Sunday, October 26, 2008

Merah, Kuning, Hijau di Langit yang Biru

“…di tanganku matahari bisa biru …”
-Senangnya Jadi Anak, soundtrack Bobo-

Minggu ini, blog Tobucil penuh warna biru. Ruang resital bernuansa biru, teman dari Belanda yang bermata biru, gerobak bakso malang berwarna biru, sederet.com ber-template biru, sampai kisah langit biru dalam Salamatahari.

Biru dekat dengan kesan sentimental. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal istilah “haru biru”. Dalam bahasa Inggris pun “blue” sering digunakan untuk menggambarkan kesedihan. Biru adalah warna sahaja. Seperti seorang melankolik sejati, ia pengamat yang diam-diam.

Biru pengalah, namun punya nuansa. Keuniversalannya membuat ia kerap dipilih melatari berbagai warna. Disadari ataupun tak, biru ada di mana-mana. Seperti seorang melankolik sejati, ia pemberi pengaruh yang diam-diam.

Berdiri di depan kadang-kadang melelahkan. Mungkin ada saatnya sekali waktu kita mundur sejenak dan menjadi warna biru.

Salamatahari, Teman-teman …

Semoga biru kami meneduhkanmu sepanjang minggu …

Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Valeo yang Paedophilia

Teman-teman yang suka menonton “Si Unyil” versi 80an, tentu ingat pada Pak Ableh. Tokoh ini kerap nongkrong-nongkrong di pos ronda bersama karibnya, Pak Ogah. Ketika melihat Valeo,anggota Klab Majaemen Seni Pertunjukkan, Tobucil teringat pada tokoh legendaris tersebut. Apanya … ? Ehm. Don’t you see …?



Valeo : (menatap gadis-gadis pembawa majalah Orders) … Ah, tapi masih kecil …

Tobucil : Itu udah mahasiswa, Val, anak-anak Unpar …

Valeo : Oh … tapi paling angkatan baru, ya … ?

Tobucil : Nggak tau juga, sih … emang lo angkatan berapa ?

Valeo : 2002.

Tobucil : Di mana ?

Valeo : STSI. Sebenernya gua kepengen ke dokter …

Tobucil : Lho ? Lo sakit apa ?

Valeo : Enggak, maksudnya mo ke kedokteran, pengen jadi dokter kandungan. Lo mau tau, nggak, kenapa gua pengen jadi dokter kandungan ?

Tobucil : Kenapa ?

Valeo : Gua liat di tv, ada cewek di perempatan. Dia nggak bisa bayar rumah sakit, jadi dia pergi terus ngelahirin di perempatan, terus bayinya meninggal pas dia ngelahirin di situ.

Tobucil : Ya ampuuun … sedih banget …

Valeo : Iya, tapi, gua nggak masuk ke kedokteran. Sebelum masuk STSI ini gua sempet kerja dulu.

Tobucil : Di rumah sakit ?

Valeo : Bukan, bagian instalasi listrik di BSM.

Tobucil : Yeee … gua kirain …

Valeo : Gua udah mulai kerja dari SD. Pernah jadi tukang parkir, ngambil bola tenis , jadi baby sister …

Tobucil : Baby sister gimana ? Baby brother, kali, elu kan cowok!

Valeo : Eh, bener, gua sempet jadi baby sister …

Tobucil: Baby sitter …

Valeo : Oh, iya, ya … ? Hehehe … tau, nggak pas gua jadi baby sister (tetep sister-red), anak yang gua asuh kelas 6 SD. Sayanya kelas 2 SMP. Begitu dia masuk SMP, dia pacaran sama saya …

Tobucil : Hahahaha … pengijon lu, Val … udah diincer dari SD gitu …

Valeo : Dianya, kok, yang nyatain, saya nggak pernah nyatain. Pacarannya juga cuma 6 bulan. Soalnya tetangga, jadi nggak jadi.

Tobucil : Emangnya kalo tetangga kenapa ?

Valeo : Nggak tau. Sama yang bener-bener kelas 6 SD juga saya pernah, kok, pacaran, waktu itu sayanya SMA. Kalo yang itu pacarannya lama, sampe dianya SMA.

Tobucil : Buset! Terus putusnya kenapa ?

Valeo : Orangtua, soalnya umurnya terlalu jauh. Sebelumnya saya sama dia pacarannya backstreet. Saya mah pacaran selalu sama anak sekolah. Bukan karena saya suka sama daun muda, bukan, merekanya yang pada ngedeketin. Temen gua ada yang pernah bilang, “lo mukanya jelek, rambut gondrong, baju nggak pernah bener. Tapi punya pacar gareulis wae (cantik-cantik aja). Kok bisa ?” Terus saya mah cuma bilang, “ Yang penting hati dan kedewasaan …”

Tobucil : Hahahaha … ya iyalah kedewasaan … secara yang lo pacarin anak-anak semua. Huuu … sok-sok nganggep cewek yang lewat tadi masih kecil, padahal pacar lo lebih kecil-kecil lagi …

Valeo : Bukannya saya suka daun muda, bukan, tapi yang masih muda itu biasanya asik …

Tobucil : Hehehe … itu mah namanya elu emang suka daun muda, Valeoooo …

Valeo : Iya, ya …? (tampak bingung dengan pernyataannya sendiri) Ya … abis yang sepantaran atau lebih tua biasanya bawaannya lebih serius. Lagian saya takutnya disuruh kawin. Saya sukanya anak SMP. Sekarang juga ada (yang lagi pacaran sama saya), anak SMP.

Tobucil : SMP mana ?

Valeo : Wah, jangan, itu mah gawat, dong … eh, ini teh diwawancara mau buat apa, sih ?

Tobucil : Mau gua masukin blog.

Valeo : Nanti … banyak yang baca, dong … ?

Tobucil : Ya iyalah …

Valeo : (tampak panik) Aduh, gawat …

Bruk ! Valeo menjatuhkan kepalanya di meja. Sementara itu Tobuciler terkekeh-kekeh licik seperti nenek sihir yang sering hadir di cerita “Si Unyil”.

Miii, re, do, re, mi re-reeee ….(nada lagu “Si Unyil”) Sampai di sini dulu, Teman-teman … Merdeka!

Sundea


Google Twitter FaceBook

Andrea Hirata ???


Lantaran Laskar Pelangi meledak di bioskop-bioskop (untung tidak memakan korban jiwa), saya jadi ingat sebuah peristiwa kecil yang membuat saya menyesal.

Siang di bulan puasa tahun 2006 itu, saya dan seorang teman sedang mencari buku di bibliothèque (perpustakaan) CCF untuk keperluan tugas. Saat sedang pusing-pusingnya mencari buku, ditambah jet lag karena habis dicekoki soal-soal ujian tengah semester, seseorang menghampiri kami.

“Mbak, Mbak,” panggilnya. Kami menoleh dan agak terkejut waktu melihatnya. Seorang lelaki berambut ikal agak gondrong dan mengenakan kaos (yang menurut saya tampak belel). Kami tidak tahu siapa ia. Kami tak pernah melihatnya di CCF. Lantas kami berpikir, siapa ia? Mungkin karena waktu itu penerangan di perpustakaan CCF tidak begitu bagus, kami sempat mengira orang itu hantu penunggu CCF. Atau yah, yang agak mendingan: salah seorang OB tempat itu.

“Ya?” tanya saya sambil bengong. Teman saya pun tak kalah bengongnya. Siapa orang ini? Ada perlu apa? Begitu pikir kami.
“Ada launching buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Bukunya udah ada di Gramedia. Mbak mau datang nggak?” tanya lelaki itu.
Saya dan teman saya tak segera menjawab. Pikiran kami disibukkan dengan pertanyaan: buku apaan tuh? Siapa Andrea Hirata? Orang ini siapa? Kenapa kami yang diundang?
“Di mana? Kapan?” Kami penasaran.
Orang itu lantas memberitahu tempat dan waktunya. Saya lupa persisnya, tapi kira-kira di daerah Dipati Ukur bulan Desember.
“Kalau mau, undangannya saya kirim lewat e-mail. Gimana?”
Belum juga kami mengatakan mau atau tidaknya datang ke acara itu, orang itu sudah menawarkan kebaikan. Terkesan agak memaksa sih. Tapi, undangan dikirim lewat e-mail? Terkesan tidak resmi, tapi cara itu memang praktis.
Akhirnya kami mengangguk. Berhubung saya jarang membuka e-mail, maka teman saya memberikan alamat e-mail-nya pada orang itu, yang tetap kami tidak tahu siapa. Bodohnya, kami sendiri tidak menanyakan hal itu langsung padanya.

Orang itu lalu pamit. Entah mencari mangsa lain, entah ke mana. Kami tidak lagi peduli dengan orang itu. Tugas menanti untuk dikerjakan. Tapi saya berniat, sepulang dari CCF saya akan mampir dulu ke Gramedia. Tinggal lompat pagar.

Saya tidak ingat wajah lelaki mencurigakan tadi. Sewaktu mau naik ke lantai paling atas, di tangga saya berpapasan dengan seorang lelaki berambut ikal agak gondrong dan mengenakan kaos (yang menurut saya tampak belel). Ia menyunggingkan senyum pada saya. Sembari berpikir, berusaha mengingat-ingat orang itu, saya pun membalas senyumnya. Takutnya saya kenal orang itu, dan kalau saya cuek, nanti dikira sombong. Sampai akhirnya, begitu sampai di lantai atas, saya baru ingat, orang itu adalah lelaki mencurigakan di CCF tadi. Oh, betapa parahnya amnesia saya!

Di lantai atas itu, saya cari novel Laskar Pelangi. Tidak ada. Orang itu pembohong, begitu pikir saya waktu itu. Dan saya semakin curiga, jangan-jangan undangan itu juga palsu.

Beberapa minggu kemudian, saya kembali mengunjungi Gramedia. Sekadar iseng, melihat-lihat buku. Dan seperti biasa, saya langsung ke lantai atas tempat novel-novel dipajang. Begitu sampai, mata saya langsung tertuju pada sebuah buku dengan judul yang pernah saya dengar sebelumnya: Laskar Pelangi. A-ha! Buku itu ada, rupanya. Orang itu tidak bohong.
Dan sewaktu saya melihat sampul belakang, terkejutlah saya. Foto sang pengarang di sampul itu… Andrea Hirata???

Karena parahnya amnesia saya, saya tidak tahu apakah lelaki dalam foto itu sama dengan lelaki yang mencurigakan, yang berambut ikal agak gondrong dan mengenakan kaos (yang menurut saya tampak belel), yang menghampiri saya dan teman saya di CCF? Kalau benar, berarti saya sudah bertemu dengan penulis buku ini. Dan membaca beberapa komentar pakar, saya sedikit menyesal. Apalagi setelah cerita tersebut dibuat film dan sukses. Kenapa dulu saya tidak datang ke launching bukunya? Teman saya pun terlambat membuka e-mail. Ia juga tampak menyesal sewaktu melihat foto Andrea Hirata.

“Ini kan orang yang nyamperin kita dulu?”



Rie-Yanti

Rie Yanti, lahir di Bandung, 21 Juni 1984. Suka baca dan nulis. Baca apa aja dan nulis apa aja. Suka ngelamun juga. Makanya pengen jadi penulis. Rajin nulis cerpen dan dipajang di website (www.ploe.freezoka.com), atau nebeng dibuat e-book di www.warungfiksi.wordpress.com. Selain ngefans sama karya-karya Andrea Hirata, Rie juga suka karya-karya Dewi “Dee” Lestari dan Jujur Prananto. Cita-cita luhurnya: pengen bikin novel kayak “Le Petit Prince” (Pangeran Kecil) dan jadi juru dongeng buat anak-anak.


Google Twitter FaceBook

Pelayanan

oleh : Budiernanto

Saya mudik ke Bandung. Entah itu bisa dikatakan mudik atau tidak. Yang pasti saya bersilaturahmi di Bandung. Bandung ketika lebaran sudah pasti penuh, jumlah manusianya bertambah dalam waktu sekejap. Bagi saya Bandung adalah kota biasa, suasananya tak jauh berbeda dengan kota lainnya.

Kota Kembang, ya Kota Kembang adalah sebutan lain untuk Bandung. Tepatnya karena dulu Bandung begitu penuh dengan kembang. Bandung dulu begitu sepi, masih dingin, belum berpolusi, belum dilirik oleh manusia yang haus akan uang.

Tahukah Anda, bahwa plat kendaraan yang awalnya bertuliskan huruf B adalah kendaraan dari Jakarta? Yang ngga tahu berarti SIM-nya nembak!!! Nah, Bandung sekarang dipenuhi oleh kendaraan yang khususnya mobil ber-plat B. Penuh sekali! Bahkan kota sekecil Bandung pun bisa macet, walah?! Tidak heran sekarang Bandung menjadi pusat mode, begitu banyak kawasan pemukiman alias residence berubah penampilan menjadi factory outlet.

Lebih baik Bandung ditanami lagi dengan kembang, biar kembali menjadi kota kembang.
Itu ucapan enyak saya yang menimpali ucapan saya saat saya mengeluh dengan macetnya Bandung saat ini. Saya sering bertanya dalam hati, apa sih bangganya punya rumah di Bandung? Apa sih bangganya beli baju di Bandung? Apa sih bangganya pergi ke Bandung yang cuma sekali pergi terus langsung pulang? Sebenarnya pertanyaan itu langsung bisa terjawab oleh saya sendiri.

Namun Bandung masih lebih baik daripada Jakarta. Saya sangat menyukai pedestrian, dan saya bisa menemuinya di Bandung. Trotoar begitu baik untuk pejalan kaki seperti saya, yang mampu membuat saya berinteraksi dengan manusia lain tanpa dipisahi dengan jendela kaca yang memantulkan bayangan saya sendiri. Kata tante Wiki, trotoar itu jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang bersangkutan. Di Jakarta, saya pernah memprotes pengendara motor yang melintas di trotoar, namun saya tidak berani protes saat bapak Polisi yang aneh ikut-ikutan melintas.

Walaupun trotoar di Bandung terkadang membuat saya menggeleng-gelengkan kepala, saya masih suka berjalan-jalan di trotoar Bandung. Trotoar di Bandung itu masuk kategori aneh bin dableg! Pohon ditanam di tengah-tengah trotoar, lebarnya hanya bisa untuk dua orang berjalan beriringan, dijadikan tempat parkir, di tengahnya ada tiang listrik, dibuat pot bunga.

Namun sekali lagi, saya suka berjalan-jalan di Bandung. Itulah saya, yang bangga berjalan-jalan di trotoar Bandung, tapi kadang-kadang doang sih, soalnya saya suka males jalan kaki, hehehe.. Oh iya, gambar dari sini


Budernanto

Saya bernama Budi Ernanto, masih mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Nasional angkatan 2006. Hobi saya membaca buku yang bagus, mulai dari komik sampai buku literatur. Koran pun saya baca, apalagi majalah. Papan pengumuman, mading di SMA atau SMP, spanduk, poster, bahkan sebuah blog juga saya baca. Tapi hobi saya bukan cuma membaca, saya suka nonton, olah raga, tidur, dan ketawa.

Pertama kali lahir di dunia ini pada tahun 1988 dan itu yang pertama dan yang terakhir, soalnya saya ngga percaya sama yang namanya reinkarnasi. TK di Lampung, SD sampai kelas 4 caturwulan pertama di Lampung juga, SD lanjutan di Jakarta, SMP juga di Jakarta, serta menempuh SMA selama 3 tahun juga di Jakarta, bahkan menjadi mahasiswa demi mencari gelar sarjana pun di Jakarta (sigh, bored).
Itu saja perkenalannya…

untuk melihat versi lengkap tulisan ini, klik di sini

Google Twitter FaceBook

Tamu yang Biru-biru

-Tobucil, Senin 20 Oktober 2008-

Pada suatu siang, Tobucil dikunjungi oleh perempuan berbaju biru, bermata biru, dan berbendera negara merah-putih-biru.

Namanya Rosa Verhoeve. Dia datang untuk berbagi cerita tentang “Photo’s Story”. “Saya ingin memasukkan unsur personal pada foto-foto jurnalistik. Spesialisasi saya adalah sentuhan personal tersebut, refleksi realitas, ” ungkap Rosa yang bekerja dengan Medicine Sans Frontiers (MSF).

Rosa kemudian membagi pengalamannya memotret pasien di Rumah Sakit Sudan. “Sebelum mulai memotret, saya bertanya pada diri saya sendiri, ‘siapa orang-orang ini?’ Dari sana, saya mulai berkenalan dengan obyek saya dan membangun sesuatu yang personal dengan mereka. Konsep foto juga penting, sebab konsep menunjukkan bagaimana kita berhubungan dengan obyek foto,” papar Rosa dalam bahasa Inggris, yang kemudian diterjemahkan oleh Hendri Ismail, seorang fotografer lepas yang juga membuat foto-foto jurnalistik bersentuhan personal.

Teman-teman yang hadir pun diberi kesempatan menunjukkan karya mereka. Dengan lugas apa adanya, Rosa mengomentari foto teman-teman. “Saya kurang suka foto ‘tipuan’ menurut saya itu terlalu mudah dan berlebihan,” ujarnya menanggapi Dolly yang banyak membuat foto eksperimental dengan phosotshop. “Tapi saya suka bagian ini,” katanya sambil menunjuk gambar kota yang terselip di antara gambar kayu yang terbelah pada foto Dolly.

“Di zaman yang serba instant ini, fotografer jadi susah memasuki dan menemukan cerita lengkap dari obyeknya,” kata Rosa tanpa menjadi pesimistis. “Hari ini betul-betul sekedar perkenalan. Saya akan kembali lagi ke Indonesia dan kita akan membuat sesuatu yang lebih konkret,” janjinya.

Perempuan berbaju biru, bermata biru, dan berbendera negara merah-putih biru itu meninggalkan Tobucil.

Dijejakkannya sebuah semangat baru: di bawah langit biru, banyak hal yang butuh kau sentuh dengan sepenuh …



foto karya Rosa dapat dilihat di sini


Sundea


Google Twitter FaceBook

Suratan Takdir Syarif dan Nilam


-Tobucil, Senin 20 Oktober 2008-

Klab Nulis

Gerobak biru bakso malang terparkir di halaman Tobucil. Tidak jauh dari sana, Syarif dan Nilam yang membiru dan merasa malang mempersiapkan diri menghadapi sidang Klab Nulis. “Pas sidang (skripsi) gua aja gua nggak setegang ini,” Nilam mengaku. “Itu penguji-penguji lagi pada ngapain, sih? Jangan-jangan ngomongin kita,” Syarif melirik parno ke arah Mbak Anjar dan Mas Paskalis yang sedang membaca karya Syarif dan Nilam sambil makan bakso malang.

Hari itu, sidang perdana Klab Nulis dilaksanakan. Suratan takdir menunjuk Syarif dan Nilam sebagai penampil perdana. Syarif menulis cerpen filosofis bertajuk “TGIF” alias “Thank God It’s Friday”. Dengan latar rutinitas kerja, Syarif mempertanyakan makna keterasingan dan kesadaran. Meski sempat mencapai sebuah kesadaran, di akhir cerita, Marah, si tokoh utama, kembali membenamkan dirinya dalam rutinitas. “Merenung itu mengerikan,” simpul Marah. “Saya berencana, di endingnya, Marah sadar kemudian hidup bebas. Tapi ketika ditulis, tokoh saya seperti menceritakan dirinya sendiri dan saya hanya mengikuti. Terdengar ilusif, tapi memang seperti itu,” papar Syarif di tengah presentasinya.

Nilam menulis cerpen bernafas anak-anak. Judulnya “Doa Matahari dan Bumi”. “Tadinya saya mau bikin novel grafis,” kata Nilam.

Melalui cerpennya yang personifikatif, Nilam bercerita tentang kerusakan lingkungan. Pohon, bunga, dan benda-benda alam lainnya digambarkan hidup dan bisa marah serta berkeluh kesah. “Tapi tetap ada harapan, kata ‘doa’ di judulnya maksudnya ke situ,” ujar Nilam optimis.

Mbak Anjar dan Mas Paskalis menyampaikan kritik dan saran secara obyektif. Mulai dari masalah logika cerita, sampai tata bahasa. Sebagai penulis yang telah malang melintang di dunia media, Mbak Anjar dapat dengan jeli menangkap kelebihan dan kekurangan dalam cerpen Syarif dan Nilam. Mas Paskalis yang berpengalaman mengajar pun tahu betul bagaimana membaca secara cermat dan menyampaikan koreksi dengan tepat.

“Kedua cerpen ini temanya berani berbeda, penggambarannya juga menarik,” kata Mas Paskalis sebelum menutup sidang. “Jangan berhenti menulis,” tambah Mbak Anjar memberi dukungan.


Hari bersejarah itu hampir ber-ending happy sampai Wiku sang koordinator klabs tahu-tahu menceletuk, “… dan untuk Syarif, mohon melunasi pembayaran Klab Nulis, sebab Syarif belum membayar sedikit pun … “

Sound effect lenong yang ilusif pun menghajar udara :

“TAK JEDES !!!!”

Sundea







Nilam dan Syarif


Google Twitter FaceBook

Ketika Agus Rakasiwi Mencontek


-Tobucil, Jumat 24 Oktober 2008-

Conversation Club

“So, what the topic for today?” tanya Mbak Tarlen sebelum memulai conversation club. “It’s up to you. But I will love to hear about Indonesia,” sahut Dylan, native speaker kami. Serentak seluruh peserta menoleh pada Mas Agus Rakasiwi yang ketua AJI. “Gus, apa topik menarik minggu-minggu ini ?” tanya Mbak Tarlen. Ketika diminta menjawab dengan bahasa Inggris, butiran keringat sebesar kelereng mengalir di dahi dan leher Mas Agus. Tanggapannya pun tampak kegagu-gaguan, “A…ae … eu …hahahahaha …”

Singkat cerita, meski dengan susah payah, akhirnya Mas Agus berhasil menjelaskan, “It’s about welfare and professionalism.” Dia bertutur tentang jurnalis di Indonesia yang dibayar sangat rendah. Akibatnya, mereka tidak dapat memberikan informasi maksimal kepada publik. Pembicaraan pun berkembang ke arah tenaga kerja “blue collar” di Indonesia, UMR Bandung yang hanya Rp.900.000,00 per bulan, dan masyarakat yang sudah dapat dianggap menengah ke atas dengan penghasilan RP.20.000,00 saja per hari.

Sementara conversation terus berlangsung, Mas Agus yang duduk di sebelah Tobuciler buru-buru mengakses kamus online. “Ih … gitu dia …,” reaksi Tobuciler. Mas Agus hanya menyeringai khas. Selanjutnya, ia jadi cukup aktif dalam percakapan, meskipun kadang tersendat karena harus menanti contekan dari sederet.com.

“In America, people expect a lot. So, they always spend more than what they have. That is why they always think they are underpaid,” cerita Dylan. “One of my friend is … miskin … what is miskin …,” Mas Agus kembali sibuk mencari contekan, “… eu …he doesn’t work, but he can play billiard, go to café …,” akhirnya Mas Agus melanjutkan sendiri. “Did your friend borrow money?” tanya Dylan. “I think … yes …I think he is … gali lubang tutup lubang …,” sahut Mas Agus. Dylan tampak kebingungan.

Kami pun menjelaskan makna “gali lubang tutup lubang” tersebut pada Dylan. “Oh. We have that idiom too in America,” ujar Dylan setelah paham, “We say that as ‘you borrow from Peter to pay Paul’.” Tiba-tiba Mas Agus menceletuk absurd, “Paul is better than hole … kan hole lubang …” TAK JEDES! (:sound effect lenong).

Sepulangnya Dylan, Mas Agus curhat, “Kenapa, ya, urang teh bahasa Inggris suka lancar suka enggak? Kemaren waktu sama Rosa urang lancar pisan. Iya kan …?” Mas Agus menoleh pada Tobuciler. Tobuciler mengangguk. Mas Agus memang tampak seperti pemandu wisata saat berbahasa Inggris di hadapan Rosa Verhoeve dan teman-teman pada hari Senin (20/10) lalu. Cas … cis … cus … dan penuh percaya diri.

“Kayaknya bahasa mah masalah mental. Waktu itu juga pernah, ya, gua disuruh nemenin doktor-doktor ekonomi. Hari pertama … a-eu-a-eu. Hari ke dua, a-eu-a-eu. Pas diajak ke Ancol, tau-tau lancar …,” cerita Mas Agus.

Apa conversation club ini perlu diadakan di Ancol sekali-sekali, ya ? Ide menarik. Mungkin Si Manis Jembatan Ancol pun bisa kita ajak ikut bergabung …

Sundea









Agus Rakasiwi,
Ketua AJIB tersebut

Google Twitter FaceBook

Blue Moon, Now I'm No Longer Alone ...


Klab Klasik : Resital Tiga Gitar

Konon, pada tanggal 17 Oktober 2008, matahari bersinar satu setengah hari. Ternyata, menjelang senja, ia tenggelam-tenggelam saja sesuai fitrahnya. Mungkin berita tersebut memang sekedar gosip. Tapi mungkin juga … matahari terbuai suasana sentimental yang dihadirkan Resital Tiga Gitar, sehingga ia tenggelam sendiri dan membiarkan bulan menyelaraskan langit di luar dengan suasana dalam grha Kompas-Gramedia.

Malam itu, aula lt. 2 di Jln. LLRE Martadinata no.46, temaram seperti suasana terang bulan. Dicahayai lampu kecil yang (menurut Nia, tutor Klab Melipat Kertas Tobucil) mirip kunang-kunang , Pak Widjadja Martokusumo, Syarif Maulana, dan Bilawa Ade Respati, membaca partitur yang menuntun mereka memetik gitar akustik.

Resital dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, ketiga teman kita ini melantunkan lagu-lagu yang benar-benar dikenal sebagai lagu klasik, antara lain, “Trio in A Minor”-nya Antonio Vivaldi dan “Allegro”-nya W.A Mozart, selanjutnya pada sesi ke-2, mereka membawakan lagu-lagu yang sedikit lebih “nakal”. Ada lagu waltz yang berubah ketukan di setiap barnya (“Irregular Waltz, arr: Fauzie Wiriadisastra) atau “Pileleuyan”, lagu tradisional Sunda hasil arransemen Herry Budiawan, yang bas-nya justru terdengar agak jazzy di telinga Tobuciler.

Acara ini berlangsung tertib tanpa banyak basa-basi. Selama satu setengah jam (19.30-21.00), lagu yang dimainkan mengalir secara kontinyu. Atmosfernya tidak dirusak oleh gumam penonton yang mengobrol, gangguan teknis, ataupun celetukan handphone. Sepertinya, ruang yang kecil justru meleluasakan kesahajaan gitar menyapa setiap penonton secara personal. “Kerasa seperti lagu sendiri,” komentar Mas Trisna, salah satu hadirin, setelah mendengar Resital Gitar Fiesta sesi ke dua.

Suasana gempita baru terbit di akhir acara, ketika semua lagu rampung dimainkan. Setelah mengucapkan terima kasih pada Caroonte the lighting man, Syarif tahu-tahu mengucapkan terima kasih secara khusus pada pemudi setempat yang sudah membantu “mengguntingkan partitur”. Ehm. Ada gosip apa, niiih … ? Klik di sini ;)

Di luar semua itu, tiga lelaki yang bermain gitar ini mengingatkan Tobuciler pada tokoh The Three Caballeros di cerita Disney. Coba reka, kira-kira siapa yang cocok menjadi Panchito Pistoles, siapa Joe Carioca, dan siapa Donal Bebeknya … ?

Sundea



Kiri ke kanan: Pak Widjaja, Syarif, Bilawa
Google Twitter FaceBook

Pemadam Kebakaran di Angkasa

Pada suatu siang, Dea pulang sambil marah-marah. Muka Dea merah dan seluruh jiwa Dea kayak kebakar-bakar. BRUKKK!!! Dea mbantingin diri ke kasur, trus tiduran sambil ngegerundel-gerundel.

Supaya agak adem, Dea mbuka jendela kamar. Waktu masang sanggaan jendela, nggak sengaja Dea ngeliat langit di atas Dea. Warnanya biruuuuu…banget kayak air. Iseng mata Dea njelajah nyari ujung warna biru itu, tapi nggak ketemu. Biru langit segitu luasnya sampe kayak nggak ada ujungnya.

Meskipun bukan penggemar warna biru, siang itu Dea suka banget sama biru muda langit. Warnanya teduh tapi cerah. Nuansa putihnya bikin dia keliatan lembut dan nyaman.

Karena nyari-nyari ujung biru, Dea jadi agak lama ngeliatin langit. Tanpa Dea sadarin biru langit bikin Dea jadi adem sendiri. Dea jadi kepikir. Jangan-jangan langit emang semacem pemadam kebakaran. Dia punya persediaan air yang buanyak buanget nggak berbates.

Jadi, kalo lain kali dibakar sama marah lagi, Dea tau gimana ngehubungin pemadam kebakaran.

Tengadah aja. ^_^

Google Twitter FaceBook

Ayo ikut Crafty Days ... =D


1.Papan Tulis

Teman-teman juga dapat mengirimkan tulisan teman-teman, tentang apa saja dan dengan gaya seperti apapun juga, ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, dan beri subyek “papan tulis”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

2.Fotobucil

Jika kebetulan berkunjung ke Tobucil dan menemukan obyek menarik untuk difoto, jangan ragu-ragu untuk memotret. Kirimkan karya teman-teman ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, beri subyek “fotobucil”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

3. Bacakotabandung! Baru!

Punya tangkapan foto-foto, fenomena, tulisan, atau pemikiran tentang kota Bandung? Mari bersama-sama membaca dan mendokumentasi kota kembang. Kirimkan tangkapanmu atas kota Bandung, foto diri, dan biodata singkatmu ke tobucil@gmail.com. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

5.Tukeran link

Mauuu … ? Hayu atuuuh … tinggalkan linkmu di shout box Tobucil. Kita bertukarrr … ^_^

6.Kritik dan Saran

Kami juga menunggu kritik dan saran teman-teman. Ayo, jangan ragu-ragu menyurati kami ke tobucil@gmail.com

Kamu juga bisa terlibat di kegiatan Tobucil :

1.Siapa mau ikut Crafty Days #2 "Recycle Attack" ?

Ingin berbuat sesuatu untuk membuat lingkungan hidup di sekitarmu jadi lebih baik? atau ingin berperan aktif mengatasi persoalan sampah di sekitarmu? Kamu bisa temukan cara kreatif untuk melakukan perubahan.

Buat kamu yang punya ide kreatif, hobi dan karya terutama karya yang memanfaatkan barang bekas/daur ulang, ayo bergabung di crafty days#2 "Recycle Attack" yang akan diselenggarakan tgl 6-7 Desember 2008 di tobucil & klabs Jalan aceh 56 Bandung. Kamu bisa memamerkan karya kamu, jualan karyamu sendiri, demo pembuatan atau bikin workshop di acara ini. daftarkan diri kamu segera.

Syarat pendaftaran (untuk bazaar dan pameran)

  • Semua produk merupakan buatan sendiri (handmade).
  • Minimal salah satu bahan bakunya menggunakan bahan bekas (bisa apapun).
  • Bisa peroragan atau kelompok.
  • Kirimkan biodata kamu (nama, alamat, no telepon, email, satu paragraf yang menjelaskan alasan kamu membuat karya buatan sendiri.
  • Kirimkan foto contoh karya dan data karya yang akan di pamerkan (Jenis produk, bahan, ukuran, jumlah yang akan di jual atau di pamerkan).
  • Ke alamat email: tobucil@yahoo.com selambat-lambatnya tanggal 26 Oktober 2008


Karya yang masuk akan di seleksi sesuai dengan ketentuan tema "Recycle Attack" oleh tim tobucil & klabs.

Peserta yang terpilih membayar biaya pendaftaran bazaar: Rp. 150.000/meja untuk 2 hari dan untuk pameran Rp. 50.000/spot untuk 2 hari.

Tempat terbatas!

Informasi dan pendaftaran hubungi:
Tobucil & Klabs Jalan aceh 56 Bandung telp. 022 4261548
atau lihat update informasinya setiap www.tobucil.blogspot.com atau http://tobucil.multiply.com

buruan jangan sampai ketinggalan..!
Tunjukan kepedulian kamu terhadap masalah lingkungan dengan karya kreatif kamu

Brought to you by
tobucil & klabs
Supporting Do It Yourself Project

2. Workshop Menulis Artikel untuk Media bersama Farid Gaban Angkatan III

Teknik menulis artikel/opini yang efektif dan populer di media-massa, koran, majalah, blog, maupun website.

Durasi: 2 hari (mulai Pk. 09.00 - 14.00 WIB)

Waktu: Sabtu - Minggu, 15-16 November 2008

Biaya keikutsertaan: Rp. 400.000/tiap peserta

Maksimum peserta tiap sesi: 20 orang

Fasilitas yang didapat peserta:

- Buku "Teknis Menulis Artikel" oleh Farid Gaban

- Setifikat

- Snack dan makan siang

Peserta:

- Mahasiswa

- Penulis lepas

- Ilmuwan/dosen

Hari Pertama

- Mengenali unsur-unsur tulisan yang baik dan efektif di media.
- Mengerahkan otak kiri (logika, sistematika) dan otak kanan (imajinasi, kreatifitas) secara seimbang dalam penulisan.
- Mengasah kepekaan, bekal untuk menggali ide-ide tulisan dari keseharian.
- Merumuskan outline secara sistematis untuk calon artikel yang akan ditulis.
- Mengembangkan outline dan paragraf untuk menghasilkan tulisan yang hidup, menggugah, meyakinkan dan mudah dipahami.

Hari Kedua

- Menerapkan prinsip penting dalam menulis: "Lukiskan, bukan katakan"
- Menerapkan prinsip "Bahasa Jurnalistik" dalam tulisannya.
- Menerapkan tata bahasa Indonesia secara baik.
- Klinik menulis: Praktek, kritik dan diskusi tulisan peserta.
- Kiat praktis mengirim artikel ke media
- Merangsang motivasi untuk terus menulis dan belajar menulis.
- Bonus alamat dan email media terkemuka

Farid Gaban memulai karir jurnalistiknya sebagai wartawan Tempo Biro Bandung (1984). Meninggalkan kuliahnya tanpa lulus di Jurusan Planologi, ITB dan lebih memilih berkarir sebagai jurnalis. Sempat bekerja di Editor (1987-1990), Berita Buana "Manajemen Baru" (1990-1991), Republika, Tempo dan kini di kantor berita Pena Indonesia yang didirikannya.



Dari Klabs :

1. Klab Nulis :

Bedah karya teman-teman Klab Nulis ! Untuk jadwal dan keterangan lebih lengkap, klik di sini

2. Madrasah Filsafat :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan

diskusi rutin Rabu tanggal 29 Oktober 2008
dengan tema "Terkapar Sakit"
bersama pemasalah : Palupi.
Rabu, 29 Oktober 2008
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

3.Klab Nonton


untuk keterangan lebih lanjut, klik di sini

Google Twitter FaceBook

Sunday, October 19, 2008

Blog Tobucil Edisi Oleh-oleh

Selamat hari Senin lagi, Teman-teman …

Selamat berjumpa kembali di blog Tobucil =D

Sekembalinya dari kampung halaman, Kru Tobucil membawa banyak oleh-oleh. Karena sangat menyayangi pembaca, khusus di edisi ini, kami membagi oleh-oleh kami kepada teman-teman. Semoga teman-teman suka …. ^_^ v. IBS pun sempat menitipkan oleh-oleh. Meski tidak jadi dibagi lewat blog Tobucil, oleh-oleh itu dibaginya di sini.

Bicara tentang oleh-oleh, minggu lalu, saat bertandang ke blog Budiernanto, kami menemukan oleh-oleh yang dibawa Budiernanto dari Bandung. Budi bercerita tentang Bandung yang disesaki mobil berplat “B” dan trotoar yang menjadi sempit karena ditanami pohon atau dipasangi pot-pot bunga besar. Sebetulnya, postingan tersebut sangat pas untuk rubrik baru Tobucil, “bacakotabandung”. Ehm. May us, Bud … =p ?

Teman-teman, sekali lagi Tobucil mengingatkan; jangan ragu untuk berpartisipasi dengan blog Tobucil. Kami membuka ruang-ruang yang bisa diisi oleh teman-teman (baca postingan : "Pssst ... Check this Out"). Buat yang sudah mengirimkan karya, terima kasih banyak, ya … ^_^. Hani, tak perlu minder dengan banjiran postingan kami setiap minggu. Kamu bisa ikut berenang di sana. Jangan takut tenggelam karena kami akan memegang tanganmu erat-erat dan berenang bersamamu. Tenang saja … =D

Akhir kata, Salamatahari …

Selamat menikmati oleh-oleh kami …

Semogacerahsepanjangminggu …

Tobuciler




Google Twitter FaceBook

Ati Kusmiati dan Topik ke ACI-ACI-an

Perempuan bermata sendu ini sempat mengikuti Klab Nulis dan beberapa kali datang ke Madrasah Filsafat. Meski sudah tidak rutin menyambangi kedua Klab tersebut, Mbak ini masih sering muncul di Tobucil; sekedar minum kopi atau janjian dengan teman. Namanya Mbak Ati Kusmiati.

Tobucil : Mbak Ati. Aku Tinta Indonesia, dong … hehehe …btw, inget nggak dulu di TVRI sempet ada serial ACI ?

Mbak Ati : Inget.

Tobucil : Suka, nggak?

Mbak Ati: Suka, sih, ceritanya waktu itu pas banget sama saya …

Tobucil : Emang waktu itu Mbak Ati umur berapa?

Mbak Ati: SD.

Tobucil : Buset! SD-SD ngerasa pas sama ACI. Apa yang bikin Mbak Ati ngerasa film itu pas sama Mbak ?

Mbak Ati : Ceritanya sederhana, ya, nggak dibuat-buat. Kalau sekarang, kan (sinetron) suka dibuat-buat. Yang jahat ya jahat banget, yang menderita ya menderita banget … kayaknya nggak realistis aja…

Tobucil : Oo … begitu … hehehehe …sekarang tentang Tobucil. Apa pendapat Mbak tentang Tobucil ?

Mbak Ati : Bagus, ya, di sini banyak berkumpul teman-teman dari berbagai latar belakang pendidikan, seneng, ya, karena orangnya ramah-ramah juga. Jadi sering ke sini.

Tobucil : Terus, yang paling disukain dari Tobucil ?

Mbak Ati : Ya itu tadi, keramahan orang-orangnya.

Tobucil : Sama, nggak, Mbak, pertemanan orang-orang Tobucil sama di film ACI?

Mbak Ati : Kenapa temanya jadi ACI, sih ?

Tobucil : Biar sesuai sama namanya Mbak … A-T-I, A-C-I … hehehe … ayo, Mbak, sama, nggak …?

Mbak Ati : Enggak, nggak sama. Kalau di ACI kan pertemanan antar teman sekolah. Kalau di sini di komunitas.

Tobucil : Nah, sekarang kita beralih ke ACI lainnya. Lebih suka cimol (aci dicemol), cilok (aci dicolok), atau cireng (aci digoreng) ?

Mbak Ati : Cireng, soalnya alau cimol kan suka pakai penyedap rasa yang ditaburin itu. Terus cireng juga bisa dimasukin macam-macam rasa, beda sama cimol dan cilok yang cuma satu rasa.

Tobucil : Oh, begitu, ya … terus, Mbak Ati sukanya cireng rasa apa ?

Mbak Ati : Rasa sapi pedas.

Tobucil : Kalau Tobucil, menurut Mbak mirip cireng rasa apa ?

Mbak Ati : Ya rasa sapi pedas.

Tobucil : Artinya Tobucil pedes, dong …

Mbak Ati : Kan saya suka. Tobucil mirip cireng rasa sapi pedas karena saya suka rasa sapi pedas.

Tobucil : Oh, begitu … hehehehe … Mbak Ati hobinya apa, sih ?

Mbak Ati : Saya hobinya mendengarkan musik, jalan-jalan, sama olahraga.

Tobucil : Seneng olahraga apa, Mbak ?

Mbak Ati : Renang, tennis, senam aerobik, sama bela diri, Perisai Diri.

Tobucil : Oh, di Perisai Diri. Pantesan aja sukanya cireng rasa sapi pedas …

Mas Agus Rakasiwi (kebetulan ada di sekitar lokasi wawancara) : Apa hubungannya ?!

Tobucil : Kan “Perisai Diri” dan “Sapi Pedas” sama-sama terdiri dari huruf s-p-d-e-a-i.

Mas Agus : Ah, kumaha kamu wae eta mah … hehehehe …

Tobucil : Kembali ke Mbak Ati. Ngomong-ngomong, Mbak, kenapa, sih, sekarang Mbak udah nggak ikutan Klab Nulis lagi ?

Mbak Ati : Kalau ikutan, nanti jadwalnya bolong-bolong, susah. Soalnya sekarang saya lagi bikin usaha.

Tobucil : Oh, ya? Usaha apa ?

Mbak Ati : Kafe dan distro.

Tobucil : Di kafenya jualan cireng, nggak ?

Mbak Ati : Enggak.

Tobucil : Kenapa ?

Mbak Ati : Kafenya temanya emang tradisional, tapi renancananya untuk wisatawan asing, jadi … ya… (tidak melanjutkan karena tampak bingung).

Tobucil : Nama kafenya apa?

Mbak Ati : Karena baru dirintis, jadi masih rahasia.

Tobucil: Okz. Baiklah. Terus di distronya, Mbak, ada rencana bikin baju gambar cireng ?

Mbak Ati : (sambil senyum dikulum) enggak … ya… tapi baru terpikir barusan …

Tepat ketika itu, seorang perempuan berkerudung datang. “Ini yang mau bikin usaha sama saya, namanya Putri,” Mbak Ati memperkenalkan. Tobuciler tersenyum menyambut.

Sesat kemudian, Mbak Ati dan Mbak Putri menghadap laptop sambil larut dalam pembicaraan kebisnis-bisnisan. Sambil memotret-motret Tobuciler bernyanyi dalam hati, “A-P-I, aku pinta Indonesia … a bisa Ati, pe bisa Putri, i bisa iklaaaan … “

Sundea

Google Twitter FaceBook

Ada Topi, Ada Kertas, Minum Kopi sambil Bawa Tas

Buku "Kopi"

Judul buku : Kopi

Pengarang : Eka Saputra

Harga asli : Rp. 30.000,00

Harga Tobucil : Rp. 27.000,00

Berawal dari penemuan kopi di kurun 500 Masehi dari penggembala domba di Jazirah Arab yang tidak sengaja memakan tanaman liar serupa buah ceri dan merasakan sensasi luar biasa yang kemudian tersebarluaskan ke seluruh dunia. Sejak saat itu, kopi menjadi komoditas minuman kaum bangsawan dari Arab, Turki, dan Eropa sebelum menjadi suatu industry dan perkebunan kopi yang sangat besar. Di dalam buku ini akan dibahas secara tuntas sejarah asal usul kopi, jenis-jenis kopi, pengolahan kopi, hubungan kopi dengan kesehatan dan gaya hidup, munculnya kafe-kafe, resep rahasia membuat kopi ternikmat, dan merk-merk kopi yang terkenal dan profil perusahaannya.

Buku ini akan memperluas pengetahuan bagi para penggemar kopi yang bukan hanya sebagai minuman stimulant semata, tapi juga sebagai gaya hidup.

Siapa Mau Totebag Perca ? (Limited Edition)


Design by Danu Purwoko

Spesifikasi:
Ukuran: 35 cm x 29 cm
Bahan: Perca katun
Harga satuan : Rp. 20.000
Stok: 1 pcs untuk setiap jenis (Limited Edition)
Ongkos kirim tergantung jumlah pemesanan dan lokasi.
Harga tidak termasuk ongkos kirim

Pemesanan dan pembayaran melalui transfer ke nomer rekening:
7770466533 BCA KCU Dago
a/n Tarlen Handayani

atau
131-00-0588683-5
Bank Mandiri
a/n Tarlen Handayani

-PEMBAYARAN SELAMBAT-LAMBATNYA DILAKUKAN 3 HARI SETELAH PEMESANAN, LEBIH DARI ITU PEMESANAN DIANGGAP BATAL.
-SETELAH PEMBAYARAN DILAKUKAN, PEMESAN MEMBERITAHUKAN TRANSAKSI KEPADA TOBUCIL


MOHON PERHATIAN:
untuk pemesanan kirimkan melalui email dengan menuliskan:
- Subject "Pesan totebag dan nama pemesan".(misal: Subject: Pesan totebag Tarlen)
- Pemesanan wajib menuliskan KODE TOTEBAG PERCA YANG TERTULIS DI BAWAH FOTO DENGAN LENGKAP (Misal: TBP001).
- Wajib menyertakan Nama, alamat lengkap, nomer HP
- Kirim ke alamat email: tobucil@yahoo.com dan cc ke: vitarlenology@yahoo.com
- TIDAK MELAYANI PEMESANAN MELALUI PM MULTIPLY

Informasi lebih lanjut bisa hubungi 0818640056 atau 022 4261548 mulai pk. 9.00 - 20.00 WIB.

COMPLAIN DAN PENGADUAN MAKSIMUM 1 MINGGU SETELAH BARANG DI TERIMA. PENGEMBALIAN BARANG WAJIB DISERTAI DENGAN LABEL TOBUCIL DAN COPY FAKTUR PENGIRIMAN BARANG.

Totebag ini bisa di beli langsung di:
Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung

untuk melihat model-model totebag lainnya, klik di sini
Google Twitter FaceBook

Photostream 1 Dear@ Tobucil and Klabs

Dear,

Tobucil & Klabs

Jl. Aceh 56 , Bandung

Kami "Teman2 dr. Malaysia" yg hobi travel,fashion,music,art & craft, photography and

ex-mahasiswa Interior Architecture & Art & Desing [Universiti Teknologi Mara,

Shah Alam, Selangor] now working as a desainer.

Mau ucapkan,

Thks to all Kru Tobucil [Tarlen,Elin,Yuchan,Upi,Bumi,Mbak Kenti,Mas Zhahson/Banu]

for ur support, friendly,helpful dan sabar menunggu ketibaan kami @ Tobucil.

Setelah melihat Tobucil & Klabs, kami suka banget,nyaman,lots of book,karya desainer kreatif..mau dtg lagiiii niii..

Di sini, kami mau kirimkan fotonya by [photostream the series 1, 2] saiz pict so big.. Do visit ..

http://farhyamar.blogspot.com

http://www.flickr.com/photos/farhyamar/









Akhir kata,

LOTS OF LOVE

[Uswah,Wan,Semah,Yati,Su]

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin