Sunday, June 29, 2008

Kejutan dari Si Putih

Senin sore itu, Si Putih, modem pinjaman Tobucil berbisik-bisik memanggil Tobuciler.

“Psssst … psssst … fotoin aku, dong … “

“Kenapa ?”

“Foto aja dulu … emangnya kamu nggak kepengen nulis tentang aku apa ?”

“Kenapa harus ?”

Si Putih tidak menjawab. Diamnya misteri, tapi tidak menakutkan. Yang aneh, entah mengapa sore itu Tobuciler sangat ingin memenuhi permintaannya.

Putih adalah modem ke dua yang dipinjam Tobucil. Dia wireless, namun fungsinya sama saja dengan modem dial-up; hanya available untuk satu komputer. Biar bagaimanapun, segenap Kru Tobucil tetap menyayanginya. Kami menerima Putih sebagai keluarga.

Pada hari Rabu, Tobuciler kembali datang ke Tobucil. Komputer pusat dan laptop Mas Andre tampak sedang on line bersama-sama. “Lho ? Udah bisa, ya ?” tanya Tobuciler. “Udah kayaknya, cobain aja …,” sahut Mas Andre. Tobuciler pun mencoba on line dan … JREEENG …

Setelah berminggu-minggu Tobucil hidup tanpa wi-fi, Putih memberikan kejutan manis yang menggembirakan. Sekarang Tobuciler tahu mengapa harus menulis tentang Si Putih.

Hari-hari ke depan akan ada kejutan apa lagi, ya ? Kita tidak pernah tahu …

Semoga hari-harimu pun akan penuh kejutan hangat yang menyenangkan

Salamatahari, semoga kami selalu mencerahkanhari …

Tobuciler


Si Putih
Google Twitter FaceBook

Linda Rahmawati yang Rajin Membawa Kue

Belakangan ini, Madrasah Filsafat menjadi salah satu Klab yang paling mengenyangkan. Bergabungnya Mbak Linda Rahmawati, seiring sejalan dengan bergabungnya kue-kue yang hampir selalu dia bawa.


Ramah, manis, murah senyum, bersahaja, rajin sholat, tidak terlalu konfrontatif, tapi betah dan setia menghadiri madrasaf filsafat yang topiknya senantiasa menggalaukan. Mungkin di dunia luar Mbak Linda termasuk mainstream. Tapi untuk masyarakat madrasah filsafat, dia negong sekali (lain sendiri, bahasa Sunda-red).

Tobucil : Kok bisa tertarik main ke sini, Mbak ? Taunya dari mana ?

Mbak Linda : Tau dari Pikiran Rakyat. Kebetulan latar belakang kuliah saya filsafat (di UGM, Yogya). Saya pikir eksplorasi kan nggak cuma waktu kuliah. Setelah kuliah, perlu eksplorasi lebih lanjut supaya wawasannya tidak membeku. Lagi pula topiknya asyik, pengalaman sehari-hari yang dibahas secara radikal.

Tobucil : Radikal begimana, tuh, Mbak ?

Mbak Linda : Ya … ke mana-mana. Kayak misalnya kemarin, dari masalah keyakinan nyangkut ke masalah cinta dan lain-lain.

Tobucil : Hahahaha … eh, iya, Mbak, menurut Mbak, apa yang menarik dari filsafat sampai Mbak pas kuliah ngambil itu ?

Mbak Linda : Ya … itu kebetulan aja, sebenernya kepengennya psikologi …

Tobucil : Ooo … terus nyesel, nggak, Mbak ?

Mbak Linda : Pertamanya terpaksa, tapi lama-lama enggak. Soalnya dengan belajar filsafat, aku ngerasa bisa ngeliat dari berbagai sudut pandang.

Tobucil : Berhubungan sama kerjaan Mbak … ?

Mbak Linda : Sekarang, sih, aku masih cari-cari kerja. Pengennya, sih, jadi PR (Public Relation) atau marketing di tv lokal.

Tobucil : Kenapa?

Mbak Linda : Soalnya aku seneng bersosialisasi. Meskipun latar belakangku bukan marketing atau PR, ilmunya bisa dipelajari secara singkat. Yang penting kan cara berpikirnya.

Tobucil : Jadi sekarang kegiatan Mbak Linda apa aja ?

Mbak Linda : Ikut kursus-kursus agama, ikut madrasah filsafat, dan ikut kursus Bahasa Inggris juga …

Tobucil : Wah … kenapa milih kursus agama ?

Mbak Linda : Aku lagi nyari pencerahan spiritual.

Tobucil : Emang ngerasa nggak cerah, ya, Mbak spiritualitasnya ? Hehehehe ….

Mbak Linda : Agak-agak burem … hehehe … wawasanku sedikit, pengetahuan agamaku sedikit, jadi aku kepingin ngeksplor aja supaya bisa merasakan kenikmatan beribadah.

Tobucil : Ada hubungannya, nggak, kenikmatan kue dan kenikmatan beribadah ?

Mbak Linda : Ya … sama-sama bisa dinikmati … sama-sama … masalah rasalah …

Tobucil : Ada hubungannya, nggak, Mbak, sering bawa kue sama spiritualitas ?

Mbak Linda : Nggak seringlah, baru dua kali …

Tobucil : Ya lumayan kali, Mbak, Mbak Linda kan belum lama ikut madrasah filsafat. Yang lebih lama ikut aja jarang bawa kue … hehehehe …

Mbak Linda : Ya itu kan hanya untuk mencairkan suasana, untuk menambah keakraban. Di situ kita berbagi kasih sayang, saling memberi … (tersenyum ramah)

Tobucil : Lha … kan yang memberi Embak doang …

Mbak Linda : Yang lain juga memberi, kok. Dengan aku membawa kue dan mereka memakan kueku, aku merasa dihargai. Nah, dari situ suasana jadi akrab.

Tobucil : Wah … manis sekali … terakhir, Mbak, apa kesan-kesan Mbak selama ikut madrasah filsafat ?

Mbak Linda : Asyik, asal jangan disuruh jadi moderator, nanti aku melarikan diri. Aku kan kapasitasnya saat ini cuma untuk mendengarkan. Aku belum ngerasa berkapasitas untuk membagi …

Tobucil : Kecuali membagi kue, ya, Mbak …? Hehehehe …

Mbak Linda : Yah … mungkin … (tersenyum)

Ternyata hari itu Mbak Linda membawa tiga kotak kue lagi. Istilah “memberi lebih baik daripada menerima” tampaknya sangat terjiwai oleh Mbak Linda. Teman-teman madrasah filsafat menjadi kenyang dan bahagia. Dari sudut pandang yang lain, Mbak Linda juga.

Berikut ini adalah foto kue-kue Mbak Linda sebelum mewujud jadi kehangatan.

Sundea


Google Twitter FaceBook

Dua Minggu Pertama : Antara East dan West (part 1)

Tersesat. Itu jadi kata yang akrab buatku di hari-hariku selama dua minggu
pertama di NY. Aku bukan manusia 'kompas yang terbiasa dengan arah

Mata angin utara, selatan, barat dan timur. Sementara di NY, east dan west adalah hal yang penting dalam menemukan sebuah alamat. Aku terbiasa dengan kiri dan kanan dan ternyata hal itu malah membingungkan di NY.

Setelah melalui malam pertama di apartemenku di upper east side itu,
besok paginya aku harus ke kantor ACC di E 48 street 5th avenue. Dari Lexington Avenue, dekat apartemenku itu, aku memilih naik bis. Aku ga (baca: belum) berani
naik subway, karena kalau tersesat aku ga bisa liat sekelilingnya, mengingat
subway ada di bawah tanah. Sementara kalau aku naik bis, aku bisa sekalian
menandai jalan dengan ancer-ancer bangunan yang ada di sekelilingnya (meski

ingatanku juga sebenernya ga tajem-tajem amat). Meski sudah mempelajari rute
bus malam sebelumnya, tetap saja, aku belum menangkap logika arah dan rute bis
di NY. Aku naik bis di Lexington Avenue menuju 48 street dengan sangat hati
hati dan juga tegang. Ketegangan yang sekarang aku malah aku tertawakan jika
mengingatnya. Aku konsetrasikan diriku untuk mengingat dan mencerna rute perjalanan
yang harus ku tempuh, karena aku merasa masih sangat letih dengan perjalanan
yang panjang dari Indonesia ke Amrik ini alias masih jetlag.

***

Aku terlambat 30 menit. Seharusnya ku datang pk. 11.00, tapi aku sampai
pk. 11.30. Karena aku salah arah harusnya ke timur, malah ke barat.. kelewat
beberapa blok. Lagi pula, aku juga masih bingung dengan pembagian jalan yang
berdasarkan avenue, karena sebelum 5th avenua, yang ku temukan adalah madison
avenue dan park avenue. Tentunya, buat yang baru pertama ke NY, penamaan ini
membingungkan. Nyari 4th avenua ga ketemu, karena aku harus ke 5th Avenue. Dan
sebagai mana New Yorker lainnya, pencarian seperti itu, lebih mudah jika
dilakukan dengan berjalan kaki. Dengan ngos-ngosan (karena di

Bandung,kebiasaan kemana-mana naik motor), akhirnya kutemukan juga kantor ACC.

Hari itu agendanya adalah meeting membicarakan rencana jadwal kegiatanku
selama 2 minggu pertama. Siang itu aku seharusnya meeting dengan Margaret

Cogswell dan Jennifer Poole juga. Tapi ternyata Jennifer baru bisa datang jam 1
siang. Sambil nunggu aku memutuskan untuk pergi ke Strand Bookstore, toko buku
second yang direkomendasikan temanku di Bandung.Dengan berbekal alamat dan

peta, aku coba mencapai Strand Bookstore yang belakangan aku tau bahwa Strand
Bookstore ada dekat Union Square.


bersambung...

Tarlen


if you want to be understood... listen. babel - Alejandro gonzales
Innarritu


Google Twitter FaceBook

Membeli Buku dengan KTP

-Tobucil, Kamis 26 Juni 2008-

Hari itu Tobucil penuh sesak. Berkarung-karung benang yang bertumpuk di ruang belakang, menuntut segera diurus. Segenap kru pun sibuk menggulung dan mengabsen benang.



Di tengah-tengah kekusutan itu, seorang Mbak cantik datang ke Tobucil. “Saya mau ambil buku,” ujarnya. “Oh, pemenang kuis Jazz and Book kayaknya, tuh, udah disiapin,” ujar Mbak Elin sambil masih sibuk dengan benang. Tanpa banyak bertanya lagi, Mas Andre mengambil paket hadiah “Jazz and Book”.



“KTP, Mbak,” tagih Mas Andre sebelum menyerahkan paket tersebut. “Oh … di sini beli buku pake KTP, ya …?” tanggap Mbak itu agak heran. “Iya, buat laporan ke kepollisian,” sahut Mas Andre asal. Meski tidak mengerti, Mbak itu menyerahkan KTP-nya. Dia tampak semakin bingung ketika Mas Andre tahu-tahu memfotokopinya.


“Ini hadiahnya. Dapet apa, sih, Mbak, liat, ya…,” kata Mas Andre sambil mengintip paket hadiah “Jazz and Book”. “Oh … dapet hadiah juga, ya …?” tanya Mbak itu lagi. “Lho … kamu … bukan Jazz and Book ? Lumbini, ya?” Mas Andre tiba-tiba sadar. “Iya. Tadi saya bilang kan…,” ujar Mbak itu. Hiyaaaa ….


Seisi Tobucil tertawa lepas. Ternyata, Mbak yang bernama Yulistina Sandji itu datang untuk mengambil novel Lumbini. Inisiatif berlebihan Kru Tobucil menimbulkan kekeritingan pemahaman, namun me-rebonding kekusutan suasana.

Sundea

Google Twitter FaceBook

Chimera

Judul buku : Chimera

Pengarang : Donny Anggoro

Harga asli : Rp. 30.000, 00

Harga Tobucil : Rp. 27.000,00

Seorang pemuda dihilangkan ingatannya. Identitasnya diganti jadi orang lain dengan tuduhan pembunuhan dan penggelapan uang perusahaan. Polisi mengubernya dan di sela-sela pengejaran itu sang pemuda berusaha menyelidiki siapa yang menjelbaknya ke dalam konspirasi ini …

Dengan setting futuristik tahun 2020, Chimera menawarkan sains fiksi disertai perjuangan antara orang yang dijebak melakukan pembunuhan, permainan media, identitas palsu, penyelewengan teknologi, dan upaya meraih lagi makna hidup, bahwa di ujung kematian orang boleh kehilangan semua … kecuali harapan

Google Twitter FaceBook

Time After Time

-Tobucil, Rabu 25 Juni 2008-

Madrasah filsafat

Caught up in circles …*

Di tengah-tengah madrasah filsafat, hadir Mas Donny Anggoro. Penulis novel Chimera ini datang untuk memperkenalkan sains fiksinya itu. Karena madrasah filsafat dijadwalkan bertema “waktu”, Mas Donny diminta berbicara dengan pijakan tema tersebut.

“Buat Mas, waktu itu apa ?” tanya Mas Ami. “Kita kayak dikutuk sama waktu, harus menjalani waktu. Kita kadang terkungkung oleh waktu dengan mengulang kesalahan yang sama dengan kesalahan di masa lalu. Saya menulis novel ini berdasarkan harapan-harapan yang tidak tercapai hari ini. Saya membayangkan ada sesuatu baru yang diciptakan tetapi berbahaya. Masalahnya banyak kasus yang tidak terselesaikan karena kita sangat cepat melupakan,” jawab Mas Donny. Hnah, berdasarkan pernyataan itu, pemaparan Mas Donny tentang novelnya dibuka.

… secrets stolen from deep inside*

Di dalam Chimera dikisahkan, di tahun 2020, pembungkaman terhadap orang-orang kritis masih terus terjadi. Caranya lebih halus. Memori mereka dikacaukan dan sebuah kepribadian baru diciptakan dalam kesadaran. Chimera. Begitu disebutnya.

Menurut mitologi, Chimera sendiri adalah makhluk berkepala singa, berbadan kambing, dan berekor ular. “Di dalam bahasa Indonesia, ini disebut gagasan yang tak mungkin,” ujar Mas Donny. Dari sana, arah pembicaraan bermuncratan ke mana-mana.

… confusion is nothing new*

Menurut Mas Dauz, sains fiksi di Indonesia tidak terlalu berkembang. Masalahnya, banyak cerita sains-fiksi yang sesungguhnya tidak dibangun logika sains-nya. “Saya sepakat dengan Dauz, contohnya Supernova. Itu tidak (bisa) digolongkan sebagai sains fiksi karena banyak logika fisika yang tidak tepat,” timpal Mas Iman. Bumi tidak sependapat. Dia terbiasa beranggapan, cerita-cerita berlatar antah berantah dengan alien-alien, termasuk sains fiksi. “Tapi alien di cerita Mas Donny adalah diri kita sendiri, karena kita nggak tahu siapa kita,” tanggap Mas Ami. Dari sana, pembicaraan sempat berbelok ke arah eksistensi diri.

Berkenaan dengan cerita-cerita di Indonesia yang kadang kurang kuat risetnya, Mas Al-Fatri yang berlatar desain produk sekilas membahas ketekunan. “Di luar negeri, orang-orang sangat detail. Pas mau bikin film Titanic, piringnya sampai harus dibikin di pabrik yang sama dengan piring di Titanic yang dulu. Kalau di sini, saya mesen tutup aquarium aja nggak presisi.”

If you lost, you can look and you will find me … *

Setelah berkelana ke sana ke mari, akhirnya pembicaraan kembali tergiring kepada konteks. Mas Zaenal mencoba merangkumkan, “Waktu = unconscious definition. Waktu=keberlanjutan. Yang harus digarisbawahi adalah keberlanjutan. Wright Bersaudara berimajinasi tentang terbang. Awalnya (mereka) dianggap bodoh, tapi sekarang (terbang) jadi sesuatu yang ilmiah. Dengan mata rantai waktu, imajinasi akan jadi sesuatu yang ilmiah …”

Sementara itu, waktu bergerak terus. Sesungguhnya dia adalah chimera itu sendiri. Dialah gagasan yang tak mungkin ditangkap. Karena waktu terus bergerak sesudah waktu. Karena waktu terus bergerak mengejar waktu;

Time after time …

Time after time …

Time after time … *

Sundea

*) diambil dari teks lagu Time After Time Tuck and Patti.


Donny Anggoro

Google Twitter FaceBook

Etika Memori, madrasah filsafat

Madrasah Falsafah Sophia - Klab Filsafat Tobucil
mengundang


Diskusi klab filsafat Rabu rutin dengan tema "Etika Memori"
bersama pemasalah 'Heru Hikayat'

ngobrol-ngobrol, berbagi pengalaman, berbagi kisah, berbagi pemikiran.
semua diundang, semua boleh berpendapat, karena pada dasarnya, semua orang adalah filsuf.


Rabu, 2 Juli 2008
17.00 - 19.00 WIB
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
022 - 4261548

GRATIS !


Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
022 - 4261548
tobucil.blogspot.com
tobucil.multiply.com


kerja bersama Madrasah Falsafah Sophia, Tobucil & Klabs.

Google Twitter FaceBook

Sunday, June 22, 2008

Selamat Pagi, Selamat Bekerja ... ^_^


Minggu ini, ada seorang teman yang berkomentar, “Jangan pake ‘selamat pagi’. Kalo denger sapaan ini jadi males...., ga ta kenapa klo dengar ‘selamat pagi’ tuh kaya sama dengan ‘selamat bekerja’.” Tobuciler baru sadar kalau “selamat pagi” bisa membawa pengaruh yang berbeda. Bukannya menghidupkan, salam itu justru membunuh. Maknanya jadi sama dengan “I don’t like Monday” yang populer itu.

Bagi sebagian orang, bekerja adalah kegiatan yang tidak menyenangkan. Faktornya bisa macam-macam. Mungkin rutinitas yang menjemukan. Mungkin suasana kerja yang tidak menyenangkan. Mungkin jenis pekerjaan yang bersebrangan dengan idealisme. Mungkin ini. Mungkin itu. Mungkin apa saja.

Itu sebabnya, kami datang untuk mencerahkan harimu. “Selamat pagi” sama artinya dengan “selamat memulai hari yang menyenangkan”, nadanya seperti cericau burung di pagi hari. Kami pun datang di setiap Seninmu untuk membagi cerita-cerita baru, semoga dapat meniup kekelabuan “I don’t like Monday” yang menudungi awal minggu kerjamu.

Oh, iya. Beberapa waktu yang lalu, Nunuws, seorang teman dari Bandung Advertiser mewawancara Wiku, koordinator Klab Tobucil. Apa saja, sih, yang mereka obrolkan ? Cek, deh, di Bandung Advertiser edisi malam Jumat Kliwon minggu ini (26 Juni 2008). Niscaya malam Jumat Kliwon teman-teman akan jauh dari kesan horor.

Akhir kata, selamat pagi, selamat bekerja.

Semoga kami selalu mencerahkan hari

Salamatahari,

kehangatan kami akan selalu menemanimu ^_^

Tobuciler


Wiku dan Nunuws
Google Twitter FaceBook

Dhilla Baharudin Nurulhadi, Bukan Dhillalatin, Bukan Dhillaporkan ke Polisi

Namanya Dhilla. Bukan Dhillalatin. Bukan juga Dhillaporkan ke polisi. Namanya Dhilla. Lengkapnya Dhilla Baharudin Nurulhadi.


Berdomisili di Yogyakarta. Membuka cabang Klab Rajut di Kinoki. Mencintai broadcasting dan dunia anak-anak. Meski agak pemalu dan b
ersuara sayup, Dhilla teman mengobrol yang sangat menyenangkan. Berikut ini adalah ngobrol-ngobrol Tobucil dengan Dhilla.

Tobucil : Suka ngerajut, ya?

Dilla : (mengangguk sambil tersenyum)

Tobucil : Apa yang bikin kamu suka ngerajut ?

Dilla : Pertamanya gara-gara kondisi. Pas Kinoki pengen buka Kelas Merajut, Mbak Tarlen bilang, “Ini ada Dilla …”. Ya udah, akhirnya saya kursus kilat sama Mbak Upi, trus minggu depannya udah ngajar …

Tobucil : Yang bikin Mbak Tarlen nunjuk kamu buat ngajar rajut ?

Dilla : Mungkin karena domisili saya di Yogya …

Tobucil : (sebetulnya ini pertanyaan pura-pura nggak tau) Terus apa, dong, yang bikin kamu sering ke sini ?

Dilla : Kebetulan teman wanita saya kerja di sini (sambil senyam-senyum).

Tobucil : Terus, tau Tobucil dari teman wanita kamu, dong, ya … ?

Dilla : Saya tau tempat ini karena teman saya cerita macem-macem tentang tempat ini, waktu itu Tobucil masih di KGU (Kyai Gede Utama). Saya jadi tertarik, soalnya tempat ini sepertinya center orang-orang unik, sering berkarya dan karyanya macem-macem …

Tobucil : Teman wanita kamu termasuk yang unik juga ?

Dilla : Unik, karena itu dia jadi teman wanita saya (senyam-senyum lagi).

Tobucil : Uniknya apa ?

Dilla : Wah, banyak … bingung … (berpikir sebentar) … dia itu … bener-bener sayang sama saya, membuat saya merasa spesial. Walaupun suka sedikit marah-marah, kemarahannya menunjukkan kalau dia perhatian. Ya … saya seneng aja.

Tobucil : (pertanyaan pura-pura nggak tahu lainnya, nih … ) Emang siapa, sih, teman wanita kamu ?

Dilla : Yang biasanya jadwal jaganya shift ke dua dari Senin sampai Jumat, namanya Larasati Tika Pratiwi ….

Tobucil : Katanya kamu suka hal-hal yang berbau kekanak-kanakan, ya ? Kenapa ?

Dilla : Apa, ya … ? Karena murni, tulus, tidak dikotori, dan itu adalah sumber inspirasi.

Tobucil : Buat ?

Dilla : Banyak. Saya suka dunia broadcasting. Saya suka banget audio, dulu saya sempet ngeband-ngeband. Saya juga suka yang berhubungan sama olah gambar, manual maupun digital. Terus saya juga pernah jadi asisten sutradara waktu bikin video klip. Kepengen bikin film, tapi masih dalam observasi. Itu (semua) kan hubungannya sama perasaan. Materinya dari situ (dunia anak-anak-red); jadikan hidup menyenangkan, jangan banyak berkeluh kesah …

Tobucil : Contoh karyanya ?

Dilla : Pas bikin viedo klip, konsepnya one take one shoot dengan konsep cerita seal time. Semuanya berjalan bersamaan, tapi nggak boleh salah. Di sana banyak bermainnya, ada muncratan cat, balon-balon sabun …

Tobucil : Waaah … kedengerannya menyenangkan sekali, ya … sekarang soal anak-anak, nih, ya, Dil … kalo disuruh nggambarin anak-anak dengan tiga kata … ?

Dilla : main, main, dan main.

Tobucil : Itu empat.

Dilla : (sambil tersenyum khas Dilla) Ya udah kalau gitu, bermain dan bermain.

Tobucil : Kalau disuruh nggambarin anak-anak dengan buah, menurut kamu anak-anak mirip buah apa ?

Dilla : Mmm … anggur kayaknya …

Tobucil : Kenapa ? Karena mereka kalau dicekek jadi ungu, ya ?

Dilla : (tersenyum) anak-anak itu jamak, anggur kan satu kesatuan yang banyak rasanya. Ada yang manis, ada yang kecut. Banyakan manisnya, dan yang kecutnya pun nggak ngeganggu.

Tobucil : Hehehehe … lucu analoginya … kalau digambarin sama lagu, menurut kamu anak-anak kayak jenis lagu apa ?

Dilla : Lagu-lagu punk rock karena punk kan tidak pernah dewasa. Walau udah tua, (jiwanya) tetep aja muda. Isinya juga macem-macem; politik, hewan, cinta, jenisnya pun luas.

Tobucil : Kalau Tobucil, ada hubungannya nggak sama anak-anak ?

Dilla : (berpikir sambil melihat-lihat sekeliling Tobucil) Benang-benangnya warna-warni. Dekornya, meskipun hijau, banyak pemanis-pemanisnya. Ada banyak hal yang bisa ditemukan di sini. Ada rajut, origami, warna-warnilah di sini. Kayaknya tiap ke sini ada ajakan, “Yok … bikin apa, yok … “ Selalu ada keinginan untuk mengeksplor dan membuat sesuatu yang kita suka. Nggak komersil. Kalau kata NOFX mah, “We do it for the ‘caused”.

Tobucil : Wueissss …

Sementara kami berwawancara, Mbak Elin datang. “Kalian, kok bisik-bisik, sih ? Curhat, ya?” tuduhnya. “Enggak, dia suaranya emang begitu,” sahut Tobuciler. “Iya, Dhil, kamu, kok, suaranya pelan banget, sih?” tanya Tobuciler kemudian. Sambil tersenyum dan terus merajut, Dhilla menjawab, “Sama kayak nanya ‘macan, kamu, kok loreng ?’ Ya emang begini, Mbak …”

Namanya Dhilla. Bukan Dhillalatin. Bukan juga Dhillaporkan ke polisi. Namanya Dhilla. Lengkapnya Dhillakukan dengan senang hati. Tobuciler percaya jiwa anak-anak dalam dirinya membuat hidupnya selalu raya. Sayup suara Dhilla berbanding terbalik dengan lantang kemerdekaannya.

Sundea


Google Twitter FaceBook

Cerita Rumah Semut

-Tobucil, Senin 16 Juni 2008-

“Kakaaaak ... sini, deh …liat semutnyaaaaa ….,” seru Reni.

Begitu Tobuciler tiba di luar, Reni menunjuk origami yang tergantung di gerbang Tobucil. Sekumpulan semut tampak merayap-rayap panik di permukaannya.


Jadi begini ceritanya. Ketika sedang bermain voli di pekarangan, tak sengaja bola Reni menubruk origami penghias gerbang. Tiba-tiba saja semut-semut itu menghambur keluar dari sela-sela lipatan origami. Semakin banyak dan semakin banyak dan lama-lama menjadi banyak sekali.

Ternyata, diam-diam semut-semut itu membangun perkampungan di dalam origami. Entah sejak kapan. Jika dilihat dari jumlah penduduknya, kelihatannya, sih, sudah cukup lama.

Menurut Melisa dalam lagu Semut-semut Kecil, semut tinggal di dalam tanah. Tapi itu kan semut-semut di awal tahun 90-an. Lebih dari satu dekade cukup untuk melakukan perjalanan menuju “taraf hidup yang lebih tinggi”.

Tobuciler jadi bertanya-tanya. Setelah kemapanan domisilinya diganggu, kira-kira semut-semut ini akan ke mana, ya … ? Tetap di sana, atau kembali berperjalanan ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

Hari Menggambar di Tobucil

-Tobucil, Rabu 18 Juni 2008-

Begitu tiba di Tobucil hari itu, Tobuciler mendapati Reni asyik menggambar di meja beranda. Dengan segera, Tobuciler mengambil kamera.

“Mau ngapain, Kak … ?”

“Motret kamu.”

“Kalau mau motret, motret gambarnya aja, jangan aku.”

“Gambarnya juga udah dipotret, kok … “

Belakangan, Reni memang tampak sedang hobi menggambar dengan cat air. Dia membuat gambar warna-warni untuk siapa saja; untuk Mbak Elin, Mas Chandra (suami Mbak Elin), Angga kecil, Laras dan Dhilla, bahkan untuk Tobuciler. Gambar Reni warna-warni dan kaya ornamen; meriah seperti dirinya sendiri.

Ternyata, pada saat yang bersamaan, Mul, penjaga kasir Tobucil pun bertugas sambil menggambar. Gambarnya juga kaya ornamen, tapi hitam-putih detail, ditoreh dengan drawing pen 0.1. “Ini teh namanya jenis gambar apa, sih ? Vignet, bukan ?” tanya Mul ketika menunjukkan kumpulan gambarnya pada Tobuciler.

Hari itu tampaknya hari menggambar di Tobucil. Kemungilan wilayah Tobucil diawali dan diakhiri oleh teman-teman yang asyik menggambar hari.

Sundea

Google Twitter FaceBook

Seperti Bunga Matahari

-Tobucil, Minggu 22 Juni 2008-

Klab Rajut featuring Klab Klasik

Seperti bunga matahari terbit menghadap matahari, Dinda duduk merajut menghadap Mbak Upi. Hari itu Klab Rajut sangat sepi. Dinda hanya sendiri.

Seperti bunga matahari terbit menghadap matahari, Mbak Upi duduk menghadap komputer. Hari itu Klab Rajut sangat sepi. Mbak Upi menjadi guru pribadi.

“Emang kamu lagi mau ngerajut apa ?” tanya Tobuciler. “Nggak tau,” sahut murid kelas tiga SLTP itu sambil terus merajut. Seperti bunga matahari memercayai matahari, Dinda percaya pada Mbak Upi. Dipasrahkannya ke mana pun rajutannya akan bertumbuh.

Sementara itu, di beranda Tobucil, teman-teman Klab Klasik memainkan Trio in A-Minor. Kelaraannya berkumandang sampai ke dalam Tobucil. Seperti bunga matahari terbit mengikuti gerak matahari, lagu itu mengikuti kesepian yang paling dekat dengannya …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Hari Ketika Banyak Kupu-kupu

“Andai kujadi kupu-kupu, trima kasih untuk sayapku …”

-lagu sekolah minggu-

Beberapa hari yang lalu, di rumah Dago (rumah oma Dea), Dea ngeliat banyak kupu-kupu. Pas Dea jalan ke rumah belakang (di rumah Dago ada rumah depan dan rumah belakang), ada sekitar lima kupu-kupu yang nemenin Dea; putih kecil-kecil, cokelat agak besar, dan kuning. Begitu Dea balik ke rumah depan, ada kupu-kupu lain lagi, warnanya ungu.


Setelah beberes, Dea siap-siap pergi ke Tobucil. Di depan rumah, ada beberapa kupu-kupu lagi. Mereka terbang-terbang di sekitar rumput, nggak jelas ngapain. Di sekitar gerbang belakang juga ada kira-kira empat kupu-kupu. Semuanya putih dan kecil-kecil. Waktu mereka terbang-terbang di sekitar gerbang karatan, karat nggak lagi bikin si gerbang keliatan tua dan sakit-sakitan.


Sambil nunggu angkot, Dea senyum-senyum sendiri. Menyenangkan sekali ngeliat banyak kupu-kupu hari itu. Artinya ada banyak ulet yang baru-baru ini lolos dari kepompongnya. Mereka pasti bahagia karena bisa terbang dan ngerasa cantik.

Hal-hal yang sempet ngeganggu Dea jadi nggak terlalu ngeganggu lagi. Kumpulan kupu-kupu itu bikin Dea ngerasa mengupu-kupu juga.

Semoga hari-hari ke depan Dea bisa terbang-terbang dan mengupu-kupukan orang lain juga. Supaya ada lebih banyak lagi manusia kupu-kupu. Abis itu ulet –ulet bakal bilang, “Liat, ada banyak manusia yang baru lolos dari kepompongnya … mereka pasti bahagia karena bisa terbang dan ngerasa cantik … “

Sundea

Google Twitter FaceBook

Friday, June 20, 2008

Madrasah Filsafat Rabu, 25 juni 2008

Madrasah Falsafah Sophia - Klab Filsafat Tobucil
mengundang


diskusi klab filsafat dengan tema "waktu"
bersama dengan Donny Anggoro , penulis novel Chimera (sebuah novel sains fiksi, terbitan Jalasutra))

ngobrol-ngobrol, berbagi pengalaman menulis bersama donny, berbagi kisah, berbagi pemikiran.
semua di undang, semua boleh berpendapat, karena pada dasarnya semua orang adalah filsuf.


Rabu, 25 Juni 2008
17.00 - 19.00 WIB
Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
022 - 4261548

GRATIS !


Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung
022 - 4261548
tobucil.blogspot.com
tobucil.multiply.com


kerja bersama Madrasah Falsafah Sophia, Tobucil & Klabs, dan penerbit Jalasutra

Novel Chimera menawarkan sains fiksi disertai perjuangan antara orang yang dijebak melakukan pembunuhan, permainan media, identitas palsu, penyelewengan teknologi, dan upaya meraih lagi makna hidup, bahwa di ujung kematian orang boleh kehilangan semua.....kecuali harapan.
Google Twitter FaceBook

Sunday, June 15, 2008

Teman-teman Baru Sepanjang Minggu Ini

Selamat pagi, selalu selamat pagi ^_^

Selama hampir dua minggu modem Tobucil dirawat inap. Kru Tobucil harus berjuang sendiri mencari koneksi internet. Mbak Elin harus pergi ke warnet. Wiku terpaksa mengantarkan bahan “Jazz and Book” secara manual kepada Mas Syauqie Rase FM. Tobuciler harus mengupload cepat-cepat karena voucher hotspotnya hanya berlaku dua jam.

Hingga pada hari Rabu lalu, Mas Andre membawa pencerahan. Dia meminjam modem dari temannya, khusus untuk Tobucil. “Tapi ini bukan wireless, cuma bisa buat satu komputer,” Mas Andre menginformasikan.

Kedatangan modem lumayan mempermudah kinerja Tobucil. Paling tidak perdagangan benang berjalan lebih lancar, bahan “Jazz and Book” dapat dikirim, dan blog bisa dicek lebih sering. Terima kasih pada Mas Andre, dan tentunya si modem pinjaman itu sendiri ^_^

Selain si modem relawan, minggu ini Tobucil mendapatkan banyak teman baru. Antara lain Liya dan teman Klab Nulis lainnya, penggulung benang listrik, dan Mbak Christine. Mereka semua diceritakan di blog edisi ini. Kamu pun bisa berkenalan dengan mereka dan menganggap mereka temanmu juga …

Semoga mereka bisa menghangatkan hatimu …

Salamatahari, semogaselalucerah …

Tobuciler


Google Twitter FaceBook

Martha Wijayanti Sumantri telah Pulang Kembali

Pada suatu sore, seseorang yang tampak familiar melihat-lihat buku di Tobucil. “Siapa, ya … ?” Tobuciler mencoba meningat-ingat.

Astagaaaa … Martha Wijayanti Sumantri ! Teman-teman yang sering main ke Tobucil sekitar empat tahunan yang lalu pasti tidak asing dengan perempuan yang satu ini. Apa kabar dia, ya ? Ke mana saja dia selama ini ?

Tobucil : Apa kabar ?

Martha : Baik.

Tobucil : Kamu dari mana aja, sih?

Martha : Baru selesai sekolah dan sedang melakukan retrospeksi.

Tobucil : Emang kuliah apa dan di mana ?

Martha : Arts and Cultural Management di Lasalle College of the Arts, Singapur.

Tobucil : Wooow … apa yang kamu dapet selama di Singapur ?

Martha : Yang gua alamin … orang-orangnya patuh … patuh yang mengerikan; senang diatur tapi tidak suka bertanya. Saya baik-baik saja sama mereka tapi suka kesel juga karena mereka nggak kritis. Terus, Singapur suka jadi tempat perhentian banyak budaya. Saya juga sempet kerja di Asian Civilitation Museum. Cara kerjanya beda.

Tobucil : Bedanya ?

Martha : Mereka tegas dalem kerjaan. Kalau A, ya A. Straight to the point, gitu …

Tobucil : Ooo … begitu … ngomong-ngomong, kamu udah berapa lama , sih, di Bandung ?

Martha : Tiga-empat hari. Sekarang lagi meresapi kota ini kembali, abis itu I’ll go where my feet will go …

Tobucil : Rencananya you’re feet will go ke mana ?

Martha : Pengennya, sih, jalan-jalan, mungkin travelling ke South Asia, Kamboja, mumpung masih pake Student Pass, bebas fiskal, jadi dimanfaatkan.

Tobucil : Statusnya masih student ?

Martha : Masih, sampai pengumuman kelulusan nanti.

Tobucil : Kangen, nggak, sih, sama Tobucil ?

Martha : Mmm … not really …

Tobucil : Serius lo ?

Martha : Iya. Ada satu masa ketika saya suka nongkrong, dan saya sudah melewati masa itu. Sekarang gua ada di masa seneng sendiri kali, ya, satu setengah taun di Singapur membuat saya jadi sangat memilih-milih kegiatan …

Tobucil : Kalau nggak kangen, kenapa main ke sini, dong ?

Martha : Karena hari ini, saya memang jalan-jalan kaki ke mana-mana. Barusan saya dari Vertex (terletak di jalan Lombok, dekat dengan Tobucil-red).

Tobucil : Ada, nggak, sih, yang kamu kenang dari Tobucil ?

Martha : Mm … Klab Nulis, kali, ya, Klab Nulis yang jaman baheula. Menurut gua itu tempat yang menyenangkan, bisa berbagi tanpa target dan tekanan …

Tobucil : Maksudnya ?

Martha : Iya. Di Klab Nulis waktu itu kita hanya saling berbagi, saling mendengarkan. Dulu itu tempat yang akrab, intim, menyenangkan, rasanya nggak membuang-buang waktu ngelewatin seharian di sana.

Tobucil : Kalau Klab Nulis yang sekarang ?

Martha : Ya nggak tau, saya kan nggak ngikutin Klab Nulis yang sekarang …

Tobucil : Oh iya, hehehe … apa, sih, yang bikin kamu waktu itu mulai nggak ke Tobucil lagi?

Martha : Waktu itu gua udah taun-taun terakhir kuliah, jadi pengen konsen ke tugas akhir. Abis itu dapet kesempatan ke luar negeri, ikutan kompetisi, terus setelah itu terbawa arus. Iya, saya terbawa arus. Terbawa arus kadang-kadang menyenangkan ….

Tobucil : Kenapa ?

Martha : Abis gampang, nggak usah mikir …. Hehehehe … asal kita tau aja ke mana arusnya …

Tobucil : Apa yang kamu rasain ketika pulang ke Bandung ?

Martha : Hmmm … ingatan saya ada di sini, tapi rumah saya bukan di sini. Rumah saya kecil di sini (sambil meletakkan tangan di dada).

Setelah saya tinggal di kota yang mekanis, di sini terasa lebih tenang, nggak terlalu banyak kompetisi … eh … di sini ada WC-nya kan ?

Tobucil : Ya adalah …

Tobuciler mengantar Martha ke WC. Ketika keluar dari WC, Martha tampak meringis-meringis tidak enak. Ternyata dia diare setelah jajan ayam bakar di warung setempat.

Selanjutnya Martha pulang bersama Tobuciler. Tadinya kami berencana berjalan kaki dari Jln. Aceh sampai Jln. Dago, tapi tahu-tahu Martha meringis-ringis lagi. “Mau naik angkot aja ?” tawar Tobuciler. Martha mengangguk setuju. “Makanan di Singapur nggak ada rasanya, tapi kebersihannya terjamin. Kayaknya perut saya udah terbiasa dimanja sama makanan bersihnya Singapur,” curhat Martha.

Tampaknya keindonesian jajanan telah menjalar-jalar dalam perut Martha. Mungkin itulah cara dia mengucapkan, “Wilujeng sumping, Martha … wilujeng sumping … “









Sundea
Google Twitter FaceBook

Surat Dua Minggu Pertama

Dua Minggu Pertama: Dari Hotel The Pod ke Apartement Upper East Side

Hotel The Pod letaknya di 230 East 51th Street, hotel kecil kamarnya kira-kira 4X4 meter udah termasuk kamar mandi. Tempat tidur yang ukurannya agak aneh menurutku, karena posisi kepala tempat tidurnya ada di samping. Jadi kalo ngikutin posisi kepala tempat tidurnya, kakinya jagi ngegantung gitu. Dan karena tidak terbiasa dengan urusan mesin pendingin dan pemanas ruangan, malam itu aku hampir membeku karena aku ga menemukan dimana tombol pemanasnya. Baru menjelang pagi, setelah dicari-cari akhirnya ketemu juga, tapi udah keburu susah tidur karena matahari keburu tinggi dan chatting sama temen-temen di Indonesia mengalahkan kantuk di malam pertama. Oya, hotel ini ada wifi gratis, makanya itu jadi satu-satunya hiburan buatku di tengah-tengah jetlag dan ruangan yang dingin. O ya sesuai dengan namanya.. ada fasilitas ipod speaker di dalemnya... kita bisa plug in ipod disitu. Harganya permalem 179 US Dollar.

Pagi (16 April 10:30 am), aku jalan dari hotel ke west 48th street ke kantor ACC. Duh sempet bingung nyariin dan sempet bolak-balik di 48th street nyari kantornya dari east ke west.. dan aku belum ngeh kalo di Manhattan, west dan east itu menjadi penting, tapi akhirnya ketemu. Sambil nenteng sarapan, burger dan kopi yang aku beli di kedai pinggir jalan.. 3 dollar... aku dateng ke kantor ACC... terlambat 30 menit sambil ngos-ngosan. Senengnya. Margaret Cogswell, program officerku sangat ramah dan welcome banget. Dia memperkenalkan aku pada staf ACC yang lain. Setelah perkenalan, Margaret memintaku istirahat setelah sampai di apartemen nanti. Tampangku keliatan blah bloh banget waktu itu.. cape dan jet lag. Marlene Torino, program assistant_ibu-ibu Itali yang baik banget_ membawaku ke bank untuk buka rekening di HSBC, grant buatku bisa aku akses lewat rekening ini. Setelah itu aku balik lagi ke hotel. Aku check out, tgl 16 siang Marlene Torino mengantarku ke Apartemenku untuk 4 bulan ke depan...

***


Rasanya kaya mimpi, aku ngerasain tinggal di apartemen studio lokasinya hanya 3 blok aja dari Central Park yang terkenal banget itu. Penghuni sebelumnya, seniman perempuan dari China yang mempelajari soal lighting. Pada olimpiade di Beijing nanti, Lea Shao namanya akan bekerja bareng Zhang Yi Mou untuk menggarap pembukaan olimpiade di sana. Hebatnya, Lea adalah perempuan Cina pertama ahli lighting untuk pertunjukan.

Lea baik banget, membantuku menjelaskan banyak hal soal apartemen ini... gimana ini dan itunya.. dan kalo ada yang kurang jelas, jangan segan2 untuk nanya dia...

Marlene yang merasa orang Indonesia dan orang Itali punya banyak persamaan dalam nilai-nilai keluarga, mentraktir aku dan Lea makan siang, di restoran itali, di deket situ.. duh.. tempatnya asyik banget.. Pertama kali deh aku ngerasain Lasagna yang asli heheheh sayang aku ga sempet motret restorannya... ntar aku mau balik lagi ah... porsinya gede banget.. sampe aku ga bisa menghabiskannya...

Hari yang menyenangkan untuk mulai menikmati New York.. semua terasa bersahabat.. semua terasa mudah jalannya... Terima kasih Tuhan...telah memberiku begitu banyak kemudahan pada perjalanan ini...

“if you want to be understood... listen” babel - Alejandro gonzales Innarritu

Tarlen
Google Twitter FaceBook

Better Earlier than Never

-Tobucil, Senin 9 Juni 2008-

Klab Nulis Generasi Baru Edisi ke Dua

Salah seorang peserta Klab Nulis tampak sangat bersemangat. Dia sudah hadir di Tobucil satu jam sebelum Klab dimulai. “Ini langsung dari kantor,” ujarnya, “mulainya setengah lima kan ?” dia memastikan. “Jam lima,” Wiku sang koordinator Klab meluruskan. “Enggak, ah, setengah lima. Di blog ditulisnya setengah lima !” kata peserta itu penuh keyakinan. Wiku menoleh pada Tobuciler. Tobuciler angkat bahu. Wiku lalu meninggalkan daerah kasir Tobucil dengan wajah galau dan tidak yakin.

Sebentar kemudian Wiku kembali. Kali ini wajahnya cerah ceria, “Bener, mulainya jam lima. Pendaftarannya, Mbak, yang tutup setengah lima. Coba, deh, entar liat,” kata Wiku. “Oh … gitu, ya …,” sahut Liya. Akhirnya, sambil menunggu, dia menjelajah Tobucil.

Sambil melihat-lihat, Liya mengobrol dengan Kru Tobucil. Ternyata nggak rugi juga datang lebih awal. Liya jadi mendapat teman-teman baru, iya kan … ?

Pukul lima, Klab Nulis dimulai. Selamat datang, selamat datang … selamat belajar berskenario …

Sundea


Google Twitter FaceBook

Teman Baru yang Rajin Bekerja

-Tobucil, Selasa 10 Juni 2008-

Hari itu Tobucil kedatangan teman baru yang tidak baru. Siapa dia ? Penggulung benang energi listrik !

Setelah sekian lama rusak, Mas Banung yang sering disebut “Mario Bros” memperbaiki alat tersebut. Hari itu si penggulung diantar kembali; siap mengabdi untuk karir perdagangan benang di Tobucil.


Cukup dengan menekan steker hitam yang disusupkan di celah meja, si penggulung berputar sendiri. Kru Tobucil dapat mempercayakan kumparan benang kepadanya.


Ternyata, teman-teman, penggulung benang ini adalah pekerja yang bersemangat. Suaranya rempong seperti bajaj, dan tenaganya kuat seperti traktor. Ketika dia berputar menggulung benang, seluruh meja bergetar-getar. Semua benda yang ada di sana berlompatan. Mencium bantal, membentur kursi, dan menghantam lantai.

Dia rajin dan berdedikasi, bahkan cenderung membabi buta. Sekejap saja, bertumpuk-tumpuk gulungan benang sudah menyesaki meja Tobucil, seperti terlihat di foto berikut ini …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Mbak Danu

-Tobucil, Kamis 12 Juni 2008-

Ketika Mbak Elin dan Mas Andre sedang seru mengobrol, seorang Mbak menghampiri kasir Tobucil. Sambil membawa katalog benang, dia berdiri bingung.

“Ada apa, Mbak ?” tanya Mbak Elin. “Ini … saya mau tanya … saya kan mau bikin souvenir buat nikahan. Ada yang punya ide, nggak ?” tanyanya. Selanjutnya, Mbak yang bernama Mbak Christine ini terlibat obrolan menyenangkan dengan Kru Tobucil. “Tadinya saya mau bikin magnet babi sama kambing. Saya kan shionya babi, dia (calon suami Mbak Christine-red) kambing,” ungkapnya. “Mending bikin gantungan kunci aja, kan lebih bisa kepake,” usul Mas Andre. “Iya, atau buat handphone,” sambung Mbak Elin. “Atau bikin makhluk yang campuran babi sama kambing gitu, Mbak,” usul Tobuciler. Mbak Elin menatap Tobuciler kurang setuju, “Bukannya serem, ya … ?”

Ternyata Mbak Christine adalah pemilik pabrik benang Indovon, Rancaekek. Katalog yang dia bawa adalah katalog benang-benangnya sendiri. Rencananya, benang itulah yang akan dipakai untuk membuat souvenir. Warnanya lucu-lucu. Sayangnya, mungkin benang acrylic Mbak Christine terlalu tipis untuk dirajut. “Kita orderin ke Danu aja,” usul Mbak Elin. “Iya, iya, Danu kan bisa, tuh, bikin-bikin yang kayak gitu …,” dukung Mas Andre. Maka Mbak Elin menelpon Mas Danu.

“Ya udah … entar saya sesuaikan aja dengan Mbak Danunya, ya ….,” kata Mbak Christine. “Danu itu cowok,” sahut semua Kru Tobucil hampir bersamaan. “Oh,” tanggap Mbak Christine. “Di sini pria-prianya emang jago-jago bikin-bikin kerjinan,” Mbak Elin menginformasikan. “Oh, gitu, ya …,” sahut Mbak Christine, masih tampak terkejut

Mas Danu Purwoko kita tidak mungkin seorang perempuan. Dia lebat berbrewok dan bersuara berat. Lagi pula, seperti kata Mas Andre, kalau perempuan, namanya pasti Danuwati atau Danunita.

Sundea

Google Twitter FaceBook

Kisah Dua Tomat

Belakangan ini Oom Tomo, Oom Dea, lagi hobi banget nge-reiki (kalo nggak salah semacem pengembangan energi dalem diri manusia. Biasanya dipake untuk tujuan baik, misalnya nyembuhin orang lain). Untuk latihan, dia bikinpercobaan sama dua buah tomat : yang satu dia reiki, yang satu lagi enggak.


And then … it worked. Tomat yang dia alirin energi tampak seger buger lebih lama, sementara yang enggak sebentar aja udah jadi kisut dan lembek.

Oom Tomo nunjukin hasil percobaannya ke orang-orang rumah. Dan orang-orang rumah jadi semakin percaya reiki bisa bikin sesuatu jadi lebih baik. Setelah itu kedua tomat itu dibiarin berdamping-dampingan di meja Oom Tomo.

Pada suatu hari, pas lewat di meja kerja Oom Tomo, Dea ngamatin kedua tomat itu. Tampak si tomat kisut lagi ngamatin tomat seger dengan penuh iri dan dengki. Dea terkesiap. Iya, ya, pasti nggak gampang buat tomat kisut untuk nerima keadaan. Setiap hari dia harus ngeliat temennya dikasih perhatian, dikasih energi dan kasih sayang, sementara dia sendiri didiemin begitu aja.
Pasti nggak gampang untuk idup berdampingan sama si tomat seger buger. Kemungkinan besar si tomat kisut berpikir, “Aku dan dia sama-sama tomat. Dari pasar yang sama. Disimpen di kulkas yang sama. Tapi kenapa aku yang dipilih untuk nggak direiki?” Dea yakin keadaan itu mempercepat kekisutannya.

Dea jadi mikir. Sebenernya bisa, nggak, ya, Oom Tomo ngereiki satu tomat dan nggak usah bawa-bawa tomat lain? Ternyata nggak mungkin bisa. Untuk tau seberapa besarnya pengaruh reiki itu, dia harus punya tomat lain sebagai pembanding.

Tau2 Dea, kok, jadi sedih, ya? Di setiap hal yang kita anggep baik, sebenernya ada hal yang harus kita anggep nggak baik yang ngebayang. Ketidakbaikan itu ternyata menafasi kebaikan, karena tanpa ketidakbaikan, konsep baik sendiri nggak akan pernah ada.

Cuman untuk hal yang harus berdiri sebagai ketidakbaikan itu,
Kenapa harus mereka yang dipilih untuk berdiri di sana ?

Sundea



Google Twitter FaceBook

Sunday, June 8, 2008

Ketika Modem Tobucil Jebol

“Hari ini kamu nggak bisa ngupload, modemnya jebol,” kabar Mbak Elin Senin itu begitu Tobuciler tiba di Tobucil. “Yah … terus gimana, dong ?” Tobuciler mendadak bingung. “Nggak tau. Tadi aja saya musti ke warnet pas mau chatting sama Tarlen …,” sahut Mbak Elin.

Apa jadinya kehidupan Tobucil tanpa koneksi internet ? Hampir seluruh aspek hidup Tobucil tergantung di sana. Apa jadinya perdagangan benang, hubungan dengan Ibunda, blog Tobucil, email, bahkan kehidupan teman-teman AJI, tanpa internet ? Sambil mengupload di BEC, Tobuciler mencoba mereka-reka.

Ternyata, ketiadaan koneksi internet membangun koneksi lain di Tobucil. Teman-teman AJI, Kru Tobucil, bahkan Roy, budayawan bule yang sering nongkrong untuk berhotspot di Tobucil, saling berkoneksi dengan hangatnya.

Teman-teman AJI, yang biasanya serius dengan berita, tahu-tahu membagi setumpuk tebak-tebakan garing. Mas Andre dan Mbak Elin kompak jalan-jalan membeli jaket. Laras dan Tobuciler asyik curhat-curhatan. Bahkan Roy duduk bergosip dengan Mbak Upi sambil belajar bahasa Sunda.

Mungkin saja modem internet dan tegangan listrik yang naik turun di Tobucil memang sengaja bekerja sama. “Tobucil mulai agak dingin,” ujar mereka, “Sudah saatnya kita beri mereka kesempatan menghangatkan diri …”

Semoga kehangatan ini pun menghangatkan kamu,

Salamatahari,

Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Mia Agustin dan Pertanyaan dari Sponsor

Baru kali ini “Teman Tobucil” menghadirkan sosok perempuan yang lembut dan keibuan. Namanya Mia Agustin. Senin minggu lalu, dia datang menggandeng gadis cilik cantik bernama Kaifa. “Anak kamu?” tanya Tobuciler. “Bukan, ini ponakan aku,” sahut Mia. Tobuciler memperhatikan cara gadis 22 tahun itu memperlakukan Kaifa yang akrab dipanggil Ipeh. Dengan terampil dia menguncirkan rambut Ipeh, membujuknya ketika bad mood, dan menasihati Ipeh supaya menjaga kesantunan.

Mia adalah anggota Klab Rajut yang cukup rajin dan progresif. Berikut ini adalah ngobrol-ngobrol Tobuciler dengan Mia featuring Obi, pacar Mia.

Tobucil : Kamu dari kapan suka ngerajut ?

Mia : Dari SMP. Awalnya diajarin hakken sama sepupu aku.

Tobucil : Terus, mulai ikut kursus rajut di Tobucil ?

Mia : Waktu masih kuliah. Tadinya aku ikut yang di KGU, baru tau pindah ke sini setelah sms Mba Upi.

Tobucil: Kenapa, sih, kamu tertarik sama ngerajut ?

Mia : Seneng aja … bikin penasaran. Kalau lagi bosen, bisa untuk ngisi waktu luang.

Tobucil : Denger-denger kamu lagi belajar ngerajut pakai tangan kiri, ya ? Emang buat apa, sih?

Mia : Pengen bisa aja, biar lebih efektif. Kalau tangan kanan pegel, bisa pakai tangan kiri. Jadi ngerajutnya lebih cepet.

Tobucil : Mau nyoba belajar cebok pakai tangan kanan, nggak, biar lebih efektif ?

Mia : Ya enggaklah, Embak ! Kan beda …

Tobucil : Eh … biar lebih efektif, kalau tangan kiri pegel, ceboknya bisa pakai tangan kanan …

Mia : Ya enggak, Mbak, tangan kanan kan untuk makan …

Tobucil : Hehehehe … iya, iya. Terus terus … kamu ngerajut pakai tangan kiri udah bisa sampai mana?

Mia : Baru bisa tusuk atas aja. Jadi yang tusuk atas pakai tangan kiri, tusuk bawah pakai tangan kanan. Jadinya lebih cepet dan tangan kanannya nggak terlalu pegel …

Tobucil : Waktu itu aku ngeliat dasi rajutan kamu. Kamu emang suka ngerajut dasi, ya ?

Mia : Awalnya gara-gara dia … (sambil menunjuk pria jangkung yang sedang bercanda dengan Ipeh)

Tobucil : Dia ? Dia itu siapa ?

Mia : Obi.

Tobucil : Emang Obi itu siapa ?

Mia : (dengan wajah memerah) pacar aku, pacar aku ….

Tobucil : Hehehehe … emang “dia” kenapa, Mi ? Apa hubungannya dasi rajutan kamu sama “dia” ?

Mia : Kebetulan dia kuliahnya pakai dasi di NHI, jadi sama Mia dibikinin dasi.

Tobucil : Dasinya udah pernah dipake?

Obi : (bersemangat) Udah. Orang-orang pada nanya belinya di mana. Pada minta, tapi nggak boleh. Saya bilang itu pesenan spesial, bikinan “dia” (melirik Mia dengan tatapan penuh cinta). Dosen saya aja sampai minta diwariskan dasi saya. Ayah juga minta, tapi … ya jangan …

Tobucil : Hahaha … Eh, Mi, kamu sadar, nggak kalau kamu keibuan sekali ?

Mia : Mm … iya, mungkin … orang-orang bilang juga begitu, tapi nggak juga … mungkin karena sering ketemu anak kecil aja kali, ya …

Tobucil : Hubungan anak-anak sama ngerajut buat kamu?

Mia : Ya … kalau Mia bisa ngerajut, Mia bisa bikin apa-apa sendiri buat anak Mia pas Mia punya anak, nggak usah beli.

Tobucil : Siap, nggak jadi ibu-ibu dalam waktu dekat ini ?

Mia : Belum, belum berencana jadi ibu dalam waktu dekat.

Tobucil : Kalau kamu, Bi, siap, nggak jadi bapak ?

Obi : (dengan mantap) Kalau memungkinkan, kenapa enggak ? Hehehe …

Tobucil : Wah …kalian nggak kompak, nih …

Mia : Abis kan dia juga mau ke Aussie. Kerja.

Tobucil : Ooo … baiklah, bailah. Tapi kita berandai-andai aja, nih, ya, misalnya suatu saat jadi ibu dan istri, kamu kepingin jadi ibu dan istri yang kayak gimana?

Mia : Ih, Embak, kok pertanyaannya jadi gitu, sih ? Tadi kan nanyanya tentang ngerajut …

Tobucil : Ya nggak pa-pa kan … ayo ayo … harus dijawab …

Mia : Aku mau jadi ibu yang selalu ada buat anak-anakku. Nggak kerja di luar, kepinginnya buka butik yang ada kafenya, jadi bisa sambil ngasuh anak-anak …

Tobucil : Wow, berdedikasi sekali. Nah, kalau jadi istri-jadi istri …? (sambil menaik-naikkan alis)

Mia : Iiih,Embak kok nanyanya jadi gitu ? Ganti pertanyaan, ah …

Obi : Nggak bisa … nanti kalau ganti pertanyaan, urutan pertanyaannya loncat, jadinya nggak bagus …

Mia : (dengan wajah memerah) Jadi istri yang … kalau suaminya diem di rumah … harus masak …

Tobucil : Lah … kasian amat … suami kamu pengen ngajak ngobrol, kamunya malah masak …

Mia : Maksudnya … kalau suaminya di rumah, harus masak biar suaminya nggak jajan keluar.

Tobucil : Terus-terus, kamu mau jadi istri yang gimana lagi ?

Obi tampak menyimak bagian ini dengan penuh minat

Mia : Ya … bisa membagi urusan di luar dan di rumah. Masa’ kalau suaminya lagi di rumah Mia shopping ato apa ? Kalau suami lagi di luar, mungkin Mia keluar juga, tapi minta izin dulu sama suami …

Obi : Mbak, Mbak (sambil menoel Tobuciler), kayaknya ada yang lupa ditanyain. Dianya mau nggak dijadiin istri ?

Tobucil : Nah, tuh, ada pesan pertanyaan dari sponsor …

Mia : (wajah kembali memerah) Apaan, sih ? Udah, ah, pulang, yuk …

Obi : Ayo, dong, dijawab dulu …

Mia : Ipeh udah laper, tuh … yuk …

Tobucil : Mi, kalau belum dijawab nggak boleh pulang …

Mia : Semua wanita normal pasti kepingin jadi ibu dan istri …

Tobucil : Kalau jadi istri dia ?

Mia : (setelah mencoba menghindar dengan segala cara) Kalau nggak mau, ngapain juga saya sama dia ?

Obi langsung sumringah. “Sebelumnya kamu udah pernah nanya ini, belum, sama dia ?” tanya Tobuciler. “Udah sering, tapi jawabannya selalu berputar-putar,” sahut Obi bungah.

Mumpung masih hangat, Tobuciler segera mengabadikan wajah bahagia Obi dan menghadirkannya juga di halaman ini. Moga-moga kebahagiaan itu bisa jadi milik kamu juga ^_^

Sundea

Google Twitter FaceBook

Mas Andre Usaha

-Tobucil, Senin 2 Juni 2008-

“Usaha, dong, Sayang, usaha …”

lagu di sebuah iklan pompa air

“Apa yang terjadi kalau kabel internetnya dicolok ke laptop gue? Laptop gue kan ada modemnya … ,“ cetus Mas Andre ketika modem Tobucil sedang jebol-jebolnya. Tanpa banyak bicara lagi, Mas Andre segera beraksi.

Tobuciler berusaha menangkap moment itu dengan kamera dan kemampuan memotret seadanya ….



“Yaaah … kabelnya kurang panjang ! Sia-sia, deh, usaha gue !” sesal Mas Andre sambil memulangkan kabel internet ke posisi sebelumnya.

Selanjutnya, kabel tetap di cangkangnya. Internet pun tetap tidak bernyawa.

Sundea

Google Twitter FaceBook

Klab Baru Menjelang UAN

-Tobucil, Rabu 4 Juni 2008-

Siang itu, sekelompok teman SMU berkumpul di beranda Tobucil. “Klab baru, tuh, Klab UAN (Ujian Akhir Nasional-red),” kelakar Wiku. Sambil menyeringai menanggapi, Tobuciler bergabung dengan teman-teman yang tampak serius belajar itu.


“Dari SMA mana, nih ?” tanya Tobuciler. “SMA 3,” sahut mereka hampir bareng. “Waktu itu ada temen-temen SMA 3 yang ke sini juga, shooting buat tugas Bahasa Indonesia,” ujar Tobuciler. “Iya aku juga ikut,” kata Agitha ceria. “Aku udah tiga kali ke sini, dua kali belajar, satu kali main. Abis enakan belajar di sini daripada di di kantin,” lanjutnya. “Orang kantin kita penuh sama anak SMA 5,” komentar Ami sambil tetap asyik mengerjakan soal matematika.

Ternyata, teman-teman, pemasukan terbesar kantin SMA 3 justru datang dari SMA 5. “Kalau anak 3 jajan cuma 5 porsi, anak 5 bisa 25 porsi,” kata Agitha yang pernah meneliti materi ini untuk tugas karya tulisnya. Wow …

Agitha, Rizkie, Maria, Ami, dan Tidy berencana sering-sering belajar di Tobucil. “Soalnya enak aja, tempatnya tenang,” ujar mereka. Hmmm … kalau Kru Tobucil jajan 10 porsi dalam sehari, siapa tahu teman-teman kita yang dalam masa pertumbuhan ini bisa jajan 50 porsi sehari ? Ketika kantin mereka dirambah tetangga, moga-moga mereka merambah warung kami … =p

Sundea

Google Twitter FaceBook

Welcome to America, Miss ..! (2)

…. aku tidak bertemu malam sama sekali. Siang terus. Dan itu membuatku pusing. Sempat mendarat sebentar di Geneva, Swiss untuk pemeriksaan passport. Setelah itu terbang lagi sampai rasanya, perjalannya ga berkesudahan dan aku semakin pusing dan mual.

Aku terbangun, waktu kapten bilang, pesawat sebentar lagi mendarat di Newark, dan silahkan menikmati pemandangan Manhattan dari atas. Aku merasa aku bakalan muntah. Karena mual banget. Bener aja. Saat pesawat siap-siap landing di Newark, aku muntah, muntah kaya waktu kena serangan vertigo. Tapi ajaib, setelah muntah, aku merasa sangat-sangat lega. Aku buka jendela ketika pesawat perlahan-lahan mendarat. 'Langitnya masih langit yang sama,' kata-kata BQ sebelum aku pergi, kuulang pada diriku sendiri. Tiba-tiba semua kecemasan, kepanikan, ketakutan yang sempat menyerangku sebelum pergi, hilang seketika. Release. Lepas. Apa yang akan terjadi, terjadilah.

Selamat datang di Amerika

Aku senyum membaca tulisan itu. Ya selamat datang untuk diriku sendiri. Aku siap menjalani 4 bulanku di sini. Petugas imigrasi tersenyum ramah, saat aku menyodorkan passport dan visaku. Dia nanya dalam rangka apa aku ke US. Aku jawab aja aku mau riset. Dia tersenyum sambil menanyakan surat undangan risetku. Aku menyerahkan seamplop-amplopnya, surat dari ACC. Tanpa sengaja disitu ada surat pengajuan Passport J-1 dari ACC juga. Petugas imigrasi langsung melihat ada masalah dengan visaku. Karena ternyata kedubes US di Jakarta memberiku visa yang berbeda dari yang seharusnya, jenis visa yang kudapat adalah B-1, padahal seharusnya aku dapet visa pelajar J-1. Dengan diantar petugas, aku di bawa ke ruang pemeriksaan sekunder yang lebih tertutup. Beberapa penumpang dari India, Cina, bahkan Jerman, ada juga disitu. Aku menunggu dengan tenang.

Ketika dipanggil, seorang petugas berkulit hitam menanyakan tujuanku dan apakah aku menyerahkan surat J-1ku pada kedubes AS waktu mengajukan passport. Aku bilang aku tidak memperlihatkannya karena mereka tidak menanyakannya. Tapi aku menyerahkan surat dari ACC yang menyatakan bahwa aku mengajukan permohonan visa J-1, tapi mereka tidak membacanya. Petugas nampak kaget dengan jawabanku. Aku kembali di suruh duduk. Petugas yagn memeriksaku nampak berdiskusi serius dengan temannya. Lalu aku dipanggil kembali dan ditanya, tiket pulang dan berapa uang yagn aku bawa sekarang. Aku jawab aku bawa 350 US dollar. Petugas itu dan temannya kaget. "HAH, kamu ke Amerika hanya bawa uang 350 US dollar?" tanyanya ga percaya. Aku menjawab tenang. "Besok mereka akan bawa saya ke bank untuk mengurus uang 17350 US dollar, grant yang saya dapat dari program ini," aku menyerahkan surat bukti uang jaminanku selama menjalani program ini. Kulihat muka mereka berubah. Lalu mereka menanyakan tempat tinggalku. Aku bilang aku belum tahu tepatnya, aku di jemput supir dan besok aku baru diantar ke apartemenku di Manhattan. Muka mereka bertambah bingung. Akhirnya aku diminta duduk kembali.

Petugas berkulit hitam itu nampak tidak tau apa yang harus dilakukan. Ia menyerahkan berkasku pada temannya yang beraksen latin dan berwajah sangar seperti Vigo Mortensen. Petugas itu, menelepon atasannya mengadukan soal visaku. Entah apa jawaban si atasan, tapi petugas itu nampak mengecek kembali surat-surat yang aku berikan, lalu kembali menelepon atasannya. Hal yang aku dengar darinya adalah ketika dia mengatakan bahwa kesalahannya ada di kedubes AS Jakarta. Saat itu juga aku langsung merasa lega. Tak lama kemudian, benar saja, si petugas latin mengatakan hal yang aku dengar tadi. Ini bukan kesalahanku, karena seharusnya kedubes US Jakarta menerima surat tembusan pengajuan visa ini, karena surat itu datang lebih dulu daripada pengajuan visaku. Aku kembali disuruh duduk. Tak lama, petugas berkulit hitam yang pertama memanggilku, memintaku mengisi selembar formulir dan menuliskan alamat rumahku di Bandung dan juga nama ibu kandungku, setelah itu mempersilahkan aku pergi.
"Welcome to USA, miss."
"Thank you very much," aku membalasnya dengan senyum.

Begitu keluar, ruang bagasi sepi. Bu Mira pun sudah tak tampak lagi. Tasku berdiri di sudut ruangan. Aku menariknya dengan susah payah. Karena rasanya seperti lebih berat dari sebelumnya. Aku kembali harus melewati ruang pemeriksaan terakhir sebelum keluar. Dengan jujur aku menyebutkan bahwa aku bawa daging sapi yang sebetulnya adalah Abon sapi. Petugas yang memeriksa tasku, seorang perempuan masih muda. Dia tidak memintaku mengeluarkan seluruh isi tasku. Dia hanya minta aku mengeluarkan abon itu dengan sopan dia bilang bahwa aku ga bisa membawa abon itu, karena daging dari Indonesia tidak diperbolehkan masuk ke AS. Ya, dengan terpaksa kurelakan abon sapi H. A.N. Sutisna yang terkenal enak itu dibuang ke tempat sampah.

Pemeriksaan yang lama membuat supir yang seharusnya menjemputku di pintu keluar, tidak ada lagi di tempatnya. Aku menelepon nomer operator yang diberikan Marlen Turino, Assistant Program Officer ACC, sebelum berangkat. Meski sempat mencari-cari, akhirnya ketemu. Supir taxi mewah itu, orang Sikh. Dia sempat marah padaku karena aku menelepon dari dua telepon umum yang berbeda. Sehingga dia coba menghubungiku di nomer telepon pertama, tidak bersaut. Aku minta maaf. Perlahan, mobil melaju meninggalkan Newark menuju Manhattan.

Selamat datang di New York, kataku dalam hati. Saat melewati billboard pertunjukan di Broadway. Selamat datang di Pod hotel Mahattan, dimana aku menghabiskan malam pertamaku di US.

***

Hey, surat ini menjadi begitu panjang. Hal-hal pertama yang dialami dalam hidup pastinya akan selalu mengesankan dan sayang jika lewat diceritakan.

Tarlen


“if you want to be understood... listen”
babel - Alejandro gonzales Innarritu



Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin