Sunday, September 28, 2008

Let the Mudik Heal Your Soul


Mudik gives you happiness or sadness,

But it also … also heals your soul …”

-diplesetkan dari lagu Let the Music Heal Your Soul-nya Bravo All Stars –

Setiap sore, sepanjang bulan puasa, seorang ibu datang menjajakan tajilnya.

“Udah lama, ya, Bu, jualan tajil?” tanya Tobuciler pada suatu hari. “Dulu waktu di sini masih Tempo mah banyak yang suka beli,” jawab Si Ibu tidak nyambung tapi cukup menjawab pertanyaan. Beberapa tahun yang lalu, sebelum Tobucil menyewa kemungilannya, Tempo memang sempat berkantor di sana.

Tak lama setelah berdiri-berdiri di pintu Tobucil sambil berseru, “Tajiiil … tajiiiil …,” Si Ibu pamit. Jajaannya tidak terbeli sebungkus pun. “Kasihan juga, ya …,” pikir Tobuciler, “lain kali beli, ah, sekalian ngewawancara Si Ibu buat ‘Teman Tobucil’ …. hehehe ….”

Ternyata, Teman-teman, itu adalah hari terakhir Bu Tajil berjualan di Tobucil. “Udah mudik kali, ya …,” duga Tobuciler sedikit menyesal. Kalau memang mudik, kira-kira ke mana, ya? Dia punya anak atau tidak? Dengan hasil penjualan tajilnya, apakah dia bisa membawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah? Selain di Tobucil, apakah tajilnya cukup laku? Bagaimana perasaannya ketika mudik?

Tahu-tahu, lagu “Let the Music Heal Your Soul” membuat plesetan lanjutan di kepala Tobuciler,

“Let the mudik heal your soul, let the mudik take control, let the mudik give you the power to move any mountain …”

Tobuciler tersenyum sendiri. Semoga.

Mudik ke mana, Teman-teman ? Semoga sekembalinya nanti, kalian jadi cukup kuat menghadapi apapaun.

Jangan lupa kirimkan cerita mudikmu ke Tobucil ... (keterangan lebih lanjut klik di sini)

Salamatahari, semogaselaluhangat, semogaselalucerah,

Tobuciler

Google Twitter FaceBook

Resep Teh Herbal Lemon Madu

: menjadi alternatif minuman sehat di kala Lebaran

Di hari lebaran seperti ini, godan untuk minum minuman yang manis bisa membuat perut bermasalah. Salah satu minuman manis tapi sehat dan segar bisa menjadi alternatif minumansegar sehat. The Teh lemon madu herbal bisa menambah daya tahan tubuh dan bisa bikin badan terasa relax.. lagi pula ga butuh waktu lama untuk bikinnya... Minuman ini bisa jadi alternatif pengganti suplemen yang lebih alami dan lebih sehat.

Ingredients:
teh (celup) soal rasa tergantung selera
jeruk lemon
madu
es batu (jika ingin disajikan dingin)

Directions:
masukan teh celup dalam gelas
masukan peresan jeruk lemon
tambahkan madu
tuangkan air panas (setengah gelas jika disajikan dingin, setelah tambahkan es batu setengah gelas lagi)
aduk sampai teh, madu dan lemon sampai rata..

Google Twitter FaceBook

Bersama Desiyanti Ajah Menggosipkan Sayur dan Buah


Belakangan, Mbak Desyanti Ajah yang akrab dipanggil Echie sering berkunjung ke Tobucil. Pada suatu hari yang gerah, Tobuciler dan Mbak Echie yang penyiar Mustika 107.5 FM ini, duduk-duduk di bawah pohon besar di halaman Tobucil. Sekresek jambu di bawah umur yang ikut nangkring di sana, membawa kami pada obrolan yang sesegar buah-buahan …

Mbak Echie: Aduh, jangan ada jambu di antara kita …

Tobuciler : Hmmm … jambu. Apa pendapat Mbak Echie tentang jambu-jambu ini?

Mbak Echie : Ini paedofilia. Jambu-jambu ini harusnya belum dimakan. Harusnya dia masih mendapat asupan nutrisi dari ibunya. Nanti, kalau sudah matang, baru kita boleh membuat bumbu rujak dan mencolekkan jambu ini ke bumbu itu …

Tobuciler: Suka rujak, ya, Mbak?

Mbak Echie: Doyan.

Tobuciler: Apa yang Mbak Echie suka dari rujak?

Mbak Echie: Yang enak dari rujak … karena buah-buahan berubah rasanya jadi … rasa rujak … hehehehe … bisa manis, asin, pedas …

Tobuciler: Ngomong-ngomong soal pedas, menurut Mbak Echie, cabe itu sayur atau buah?

Mbak Echie: Secara biologis dia buah, tapi secara sosial dia sayur.

Tobuciler : Coba dijelaskan …

Mbak Echie: Yah … kalo dari ilmu biologi kan dia buah cabe. Tapi manusia cenderung membedakan itu. Dalam pemahaman sosial buah-buahan kan bisa dimakan begitu saja. Kalau sayur, dia harus dimakan dengan sesuatu. Cabe paling nggak harus dimakan dengan bala-bala. Eh … kamu tau, nggak, kalau cabe itu termasuk selebriti?

Tobuciler: Hah? Nicolas Cabe yang maen Adaptation itu maksudnya?

Mbak Echie: Bukan, cabe ini lebih beken daripada Beyonce, Jordan Sparks, atau Krisdayanti, soalnya mereka disebut-sebut di radio saban malam, ‘harga cabe keriting adalah …’

Tobuciler: Hahahaha … btw, Mbak, kalo gitu di radio udah pernah ngewawancara cabe, belom?

Mbak Echie: Nah, itu dia. Kayaknya appointment-nya harus dipersiapkan sedemikian rupa.

Tobuciler: Sayur ato buah apa yang paling pengen Mbak wawancarain?

Mbak Echie: Kalau sayur, paling pengen paprika, soalnya satu jenis warnanya kok lain-lain. Saya ingin tahu apa ada rasialisme di antara mereka. Kalau buah, saya kepingin ngewawancara kiwi. Saya kepingin tahu apa kiwi punya hubungan keluarga dengan burung kiwi …

Tobuciler: Hehehe … semoga suatu saat nanti cita-cita Mbak tercapai. Terus, Mbak, di Mustika Mbak Echie nyiarin apa, sih?

Mbak Echie: Acara request lagu-lagu barat, hari Senin sampai Sabtu jam 12.00-15.00 WIB.

Tobuciler: Ada buah dan sayur yang pernah nge-request, nggak?

Mbak Echie: Belum. Mungkin mereka nasionalis, kurang tahu lagu-lagu barat …

Tobuciler : Atau … karena nggak ada lagu barat yang representatif sama sayur dan buah kali …

Mbak Echie: Mungkin. Tapi lagu Indonesia yang tentang sayur dan buah juga apa, coba …?

Tobuciler: Ada, “Semangka Berdaun Sirih”-nya Rafika Duri.

Mbak Echie: Oh, iya. Sebenernya lagu barat juga ada, sih, lagu jazz lama gitu, judulnya “The Spinach Songs”.

Tobuciler: Kalo gitu mungkin masalah bahasa, Mbak. Mungkin sayur dan buah harus dididik lebih akrab sama Bahasa Inggris. Menurut Mbak Echie, cara ngedidiknya gimana?

Mbak Echie: Nah, itu yang sulitnya. Sebab para petani yang mengasuh sayur dan buah aja harus diperbaiki pendidikannya. Harus diperbaiki harkat hidupnya, agar lebih memperhatikan pendidikan sayur dan buah yang mereka asuh.

Tobuciler : Peran radio untuk mendidik petani, sayur, dan buah apa kira-kira?

Mbak Echie: Mungkin sebaiknya bukan cuma RRI yang menyiarkan tentang sayur dan buah. Nanti saya usulkan ke tim management Mustika FM, deh … eh … tapi saya kagum, lho, sama sayur dan buah. Soalnya meskipun harganya diumumkan turun atau naik, mereka nggak jadi minder atau sombong …

Tobuciler: Taunya dari mana?

Mbak Echie: Mereka tetep tumbuh dan tumbuh, nggak berkurang atau jual mahal mentang-mentang harganya udah turun atau naik …

Tobuciler: Hmmm … iya, ya … keren, keren …

Setelah puas tertawa-tawa, Mbak Echie berkata lagi, “Pokoknya, jangan ada jambu di antara kita …,” ujarnya seraya memindahkan kresek jambu dari hadapan kami. Tapi sebetulnya percuma juga. Wawancara sudah selesai. Dan si jambu … meski secara fisik kehadirannya antara ada dan tiada, dia dan keluarganya mengada dalam obrolan Tobuciler dan Mbak Echie.

Lihat di antaramu. Siapa yang mewujud seperti sekresek jambu itu … ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

Sekaleng Kenikmatan Semu


Gum, sebut saja seperti itu. Dia tinggal bersama teman-temannya di lorong jalan layang Kiara Condong, Bandung. Kadang pula ia mampir ke tepi rel kereta api Stasiun di seberang jalan layang. Kadang ia pula menggelosor di antara kaki-kaki kios jalanan.

Gum, tinggal sendiri dan lupa dimana orang tuanya hari ini. Lama sudah ia tidak berjumpa ibu yang melahirkannya. Tapi, ia tetap tinggal setia menunggu. Mimpinya, hanya satu; ibu datang menjemput.

”Naik pesawat. Nanti aku dijemput ibuku dengan pesawat,” ujarnya tenang.

Buk...sebongkah batu kecil mendarat di kepalanya. Tawa pun berderai dari teman-temannya yang mendengar. Apakah memang Gum sedang berkhayal tentang pesawat?

Ia masih duduk tenang. Kepalanya tertunduk. Ia naikkan kerah bajunya lalu mendongak lagi. Dari balik kausnya itulah gambaran pesawat dan ibunya datang. Sekaleng lem aibon, telah memberinya fantasi keyakinan tentang kegembiraan menaiki pesawat.

Bisa jadi memang ia tidak pernah naik pesawat. Bentuknya hanya pernah ia lihat melintas di balik awan. Saat ia tidur dan membekap kaleng ia melihat pesawat itu menjemput orang satu per satu dan membawanya terbang melintas langit.

Jika itu dikatakan mimpi, seharusnya ia bisa mewujudkannya. Mimpi yang sepatutnya bisa ia raih seperti yang dialami anak-anak seusia lainnya. Ia bisa saja naik pesawat itu jika ia tetap di rumah dan menjalankan kewajibannya sebagai anak; sekolah.

Tapi apa yang dipikirkan seperti itu jauh dari logika yang dikonstruksi saat ini. Gum cerminan generasi yang lahir dari kapitalisme rente. Ia harus berusaha sendiri. Inilah ciri manusia yang lahir setelah revolusi industri di Inggris. Kerja demi memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Setiap orang berlomba mencari penglebihan sehingga hidup akan lebih enjoy.

Orang yang tidak bekerja akan diberi senyum dan perkataan nyinyir; Pemalas. Apakah Gum seorang pemalas? Ibunya pun tidak tahu apa yang dilakukan Gum sekarang. Ia luntang-lantung mencari kapital. Ia digunakan untuk mengamen di tiap lampu merah.

Kadang di antara mobil yang memberinya receh, ada tangan kecil menjulurkan uang dari balik jendela mobil. Sang pemberi itu cantik dalam pakaian putih-merahnya. Gum tidak sekolah. Ia mesti kerja. Terus bekerja dan melupakan mimpi lain tentang sekolah. Mimpi lainnya ikut kandas, termasuk naik pesawat, ketika sekolah tak diselesaikan.

Tapi Gum masih ingin bermimpi. Tapi sekedar mimpi pisang goreng saja terlalu susah. Di jalan ia cukup kenyang dengan omelan, makian, dan cacian. Dalam kondisi sadar ia tidak mungkin melakukan aktivitas mimpinya.

Tubuhnya butuh rangsangan untuk relax. Sama seperti Roy Marten, artis Indonesia kenamaan, yang butuh psikotropika sekelas shabu untuk membuatnya relax dari dunia film.

Gum tidak punya modal sekelas Roy. Jadilah, cukuplah satu kaleng. Sekaleng kenikmatan yang dinilai Freud sebagai angan bawah sadar yang dipaksa bangkit. Bangkit karena akalnya sudah berhenti mimpi akibat beban kerja seorang yang bertumbuh.

Setidaknya, Gum, masih menjalani kata-kata Albert Camus untuk tetap bisa bermimpi. Dengan mimpi ia masih bisa hidup. Tapi, seberapa lama ia bisa hidup dalam arti harfiah? Mengutip Freud, kepenatan dan tekanan psikologis sudah bisa mematikan jiwanya sedari lama.

Tapi kualitas barang sekelas Roy dan sekelas Gum sama-sama hanya ingin meluapkan kesadaran yang terkekang. Hanya untuk melawan. Melawan siapa? Sistem sosial-ekonomi di sekitarya atau teman-teman yang melempari Gum dengan batu?

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab?

teks : Agus Rakasiwi
foto : Henri Ismail


Agus teh ?

Awalnya karena senewan melihat bapak anteng membaca koran di pagi hari. Saya pikir apa tidak ada kerjaan lain selain membaca kertas koran yang isinya tentang perang di Timur Tengah, Soeharto mendapat penghargaan swadaya beras, dan segala hal yang ditulis oleh seseorang bernama wartawan.
Awalnya saya dan bapak juga sering berebut remote TV. Bapak selalu ingin menonton ENGLISH NEWS SERVICE di TVRI, tapi saya mendesak diganti ke saluran serial Transformer.
Kami pun beradu mulut setiap hari. Untuk anak umur 7 tahun membaca koran dan menonton berita tidak rekreatif seperti kartun. Tapi bagi bapak itu menambah pengetahuannya.
Lalu saya bertanya,”Apa sih menariknya nonton berita dan baca koran?”
Lima belas tahun kemudian saya melakukan pula apa yang dilakukan bapak. Malas nonton sinetron dan memilih menonton berita.
Sekarang, saya memilih menjadi jurnalis lepas. Halaman koran yang biasanya saya isi, salah satunya, HU. Pikiran Rakyat Bandung, Jawa Barat. Sebelumnya saya pernah menjadi koresponden Kantor Berita Radio (KBR) 68H Jakarta, KBR Voice of Human Right, dan wartawan situs acehkita.
Saat ini berafiliasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB).



Kirimkan tulisan kalian tentang apa saja ke tobucil@gmail.com. Beri subject "papan tulis" dan sertakan profil singkatmu. Jika karyamu dimuat, kami akan mengabarkan melalui email. Ditunggu, yaaa ...
Google Twitter FaceBook

Reuni Akbar alias Reuni Apa Kabar


-Tobucil, Senin 22 September 2008-

Tiba-tiba tubuh Mas Andre menyusut dan membiru. Bukan hanya six packs, twelve packs mengotak-ngotak di perutnya. “Ada gosip apa lagi, nih ? Gimana di sana ?” tanyanya, masih dengan suara seriang dan seringan dulu. Kru Tobucil pun bergantian bercerita.

Baiklah. Makhluk biru berperut twelve packs itu sebetulnya hanya handphone yang di-loud speaker. Namun, suara Mas Andre yang diopernya membuat Mas Andre terasa begitu dekat dan kembali menyawai ruang belakang Tobucil.

Laras yang sudah lama tak menampakkan diri di kemungilan Tobucil pun hari itu datang bersama Dilla (pacar Laras). “Mas Andre sama Laras janjian, ya?” tanya Tobuciler. “Enggak. Kebetulan aja. Laras dateng, terus Andre telpon,” sahut Mbak Tarlen. Hmm … seperti sehati, ya?

Ruang belakang Tobucil jadi sentimental-sentimental meriah. Dua alumnus customer service yang hadir bersama membawa suasana nostalgia. Kangen-kangenan dan saling menanyakan kabar terjadi. “Sekarang aku kos,” cerita Laras yang mulai belajar hidup mandiri sambil merampungkan skripsi. “Cepet kelar, Ras, entar ke sini-sini lagi,” pesan segenap Kru Tobucil. Meski dengan wajah lelah, Laras mengangguk sungguh-sungguh sambil tersenyum.

“Mas Andre, entar pas Lebaran mudik, ya … main ke sini. Entar kita buat berita untuk ditulis di blog … hehehehe …,” pesan Tobuciler. “Yuuuu … siap, siap …,” sahut Mas Andre. Acara telpon menelpon pun selesai. Si makhluk biru twelve packs kembali beku tak bernyawa. Laras yang ditunggu Dilla juga pamit. Setelah berpeluk-pelukan hangat dengan kru yang masih bertugas, Laras meninggalkan kemungilan Tobucil.

Karena ini postingan nostalgia, mari kita tutup dengan lagu beraroma nostalgia juga,

“Selamat tinggal kasih, sampai kita jumpa lagi …

Aku pergi takkan lama,

Hanya sekejap saja, kuakan kembali lagi

Asalkan engkau tetap menanti ….”

Pergi Untuk Kembali – Diana Nasution

Google Twitter FaceBook

Putra Harapan Bangsa

-Tobucil, Rabu 24 September 2008-

“Nanti mau ada anak baru lagi,” kata Mbak Elin.

“Oh, ya? Dateng jam berapa?” tanya Tobuciler

“Jam dua.”

Ternyata, sebelum jam dua siang, teman bernama Putra yang sempat mengaku sebagai Desi itu sudah muncul. Pembawaannya riang dan bersemangat. “Saya harus ngapain, nih?” tanyanya segera. “Ngangkat kardus. Tapi nyantai ajalah, belum jam dua,” sahut Mbak Elin. “Sekarang ajalah …” ujarnya sambil langsung mengangkati kardus di ruang belakang Tobucil.

Tidak mudah mencari customer service yang seirama dengan ketobucilan. Dengan berat hati, Ratna Ningsih dan Raden Intan tidak berhasil diluluskan dalam masa training mereka. Itu sebabnya, Tobucil mencari pegawai baru.

Sehari setelah diinterview pada hari Selasa, Putra langsung dibertugaskan. “Sebenernya dia udah ngirim lamaran ke Tobucil dari dulu, dari sebelum Tobucil buka lowongan,” Mbak Tarlen menginformasikan. Ooo … kalau begitu, pantas dia bersemangat sekali, ya …

Reni tampak segera akrab dengan Putra. Dia terus mengintil dan memotret-motret Putra dengan handphone barunya. “Soalnya Si (niiiiit) nanya-nanyain Kak Putra terus, Kak, sebetulnya dia suka anak kelas dua SMP, sih, tapi dia nanyain ciri-ciri Kak Putra,” kata Reni yang juga punya kecengan di seputar Tobucil. Ahem.

Sebagai penangkap keseharian, Tobucil pun terus mengintil, memotret, dan mencatat keseharian Putra. Tahu-tahu Putra berkomentar, “Enak, ya, Teh, jadi wartawan, bisa moto-motoin orang. Saya kalo motoin orang ditamparin …”

“Hah? Masa, sih?” tanya Tobuciler tidak percaya.

“Beneran … di Taman Flexi …”

“Kok bisa ?”

“Iya, waktu itu dia lagi cipokan, terus gua foto pake blitz dan blitz-nya gede banget… terus gua ditamparin …”

Hiyaaaa !!!!

Meski pekerjaan bertumpuk, tumpukan semangat Putra tampak lebih tinggi lagi. Reni yang terus menyertai, jadi seperti Si Lampu yang selalu mengintil Lang Ling Lung …

Sundea




Google Twitter FaceBook

Tips-tips Berlebaran ala Kru Tobucil

Tips-tips mudik ala Kru Tobucil :

+ Bawalah content hiburan sendiri, jangan mendownload dari handphone karena MAHAL.

Contoh content hiburan bawaan sendiri: buku, alat merajut dan benang, kertas-kertas untuk dilipat, dvd portable, musik-musikan dari iPod, dan jangan lupa membawa baterai ekstra.

Tips mendownload ala Kru Tobucil:

Mendownloadlah di hari Lebaran karena koneksi internet akan CEPAT SEKALI.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan :

+Cooler pad laptop

+Makanan

+carilah koneksi internet unlimited dan GRATIS.

Tips memilih busana Lebaran ala Kru Tobucil:

Pilihlah pakaian yang rapi dan MATCHING






Model: teman-teman AJI menjelang buka puasa bersama Dede Yusuf

Tips memilih kerudung ala Kru Tobucil :

Jangan memilih warna hitam karena Anda akan tampak seperti Janda Itali.

Pilihlah warna-warna yang ceria :


dan … bagaimana kalau kamu merajut sendiri kerudungmu ? =p



Kisah tragis di balik kerudung hitam:

Mbak Elin merajut sendiri kerudung hitamnya yang luas dan cukup multi fungsi. “Ini udah dipake ke beberapa pemakaman, lho …,” ujar Mbak Elin. “Saya nggak ngerti, begitu kerudung ini selesai dirajut, orang-orang pada meninggal satu-satu …” JREENG … (lagu horor)

Berikut adalah foto fungsi-fungsi kerudung Mbak Elin :



Segenap Kru Tobucil

Google Twitter FaceBook

Buku Jihad Lipstik dan Pin Keren itu Lagi




Dapatkan pin karya-karya Agus Suwage dan R.E. Hartanto di tobucil seharga Rp. 10.000/pcs. Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan Tobucil & Klabs, Agus Suwage dan R.E. Hartanto mengizinkan tobucil & klabs untuk menggunakan karya-karya mereka sebagai merchandise tobucil & klabs. Selain itu, keuntungan dari setiap penjualan pin ini, digunakan untuk mendukung kegiatan komunitas yang ada di tobucl & klabs.

Kamu juga bisa juga memberikan dukungan dengan membeli merchandise ini...




Judul Buku : Jihad Lipstik

Pengarang : Azadeh Moaveni

Harga asli : Rp 62.100, 00

Harga Tobucil : Rp. 55.900,00

Aku lahir di California, di atas pangkuan masyarakat diaspora Iran yang berlumur nostalgia dan kerinduan kepada sebuah negeri bernama Iran yang beribu-ribu mil jauhnya. Karena dibesarkan dengan mitos pengasingan yang membingungkan, aku membayangkan diri sebagai putrid Persia yang terbuang dari negeri asal karena kekuatan gelap jahat yang disebut Revolusi. Aku meminjam plot itu dari Star Wars dengan keyakinan film ini menceritakan kisah Iran dan Ayatollah Khomeini adalah Darth Vader …

“Moaveni memiliki mata wartawan untuk menangkap pergulatan … dan ketangkasan penulis memoir untuk menemukan makna dan konflik internalnya sendiri.”
-Washington Post World Book-

“Memoar pencarian diri yang mengharukan … ditulis dengan indah dan menggelitik.”

-Atlanta Journal – Constitution-

Google Twitter FaceBook

... and your Positivity

“… and the world spins for you, and your positivity …”

Positivity-Suede

Minggu lalu, waktu naek angkot lewat Boromeus, Dea liat bapak-bapak berkursi roda yang nyusurin jalan sambil mangku anak perempuan berseragam SD. Meskipun cacat, bapak itu tampak bahagia-bahagia aja. Dia bisa ketawa-ketawa lepas sambil sesekali nunjuk dan ngejelasin ke anaknya apa yang mereka temuin di sepanjang jalan.

Si anak pun tampak nggak masalah. Karena bapaknya di kursi roda, dia malah bisa duduk nyaman dan nyandar santai di dada bapaknya. Dia juga bisa ketawa selepas bapaknya. Waktu bapaknya ngejelasin sesuatu, dia meratiin dengan saksama. Sesekali dia ngangguk-ngangguk sambil senyum.

Siang itu panas banget. Bulan puasa pula. Jalan lumayan macet dan kendaraan seperti kepengen susul-susulan dengan nggak sabarnya. Yang aneh, waktu ngeliat bapak-anak itu, dengan sendirinya mereka ngasih jalan. Beberapa orang di angkot bahkan otomatis senyum ngeliat kedua orang itu. “Itu emang anaknya, ya, Pak?” Dea nanya ke supir angkot. Sambil ikut ngeliatin bapak-anak itu lewat spion, Pak Supir ngangguk.

Begitu nyampe di Tobucil, Dea langsung cerita penuh semangat ke temen-temen di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). “Liat, deh, betapa orang cacat nggak difasilitasi. Mereka nggak dikasih trotoar atau bis untuk orang cacat sehingga mereka harus jalan di jalan biasa kayak gitu …,” komentar Mas Yunus, salah satu pengurus AJI. “Tapi mereka bahagia dan kebahagiaan mereka nular ke semua orang,” Dea bilang. “Tapi kan begitu aja. Orang-orang paling hanya bisa memberi jalan. Apa tindakan pemerintah untuk orang-orang seperti mereka …?” kata Mas Yunus lagi.

Hmmm. Iya, sih. Tapi yang hebat, bapak-anak itu nggak kalah sama tekanan apapun. Nggak sama kecacatan, nggak sama siang yang panas, nggak sama puasa (kalo mereka puasa), nggak sama jalanan yang macet, juga nggak sama fasilitas yang sangat minim. Mereka bukan pejuang semacem Sultan Hasanudin ato Cut Nyak Dien gitu, tapi jelas kalo mereka pejuang radikal yang menang ngelawan keadaan. Buktinya, orang-orang gahar di jalan pun tunduk sama aura positif yang mereka bawa.

Besok-besoknya, Dea jalan nyusurin Dago. Ceritanya Dea kepengen motret bapak-anak itu dan ngobrol sedikit sama mereka. Ternyata bapak-anak itu nggak pernah ada lagi, Temen-temen. Supir angkot pun nggak pada tau.

Dea sempet sedikit sedih dan kecewa. Tapi belakangan Dea sadar; cerita mereka mungkin harus jadi esei terbuka buat siapa aja.

Akhirnya Dea motret jalan Dagonya aja. Sekarang giliran kamu yang ngebuat cerita … ^_^

Sundea

Google Twitter FaceBook

Semacam Parsel-parsel Lebaran

Libur-libur di Tobucil :

1 - 5 Oktober 2008, libur Lebaran

29 September – 12 Oktober 2008, kegiatan Klabs libur.

Oleh-oleh Mudik:

Teman-teman dapat mengirimkan cerita dan foto-foto mudik teman-teman ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, dan beri subyek “oleh-oleh mudik”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil. Ditunggu, lhooo …

Papan Tulis

Teman-teman juga dapat mengirimkan tulisan teman-teman, tentang apa saja dan dengan gaya seperti apapun juga, ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, dan beri subyek “papan tulis”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

Fotobucil

Jika kebetulan berkunjung ke Tobucil dan menemukan obyek menarik untuk difoto, jangan ragu-ragu untuk memotret. Kirimkan karya teman-teman ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, beri subyek “fotobucil”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

(menarik nafas setelah mengulang menulis tiga pengumuman berformat sama … hehehe …)

Klab Melipat Kertas

Btw, Klab Melipat Kertas berpameran di Airplanesystm, lho … foto-foto karya mereka dimuat di ruang Klabs. Klik, deh di sini

Crafty Day

Kami baruuu … saja membuat asbak dari kaleng minuman. Berkunjung ke sini untuk melihat asbak dan cara membuatnya … =D

Google Twitter FaceBook

Sunday, September 21, 2008

Mistakes Happen

“Saya belum liat blog Tobucil minggu ini, lho, padahal pengen liat,” kata Mbak Elin

“Ya liat aja, sih, Mbak …,” sahut Tobuciler.

“Dari kemaren saya mau masuk nggak bisa aja. Lagi error kayaknya.”

“Oh, ya ? Di laptop aku mah bisa …”

“Hah? Masa’ ?”

Karena penasaran, Tobuciler dan Mbak Elin mengutak-atik komputer Tobucil. Melihat keripuhan kami, Mbak Tarlen pun ikut bergabung. Bertiga kami merefresh-refresh, menutup window, merefresh lagi, mencoba membuka situs lain lalu kembali ke blog Tobucil … tapi sia-sia. Tobuciler dan Mbak Tarlen menyerah. Kami kembali kepada pekerjaan masing-masing, sementara Mbak Elin masih terus berjuang.

Tiba-tiba tawa Mbak Elin meledak, “Huahahaha … pantes aja … !” “Kenapa ?” tanya Mbak Tarlen dan Tobuciler hampir bareng. “Siapa, sih, nih yang dari kemaren ngetik ? Tobucil blogsot. Jelas aja nggak bisa!” sahut Mbak Elin di tengah tawanya yang belum kering.

Mistakes happen. They could be funny enough to make you laugh, but could be hard enough to break you down. Apapun perasaan yang dia timbulkan, kejar pelajarannya dan …. TANGKAP ! (Hup!).

Psssst … teman-teman … pelajaran berharga berlalu-lalang di keseharian. Diam-diam, mereka terbang-terbang mengendarai kesalahan yang kita buat. Jangan biarkan mereka lewat begitu saja. Pasang kepekaan, latih ketangkasan, laluuu …. TANGKAP ! (Hup!)

Minggu ini, pelajaran apa saja yang sudah berhasil kita tangkap ?

Mari bermain tangkaptangkapan … ^_^

Salamatahari, semogaselaluhangat, semogaselalucerah…

Tobuciler


foto by Tarlen
Google Twitter FaceBook

Rika Febriyani : Teman dari Jakarta yang Berkonde Kartini

Belakangan ini, pada akhir minggu, Tobucil sering dikunjungi gadis berkonde. Bukan, dia bukan roh ibu Kartini yang mencari hiburan di kala weekend. Dia adalah Rika Febriyani, mahasiswa Islamic College for Advance Study yang mengambil jurusan filsafat Islam dan aktif di Forum Muda Paramadina. “Kampus lo di mana?” tanya Tobuciler. “Pondok Indah, Jakarta,” sahut Rika. Lho … ? Terus, kok, kosnya di Bandung … ?

Tobucil : Lo ke Bandung tiap minggu ?

Rika : Yah … nggak juga … palingan dua minggu sekali.

Tobucil: Ngapain lo kos di Bandung kalo kampus lo di Jakarta, Rik ?

Rika : Karena gua ingin sekali jadi bagian dari kota yang ramah dan ingin jalan kaki ke mana-mana.

Tobucil : Btw, kenapa lo nganggep Bandung kota yang ramah ?

Rika : Bandung itu ramah sama orang-orang yang adala di dalamnya karena udaranya lebih sejuk dan relatif lebih teduh daripada di Jakarta. Kita bisa jalan kaki ke mana-mana. Kalo di Jakarta kan orang-orang berlomba-lomba naik motor supaya cepet nyampe. Selain itu, di Bandung lebih banyak ruang terbuka untuk umum daripada di Jakarta; yang orang tidak harus membayar mahal untuk menjadi bagian di dalamnya. Tidak harus taman, bisa juga kayak Kineruku, atau kayak Tobucil …

Tobucil : Menurut lo, Tobucil itu tempat yang seperti apa ?

Rika : Kecil, tapi kayak di rumah.

Tobucil : Karena apa ?

Rika : Karena … karena ini kali, ya, karena letaknya kayak garasi dan waktu kecil, kalau di rumah, aku suka main di garasi.

Tobucil : Barusan kan lo liat-liat ke dalem Tobucil, tuh, kesan yang lo dapet apa ?

Rika : Kreatif.

Tobucil : Ada hubungannya, nggak, kreatif sama main-main di garasi ?

Rika : Garasi itu kan ruang yang kosong kalao ga ada mobil. Jadi kita harus melakukan sesuatu supaya si garasi itu bisa jadi tempat main. Garasi kan bukan taman kanak-kanak yang ada prosotannya, atau tempat main yang ada mainan yang kalau dikasih koin bisa gerak. Di garasi, untuk main kita harus punya ide.

Tobucil : Hmmm. Jadi lo ngerasa harus bisa ngelakuin sesuatu dan punya ide, dong, biar bisa main di Tobucil?

Rika : Kalau ngelakuin sesuatu … paling nulis. Tempatnya enak buat nulis dan banyak yang bisa dijadiin ide. Tapi sebenernya kadang gua ke sini untuk ngopi, ngerokok, dan mikirin yang enggak-enggak…

Tobucil : Hiyaaa … mikirin yang enggak-enggak … misalnya ?

Rika : Misalnya … kenapa, sih, Bandung kalau malem sepi ?

Tobucil : Itu mah pikiran yang iya-iya aja, bukan enggak-enggak, kali, Rik … hehehe …

Rika : Hehehe … iya, ya? Ya itu kali, sih, paling gua ke sini buat ngopi, ngerokok, atau untuk ngobrol.

Tobucil : Lo udah ngobrol sama siapa aja di sini ?

Rika : Kan banyak kalau di sini. Sama Syarif, Mas AJI (maksudnya adalah Mas Agus Rakasiwi-red), terus kan di sini banyak Klab. Sebenernya yang asik Klab Origami.

Tobucil : Udah pernah ikut ?

Rika: Belom.

Tobucil: Yaaaa … eh, Rik, ngomong-ngomong, kenapa, sih, rambut lo selalu dikonde ?

Rika : Emang keliatan konde banget, ya ?

Tobucil : Ho’oh.

Rika : Karena rambut gua panjang sekali dan gua ga terlalu suka ke salon. Gua juga nggak suka rambut gua diurai, tapi gua nggak suka rambut pendek. Gua ngerasa cocok aja sama sanggul. Satu : parktis, dua : gua biasa di Jakarta, kan gerah.

Tobucil : Sekarang kan udah di Bandung, jadi nggak terlalu gerah.

Rika : Rambut gua berat, tebal, dan banyak. Terus panjangnya sepinggang lebih, jadi kalau digerai kayaknya berat ke belakang, gitu …

Hmmm … iya, sih, kalau dibiarkan jatuh ke belakang, pasti dia akan berat ke belakang. Kalau dibiarkan jatuh jatuh ke depan, dia pasti akan berat ke depan. Kalau dibiarkan jatuh ke …

Eh … tapi siapa tahu rambut Rika berat dan jatuh karena ditindih irama kota Jakarta ? Jika Bandung meringankan Rika, bisa jadi dia juga meringankan rambutnya. Saat Rika menggerai rambutnya di Bandung, mungkin si rambut akan melayang-layang ringan, membuat Rika tak hanya berjalan tapi juga bisa terbang-terbang di seputar kota Bandung.

(membayangkan)

Kok malah jadi ngeri, ya ?

Sundea



Google Twitter FaceBook

KacaPIring dan PIn Keren

Dapatkan pin karya-karya Agus Suwage dan R.E. Hartanto di tobucil seharga Rp. 10.000/pcs. Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan Tobucil & Klabs, Agus Suwage dan R.E. Hartanto mengizinkan tobucil & klabs untuk menggunakan karya-karya mereka sebagai merchandise tobucil & klabs. Selain itu, keuntungan dari setiap penjualan pin ini, digunakan untuk mendukung kegiatan komunitas yang ada di tobucl & klabs.

Kamu juga bisa juga memberikan dukungan dengan membeli merchandise ini...










Judul buku : kacapiring

Pengarang : Danarto

Harga Asli : Rp. 19.500,00

Harga Tobucil : Rp. 16.000,00


Tiba-tiba Izrail lenyap digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah-ubah bentuknya, dari mawar, lalu melati, kemudian kenanga, lantas bunga matahari, lalu berubah lagi menjadi anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet, hijau, dan oranye. Kembang-kembang itu ukurannya lebih besar ketimbang manusia. Kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa.

… Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak berbatas, luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi ?

Kacapiring adalah karya terbaru Danarto dalam tujuh tahun terakhir. Cerpen-cerpen dalam buku ini membuktikan bahwa Danarto masih menjadi salah seorang yang terdepan dalam penulisan fiksi Indonesia.


Google Twitter FaceBook

Kacamata Baru

Rasanya kaya baru ganti kacamata baru, karena ukurannya berubah. Biasanya beberapa hari akan terasa 'kleyeng-kleyeng' kaya juling, karena mata perlu membiasakan diri dengan ukuran baru untuk bisa melihat dengan jelas dan nyaman. Apalagi kalo ada lonjakan ukuran, misal dari minus 1 langsung loncat jadi minus 3 dan pake tambahan silindris lagi..butuh penyesuaian yang rada lama sampai mata bisa nyaman dengan kacamata baru itu.

Memang yang dilihat jadi berubah ya? mungkin objek yang terlihat sebenernya sama aja. Cuma karena kacamatanya ukuran baru, hal-hal yang dulu ga terlihat jadi kelihatan dan jadi lebih jelas juga fokus. Cara ngeliatnya yang berubah dan ternyata untuk bisa mensinkronkan dengan pikiran juga butuh waktu. Semua objek yang kemudian jadi terlihat atau menjadi lebih jelas, butuh waktu buat pikiran mencernanya. Pertanyaan menjadi datang bertubi-tubi sebagai bagian dari mengenali lagi objek2 yang ga terlihat itu atau ga fokus sebelumnya. Kenapa gini, kenapa gitu? Kok dia disini ya? kok berantakan banget ya keliatannya? Kok langit jadi lebih indah ya? kok..? kok..? sampai akhirnya semua pertanyaan itu menghilang dengan sendirinya seiring dengan perasaan mata yang mulai nyaman dengan ukuran kacamata yang baru yang dan pikiran pun telah menyesuaikan dengan perubahan pengelihatan itu.

***


Setiap kepulangan dari sebuah perjalanan jauh dan penting, rasanya seperti memakai kacamata dengan ukuran yang baru itu. Semua terlihat berbeda. Bukan objeknya yang berubah, tapi kejelasan, kejernihan, ketajamanan dan fokus pengelihatan yang berubah. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan cara melihat yang baru itu. Jika kacamata berukuran baru itu menjadi ukuran yang tepat dengan kondisi mata kita sekarang, penyesuaian itu ga btutuh waktu yang terlalu lama. Merasa juling sebentar, kemudian setelah mata dan pikiran sinkron, perasaan nyaman segera muncul.

Namun ketika pengalaman perjalanan justru memberi kita ukuran kaca mata yang ga tepat dengan kondisi mata kita sekarang, bukan cuma merasa juling yang kita rasakan, tapi juga ketidak sinkronan yang cukup parah karena disertai dengan pusing dan mual. Rasanya ada yang mengganjal di mata. Semua yang dilihat jadi terasa ga nyaman terus menerus.

Makanya 'menemukan sebuah ukuran baru yang tepat untuk mata kita' setelah kepulangan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Semua pertanyaan yang muncul untuk membantu mengenali lagi objek dari cara pandang yang baru itu, menjadi panduan yang fleksibel sebagai proses sinkronisasi antara ukuran dan kondisi pengelihatan yang baru.

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu memang ga butuh jawaban yang sama sekali baru, karena pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan sama yang pernah kita tanyakan sebelumnya. Mungkin memang bukan jawaban yang kita cari, tapi hanya rasa yang berbeda ketika melihat kembali jawaban-jawaban yang sudah ada itu lewat kacamata berukuran baru itu. Lalu rasa itulah kemudian memperkaya rasa yang sudah ada.



Tarlen

artikel ini juga diposting di sini

Google Twitter FaceBook

Di Seni Senang, Di Sana Senang, Di Kritik Seni Hatiku Senang (?)

“Menikmati Karya Seni Hari Ini ?” Kenapa harus bertanya ? “Karena tidak semua orang bisa menikmati karya seni,” sahut Frino Baricianur Barus, kuncen beritaseni .com sekaligus project manager “Menikmati Karya Seni Hari Ini ?” , workshop reportase dan penulisan kritik seni yang diadakan di Selasar Sunaryo 12-14 September 2008 lalu.

Trio Macan (Jantan) dihadirkan untuk memperkenalkan dunia seni-menyeni dan tulis-menulis kepada peserta. Mereka adalah Heru Hikayat (kurator seni rupa), Mohammad Syafari Firdaus (kritikus teater), dan Septiawan Santana .K (akademisi jurnalistik). “Setelah bisa menikmati karya seni, kritik seni adalah tahap selanjutnya. Posisi (kritikus seni) ini sering dianggap tidak menyenangkan karena kesannya antagonis, tapi kan tetap harus diisi,” ungkap Mas Frino.

Ternyata memang, Teman-teman. Meski dengan malu-malu mengaku pernah membuat tulisan seni, tak satu peserta pun berani menyebut tulisannya sebagai kritik seni. “Saya cuma nulis pengalaman nonton,” ujar seorang peserta. “Tulisan saya baru sebatas reportase,” ujar peserta lainnya.

Kefrustrasian atas kondisi kesenian pun terasa benar. “Teater adalah seni pra-sejahtera!” ujar Mas Dauz saat menyupiri sesi “Membongkar Praktik-praktik Kritik Teater di Media Massa”. “Teater di Indonesia tidak mengalami perkembangan,” pendapat Yunis Kartika setelah menonton monolog yang dibawakan Hermana MT. Sementara, sesi “Pembahasan Perkembangan Seni Rupa di Indonesia” tuntunan Mas Heru Hikayat sunyi senyap seperti kota mati. Tak ada pertanyaan ataupun pernyataan dari peserta.

Workshop ini dipesertai empat puluh orang yang cukup beragam. Sekitar tujuh puluh persen di antaranya bahkan tak memiliki latar belakang seni secara formal. “Kita nggak nyangka sebanyak ini,” ujar Bowo, salah satu panitia. “Karena pesertanya banyak, waktunya hanya tiga hari, dan setiap sesi hanya satu jam, kita tidak sempat banyak latihan. Pembahasannya jadi general sekali,” pendapat Mas Dauz. Seiring dengan Mas Dauz, Mas Iman, salah satu peserta yang aktif di Jaringan Radio Komunitas, berkomentar, “Saya tidak mendapat banyak, itu kritik saya untuk acara ini. Mungkin karena ekspektasi saya berlebihan saja, ya …”

Selembar daun kering terbang-terbang tak tentu arah. Mendarat di tenda putih, persis di sebelah lokasi workshop. Ia terus merosot dan merosot. “Kalau sampai jatuh di paving block, kayaknya dia bakal keinjek. Bunyinya krek-krek-krek, abis itu terlupakan,” pikir Tobuciler. Ternyata tidak, Teman-teman. Permukaan tenda yang landai menahannya. Tobuciler tersenyum, membacanya sebagai pertanda baik.

Selembar angin kering terbang-terbang menentu arah. Bertiup tepat ke tenda dan menggiring daun terbang lebih tinggi. Tobuciler tersenyum, membacanya sebagai pertanda baik.

Menikmati karya seni hari ini ?

Sesungguhnya, banyaknya teman yang terlibat di workshop adalah jawaban.

Sundea

Lebih banyak cerita mengenai workshop ini


Google Twitter FaceBook

Senja Dramatis di Klab Nulis

-Tobucil, Senin 15 September 2008-

Klab Nulis

“…Rasul menyuruh kita, mencintai anak yatim …”

Rasul Menyuruh Kita – Trio Bimbo

Sore itu, ketika melintasi teman-teman Klab Nulis, Tobuciler sadar bahwa ….

“Ophan-nya nggak ada … ?”

“Tadi pergi, nggak tau ke mana …,” sahut Syarif.

“Jadi kalian sekarang yatim, dong …?”

Teman-teman Klab Nulis hanya mesem-mesem memprihatinkan.

Anak-anak yatim tentunya menimbulkan belas kasihan. Itu sebabnya, Tobuciler berinisiatif duduk di antara mereka untuk melipur lara. “Kalian lagi ngapain?” tanya Tobuciler. “Ngebahas sinopsis,” sahut mereka hampir bersamaan.

Sebagai tugas akhir, Papa Ophan menyuruh tiap anaknya membuat karya tulis. Sore itu, masing-masing mereka membawa sinopsis karyanya dan saling mengomentari dengan kompak. Dari antara lima “Klab Nulis” bersaudara yang hadir saat itu, ternyata Evie mengambil posisi sebagai anak sulung. Ketika mendapati Nilam tidak membawa sinopsis dan mengaku bingung membuat tulisan, dengan kekakakkan Evie membimbingnya. “Dari kata stress, apa yang kepikiran sama Nilam ?” tanya Evie sambil menggambar pola mind mapping di kertas. “Makin stress,” jawab Nilam lieur.

“Sebenernya ‘bokap’ kalian pergi ke mana, sih?” tanya Tobuciler lagi. “Nggak tau, nggak jelas. Tadi dia langsung pergi aja, ada barang yang kebawa temennya katanya, tapi … nggak tau juga,” sahut Evie. “Sebenernya emang udah dari September awal Evie diminta jadi asisten sama Ophan. Soalnya Ophan bakal sering ninggalin anak-anak karena ada kesibukan lain,” papar Evie. “Ooo ….,” teman-teman Klab Nulis yang ternyata baru paham keadaan mengangguk-angguk.

Begitu adzan berkumandang, peserta Klab Nulis yang berpuasa segera berbuka. Teman-teman yang merokok mulai sibuk mencari korek api. Syarif yang senantiasa bingung, hari itu pun tampak bingung mundar-mandir di kemungilan Tobucil. “Mas Agus punya korek, tapi yang nyalainnya harus sekaligus dua gitu …,” ujar Syarif akhirnya. “Evie bisa, kok, sini, mana koreknya,” Evie menawarkan bantuan.

Diiringi suara adzan, lima anak yatim berbuka puasa. Ayah yang pergi meninggalkan mereka belum kunjung kembali. Sang Kakak, yang utuh menghayati tanggung jawab kesulungannya, terampil menjadi gadis (penyala) korek api untuk adik yang ingin merokok.

Senja itu tampak dramatis seperti kisah sedih di tabloid Ibu-ibu. Di antara mereka, Tobuciler menjadi pengamat yang intim namun berjarak.

Sundea


Google Twitter FaceBook

Good Evening, Everyone, Let's Speak in English ...

-Tobucil, Jumat 19 September 2008-

Conversation Club

We live in a political world!”

Political World – Bob Dylan

… dan hari itu, Dylan yang tidak ber-Bob berkunjung ke Tobucil. Bukan untuk menyanyi, tapi untuk me-native speaker-i teman-teman di English Club. “I have received a lot from Indonesia. And now, I’m trying to give something back to Indonesia,” ujar profesor dari Kanada tersebut.

Obrolan yang dibiarkan mengalir ternyata bermuara pada masalah-masalah politik. Berbicara mengenai demokrasi, jurnalisme, dan kebenaran, Mbak Tarlen mengungkapkan euphoria jurnalis di Indonesia pasca-reformasi, “They talk about anything without responsibility.” Mbak Tia menambahkan dengan jengkel, “It (reformasi) has been ten years left, so it isn’t new anymore. It becomes a habit!”

English Club sore itu pun berbicara mengenai pengadilan. Dengan penuh kegeraman, teman-teman dari Indonesia memaparkan kekaburan hukum, ketidaksadaran masyarakat akan hak-hak mereka, dan kekuatan “money politic” di Indonesia. Dylan lalu berbagi cerita tentang “money politic” di negaranya, “In America, corruption sometimes mentioned as ‘influence’. Obama much better than McCain, but the influence of business is so strong.”

Menurut Dylan, kuasa di Amerika dipegang oleh perusahaan yang banyak memberi donasi dan lapangan pekerjaan. Hmmm … tahu-tahu Tobuciler teringat Montgomery Burns di film “The Simpsons” …

“America claim itself as the most democratic country in the world. Do you think so?” Dylan melempar pertanyaan. “No! Racisms are anywhere!” Mbak Tia langsung tidak setuju. “But at least American people are more lucky because they are protected with rules,” Mbak Tarlen berpendapat. “The most important thing is education. We have to educate people,” ujar Pram yang punya ibu seorang guru. “People must understand their rights,” kata Mbak Tarlen lagi.

Sebetulnya apa, sih, esensi demokrasi ? Do we really need it actually?

Cuplikan “Union Sundown”-nya Bob Dylan menjawab pertanyaan yang mengambang di udara, “Democracy don’t rule the world, you’d better get that in your head …”

Sundea

Google Twitter FaceBook

Union Sundown

-Tobucil, Sabtu 20 September 2008-


Well, my shoes, they come from Singapore,

My flashlight's from Taiwan,

My tablecloth's from Malaysia,

My belt buckle's from the Amazon.

You know, this shirt I wear comes from the Philippines

And the car I drive is a Chevrolet,

It was put together down in Argentina

Union Sundown –Bob Dylan

Kira-kira seperti itulah suasana Tobucil setelah matahari terbenam, malam minggu lalu. Klab Nulis dari hari Senin, Madrasah Filsafat dari hari Rabu, Langit Inspirasi dari hari Kamis, Klab Melipat Kertas, Merajut, dan Klasik dari akhir pekan, serta AJI dan Kru Tobucil dari setiap hari, berkumpul di hari Sabtu. “Acara ini diadakan untuk saling berkenalan. Jadi, silakan mencari teman baru,” kata Mbak Tarlen dalam sambutannya.

Teman-teman yang selama ini disekat hari pun segera lebur. Sambil menyantap hidangan buka puasa yang disediakan, keakraban dibangun. Enna, customer service terbaru di Tobucil, segera akrab dengan Mbak Echie dari madrasah filsafat. Mbak Fetty dari Klab Nulis segera terlibat obrolan hangat dengan teman-teman dari Langit Inspirasi.

Kolaborasi berkesenian pun terjadi secara spontan. Ketika Afifa bermain biola, sayup terdengar Mas Dauz dari madrasah filsafat mengiringi dengan puisi. Ophan dari Klab Nulis dan Harish dari Klab Klasik pun mendadak mesra. Berdua mereka menggitar sambil menyanyi dan melawak-lawak. “Urang mah embung nga-band bareng mereka (saya, sih, nggak mau main band bareng mereka),” ujar Chris kepada Syarif. “Urang ‘ge embung ngaben didieu. Panas. (saya juga nggak mau ngaben di sini. Panas),” sahut Syarif. Dhierrr !

Di antara suasana mensana in corporesano tersebut, teman yang seharusnya dirayakan ulangtahunnya muncul kurang sehat. “Gua lagi diare dan muntah-muntah,” kata Wiku yang mengenakan syal tebal dan sweater. Setelah duduk-duduk sebentar, Wiku segera pulang lagi ke Margahayu.

Mas Andre yang sekarang bekerja di Jakarta pun mendapat tugas mendadak. Terpaksa dia membatalkan niatnya untuk berbuka puasa dan merayakan ulang tahun dengan teman-teman di Tobucil.

Walau bagaimanapun kami percaya; Mas Andre dari Jakarta, Wiku dari Margahayu, teman-teman dari Tobucil, semuanya disatukan oleh kehangatan yang sama. Semuanya diamati oleh matahari tenggelam yang sama.

Sundea



Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin