Sunday, August 31, 2008

Pulang

“… Let me go home

I’ve had my run, baby I’m done

I gotta go home …”

Home-Michael Buble

Setelah seminggu menangkap keseharian di tempat lain, Tobuciler pulang. Bangku dan meja kayu di beranda Tobucil, teman-teman AJI dan Kru Tobucil dengan kediriannya masing-masing, keluarga RT, kantor pajak dan kegiatannya, bau benang dan buku yang khas, dinding hijau yang selalu dingin, dapur dan tumpukan cuciannya, kehangatan yang bergerak seperti udara … semuanya seperti berlari memeluk Tobuciler. Elemen-elemen keseharian itu tidak lagi perlu ditangkap. Kali itu, merekalah yang menangkap Tobuciler.

Meski keseharian di manapun selalu menarik untuk ditangkap, “rumah” punya sentimentalitasnya sendiri. Ia adalah titik tolak dan muara. Karena merupakan awal dan akhir itu sendiri, dia adalah perjalanan yang tak berawal atau berakhir. Rumah dan kita mempunyai ketidakasingan yang istimewa, karena sesungguhnya, inti setiap rumah hidup dalam diri kita sendiri.

Hari ini adalah hari titik tolak. Ia adalah hari pertama dalam minggu dan bulan ini, pun merupakan hari pertama perjalanan ibadah puasa. Pada akhirnya nanti, kita akan bermuara lagi pada sebuah hari yang seperti hari ini ^_^

Selamat hari rumah, Teman-teman, selamat menjalankan minggu, bulan, dan ibadah puasa

Semoga kami bisa menjadi “hari ini”-mu

Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat …

Tobuciler.

Google Twitter FaceBook

Ahmad Ramadhan dan Biolanya yang Bernama D.J (Kondisional)

Menyambut bulan Ramadhan, Ahmad Ramadhan (awalnya) tampak cocok menjadi “Teman Tobucil” edisi minggu ini. Selain karena namanya yang sesuai tema, mahasiswa Institut Seni Indonesia ini juga mahir bermain biola; alat musik yang bunyinya agung dan sentimental bagaikan bulan Ramadhan. Namun ketika wawancara dilakukan …

Tobucil : Ram, biola lo mana ?

Rama : Ada.

Tobucil : Dia ada namanya, nggak ?

Rama : Biola gue … apa, ya ? Paganini Al-Gozhali … tapi … nggak, ah, terlalu keren. Biola gue kan nggak berkelamin. Jadi … kalo siang D.J. Oko, kalo malem D.J. Eka …

Tobucil : Hah ? Kenapa dinamain begitu ?

Rama : Spontanitas, soalnya baru ditanya sekarang, makanya baru dipikirin sekarang, hehehehe …

Tobucil : Nah, terus kalo sore-sore begini, biola lo jadi siapa ? D.J Oko ato D.J. Eka ?

Rama : (berpikir) … D.J. Ampes alias Djampes.

Tobucil : Hahahaha … kenapa ?

Rama : Djampes kan penyakit kelamin. Karena dia tidak berkelamin, mainnya ke mana-mana, makanya kena penyakit kelamin.

Tobucil : Ngaco banget lu … hehehe … terus-terus, cara ngobatinnya gimana ?

Rama : Langsung gue gesek dengan penuh cinta.

Tobucil : Lo ketularan, dong ?

Rama : Lho, enggak, kan kita sama penyakitnya.

Tobucil : Gimana rasanya sakit djampes ?

Rama : Bisa menikmati. Soalnya gue jadi bebas melakukan sama biola gue yang sudah terkena … hehehe …

Tobucil : Halah, males, deh, romantis jijay gitu. Eh, ini memasuki bulan Ramadhan, lho, Ram …

Rama : Iya, ya, harusnya lo nanyanya, “Apa persiapan lo untuk menghadapi bulan Ramadhan?”

Tobucil : Iya, kalo gue nanya itu, jawaban lo apa ?

Rama : Saya bertahan untuk tidak bercinta pada siang hari.

Tobucil : Pas dia jadi D.J. Oko, dong … eh, ngomong-ngomong, jam berapa, sih, dia mulai jadi D.J. Eka ?

Rama : Gimana moodnya dia. Susah itu. Biasanya pada saat adzan maghrib. Pas dia mulai bergejolak minta digesek.

Tobucil : Ini udah adzan. Gesek, sana …

Rama: Susah. Dia bergejolak minta digesek, tapi guanya lagi nggak mood. Lagian gue lagi nggak bawa sarung.

Tobucil : Katanya penyakitnya udah sama … jadi udah bebas …

Rama : Abis dia kenanya udah akut banget. Istilahnya … udah kayak flu burunglah, jadi tetep harus safety.

Tobucil : Hahaha … ngaco. Kelakuan lo, kok, nggak sesuai nama gini, sih ? Ngomong-ngomong sebenernya lo ngerasa keberatan nama, nggak, Ram ?

Rama : Nggak juga … gua kalo bulan Ramadhan orangnya Ramadhan banget. Nama gua kan Ahmad Ramadhan, artinya terpuji di bulan Ramadhan. Jadi pas bulan Ramadhan, gua terpuji banget sifatnya … hehehe …

Apakah Ahmad Ramadhan jadi Ramadhan di bulan Ramadhan ? Kita lihat saja …

Ketika kegelapan semakin utuh, D.J Ampes pun utuh men-D.J. Eka. Rama menghampiri dan menggeseknya dengan penuh cinta. Pemain biola yang akan berangkat ke Thailand untuk South-East Asia Youth Orchestra pada bulan Oktober mendatang ini, tahu-tahu terlihat lebih dewasa. Ketengilannya mendadak tertelan. Gesekan biolanya yang memerindingkan meniupkan nyawa di halaman Tobucil.

Bunyi yang menyayat mengendarai angin. Bersama-sama mereka menggesek daun-daun hingga bergerisik …

Sundea



Google Twitter FaceBook

Capturing Stock Opname

foto-foto Sundea





Sundea

bukan fotografer. Dia cuma penangkap keseharian yang mencintai setiap hari.
Google Twitter FaceBook

Tentang Teman Kecil di Gerbang Tobucil

-Tobucil, Jumat 29 Agustus 2008-

Meski sering main ke Tobucil, mungkin kamu tidak memperhatikan teman yang satu ini. Bentuknya seperti gundukan. Bersama gerbang hijau, dia menjadi batas antara halaman dan beranda Tobucil. Jika “closing time” tiba, mata teman kecil kita ini berfungsi mengganjal penyangga gerbang.

Mungkin karena warnanya yang senada dengan pelataran dan posisinya yang di bawah kaki, teman kita ini sering tak terlihat. Padahal, justru karena posisinya itulah dia selalu melihat kita. Ia tidak sanggup menoleh dan menutup mata sendiri. Itu sebabnya, ia tak punya pilihan sudut pandang.

Oleh karena itu, tidak heran kalau dia merasa bosan dan sekali-sekali ingin jahil sedikit. Pada suatu hari Jumat, sepanjang sore, ia menyandung tiga orang berturut-turut. Pertama-tama Mama Michael, pengunjung Tobucil yang datang berbelanja. Ke dua Mbak Mulyani Hasan, aktivis AJI. Ke tiga Ahmad Ramadhan, teman yang belakangan sering main ke Klab Klasik Tobucil.

Tobuciler yang kebetulan sedang duduk-duduk di sekitar beranda jadi tertarik. Langsung saja Tobuciler menghampiri si teman kecil dan memotret dia.

Saat berjongkok di dekat si teman kecil, Tobuciler merasakan permintaan di kebundaran matanya. Ia terus menatap kita, tapi kita tak pernah balas menatap matanya. Kontak mata membangun koneksi tertentu. Mungkin si teman kecil sadar betul akan hal itu.

Tobuciler pun memutuskan berjongkok agak lama, balas menatap matanya, dan tersenyum menawarkan persahabatan. Maukah kamu sekali-sekali membalas tatapannya juga ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

Warna-warna (persiapan) Classical Guitar Fiesta

-Tobucil, Jumat 29 Agustus 2008-

Klab Klasik

Hitam.

adalah warna langit malam itu. Hari sudah gelap sekali ketika teman-teman dari Klab Klasik berkumpul di halaman Tobucil, berrapat untuk mempersiapkan Classical Guitar Fiesta (CGF). “Belum pernah, nih, kita briefing-briefing gini sebelum hari –H. Biasanya langsung di tempat,” Harish, ketua CGF membuka rahasia.

Putih.

adalah warna meja tempat mereka duduk berkumpul dan styro foam makanan yang mereka santap sambil berrapat. Cahaya lampu handphone Royke, yang menjadi satu-satunya penerang di sepanjang rapat, juga putih warnanya. Niat mereka juga putih bersih. Meski putih sering kalah ditimpa hitam, malam itu tidak.

Kuning.

adalah warna keceriaan mereka. “Selamat datang di CGF yang ke-2008,” Harish, ketua CGF, sempat salah ucap saat berlatih kata sambutan. “Kita harus rapi, ya … kaos berdasi,” Syarif mengajukan dress code. Tawa dan canda tidak pernah habis. Kegelapan jadi minder karena tak berhasil mencekam siapapun.

Biru.

adalah warna suasana sentimental yang membungkus mereka. “Seneng bisa ngumpul-ngumpul lagi,” ungkap para panitia CGF yang adalah anggota Klab Klasik dari berbagai masa. Selama ini, anggota Klab Klasik memang punya kesibukan masing-masing, oleh sebab itu, tidak semua mereka dapat hadir di pertemuan rutin.

Warna-warni.

adalah warna fiesta yang raya. Malam itu, teman-teman Klab Klasik mempersiapkan kehadiran berbagai warna yang akan tampil di Gedung Majestic pada tanggal 30 Agustus 2008. Sejumlah pemain gitar handal akan berkonser di sana; menginterpretasikan musik klasik dengan persepsi mereka masing-masing. Oom Jubing Kristanto yang terkenal dengan keunikan permainan gitarnya pun akan membintangtamui acara ini.

Bagaimana CGF berlangsung ? Nantikan liputannya di blog Tobucil minggu mendatang ;)

Sundea

Google Twitter FaceBook

Alat Pemadam Kebakaran di Museum

Minggu lalu, Dea jadi reporter cabutan di news letter International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA). Tanggal 21 Agustus 2008 kemaren, Dea ketugasan ngeliput team leaders IOAA jalan-jalan ke museum geologi, Bandung.

Di antara batu-batu yang warnanya semu, ada alat pemadam yang warnanya merah cerah. Yang kasian, dia keliatan kesepian. Waktu Pak Sinung keliling-keliling ngasih penjelasan tentang batu-batu di museum, alat pemadam kejepit di antara pintu kaca. Nggak ikut dijelasin. Terlupakan.

Karena kasian, Dea nyamperin alat pemadam itu. Sambil moto-moto dia, dengan sukarela, Dea ngejelasin ke setiap orang siapa dia. Greg, team leader dari Polandia, tampak jadi tertarik juga sama si alat pemadam. Dia ikut-ikutan motretin si alat dan mikirin nasib dia. “Mungkin dia nggak terlalu sendirian. Mungkin ada alat pemadam lain di sini,” kata Greg. Jadi kami nyari tau; siapa tau ada alat pemadam lain. Ternyata ada, temen-temen ! Dia kegantung persis di sebrang alat pemadam yang pertama kali jadi temen Dea. “Mungkin ada yang lain lagi …,” Dea jadi bersemangat. Dan memang ada. Di lantai satu, ada tiga alat pemadam kebakaran.

Pas naek ke lantai dua, kami ngeliat satu alat pemadam lagi. Dia sendirian di sana. “Kalau yang ini, kayaknya bener2 kesepian,” kata Dea ke Greg. Greg ngamatin si alat pemadam. Abis itu tau-tau dia tampak gembira. “Nggak juga. Liat, deh,” kata Greg sambil nunjukkin angka-angka yang ketempel di si alat pemadam. “Ini tanggal uji coba dia. Artinya, setiap tanggal tertentu, dia jalan-jalan keluar. Dia juga punya hiburan, kok,” kata Greg. Abis itu kita berdua jadi senang. Kita tau alat-alat pemadam itu lebih bahagia dari yang kita tadinya duga.

Temen-temen, pas Dea peratiin ahli-ahli astronomi itu ternyata peduli banget sama hal-hal kecil. Ada yang takjub liat melinjo, ada yang ngeliatin daun jatoh dengan penuh perhatian, ada lagi yang kayak Greg, peduli sama alat pemadam kebakaran di museum geologi.

Mungkin mereka begitu karena kerjanya ngeliat bintang yang kecil-kecil dan bersinar. Tapi bukannya bintang sebetulnya besar dan kompleks kalau diliat lebih saksama ?

Google Twitter FaceBook

Klab Filsafat : Bahagia

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan

diskusi rutin Rabu tanggal 03 September 2008
dengan tema "Bahagia"
bersama pemasalah : Eci.
Rabu, 03 September 2008
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

tobucil
jl. aceh 56
bandung

Google Twitter FaceBook

Sunday, August 24, 2008

Merah Putih di Tobucil

“Berkibarlah benderaku,

lambang suci gagah perwira

di seluruh bangsa Indonesia …”

Bendera Merah Putih - lagu nasional

Pada tanggal tujuh belas Agustus dan sekitarnya, merah-putih diizinkan untuk sedikit sombong. Mereka ditempatkan di ujung tertinggi tiang bendera, dan dibiarkan berkibar-kibar menyambut tabik angin. Beberapa bahkan ditempatkan di tengah upacara. Dikerek dengan hati-hati, kemudian diberi hormat penuh takzim.

Namun minggu yang lalu, di Tobucil, tak ada merah-putih berkibar. Meski angin bertiup kuat-kuat, siap memberi tabik, satu-satunya merah-putih yang berdiam di Tobucil malah melingkar di pohon kurus yang luka dan kedinginan. Bukan dia yang berkibar, melainkan daun-daun pohon yang justru membuatnya tidak terlihat.

Dalam sahaja dan rendah hatinya, merah-putih di Tobucil punya kegagahperwiraan tersendiri. Dengan berani dia memilih sesuatu yang tidak populer. Dan karena suci, dia bersedia tidak terlihat untuk membebat pohon luka. Merah-putih di Tobucil membuat “lambang suci gagah perwira” lebih nyata daripada sekedar jargon.

Hari itu, ulang tahun R.I menemukan esensi di halaman Tobucil. Diam-diam.

Salamatahari, semoga kami pun bisa menghangatkanmu …

Tobuciler

Google Twitter FaceBook

Ahmad Yunus Ingin Menjadi Burung Kecil

Pada suatu hari Kamis, hujan turun deras. Di tengah ketakmungkinkemanamanaan itu, Tobuciler melewatkan waktu di beranda bersama Mas Ahmad Yunus. Obrolan yang hangat membuat sore jadi tak terlalu dingin. Ternyata, teman dari AJI yang menggemaskan seperti beruang madu ini, malah bercita-cita menjadi burung madu yang kecil.

Tobucil : Mas, kalau boleh jadi sesuatu, Mas Yunus kepengen jadi apa ?

Mas Yunus : Maksudnya kalau dilahirkan kembali ?

Tobucil : Mmm … iya, kira-kira gitu. Boleh jadi apaan aja, nggak musti jadi orang, kok.

Mas Yunus : Jadi burung.

Tobucil : Kenapa ?

Mas Yunus : Bisa ke mana-mana. Kerjanya cuma berkicau dan jalan-jalan. Burung kecil saja, yang tidak dilihat oleh yang besar-besar. Burung kecil lebih di bawah, seperti riak-riak kecil, nggak kayak burung besar yang selalu memantau. Saya ingin jadi burung yang dianggap tidak penting. Kan lebih gampang, tidak menarik perhatian.

Tobucil : Seneng, ya, kalau nggak menarik perhatian ? Kenapa ?

Mas Yunus : Nggak apa-apa. Lebih santai kan …

Tobucil : Emang sekarang ngerasa nggak santai, ya, Mas ?

Mas Yunus : Iya, dalam pekerjaan saya yang membosankan, semuanya terasa tergesa-gesa, (terutama) dalam tataran pikiran. Ritme pekerjaannya memang begitu.

Tobucil : Emang kerjaannya apa, sih, Mas ?

Mas Yunus : Kan kamu udah tau …

Tobucil : Pura-puranya belom … hehehehe …

Mas Yunus : Saya jurnalis. Dulu sempet di Pantau dan majalah terkutuk , Playboy Indonesia… hehehe... Sekarang, sih, paling di AJI Bandung aja. Eh, beberapa bulan mendatang saya mau ke sebuah pulau kecil di Flores …

Tobucil : Wah … ngapain ?

Mas Yunus : Menulis riset ekonomi yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan. Ngomongin cokelat, mete, ngeliat koran-koran kecil yang ada di daerah sana, tinggal di pulau kecil dan rumah kecil juga ... (dengan mata berbinar-binar)

Tobucil : Tampak seneng sama yang kecil-kecil, ya, Mas ?

Mas Yunus : Iya, soalnya tenang, tidak menarik perhatian. Kamu suatu saat juga harus ke sana …

Tobucil : Kenapa ?

Mas Yunus : Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang baru di sana. Dari energinya, warganya … di sana seperti di surga.

Tobucil : Wow … seperti di alam baka. Kayak udah mati, dong … hehehe … kita kembali ke burung-burung, Mas.

Mas Yunus : Kenapa tertarik sama burung-burung ?

Tobucil : Nggak apa-apa. Jadi Mas Yunus spesifiknya pengen jadi burung apaan ?

Mas Yunus : Kamu tahu, nggak, burung yang kecil-kecil itu ? Yang segini-segini (sambil menunjukkan jempolnya) ? Terbangnya cepet banget, kerjaannya cari madu, nggak ada bunyinya …

Tobucil : Burung atau lebah, sih, Mas ?

Mas Yunus : Burung. Tapi sekarang emang udah jarang, apalagi di Bandung. Tapi terakhir saya masih sempat liat di daerah Awiligar.

Tobucil : Kalau jadi burung, Mas Yunus mau ada namanya, nggak ?

Mas Yunus : Tidak perlu ada nama, tidak perlu ada identitas. Burung saja.

Tobucil : Terus-terus … Mas Yunus mau main ke mana aja ?

Mas Yunus : Oh, iya, harus ke semua tempatlah. Terbangnya santai aja. Menclok sebentar di mana, berkoloni, terus terbang lagi; ke hutan, ke laut, ke pekarangan-pekarangan orang lain, dan berkenalan dengan burung-burung kecil lainnya.

Tobucil : Kalau nggak punya nama, ngenalin dirinya kira-kira gimana ?

Mas Yunus : Ya … (tampak sadar) bolehlah dikasih nama, tapi nicknamenya boleh apa aja. Di tempat ini bisa apa, di tempat lainnya apa. Saya akan terbang ke tempat-tempat yang tidak terlalu crowded. Saya suka tempat-tempat seperti itu, seperti di Halimun. Saya pernah ke sana, menghirup udara pagi, udara subuh malah, melihat kabut. Meskipun kaku, tapi cantik. Saya seneng melihat pergerakan kabut sambil minum teh atau kopi …

Tobucil : Nah, kalau udah jadi burung, minum kopinya gimana ?

Mas Yunus : Pergi ke Starbucks, beli sendiri …. Hehehehe …

Ketika menoleh ke arah area parkir, tak sengaja mata Tobuciler menangkap spanduk Tobucil yang terpasang memintas penggantun origami di pintu gerbang. Di sana terpampang gambar burung-burung kecil tak bernama. Mereka hadir pula di banner, di pembatas bukuTobucil, bahkan di halaman blog kesayangan kita ini.

Hmmm. Jangan-jangan Mas Yunus sebetulnya salah satu dari burung kecil yang menyamar … itu sebabnya jika boleh memilih, ia lebih suka menjadi “dirinya sendiri” …

Sundea


Google Twitter FaceBook

Bukan Paman yang Datang, Tapi Mbak Tarlen

-Tobucil, Senin 18 Agustus 2008-

Kalau “paman” di lagu A.T Machmud datang membawa sayur dan buah, Mbak Tarlen datang membawa setumpuk buku. “Di rumah masih ada lagi,” katanya. Belum sampai setengah tahun hidup di New York, Mbak Tarlen sudah mengumpulkan lima kardus buku keren. Ada Embroideries (komik terkenal karya Marjane Satrapi), buku tentang Barack Obama, buku-buku hobi, The Essence of Rumi , dan lain sebagainya. “Saya beli buku untuk oleh-oleh, supaya lebih dapat dipergunakan,” begitu kata Mbak Tarlen.

Kalau “paman” di lagu A.T Macmud bercerita tentang ternaknya, Mbak Tarlen bercerita tentang menariknya kehidupan di Amerika. “Saya suka naik subway. Di sana, kita nggak pernah tahu siapa yang duduk di sebelah kita, ” kisah Mbak Tarlen. Dia juga bercerita tentang Barack Obama yang semakin populer, tentang kepedulian masyarakat terhadap hal-hal kecil dalam keseharian, tentang komunitas kreatif yang berkembang biak seperti “ternak paman” di lagu A.T Machmud.

Kalau “paman” di lagu A.T Machmud berjanji mengajak libur di desa, Mbak Tarlen pun ingin sekali mengajak teman-teman di Tobucil bertandang ke Amerika suatu saat nanti. “Di sana banyak yang bisa dibikin,” ujar Mbak Tarlen.

Seperti aku lirik di lagu "Paman Datang" A.T Machmud, hati teman-teman pun girang tiada terperi. Terbayang sudah bagaimana di sana. Bukan “mandi di sungai, turut ke sawah, menggiring kerbau ke kandang”, karena yang datang Mbak Tarlen, bukan “paman” … hehehehe … =p

Sundea

Google Twitter FaceBook

Pameran Kickfest


Klab Melipat Kertas


Pameran di kickfest, sebagai gelaran awal kerja sama klab melipat kertas dengan airplane sudah digelar. Dengan persiapan awal sampai pamasangan karya serta pembongkaran karya telah selesai.

Secara keseluruhan pameran berjalan cukup baik, walau insiden yang mirip dengan pameran di unpar terjadi lagi, pada hari terakhir kickfest ternyata layout stand airplane berubah, mengakibatkan alur konsumen pembeli menjadi tidak ramah pada karya, yang menghasilkan karya lipatan kertas mulyana dan tim melipat kertas tobucil tania fitriyani, terpaksa dicopot dan sedikit rusak. Beberapa model lipatan ada yang hancur, ada yang terinjak dan ada yang diambil orang....

yeah....ternyata memang penghargaan orang terhadap karya seni masih jauh dari harapan para seniman. Tapi kami juga sadar bahwa acara itu, kick fest memang mengundang banyak sekali orang, dan tentu stand airplane punya target-target tertentu dengan stand mereka, dan terlebih, siapa juga coba yang bisa mengatur segitu banyak orang? Lagi pula, karya kemarin memang didesain tanpa memperhitungkan bahwa orang mungkin iseng atau apalah pada karya tersebut. Ini pelajaran berharga bagi kami.

Dan, jauh dari kejadian itu semua, kami memang mendapat pelajaran berharga, terutama tim melipat kertas dan terlebih mulyana, yang kali kemarin menghadirkan karya bernama Lavava Space (untuk yang penasaran akan artinya bisa menanyakan langsung dan mampir ke moulers.multiply.com), dengan lipatan kertas berjumlah 1500 kertas kecil berukuran 10 x 5 cm. Mulyana dibantu oleh tania fitriyani serta teman-teman tobucil seperti yuchan dan upi serta si akang (teman mulyana) yang jago bikin base yang bisa muter-muter. Karya menghadirkan bentukan-bentukan yang ajaib dan tentunya satu bentukan yang bisa berputar dan lampu-lampu yang memang keren!! selamat ya mul :)

terimakasih juga buat airplane yang sudah memberikan kepercayaan dengan space pameran yang cukup besar, dan spot yang dilalui banyak orang, terimakasih atas kesempatan besar ini...untuk firman dan tim kreatif airplane...

dan terakhir buat teman-teman yang sudah melihat karya kami dan memberikan komentar, trims...kita bertemu lagi di pameran klab melipat kertas dengan tim yang terdiri dari mulyana (mahasiswa sr upi yang sangat berbakat) serta tania fitriyani (instruktur klab melipat kertas) yang berikutnya, yaitu toko airplane di jalan aceh...semoga akhir agustus karya kami sudah terpajang disana....

oks...silahkan dinikmati foto-fotonya...dan salam melipat kertas...

Wikupedia à http://wikupedia.multiply.com/

info lebih lanjut tentang klab melipat kertas:

tobucil & klabs
jl. aceh 56 bandung
022-4262548
tobucil.blogspot.com
tobucil.multiply.com

tim melipat kertas:

mulyana
tania fitriyani

untuk melihat foto-foto persiapan Klab Melipat Kertas di Kickfest, klik di sini

artikel ini juga terdapat di sini


Wikupedia

Google Twitter FaceBook

Cara Coklat Ngebuat Seneng

Katanya, makan coklat bisa ngelepasin endofin di otak dan bikin orang jadi lebih bahagia. Jadi, pada suatu hari yang agak kacau, Dea beli coklat di supermarket.

Dea makan coklat sambil jalan pulang ke rumah. Setelah coklatnya abis, bungkusnya tetep Dea pegang, Dea nunggu sampe ngelewatin tong sampah.

Karena jalan nunduk, Dea bisa ngeliat kalo di jalan ada banyak bungkus coklat laennya. Pertama Dea cuek aja. Tapi setelah ngelewatin lumayan banyak bungkus, Dea seperti ngedenger suara mereka bisik-bisik, “Enak, ya, bungkus coklat yang di tangan Dea … dia dianterin ke tong sampah. Seandainya kita juga dianter …” Dea jadi kasian. Jadi Dea mundur lagi nyamperin mereka.

Waktu Dea pungut, bungkus-bungkus coklat itu bergerisik seneng. Sepanjang jalan nyari tong sampah, mereka tampak excited. Dea jadi ikut seneng juga. Jalan-jalan sama sekumpul bungkus coklat rasanya seperti jalan-jalan sama anak TK yang selalu gembira ngeliat apapun.

Begitu ada tong sampah, bungkus-bungkus coklat itu Dea masukin. “Dadah bungkus-bungkus, semoga kalian semua bahagia …,” pamit Dea. “Dadah … terima kasih, ya …,”saut mereka.

Selanjutnya, Dea nggak jalan nunduk lagi. Meskipun masalah-masalah Dea belom selesai, Dea udah bisa lompat-lompat pulang ke rumah. Coklat emang bisa bikin bahagia. Bukan karena zat yang mereka kandung, tapi justru karena bungkus yang menyelubung …

Sundea
Google Twitter FaceBook

Ayo, datang ke Classical Guitar Fiesta (CGF)

Classical Guitar Fiesta (CGF) adalah acara yang diadakan oleh KlabKlassik dalam rangka memfasilitasi para gitaris klasik untuk tampil dan diapresiasi. Hal tersebut didorong oleh minimnya media penyaluran ekspresi dan kreativitas para gitaris klasik. CGF 2008 merupakan yang kedua kalinya setelah penyelenggaraan pertama pada tahun 2006 di Auditorium CCF.

Penampil CGF 2008 terbagi atas tiga kategori. Kategori pertama adalah pengisi acara yang tampil lewat proses audisi. KlabKlassik membuka pendaftaran secara umum untuk gitaris klasik yang bersedia mengisi acara di CGF 2008. Mengingat terbatasnya waktu kegiatan, maka KlabKlassik merasa perlu mengadakan proses audisi. Proses audisi tersebut menghasilkan dua belas gitaris yang berasal baik dari dalam maupun luar kota.

Kategori kedua adalah intermission. Intermission adalah pengisi acara yang direkomendasikan oleh KlabKlassik sebagai salah satu penunjang acara agar lebih menarik sekaligus edukatif. Intermission yang berjumlah tiga penampil ini mempunyai berbagai keunikan tersendiri, seperti duet gitar dan flute (KlabKlassik Duo), gitar yang menampilkan karya tradisi sundawi (Gentra Sora Rasa Sunda) serta kelompok ensembel gitar yang beranggotakan belasan gitaris (Jakarta Enam Senar).

Kategori ketiga adalah bintang tamu. Bintang tamu adalah gitaris klasik senior yang telah malang melintang di dunia gitar klasik nasional maupun mancanegara. Setelah Royke B. Koapaha (Juara Yamaha Festival Gitar Indonesia 1979 & 1980, Juara Yamaha Festival Asia Tenggara 1980) pada CGF 2006, kali ini CGF 2008 akan menampilkan Jubing Kristianto sebagai penutup acara. Jubing adalah juara Yamaha Festival Gitar Indonesia kategori non-klasik pada tahun 1987, 1992, 1994, dan 1995.


CGF 2008 akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 Agustus 2008 di Gedung Majestic, Jl. Braga no. 1.
Harga tiket masuk acara yang akan diselenggarakan pada pukul 19.00 tersebut adalah Rp. 15.000 dan Rp. 20.000.

contact person :
Royke Ng: 08122445012 / Syarif: 022-92575445
Google Twitter FaceBook

Madrasah Filsafat : "Munggah"

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan

diskusi rutin Rabu tanggal 27 Agustus 2008
dengan tema "Munggah"
bersama pemasalah : Amrizal Salayan.
Rabu, 27 Agustus 2008
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

tobucil
jl. aceh 56
bandung

Google Twitter FaceBook

Sunday, August 17, 2008

Hidup yang Kaya Raya

Selamatpagi, selamat hari Senin lagi … ^_^

Minggu lagu, di Tobucil, berbagai cerita seperti menumpuk di hari Senin. Mulai dari stock opname yang masih berlanjut, digelarnya Klab Nulis angkatan ke tiga, koneksi internet yang hampir sepanjang hari ngadat, datangnya surat terakhir dari Ibunda di Amerika, dan kehebohan seputar tewasnya lampu di ruang AJI.

Teman-teman baru, lama, dan teman lama yang baru muncul kembali pun meramaikan kemungilan Tobucil. Ada Anggi dan Anata, teman-teman dari Seputar Indonesia, yang mampir mencari bahan tulisan. Ada Reni dan teman-temannya yang asyik bergosip di beranda Tobucil. Ada Mogi (alm.) dan Moni, dua kelinci kecil peliharaan Reni. Ada Syarif, Ivan, Rudy, Nilam, dan Kikan, yang datang ke Tobucil untuk mengikuti Klab Nulis. Ada pula Mas Frino, teman dari AJI yang baru muncul kembali di Tobucil setelah berkeliling Sumatera sekian waktu.

Keberbagaian tersebut menghadirkan berbagai jenis perasaan pula. Senang, jengkel, terharu, kangen, bersemangat, bosan, khawatir, geli, lelah, serta berbagai perasaan tak bernama yang mungkin merupakan campuran dari kesemua-semuanya. Mereka merangkai diri menjadi sebuah bentuk. Beruputar-putar memadati Tobucil, kemudian berbisik, “Hidup itu kaya. Berbahagialah karena kamu masih hidup dan kaya raya …”

Tahukah kamu ? Keberadaanmu membuat kami merasa kaya.

Semoga kami pun dapat memperkayamu ^_^ v

Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat

Tobuciler

Google Twitter FaceBook

Anggi Ayu Astria Latuperissa dan Phobia Wartawan Amplop

Anggi Ayu Astria Latuperissa duduk mengetik berita di beranda Tobucil. Wajahnya ditekuk sepuluh. “Deadline-nya jam empat,” mahasiswi job training ini menginformasikan. Tapi ternyata … bukan itu yang menekuk wajahnya. Jadi apa, dong … ?

Tobucil : Lo pengen gua tanya-tanya tentang apa ?

Anggi : Nggak usah ditanya.

Tobucil : Yah … nggak bisa … gini aja, deh, lo pengen cerita tentang apa ?

Anggi : Tentang pengalaman gua yang tadi.

Tobucil : Ceritakanlah.

Anggi : Tadi, gua ke Graha Manggala Siliwangi. Tugas mendadak. Gua disuruh cari barang-barang yang unik gitu buat ditulis (di koran Seputar Indonesia, tempat Anggi ber-job training).

Tobucil : Emang di sono lagi ada apa ?

Anggi : Wedding Exhibition. Gua masuk, liat resepsionis dan nanya,”Mbak, saya mau ketemu panitia …”. Dia ngeliatin gua dengan aneh. Terus, ada orang yang namanya Mbak Iis, nyamperin ke tempat resepsionis. Dia nanyain keperluan gua. Pas gua kasih tau, dia nanya, “Tapi ini nggak ada apa-apa kan ? Bener kan nggak ada apa-apa ?” Dia pikir gua wartawan amplop ! (dengan geram).

Tobucil : Wah, wah … bt banget, ya ? Terusterus … ?

Anggi : Abis itu gua dikenalin sama sesosok laki-laki berpakaian hitam. Orangnya lesu. Untuk mencairkan suasana, gua nanya ke dia, “Kenapa, ya, dari tadi, kok, saya ditatap aneh kalau ngenalin diri dari Sindo ?” Trus dia njawab (Anggi mencontohkan dengan nada ketus), “Nggak pa-pa. Capek aja.” Kan beeeteeee ….

Tobucil : Wah … abis itu gimana ?

Anggi : Gua bilang, gua dari Sindo ke sana cuma mau ngeliput acara itu. Dia nanya macem-macem. Gua jawablah semua pertanyaan dia. Dia minta kartu nama ke gua. Karena masih job training, gua nggak dapet id.card.

Gua : Saya kasih nomor korlap (koordinator lapangan) saya aja, ya ?

Dia : Kamu nggak punya kartu ?

Gua : Enggak. Saya kan job training. Kalau nggak, saya telponin kantor saya aja gimana ? Deket sini, kok …

Dia : Saya maunya kartu. Kamu ngak ada kartu ?

Udah gua jelasin berkali-kali dia nanya lagi-nanya lagi. Gua bt. Akhirnya gua cuma nanya :

“Di sini ada berapa stand ?”

Dia : Seratus

Gua: Pamerannya sampe kapan ?

Dia : Jumat.

Gua : Dalam rangka apa ?

Dia : Ulangtaun Tomodachi.

Ya udah. Terus gua cabut dengan bt. Di catetan gua, gua nulis “phobia wartawan amplop”.

Tobucil : Wah … bikin jangar juga, ya, Nggi. Menurut lo, kenapa, sih, orang-orang pada takut sama wartawan amplop ?

Anggi : Bukan takut, kali, ya. Biasanya justru memanfaatkan untuk memperbaiki citra. Temen gua pernah dikasih sama partai politik, tapi sampai sekarang dia nggak berani menyentuhnya. Disimpen aja di lemari baju. Di jurusan (kuliah) kita (jurnalistik), kita udah dididik untuk idealis. Amplop kayak gitu dianggepnya haram.

Tobucil : Wah … asin, dong … kalau manis berarti hula …

Anggi : Tapi mungkin (uang amplop) itu pait.

Tobucil : Kok pait ? Haram kan asin. Yang manis hula. Kalau pait, mungkin hrotowali … hehehe …

Anggi : Hahaha … terserah. Pait mungkin karena kita udah didoktrin kalau itu haram. Kalau kita nggak pernah dididik begitu, mungkin kita ngerasa itu biasa aja. Pokoknya sampai saat ini, sih, gua belom pernah dapet dan moga-moga jangan pernah dapet. Eh … udah ? Gua musti ke kantor. Tadi di-sms.

Tobucil : Oh, ya udah, deh … makasih, ya …

Anggi membayar bakso jajanannya, kemudian bergegas menuju Seputar Indonesia, koran harian yang bermarkas di sebelah Tobucil.

Wartawan amplop. Hmmm. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya Tobuciler juga phobia pada wartawan amplop. Bayangkan. Apa yang ada di pikiranmu kalau berlembar-lembar amplop berjalan-jalan meliput berita ?

Sundea



Google Twitter FaceBook

Duduk di Tobucil *)

Duduk di Tobucil adalah hal yang menyenangkan, terutama sambil merokok dan minum kopi. Lalu memandangi tetumbuhan hijau yang tertata di taman (Nilam). Ah, sayang tak ada gratisan (Ivan). Ah, sayang juga sih lagi ga punya uang, puisng dah !! Pulang aja ah ! (Rudy). Akhirnya saya pulang (Kikan).


Tapi kemudian pikiran saya tiba-tiba tersentak karena mengingat sesuatu. Tak punya uang, kenapa harus pulang ? Pulang , pulang ke mana ? Apakah pulang artinya akan mendapat uang ? Aku mengurungkan niatku. Kembali ke bangku favoritku. Pulang tidak selalu tentang rumah. Untuk saya, pulang berarti kembali pada kedamaian, setelah melewati hari-hari yang memusingkan. Pulang berarti melakukan stock opname jika pikiran ibarat buku yang berserakan. Duduk di Tobucil inilah tempat saya pulang.


*) tulisan ini dibuat oleh Syarif Maulana featuring teman-teman sesama anggota Klab Nulis. Baca artikel “Menulis Berantai, Merantai Bernulis”.




Syarif Maulana adalah aktivis Klab Klasik yang mulai merambah lahan-lahan lain di Tobucil. Saat ini sedang belajar menulis dan mempersiapkan diri untuk studi pasca-sarjana Komunikasi di Universitas Padjadjaran

Google Twitter FaceBook

Menulis Berantai, Merantai Bernulis

-Tobucil, 11 Agustus 2008-

Klab Nulis

Horeee … Klab Nulis Generasi ke tiga telah dimulai. Lima orang teman siap belajar dan satu orang tutor siap mengajar. Keenamnya membawa semangat Senin yang masih baru dan penuh.

Setelah menjabarkan teori, Ophan membagikan kertas putih. “Ini game, kok,” ujar Ophan menenangkan. Selanjutnya, setiap peserta diminta menuliskan judul dan kalimat pembuka pada kertas yang diberikan.

Ternyata, teman-teman diajak menulis secara berantai. Kertas yang telah dijuduli dan diberi kalimat pembuka, dioper kepada teman di sebelah kiri. Setelah teman di sebelah kiri menuliskan satu kalimat lanjutan, kertas itu dioper lagi ke sebelah kiri, terus begitu sampai kertas kembali kepada sumber pertama. “Sekarang, selesaikan tulisan itu. Waktunya sampai maghrib,” kata Ophan setelah semua kertas kembali kepada sumber pertama.

“Jenis latihan seperti ini berfungsi memaksa ide dan memperkenalkan sistematika tulisan. Ini untuk melatih profesionalisme,” papar Ophan.

Seperti apa hasilnya ? Salah satunya hadir di rubrik “papan tulis” blog Tobucil minggu ini. Tengoklah … ^_^ v

Sundea

Google Twitter FaceBook

Kiri, Kanan Kulihat Saja

-Tobucil, Kamis, 14 Agustus 2008-

“… kiri, kanan, kulihat saja … “

Naik-Naik ke Puncak Gunung – Lagu anak-anak


Pagi itu, begitu tiba di Tobucil, mata Tobuciler langsung terarah pada rak di sebelah kiri pintu. “Waaaah … udah rapi …,” komentar Tobuciler kagum. Buku-buku sudah ter-display sesuai aturan. Kertas-kertas bertuliskan “sudah di-stock” terpasang dengan gagah; seperti mengafirmasi kemenangan pekerja-pekerja stock opname atas segala keripuhan yang terjadi.


Namun, ketika Tobuciler bertolak ke rak sebelah kanan … JRENG … buku-buku di sana bertumpuk belum teratur. Beberapa bahkan tampak saling mendorong menimpa teman mereka yang terujung. “Wah … beda banget …,” komentar Tobuciler, kagum juga, meskipun dari sudut pandang sebaliknya.


Kedua rak yang saling berhadapan namun tampak kontras itu menarik perhatian Tobuciler. Dengan segera, Tobuciler memotret mereka. Lucu. Ketika berdiri menghadap ke rak sebelah kiri, ketidakteraturan jadi tak terlihat; padahal ia begitu dekat. Sebaliknya, ketika berdiri menghadap ke rak sebelah kanan, keteraturan jadi tak terlihat; padahal ia begitu dekat.


Terakhir, Tobuciler berdiri di tengah, mencoba memotret keduanya. Sebuah rak lain lagi lalu tertangkap keberadaannya. Ia membatasi rak kiri dan rak kanan. Bentuknya seperti meja setrika yang panjang. Tidak terlalu teratur, tapi tidak juga terlalu berantakan. Ia melihat ke dua arah. “Namanya rak keseimbangan,” gumam Tobuciler.


Setelah potret-memotret selesai, Tobuciler menyadari sesuatu. Itu hari Kamis! Hari itu berdiri di antara Senin-Selasa-Rabu dan Jumat-Sabtu-Minggu. Ia bukan awal minggu, bukan pula akhir minggu.


Sambil tersenyum, Tobuciler bergumam sendiri, “Ini hari keseimbangan !”


Saat itu Tobuciler jadi merasa dapat berjalan di atas tali.


Sundea

Google Twitter FaceBook

Bawang Merah dan Bawang Putih

Minggu lalu, Dea ikut sepupu dan tante-tante Dea ke pasar. Pas nyampe di stand bumbu-bumbu dapur, Dea baru meratiin bener bentuk bawang merah dan bawang putih sebelom diolah. Bawang putih lebih komunal, sementara bawang merah sedikit lebih mandiri. Bawang putih ngerumpun sekitar lima-lima, bawang merah paling banyak cuma bertiga.

Pas Dea peratiin, bahasa tubuh mereka juga beda. Bawang putih seperti kedinginan dan ketakutan, sementara bawang merah ngebusung seperti nggak takut ngadepin apapun. Emang, sih, bawang merah masih dibungkus kulit tipis, tapi keliatannya dia siap ngedorong robek kulitnya kapan aja. Bawang merah juga keliatan lebih berkilat seperti mata patriot. Ngeliatnya, Dea ikut bersemangat juga. Dari situ, Dea jadi suka banget sama bawang merah.

Dea jadi keinget cerita Bawang Merah dan Bawang Putih. Di sana Bawang Merah dibikin jadi tokoh yang antagonis banget. Padahal, mungkin sebenernya Bawang Merah nggak gitu-gitu amat, dia cuma jadi korban dongeng yang suka berat sebelah secara ekstrim.

“Jangan kuatir, Bawang Merah, kamu cukup kuat memenangkan kenyataan, makanya nggak dibela sama dongeng,” Dea menyemangati Bawang Merah. Abis itu Dea natap Bawang Putih. Mereka masih ngumpul rapet-rapet. Seperti selalu kedinginan dan takut sendirian. Warnanya semu, seperti sedang sakit. Tau-tau Dea jadi kasian juga sama mereka …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Madrasah Filsafat : "Tetangga"

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan

diskusi rutin Rabu tanggal 20 Agustus 2008
dengan tema "Tetangga"
bersama pemasalah : Oyeah.
Rabu, 20 Agustus 2008
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

tobucil
jl. aceh 56
bandung

Google Twitter FaceBook

Wednesday, August 13, 2008

Klab Nonton Tobucil : My Macondo

Setiap Jumat jam 18.00 - selesai
ruang diskusi Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung


-My Macondo-

sebuah film tentang perjalanan dalam mencari kota yang disebut dalam novel karya Gabriel Garcia Marquez, one hundred years of solitude. apakah kota macondo itu nyata atau tidak, film ini menjawab semuanya.


Jumat, 15 agustus 2008
18.00 - selesai
ruang diskusi Tobucil & Klabs
Jl. Aceh 56 Bandung

tobucil.blogspot.com
tobucil.multiply.com
Google Twitter FaceBook

Turut Berduka Cita (Mogi)

Segenap Kru dan Teman-teman Tobucil mengucapkan :
Turut Berduka Cita
atas wafatnya

Mogi

pada hari Kamis, 14 Agustus 2008

Mogi adalah kelinci cokelat yang hidup rukun bertetangga dengan Tobucil

Semoga arwahnya diterima di
sisi Tuhan yang Maha Kuasa


Google Twitter FaceBook

Monday, August 11, 2008

Massa

“… lihat segalanya lebih dekat ….”

– OST Petualangan Sherina -


Minggu ini, hari kerja di Tobucil diawali dengan kepusingan Mbak Elin, “Aduh, benangnya banyak banget. Mau ditaro di mana lagi, ya ?”

Selain dengan kerumunan benang, Tobucil juga berurusan dengan kerumunan buku. Hampir sepanjang minggu ini, Tobucil melakukan stock opname (mendata dan menata ulang kembali semua stok buku). Ternyata Tobucil punya banyak sekali buku dan majalah … dan … debu.

Sekilas kerumunan memang menakutkan. Jumlah mereka yang banyak, tampak seperti ombak yang siap menggulung kita. Ketidaktertataan mereka belum-belum sudah membuat lelah mata dan pikiran. Saat mereka ada di depan mata, kita cenderung pasang ancang-ancang melarikan diri.

Minggu ini, mau tidak mau Kru Tobucil berurusan dengan massa benang dan buku. But guess what, Teman-teman, ternyata melewatkan waktu bersama mereka tidak semengerikan yang diduga. Sambil menata benang, Mbak Elin tahu-tahu tersadar, “Sebenernya kasian juga, ya, benang-benang ini. Mereka dilempar-lempar, dimarah-marahin, padahal mereka nggak salah apa-apa, malah ngehasilin duit.”

Membongkar-bongkar buku pun ternyata bagaikan menggali harta karun. Stock Opname sepanjang minggu diselingi seruan-seruan girang seperti, “Tobucil punya Rasisme ! Gua mau !” atau “Woaaah … Pooh and the Philospers! Udah lama gua cari-cari !” atau “Di mana lagi, nih, nemu buku gini sekarang ?”

Banyak tenaga yang keluar, tapi canda, keriaan, dan kasih sayang yang dibagi lebih banyak lagi. Ketika dilihat lebih dekat dan hangat, ternyata massa membagi hal baik yang sama banyaknya dengan jumlah mereka ^_^

Akhir kata, semoga kebaikan massa di toko kami pun sampai kepadamu.

Salamatahari, semogaselaluhangatdancerah …

Tobuciler

Google Twitter FaceBook

Ngga Jadi Jobless di Newyork

Jobless di New York. Itulah taglineku sebelum sampai di sini. Sebelum berangkat aku beneran ga tau apa yang mau aku lakukan selama 4 bulan di New York. Apalagi setelah di kabari tempat yang rencananya mau jadi tempat magangku_ yang mereka butuhkan adalah orang yang bisa berbahasa Spanyol. Untungnya program officerku yang sangat baik itu_ Margaret Cogswell, bilang: "yang penting kamu sampai dulu di sini, nanti kamu akan tau dengan sendirinya apa yang bisa kamu lakukan." Dengan menyerahkan diri pada perjalanan dan berbekal keyakinan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan menemukan kebaikan dan semoga Tuhan mempertemukan aku dengan orang-orang yagn baik, akhirnya aku ga terlalu nervous menghadapi 'ketidak pastian' di NY.

Ternyata setelah sampai disini semua mengalir begitu saja. Aku ikutin minat dan rasa ingin tahuku dan aku bicarakan ini dengan program officerku. Sampai program managerku terheran-heran. Selain ingin belajar soal audience development, minatku yang cukup besar adalah sesuatu yang berhubungan dengan craft. Itu sebabnya aku bisa terhubung dengan Etsy. Selama ini aku selalu mengunjungi situs www.etsy.com, sebuah situs yang mewadahi komunitas handmade dari seluruh dunia. Situsnya sangat inspiratif buatku dan aku sangat sepakat dengan semangat komunalitas, perdagangan komunitas dan juga pemberdayaan bagi anggotanya. Berbinis sambil memberdayakan, dua hal yang selama ini berusaha kujalani di tobucil.

Aku senang karena bisa belajar langsung dari tempat yang selama ini menginspirasiku. Pertemuan monday craft night jadi acara rutin selama aku disini. Julie, koordinator Etsy lab malah memintaku untuk mengajarkan modular origami di monday craft night dan di Etsy lab. Aku senang bisa bergabung di monday craft night karena bisa bertemu dengan teman-teman baru yang sama senang dengan kerajinan tangan. Suasana terbuka dan semangat saling berbagi kuat aku rasakan di pertemuan ini. Siapa yang punya keahlian, bisa berbagi ilmu pada yang lain. Biarpun baru kenal, tapi rasanya kami bisa langsung akrab karena disatukan oleh hobi yang sama. Perbedaan ras, bahasa, keyakinan, warna kulit, ga jadi masalah ketika kami bisa melakukan kegiatan yang sama-sama kami sukai. Di monday craft night ini aku belajar bikin banner, lip balm, goco print, banner, sablon, book binding dan belajar tip-tips gimana mengelola craft gathering seperti acara Monday Craft Night.

Brooklyn jadi bagian dari NYC yang spesial buatku. Di borough ini aku merasakan aura kreativitas dan juga komunalitas yang kuat. Craft fair untuk komunitas handmade terbesar _ Renegade Craft Fair yang aku nanti-nantikan juga diselenggarakan di Brooklyn. Juga Brooklyn Indie Market yang dibikin Kathy Malone udah jelas bertempat di Brooklyn. Belum lagi Brooklyn Museum tempatku observasi secara intens selama program musim panas. Juga beberapa teman baik yang kukenal disini mereka tinggal di Brooklyn. Brooklyn bener-bener spesial buatku.

Kegiatan obsevasiku tentang gimana mengembangkan audience lewat program-program pendidikan di Museum juga tak kalah menarik. Karena alasan inilah aju jadi punya kesempatan mengamati lebih jauh tentang kegiatan beberapa museum di NYC. Seperti yang udah pernah aku tuliskan, NYC terbagi dalam 5 borough yang berbeda: Brooklyn, Manhattan, Bronx, Queens, Staten Island. Kelima borough ini punya karakter yang berbeda termasuk juga populasi yang berbeda juga. Manhattan misalnya, disinilah pusat kegiatan ekonomi berlangsung. Bukan hanya ekonomi NYC, tapi juga ekonomi Amerika dan dunia. Wall Street yang terkenal itu, letaknya ada di lower side Manhattan. Manhattan jantungnya NYC. Ga heran kotanya hiruk pikuk. Dua puluh empat jam ga pernah tidur. Museum-museum beken ada disini seperti Guggenheim Museum, Moma, Metropolitan Museum, semua tak pernah sepi pengunjunga. Apalagi musim panas seperti ini, NYC jadi tempat tujuan wisata turis-turis Eropa. Makanya ga heran, setiap museum berlomba menyajikan tontonan dan acara yang menarik. Karya-karya seniman dunia di hadirkan di museum-museum besar ini.

Dianatara museum-museum beken itu, ada satu museum yang menurutku unik. Namanya New Museum. Letaknya di Browery Street antara Soho Manhattan dan Chinatown. New Museum memfokuskan diri pada karya-karya kontemporer. Karya-karya seniman dari 5 benua yang merespon persoalan aktual dari perspektif keseharian. Untuk menunjang misinya ini, mereka membuat program edukasi bagi siswa dan guru-guru untuk mengenali persoalan keseharian di sekeliling mereka lewat karya seni. Secara berkala mereka mengundang guru-guru untuk bertemu dengan kurator dan berdiskusi bagaimana caranya memperkenalkan sebuah karya seni sampai ke menjadikan karya seni sebagai metode pembelajaran. Ada komunikasi dan dialog disitu. Museum kemudian menjadi ruang yang mewadahi komunikasi itu.

Sementara museum lain yang menjadi tempat observasiku adalah Queens Museum of Art. Sebagai salah satu borough, Queens sangat multikultur. Keragaman ini sangat terasa saat aku ada di subway ke arah Queens. Karakteristik penumpangnya sangat berbeda dengan subway jurusan Manhattan atau Brooklyn. Queens Museum menjadi ruang komunikasi komunitas dalam memperkenalkan keragaman ini. Misalnya saja program teater untuk keluarga yang menjelaskan bagaimana NYC bisa mendapat pasokan air bersih

untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satu ruang pamer di QMA yang menampilkan miniatur NYC dengan lima boroughnya, bahwak QMA menyelenggarakan kursus bahasa inggris bagi warga hispanik yang sehari-hari menggunakan bahasa spanyol.

Program untuk komunitas ini juga dilakukan oleh Brooklyn Museum. Sabtu minggu pertama setiap bulannya, mereka menyelenggarkan program khusus yang diberi nama First saturday. Pada hari itu, museum buka sampai tengah malam dan gratis untuk pengunjung. Bagiku hal yang sangat luar biasa bisa menyaksikan ribuan orang datang ke Museum dalam satu hari dan mengikuti program-program yang ada disana. Museum tidak hanya memajang artefak-artefak bersejarah atau karya seni, tapi museum juga jadi ruang untuk berdialog soal masa lalu, masa kini, masa depan juga soal keseharian.

***

Programku ini ga lama lagi akan berakhir. Rasanya sulit dipercaya bahwa aku justru mendapatkan banyak sekali kesempatan berharga yang sebelumnya ga pernah aku bayangin. Semoga pulang nanti semuanya bisa menjadi manfaat buat banyak orang..

“if you want to be understood... listen”
babel - Alejandro gonzales Innarritu


Tarlen
Google Twitter FaceBook

Sunday, August 10, 2008

Syarif Maulana, Maukemana

Stock opname kali ini, dimeriahkan oleh Syarif Maulana. Teman yang biasanya aktif di Klab Klasik tersebut, tampak mulai merambah lahan-lahan lain di Tobucil. Apa rencananya ? Syarif Maulana, maukemana ?



Tobucil : Setelah lulus S1, lo punya rencananya apa, Rif ?

Syarif : Mau S2 … karena S2-nya mulainya bulan November, jadinya gua mau konsentrasi di ngajar dulu, trus mau konsen di Klab Klasik juga, terus mau nyoba kerja di Tobucil …

Tobucil : Oh … mau kerja di sini, toh ? Sebagai … ?

Syarif : Penjaga toko.

Tobucil : Ada hubungannya, nggak, jaga toko di Tobucil sama kuliah lo dan musik klasik ?

Syarif : Mungkin … karena di toko buku ini (kerjanya) banyak diem. Kan bisa sembari dengerin musik klasik, trus di sini kan banyak buku-buku yang bisa buat nunjang kuliah

Tobucil : Hehehe … jadi inget. Pas jaman kuliah S1 kemaren, terutama pas masa skripsi, elu kan galauan banget. Sekarang masih galau-galau, nggak ?

Syarif : Waduh … galau, galau … (tampak galau memikirkan jawaban) … galau ! (akhirnya menjawab dengan yakin)

Tobucil : Nah, sekarang galau kenapa lagi ?

Syarif : Karena gua kerja di Tobucil pada saat yang salah, pas stock opname. Tadi aja, pas gua dateng, Mba Elin bilang, ‘Rif, kita (kerjanya ) berdua aja …’. Tadinya udah mau pulang lagi gua …

Tobucil : Terus kenapa nggak pulang ?

Syarif : Karena … iba …

Tobucil : Iba kenapa ?

Tahu-tahu Harish menyeletuk, “Iba Azhari !!!” Hyaaa …

Tobucil : Hmm. Perasaan lo selama stock opname gimana ?

Syarif : Wah … saya berat sekali, ya, kalau rodi dan romusha lebih berat dari ini, saya akan menyembah-nyembah ke gua Jepang.

Tobucil : Hahahaha … emang segitu parahnya?

Syarif : Iya. Buku yang tadinya kelihatan bersahabat, sekarang tampak sangat banyak dan menyerang kita. Dulu kan ngeliat buku bisa detail, sekarang saking banyaknya gua tebalik-balik. Tadi pas ngebacain judul buku, gua nyebut, ‘Lu Tzun !’ Waktu Mbak Elin nanya pengarangnya siapa, gua baca, ‘Kisah Cerita Rakyat dari Cina …’

Tobucil : Hahaha … apa lagi yang lieur ?

Syarif : Kemaren gua mengangkut kardus dari belakang, terus mengeluarkan majalah Gong dari kardus, terus mengumpulkannya edisi per edisi, lalu membacakan (nomor edisinya) satu persatu, abis itunya saya bermimpi ngeband bareng Gong 2000.

Tobucil : Hahahaha …aneh-aneh aja lo ! Eh, ngomong-ngomong lo sadar, nggak, kalo ekspresi muka lo tuh ngasiani banget ?

Syarif : Waduh … ya … ngga, sih, tapi … orang bilang gua memang perlu dikasianin … eh … nggak, nggak, gua bercanda.

Tobucil : Tapi bener, lho … jangan-jangan ekspresi alamiah muka lo ada hubungannya sama idup lo yang senantiasa diliputi kegalauan itu …

Syarif : Saya nggak tau yang kasian muka saya dulu atau nasib saya dulu. Mungkin … orang menyesuaikan muka gua sama pekerjaan (yang dikasihin ke) gua.

Tobucil : Hmmm … bisa jadi, tuh. Lo berencana operasi plastik?

Syarif : Nggak, ah, soalnya plastik kan udah nggak boleh sekarang …

Tobucil : Jadi gimana, dong, cara lo menghadapi kenyataan ini ?

Syarif : Gimana, ya ? Berdoa kali … naon, ya ? Kan operasi plastik udah nggak boleh, ya operasi kertas aja …

Tobucil : Bener, ya …

Syarif : Iya … tapi … gimana caranya ?

Tobucil : Hehehe … itu mah urusan lo …

Syarif Maulana, kabarmubagaimana ? Syarif Maulana, masihmerana. Syarif Maulana, maukemana ? Syarif Maulana masihdisana.

Ia menerima tantangan lakukan “operasi kertas”. Kita lihat. Apkah dengan itu, Syarif Maulana mampu mengatasi syaraf gundahgulana ?

Sundea



Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin