab sama Wiku (koordintaor Klab Tobucil-red). Trus gua bilang, ‘gua di klab seni pertunjukkan aja,ya …’ abis itu gua ngobrol panjang lebar sama Wiku, akhirnya mutusin untuk memproklamasikan ‘Langit Inspirasi’, deh …

Tobucil : Lo emang bergerak di bidang seni pertunjukkan, ya?

Ophan : Biasanya saya emang nulis dan maen teater. Dua hal itu. Dua-duanya berjalan beriringan seperti tangan dan kaki. Tapi … belakangan saya nggak tau mau main teater ato enggak, soalnya income-nya nggak bisa dijadiin pegangan…

Tobucil : Jadi butuh income buat bayar utang kopi di sini, ya ? Hehehehe …

Ophan : Yah … 0,1 persennya, deh …

Tobucil : Berencana tambah akrab, nggak, sama Tobucil?

Ophan : (melirik pintu Tobucil) Yang biasanya tidur di sini siapa?

Tobucil : Oh … jadi kalo udah akrab sama Tobucil, lo berencana tidur di Tobucil?

Ophan : Hehehehe … bisa, bisa. (jeda). Enggak, waktu itu pas gua dateng pagi-pagi, ada anak Tobucil yang ngebukain pintu dari dalem. Dia masuknya dari mana, ya?

Tobucil : Lo nggak tau, ya kalo dia bisa tembus pintu, nggak usah pake kunci?

Sadar obrolan semakin ngelantur, Tobuciler kembali ke topik.

Tobucil : Ophan, kalo lo udah akrab sama Tobucil, lo punya rencana apa?

Ophan : Pengen ngededikasiin diri aja. Kalo entar event-event gua disponsorin, gua mau me-re-proklamasi, menyatakan kalau sekarang ada sahabat baru, yaitu Langit Inspirasi. Itu merupakan bentuk terima kasih saya kepada teman yang sudah memberikan tempat singgah …

Sambil wawancara, sesekali Ophan sibuk dengan telpon genggamnya, mencoba menghubungi adiknya yang bekerja di bank yang bersangkutan dengan keberhutangan Ophan. Tapi Sang Adik masih sibuk dan belum bisa membantu. Tahu-tahu …. nininininiininit …. bukan hanya uang yang habis, juga baterai handphone. Ophan menelan ludah.





Google Twitter FaceBook

Brother

-Tobucil, Senin 31 Maret 2008-

Sebuah mesin jahit terparkir di ruang belakang Tobucil. Dia rendah hati dan mebumi. Dibiarkannya benang-benang melingkupi, bahkan nyaris menimbunnya. Karena si mesin jahit di-display di tempat yang tidak tinggi, untuk sejajar dengannya, seseorang cukup duduk melantai. Menjahit bersamanya jadi terasa seperti permainan anak-anak.

Bentuknya seperti pistol, tetapi fungsinya berkebalikan. Dia memperbaiki, bukan menghancurkan. “Ini mesin jahit ibu saya,” ujar Mbak Tarlen, “Pertamanya, dia hadiah ulangtahun dari tetangga sayasuami teman kantor ibu saya, Pak Tani, untuk istrinya, Ibu Yati. Tapi waktu keluarga Pak Tani nggak punya uang lagi, dengan berat hati mesin jahit ini dijual. Bu Yati sempet pesen supaya ibu saya ngejaga mesin jahit ini baik-baik,” cerita Mbak Tarlen.

Tobuciler mengamati mesin jahit itu. Ternyata namanya Brother! Pantas saja Tobuciler langsung merasakan suasana hangat kekeluargaan saat bertemu dengan dia. Pantas saja dia menyatukan, bukan mematahkan. Pantas saja Pak Tani dan Bu Yati begitu sayang padanya.

Tiba-tiba gambar perpisahan keluarga Pak Tani dengan Brother melintas di kepala Tobuciler. Brother seperti menyanyikan sebuah lagu, mengiringinya,

The road is long
With many a winding turn
That leads us to who knows where

Who knows when
But I'm strong
Strong enough to carry him
He ain't heavy, he's my brother.

So on we go
His welfare is of my concern
No burden is he to bear

We'll get there
For I know
He would not encumber me ….

He Ain’t Heavy He’s My Brother –Rufus Wainwright

………………… semakin jauh

tetapi tetap jelas sekali.

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Tujuan

-Tobucil, Rabu 02 April 2008-

Madrasah filsafat

“Apa yang hari ini kamu anggap sebagai start yang baik?” tanya Mas Ami.

“Eng … dari pagi mataharinya udah cerah …,” sahut Tobuciler.

Seorang Bapak bernama Pak Sokris tahu-tahu menyambung, “Menurut saya, ketika memulai hari, seharusnya Anda sudah menentukan tujuan hidup Anda. Yang paling penting adalah tujuan hidup …,” selanjutnya Pak Sokris berbicara panjang lebar penuh bunga-bunga tentang tujuan hidup.

Beranjak dari sana, tema “start” hari itu menyempit jadi “tujuan dari titik start”. “Menurut saya, sih, kita mencapai tujuan yang deket-deket dulu aja,” pendapat Novi, seorang mahasiswi berkerudung. “Kalau pendapat saya, tujuan itu harus dilihat secara arif. Kalau memang baik, ya diikutin, kalau enggak, ya jangan, “ kata mahasiswa berbatik bernama Jarwo.

Beberapa jenak kemudian, Mas Dauz memasuki arena untuk mengobrak-abrik ketentraman. “Orang yang punya tujuan cenderung menemukan, tidak lagi mencari. Jadi sekarang masalahnya Anda lebih suka mencari atau menemukan?!” tanya Mas Dauz dengan nada provokatif. Sepertinya “Dauz merah muda” telah kembali ke hakikatnya; “Dauz merah padam” (baca postingan minggu lalu).

Forum bergolak. “Yang penting tujuan hidup. Misalnya ada yang punya tujuan hidup menjadi dokter, ya cobalah menjadi dokter yang baik, seandainya …” “Saya mau tanya. Tujuan hidup Bapak apa,” Mas Dauz memotong tajam pendapat Pak Sokris.

“Saya pernah punya tujuan mau kuliah, tahu-tahu saya ditelpon ditawarin kerjaan. Itu kan artinya saya menemukan tanpa mencari,” ungkap Iqbal. “Kamu terbalik. Itu justru mencari. Orang yang hanya menemukan, berjalan lurus karena tujuannya sudah pasti. Dia tidak akan peduli walau di jalan ada intan berlian,” Mas Dauz mengoreksi pernyataan Iqbal. Berbagai pendapat terlontar. Dengan cecar style-nya yang khas, Mas Dauz mengejar para pengungkap pendapat “hingga ke liang kubur”.

Tampak mulai tidak nyaman dengan suasana yang terbangun, Reza mencoba berkomentar netral, “Memperdebatkan ‘mencari dan menemukan’ sama seperti memperdebatkan mana duluan ‘ayam atau telur’ .” Setali tiga uang dengan Reza, Jarwo ikut bicara, “Orang bijak adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Kalau ketika punya pendirian orang merasa dirinya lebih tahu, ya sudah, ancur. Segala sesuatu harus dinilai lebih arif.”

Mas Dauz langsung menatap lurus kepada Jarwo, “Jadi menurut kamu yang arif itu yang bagaimana?”

“Ya itu. Jangan mempertentangkan pendapat orang lain,“

“Kalau begitu buat apa ada diskusi, dong?”

“Maksudnya, Akang mungkin punya pendapat, orang lain juga punya. Janganlah Akang merasa pendapat Akang yang paling benar …”

Mas Dauz mengacungkan jempol, “Ya sudah, kalau begitu saya nggak perlu menjawab lagi. Kalau tidak, nanti ada pendapat lain, nanti ada pertentangan lagi …”

Sementara itu, pemuda yang sama dengan minggu lalu, masih menempati posisi paling marjinal di ruang diskusi (baca postingan minggu lalu). Kali ini, bukan hanya duduk di kursi terluar, dia bahkan duduk di atas sebuah motor yang tidak lagi mencari. Motor yang telah menemukan tujuannya dalam kemapanan parkir.

… tapi ngomong-ngomong soal tujuan, bukankah tema besar hari itu adalah “start” ? Kenapa “tuju”, ya? Bukankah angka dimulai dari “satu” ….?

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

Hidup Ahmad Albar!

-Tobucil, Kamis 03 April 2008-

Langit Inspiriasi

“Dunia ini, panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah …”

Panggung Sandiwara – Ahmad Albar

Setelah sebulan absen, Klab Seni Pertunjukkan yang menamakan diri “Langit Inspirasi” kembali berpertemuan. “Iya, kemaren kita sibuk ‘pelayanan’,” kata Sophan Adjie Ajie, nahkoda Langit Inspirasi. Ternyata, sebulan yang lalu teman-teman Langit Inspirasi sibuk dengan pementasan Paskah.

Bersama Sophan AdjieAjie yang akrab dipanggil Ophan ini, hadir Mas Alis. “Saya guru. Ngajar drama di SD dan agama di SMP, aneh, ya ?” sambil tertawa kecil Mas Alis memperkenalkan diri, “Dulu malah saya ngajar sosiologi di SMA,” tambahnya.

Selanjutnya Tobuciler ikut duduk-duduk di beranda Tobucil. Ritme obrolan Langit Inspirasi hari itu melompat-lompat selincah katak dan beragam seperti isi Pasar Gasibu. Pada awalnya mereka membahas pementasan Paskah; mengevaluasi apa yang kurang, apa yang cukup baik. Sebentar kemudian pembicaraan melompat ke pementasan Perempuan Menuntut Malam. Sebentarnya lagi, Ophan mengungkapkan cita-citanya membuat sendratari bertema Ibu Fatmawati menjahit bendera.

Bukan cuma itu. Ada pula pembahasan mengenai orientasi mahasiswa, politik-politiknya, masa ketika harga rokok naik-turun, sampai cerahnya prospek warnet di Subang. Tobuciler mulai pusing. Tobuciler mulai pusiingggg …

Menjelang sore, datang lagi salah satu teman mereka. Namanya Dave. Perawakannya kekar, mengenakan busana serba hitam dan banyak asesoris. Bersama Dave mereka membicarakan rencana membuat film.

Tapi pembahasan dalam pembuatan film itu pun beragam sekali. Mulai dari ide, film yang komersil dan tidak, teman yang ulang tahun dan berencana menraktir mancing, siapa yang cocok menjadi humas, sampai membahas sekelompok cewek manis yang datang membeli buku ke Tobucil.

“Jadi gitu. Lo ngerti, nggak?” tanya Ophan setelah pembicaraan hampir ditutup. Dengan wajah kerijud Tobuciler menjawab terus terang, “Enggak …”

Hari itu hanya satu yang Tobuciler pahami. Ahmad Albar benar. Selama sekitar dua jam, lagunya seperti mengiang men-soundtrack di sepanjang pertemuan ….

(Sundea)

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin