Pada suatu hari Kamis, hujan turun deras. Di tengah ketakmungkinkemanamanaan itu, Tobuciler melewatkan waktu di beranda bersama Mas Ahmad Yunus. Obrolan yang hangat membuat sore jadi tak terlalu dingin. Ternyata, teman dari AJI yang menggemaskan seperti beruang madu ini, malah bercita-cita menjadi burung madu yang kecil.
Tobucil : Mas, kalau boleh jadi sesuatu, Mas Yunus kepengen jadi apa ?
Mas Yunus : Maksudnya kalau dilahirkan kembali ?
Tobucil : Mmm … iya, kira-kira gitu. Boleh jadi apaan aja, nggak musti jadi orang, kok.
Mas Yunus : Jadi burung.
Tobucil : Kenapa ?
Mas Yunus : Bisa ke mana-mana. Kerjanya cuma berkicau dan jalan-jalan. Burung kecil saja, yang tidak dilihat oleh yang besar-besar. Burung kecil lebih di bawah, seperti riak-riak kecil, nggak kayak burung besar yang selalu memantau. Saya ingin jadi burung yang dianggap tidak penting. Kan lebih gampang, tidak menarik perhatian.
Tobucil : Seneng, ya, kalau nggak menarik perhatian ? Kenapa ?
Mas Yunus : Nggak apa-apa. Lebih santai kan …
Tobucil : Emang sekarang ngerasa nggak santai, ya, Mas ?
Mas Yunus : Iya, dalam pekerjaan saya yang membosankan, semuanya terasa tergesa-gesa, (terutama) dalam tataran pikiran. Ritme pekerjaannya memang begitu.
Tobucil : Emang kerjaannya apa, sih, Mas ?
Mas Yunus : Kan kamu udah tau …
Tobucil : Pura-puranya belom … hehehehe …
Mas Yunus : Saya jurnalis. Dulu sempet di Pantau dan majalah terkutuk , Playboy Indonesia… hehehe... Sekarang, sih, paling di AJI Bandung aja. Eh, beberapa bulan mendatang saya mau ke sebuah pulau kecil di Flores …
Tobucil : Wah … ngapain ?
Mas Yunus : Menulis riset ekonomi yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan. Ngomongin cokelat, mete, ngeliat koran-koran kecil yang ada di daerah sana, tinggal di pulau kecil dan rumah kecil juga ... (dengan mata berbinar-binar)
Tobucil : Tampak seneng sama yang kecil-kecil, ya, Mas ?
Mas Yunus : Iya, soalnya tenang, tidak menarik perhatian. Kamu suatu saat juga harus ke sana …
Tobucil : Kenapa ?
Mas Yunus : Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang baru di sana. Dari energinya, warganya … di sana seperti di surga.
Tobucil : Wow … seperti di alam baka. Kayak udah mati, dong … hehehe … kita kembali ke burung-burung, Mas.
Mas Yunus : Kenapa tertarik sama burung-burung ?
Tobucil : Nggak apa-apa. Jadi Mas Yunus spesifiknya pengen jadi burung apaan ?
Mas Yunus : Kamu tahu, nggak, burung yang kecil-kecil itu ? Yang segini-segini (sambil menunjukkan jempolnya) ? Terbangnya cepet banget, kerjaannya cari madu, nggak ada bunyinya …
Tobucil : Burung atau lebah, sih, Mas ?
Mas Yunus : Burung. Tapi sekarang emang udah jarang, apalagi di Bandung. Tapi terakhir saya masih sempat liat di daerah Awiligar.
Tobucil : Kalau jadi burung, Mas Yunus mau ada namanya, nggak ?
Mas Yunus : Tidak perlu ada nama, tidak perlu ada identitas. Burung saja.
Tobucil : Terus-terus … Mas Yunus mau main ke mana aja ?
Mas Yunus : Oh, iya, harus ke semua tempatlah. Terbangnya santai aja. Menclok sebentar di mana, berkoloni, terus terbang lagi; ke hutan, ke laut, ke pekarangan-pekarangan orang lain, dan berkenalan dengan burung-burung kecil lainnya.
Tobucil : Kalau nggak punya nama, ngenalin dirinya kira-kira gimana ?
Mas Yunus : Ya … (tampak sadar) bolehlah dikasih nama, tapi nicknamenya boleh apa aja. Di tempat ini bisa apa, di tempat lainnya apa. Saya akan terbang ke tempat-tempat yang tidak terlalu crowded. Saya suka tempat-tempat seperti itu, seperti di Halimun. Saya pernah ke sana, menghirup udara pagi, udara subuh malah, melihat kabut. Meskipun kaku, tapi cantik. Saya seneng melihat pergerakan kabut sambil minum teh atau kopi …
Tobucil : Nah, kalau udah jadi burung, minum kopinya gimana ?
Mas Yunus : Pergi ke Starbucks, beli sendiri …. Hehehehe …
Ketika menoleh ke arah area parkir, tak sengaja mata Tobuciler menangkap spanduk Tobucil yang terpasang memintas penggantun origami di pintu gerbang. Di sana terpampang gambar burung-burung kecil tak bernama. Mereka hadir pula di banner, di pembatas bukuTobucil, bahkan di halaman blog kesayangan kita ini.
Hmmm. Jangan-jangan Mas Yunus sebetulnya salah satu dari burung kecil yang menyamar … itu sebabnya jika boleh memilih, ia lebih suka menjadi “dirinya sendiri” …
Sundea
