Sunday, November 30, 2008

Optimisme Recycle, Recycle

Bumi terus berputar. Matahari terus bersinar. Setiap hari, mereka kembali dengan “optimisme recycle,recycle”. Mereka percaya hari yang lalu tak pernah usang, ia hanya butuh diberi makna baru pada hari berikutnya.

Filosofi ini juga berlaku pada benda-benda di sekitarmu. Yang usang, kadang tak sungguh usang. Mereka hanya menanti diberi makna baru dan disentuh dengan “optimisme recycle, recycle”. Botol bekas. Kantung kresek. Ban sepeda tua. Kaleng minuman ringan. Sepatu dan baju lama. Banyak sekali, mereka bertebaran di sekelilingmu …

Itu sebabnya, tahun ini Tobucil mengadakan Crafty Days dengan tema “Recycle Attack”. Kami berharap ke-recycle-an di Tobucil akan memberimu inspirasi untuk memberi makna baru dan tak berhenti pada titik “usang dan buang” pada benda-bendamu.

Bumi terus berputar. Matahari terus bersinar. Mereka akan selalu kembali dan kembali lagi dengan “optimisme recycle, recycle”.

Semoga optimisme ini pun selalu menyertai teman-teman sekalian

Jangan lupa hadiri “Crafty Days Recycle Attack”

Sabtu- Minggu, 6-7 Desember 2008, pukul 11.00 – 17.30, di Tobucil.

Salamatahari, semoga selalu hangat dan cerah …

Tobuciler

Google Twitter FaceBook

Recycle, Recycle ...

Judul buku : Rubish ! Reuse Your Refuse

Tenggelam di antara barang-barang tidak terpakai ? Ingin tahu yang dapat kau buat dengan barang-barang bekasmu ? Buku ini memuat lebih dari tiga puluh proyek kreatif pemanfaatan barang bekas. Jangan buang barang-barang tidak terpakai di rumahmu, ayo manfaatkan. Recycle, recycle …

Buku ini tidak dijual, tapi dapat dibaca di "Perpustakaan Hobi Tobucil".

Syarat menjadi anggota Perpustakaan Hobi Tobucil :

keanggotaan 1 :

untuk yang sudah pernah daftar kursus di tobucil, membayar iuran perpustakaan Rp 50.000 untuk satu tahun (diluar biaya scan dan fotocopy)

fasilitas :

dapat membaca di tempat, buku-buku koleksi tobucil yang tersedia di perpustakaan tobucil

bisa scan dan fotocopy koleksi buku tobucil (dengan mengganti biaya scan atau fotocopy)

untuk yang belum pernah daftar kursus di tobucil atau masyarakat umum, membayar iuran perpustakaan Rp 100.000 untuk satu tahun (diluar biaya scan dan fotocopy)

fasilitas :

dapat membaca di tempat, buku-buku koleksi tobucil yang tersedia di perpustakaan tobucil

bisa scan dan fotocopy koleksi buku tobucil (dengan mengganti biaya scan atau fotocopy)




Nama barang : Keset

Harga : Rp. 10.000,00

Keset ini dibuat dari limbah kaus oleh buruh di pabrik kaus. Murah, dan terdiri dari berbagai macam kombinasi warna menarik. Silakan datang ke Tobucil untuk melihat dan memilih sesuai selera … =D. Mari dukung gerakan ini, Teman-teman … recycle, recycle …





Google Twitter FaceBook

Apa Kabar Sampah Bandung ?


Meski Bandung, tidak lagi menjadi lautan sampah, namun bukan berarti persoalan sampah di Bandung selesai begitu saja. Ancaman datangnya gelombang lautan sampah yang lebih besar, menghadang di depan mata. Bagaimana tidak, warga Bandung tercinta ini ternyata menghasilkan 25 TON SAMPAH SETIAP JAMNYA

Jumlah yang sangat mengerikan. Bayangkan, dalam sehari saja, 600 TON (25 Ton dikali 24 Jam) tanpa sadar dihasilkan oleh warga Bandung. Bagaimana dengan seminggu, sebulan, setahun. Saya sendiri sulit membayangkan sebesar apa timbunan itu menggunung.

Berbagai solusi coba di tawarkan oleh pengelola kota. Salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Namun apakah solusi ini, benar-benar solusi terbaik satu-satunya? bagaimana dengan dampak lingkungannya? Apakah manfaat yang di dapatkan jauh lebih besar dari pada dampak negatifnya? tulisan Harry Marketia di blognya PLTASa: Maju Kena Mundur Kena memberi wawasan lain. Meski bisa membantu menyelesaikan masalah, namun PLTSa dapat menimbulkan persoalan lain yaitu pencemaran udara yang membuat kualitas udara di Bandung semakin buruk.

Sudah saatnya juga, urusan sampah ini, tidak hanya memusingkan para pengelola kota dan ahli-ahli lingkungan yang ada di kota Bandung, tapi kita semua sebagai warga Bandung, wajib membantu mengatasi persoalan sampah di kota Bandung ini. Bisa di mulai dari cara yang sederhana yaitu dengan tidak menyisakan makanan yang kita makan. Tulisan di blog www.akuinginhijau.org menjelaskan mengapa tidak menyisakan makanan yang kita makan dapat membantu menyelesaikan persoalan sampah.


Tak perlu persimis bahwa memilah sampah adalah pekerjaan yang sia-sia karena petugas pengumpul sampah akan mencampurnya lagi. Teruslah melakukan pemilahan sampah, terutama untuk jenis-jenis yang dapat di daur ulang seperti: plastik, kertas, sampah organik. Saat ini semakin banyak bermunculan inisiatif masyarakat untuk mendaur ulang sampah. Ketika kita memilah-milah jenis sampah itu, berarti juga memudahkan pihak-pihak yang berinisiatif untuk mendaur ulangnya. Semakin banyak yang melakukan pemilhan, semakin besar jumlah sampah yang bisa diolah dan dimanfaatkan kembali.

Lalu setelah di pilah, harus di kemanakan sampah-sampah itu? menyerahkannya kepada pemulung yang lewat di depan rumah, atau menghubungi pihak-pihak tertentu yang bisa memanfaatkan sampah-sampah tersebut. Bergabung di milis-milis peduli lingkungan juga akan membantu memberikan informasi kemana sampah-sampah ini harus di serahkan kepada pihak-pihak yang bisa mengelolanya.

Gabung di milis Green Life Style: greenlifestyle@googlegroups.com
atau buka blognya untuk mendapatkan informasi hidup bersahabat dengan lingkungan http://greenlifestyle.multiply.com/



foto diambil dari sini


Tarlen
Google Twitter FaceBook

Ketika Hal Terbaik dalam Hidup Bisa Dibuat oleh Tanganku Sendiri

oleh : Andre Poernomo

Beberapa bulan yang lalu, Kansha, keponakan saya yang berusia 5 tahun dengan antusias memamerkan kalung dari sedotan yang baru dibuatnya di TK. Kalung model tasbih yang terdiri dari plastik sedotan aneka warna berbentuk piramida. Langsung terbayang kenangan pribadi saya waktu masih di TK. Sama seperti dia, saya pun diajarkan membuat kalung dari sedotan oleh ibu guru, dan juga aneka keterampilan tangan sederhana lainnya, seperti membentuk patung dari lilin malam, melipat perahu dari kertas, dan membuat stempel dari kentang. Ketika hal ini saya ceritakan kepada Kansha, dia langsung minta diajarkan cara melipat perahu dari kertas. Setelah saya mengambil koran bekas dan bersiap untuk mengajarkan dia, saya baru menyadari satu hal: saya lupa cara membuat perahu dari kertas.


Malam harinya, saya cari diagram origami (seni melipat kertas asal jepang) perahu lewat internet. Ternyata tak sulit menemukannya, karena banyak sekali situs tentang origami di internet yang menawarkan ratusan diagram cara melipat aneka wujud. Selain diagram perahu, saya simpan juga berbagai diagram bentuk lain di hard drive untuk saya pelajari nanti dan saya ajarkan kepada Kansha. Setelah beres, mata saya tertuju pada link-link lain yang muncul yang berhubungan dengan hasta karya. Iseng-iseng saya klik link tersebut satu persatu dan muncullah macam-macam hasil kreasi keterampilan tangan yang lucu dan menarik. Ada tas dari rajutan benang wol, boneka binatang dan monster imut dari kain felt, stationary yang dihiasi aneka gambar hasil cetak sederhana, ada juga sarung bantal dan kain sprei dengan sablon berbagai motif yang keren. Benar-benar kagum saya dibuatnya. Ternyata masih banyak orang yang senang membuat macam-macam kreasi keterampilan tangan yang tak hanya bagus, tapi juga fungsional.


Terbersit sedikit kesedihan dalam diri saya. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menggunakan tangan saya untuk melakukan kegiatan semacam itu. Padahal ketika saya kecil, saya gemar membuat aneka hasta karya: mobil-mobilan dari kulit jeruk bali, rumah boneka dari kardus bekas untuk kakak, atau vas bunga dari lempung yang saya cat warna-warni dan saya hadiahkan untuk ibu di hari ulang tahunnya. Malam itu, saya bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya membungkus kado sendiri karena rekan-rekan saya yang menikah lebih suka diberi 'mentahnya' saja. Tangan saya sudah terlalu terbiasa mengetik diatas keyboard dan menekan tombol ponsel. Tubuh saya sudah terlalu sering mengkonsumsi makanan instan dari restoran siap saji. Otak saya sudah terlalu dimanjakan oleh barang-barang hasil produksi bikinan pabrik memang tidak dapat dipungkiri sangat membantu dan mempermudah hidup saya, namun disisi lain membuat saya tidak mandiri dan menimbulkan tingkat ketergantungan yang tinggi. Dan ada satu hal yang saya rasakan mereka tidak miliki: sentuhan manusia. Ketidakadaan sentuhan manusia ini menciptakan kesan bahwa hidup saya semakin terasing dan diseragamkan dengan manusia-manusia lain. Ciri khas saya sebagai individu mulai luntur. Tiba-tiba muncul kerinduan untuk mandiri, keinginan untuk berkreasi dengan tangan saya sendiri.


3 bulan telah berlalu dan saat ini saya sudah bergabung dengan klub merajut di kota saya.
Awalnya, sebagai seorang laki-laki, saya agak minder ikut kelompok merajut yang selama ini hampir selalu dikonotasikan dengan kegiatan perempuan. Tapi tak disangka ada juga beberapa anggota laki-laki lain dalam klub merajut kami. Ternyata laki-laki juga tidak mau ketinggalan. Wah, senang rasanya! Sekarang saya sudah berhasil membuat sebuah syal dan kantong mp3 player, dan saat ini saya sedang merajut sarung dari benang wol untuk laptop. Senang rasanya bisa kembali berkarya dengan kemampuan sendiri. Ada kenikmatan pribadi yang saya rasakan ketika sedang merajut, hati serasa tenang dan dingin. Saya pun merasa jadi lebih teratur dalam menjalani hidup. Apalagi ketika melihat hasil karya saya selesai dibuat. Bangga bercampur tak percaya karena bisa membuat sesuatu yang tidak pernah bayangkan sebelumnya. Yang pasti, saya bisa membuat sesuatu yang berbeda dan tidak ada di pasaran. Kansha pun kini sudah bisa melipat perahu dari kertas dan juga aneka bentuk sederhana lainnya. Ingin saya ajarkan kepada Kansha dan keponakan-keponakan saya yang lain berbagai keterampilan tangan lain yang bisa mereka kerjakan di waktu senggang. Supaya, sama seperti pamannya, mereka bisa merasakan bahwa ada kegiatan lain yang mereka bisa lakukan yang tak kalah menyenangkan dibanding bermain Play Station atau boneka Barbie. Dan mudah-mudahan suatu hari nanti mereka bisa menyadari bahwa, “Sometimes, the best things in life are still made by hand”.


Tulisan ini pernah di publikasikan di halaman Media Indonesia


Andre Poernomo adalah alumnus Kru Tobucil yang kini bekerja sebagai fashion stylist di Centro
Google Twitter FaceBook

Rakotakotak


-Tobucil, Senin 24 November 2008-

Tobucil kedatangan teman baru ! Namanya “Rakotakotak”. “Ini nanti buat display pameran pas Crafty Days,” Mbak Tarlen menjelaskan. Minggu ini, Rakotakotak dibiarkan bersantai di ruang belakang Tobucil, menjadi sekat yang membatasi rak benang dan rak buku. Tapi minggu depan, ia akan dipentaskan di beranda Tobucil, didandani dengan benda crafty recycle yang lucu-lucu.

Seperti Pinokio yang dibuat oleh tangan terampil Pak Gepeto, Rakotakotak dibuat oleh tangan terampil Akang, asisten Moel (Kru Tobucil). Seperti Pinokio juga, beberapa hari mendatang, ia akan tampil sebagai bintang. Kamulah yang bertugas menjadi Peri Biru dan meniupkannya nyawa … ;)

Secantik apa Rakotakotak pada Crafty Days Recycle Attack nanti … ?

Datang saja ke Tobucil pada tanggal 6-7 Desember pukul 11.00 -17.30,

Rakotakotak pasti akan senang berkenalan denganmu …

Hmmm …

Jika Rakotakotak mirip Pinokio, mungkinkah dia berbohong lalu hidungnya memanjang ?

Tapi … yang mana juga, sih, hidung Rakotakotak … ?

Sundea


Google Twitter FaceBook

Tukang Pijit Plus Plus Plus di Tobucil


-Tobucil, Jumat 28 November 2008-

Mas Agus Bebeng adalah pemuda multi talenta. Selain menjadi fotografer lepas di Antara, ternyata ia pun adalah tukang pijit dan pelawak lepas untuk kalangan sendiri. Siang itu, ia mendemonstrasikan keahliannya dengan Mbak Tarlen sebagai model.

Sambil memijat, ia terus berceloteh. “Pernah aya nu awakna badag, ku urang dipijit, tapi pijitna lain pijit refleksi, pijit bohemian (Pernah ada yang orangnya besar, sama saya dipijat, pijatnya bukan pijat refleksi, tapi pijat bohemian),” tuturnya. “Hah ? Maksudnya ?” tanya Tobuciler sambil mengerutkan kening. “Nya heu-euh, lamun dipijit manehna siga Bohemian Rapsody’, ‘MAAMMAAAA !!!’ (ya iya, kalo dipijat dia seperti ‘Bohemian Rapsody’, lagu Queen, ‘MAMMAAA !!’) …” Dan Tobuciler segera menyabet Mas Bebeng dengan jaket …

Selama pemijatan berjalan, bakat-bakat lain Mas Bebeng pun mulai kentara satu persatu. Ia pernah jadi penulis, pun mejelajah nusantara, meramal juga bisa, meskipun ia enggan meramal Mbak Tarlen, “Nggak mau, ah, garis tangan kamu mah kayak hutan belantara ! It’s complicated-lah pokona …”

Mengenai kepalanya yang selalu diikat kain batik, Mas Bebeng punya alasan, “Ini teh buat kungkungan. Soalnya kalo dilepas, ilmu saya liar ke mana-mana …”

Konon beberapa hari yang lalu, Mas Bebeng sempat juga memijat Mbak Elin yang masuk angin. “Tapi udahnya malah saya yang muntah,” cerita Mas Bebeng. Apakah muntah adalah salah satu bagian dari bakat dan elmu-elmunya … ? Tidak tahu juga. Bisa jadi.

Berpenampilan agak-agak tradisional, berbicara dengan logat Sunda yang kental, dan entertaining by nature. Hmmm … tidakkah dia agak mirip dengan Kabayan ? Lalu, siapa yang mau jadi Iteung –nya ?

Sundea



Google Twitter FaceBook

Welcome to ... Marlboro Country ?


-Tobucil, Sabtu 28 November 2008-

Sabtu itu, pria berbusana ala lagu-lagu Tantowi Yahya, duduk-duduk di sekitar kasir Tobucil. “Gua mau potong rambut. Rambut gua udah jelek, Bo !” ujar lelaki itu sambil melepas topinya. “Oh … jadi topi itu buat nutupin rambut, toh … kirain …,” “Iyalah. Lo kira gua mau going country apa … ?” tanggap lelaki itu.

Kunjungan Mas Andre, alumnus tampuk kekasiran Tobucil, membuat kemungilan Tobucil meriah seperti hari raya. Berbagai cerita seru dan celetukan spontan melompat-lompat lincah dari mulutnya. “Udin (udah), gue udin ke sana … “ atau “Hah ? Tintus (tidak) !” atau “Bo ! Sex and the City itu kayak fashion show. Bajunya keren-keren bangetttt …”

Enam bulan bekerja sebagai stylist Centro membuat Mas Andre punya banyak cerita. “Gue berangkat jam enam pagi. Kantor gue, sih, masuk setengah sembilan. Tapi kalo gue berangkat jam tujuh-setengah delapanan, jalan macet sama anak sekolah, dan kalo gue berangkat jam delapan, nyampenya jam sembilan,” ceritanya, “Kalo gue sampe, satpam-satpam pada bilang ‘KE DUA !’ Gue kira maksudnya apaan, ternyata karena gue orang ke dua yang dateng. Tau, nggak, Bo, kalo gue dateng, kadang gue masih dikonciin. Biasanya paling gue nunggu sambil denger lagu ato jajan ketoprak …” .

Sukanya pun ada. “Gue bisa nge-tek-tek-in barang (dagangan Centro) duluan … hihihi …,” kata Mas Andre.

Setelah bercerita segala rupa, Mas Andre tampak kehausan dan kelaparan. Ia pun menyambangi warung Tobucil. “Fruitang ! Gue udah lama nggak minum Fruitang !” soraknya girang. Setelah mengambil segelas Fruitang dan seplastik makanan ringan, ia mengudap dengan penuh semangat.

“Mas, inget, nggak, dulu kan Mas Andre pernah cerita tentang temen-temen Mas Andre yang kerja di Jakarta dan jadi euforia gitu pas liat makanan-makanan murah …,” Tobucil mengingatkan. “Iya, ya, sekarang gue juga gitu… hehehe …,” sahut Mas Andre sambil terus mengudap.

Beberapa saat kemudian, Mas Banung, kakak Mbak Tarlen dan Mbak Upi, muncul di kemungilan Tobucil. “Eh … ada Si Eta (Si Itu)…,” sambut Mas Banung begitu melihat Mas Andre. “Ihhh … dia udah ada rambutnya !” Mas Andre membalas sapaan Mas Banung.

Iya, ya, Tobuciler baru ingat kalau Mas Banung pernah botak. Waktu enam bulan bergerak hampir tak terasa, seperti rambut yang bertumbuh.

World spins quietly. Some things change, but some parts stay …

Sundea



Google Twitter FaceBook

Menjepit Teman Sendiri

Baru-baru ini, Dea denger isu kalo ada kwetiau yang dibuat dari sumpit bekas. Waktu main ke blog Imen, Dea liat sendiri foto-fotonya; jadi si sumpit itu dipotong-potong, ditaro di panci dan dikasih bumbu, dikasih baking powder dan pewarna dikit, terus didiemin selama satu hari. Besoknya, si sumpit itu udah menjelma jadi kwetiau.

Dan, Temen-temen, dari seluruh postingan, gambar yang paling bikin Dea miris adalah gambar yang ini :

(klik di sini)

Apa rasanya jadi Si Kwetiau waktu dijepit temennya sendiri ? Dia pernah jadi sumpit, ngejepit makanan, dan nganter mereka ke mulut atau ke wadah lain. Tapi kali itu, dia yang jadi makanan, dijepit sama sumpit untuk dianter ke mulut atau wadah lain. Mungkin harga diri dia terluka. Apalagi, dia nggak dikasih pilihan. Secara mental pun dia cuma punya waktu satu hari untuk nyiapin diri jadi makanan.

Berikutnya. Sumpit yang ngejepit kwetiau tau, nggak, ya, kalau yang dia jepit dulunya sumpit juga ? Jangan-jangan ternyata mereka malah saling kenal, disimpen di laci yang sama, bahkan sering ngobrol-ngobrol tentang dunia persumpitan. Bisa jadi mereka juga dibuat di pabrik yang sama, dari kayu yang sama, dan itu berarti … mereka bersaudara. Huuuhuuuhuuu …

Tau-tau perasaan Dea jadi sedih.

“Menjepit teman sendiri” jadi punya makna kontemplatif …

Sundea

untuk melihat proses sumpit menjadi kwetiau, klik di sini


Google Twitter FaceBook

Crafty Days, 6-7 Desember ... =D

1.Papan Tulis

Teman-teman juga dapat mengirimkan tulisan teman-teman, tentang apa saja dan dengan gaya seperti apapun juga, ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, dan beri subyek “papan tulis”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

2.Fotobucil

Jika kebetulan berkunjung ke Tobucil dan menemukan obyek menarik untuk difoto, jangan ragu-ragu untuk memotret. Kirimkan karya teman-teman ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, beri subyek “fotobucil”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

3. Bacakotabandung

Punya tangkapan fenomena, tulisan, atau pemikiran tentang kota Bandung? Mari bersama-sama membaca dan mendokumentasi kota kembang. Jika mengirimkan artikel, jangan lupa menyertakan foto. Kirimkan tangkapanmu atas kota Bandung, foto diri, dan biodata singkatmu ke tobucil@gmail.com. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

5.Tukeran link

Mauuu … ? Hayu atuuuh … tinggalkan linkmu di shout box Tobucil. Kita bertukarrr … ^_^

6.Kritik dan Saran

Kami juga menunggu kritik dan saran teman-teman. Ayo, jangan ragu-ragu menyurati kami ke tobucil@gmail.com

7. Intip foto-foto Tobucil di : www.flickr.com/photos/tobucil

Kamu juga bisa terlibat di kegiatan Tobucil :

1. Crafty Days #2 "Recycle Attack" ?

Crafty Days akan diselenggarakan pada tanggal 6-7 Desember pukul 09.00-18.00

di kantor berita Pena Indonesia yang didirikannya.

Klik gambar untuk melihat tulisannya lebih jelas lagi

1. Launching Buku

Judul buku : 9 Matahari

Karya : Adenita (alumnus Klab Nulis)

Waktu : Senin, 1 Desember 2008, pukul 15.30


Dari Klabs :

1. Klab Nulis :

Ikutilah Klab Nulis Angkatan IV. Klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

2. Klab Klasik

Restal Ensambel Gitar Jakarta Enam Senar

Waktu : Selasa, 2 Desember 2008, pukul 19.30

Tempat : Auditorium CCF, Jln. Purnawarman 32

Harga tiket : Rp. 15.000,00

Dapat diperoleh di :

Tobucil : Jln. Aceh no.56. Telp : (022) 4261548

Syarif Maulana : 0817212404


3.Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 03 Desember 2008
dengan tema "Identitas dalam Konteks"
bersama pemasalah : Ami

Rabu, 03 Oktober 2008
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!



Google Twitter FaceBook

Sunday, November 23, 2008

Blackboard Menu di Tobucil

Selamat pagi, Teman-teman, selamat hari Senin lagi …

Minggu ini, ada personil baru di beranda Tobucil; sebuah blackboard mungil bertuliskan menu-menu di warung Tobucil. Mulai minggu ini, kami menyediakan Milo, lemon tea, dan Pop Mi. Ada juga Indomie yang khusus eksis ketika Putra bertugas.

Blackboard membuat menu kami jadi lebih fleksibel. Tulisan putih di atas latar hitam juga diam-diam memberi makna optimis menghadapi kekelaman apa pun. Semoga dengan memakan makanan kami, teman-teman pun akan jadi optimis dan fleksibel menjalani hidup … hehehehe …

Semoga makanan yang kami tawarkan, hadir dalam arti yang seluas-luasnya.

Akhir kata, kami berharap optimisme dan fleksibilitas ini memberimu nutrisi.

Salamatahari, Teman-teman, semogahangat dan selalucerah …

Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Mengenang Masa Kecil Tobucil Bersama Tante Diah Handayani

Mbak Diah Handayani yang bekerja di Selasar Sunaryo ini, adalah
teman Tobucil sejak Tobucil masih orok sekali. Tunggu.

Bukan sekedar “teman”. Mbak Diah adalah tante dari toko buku kesayangan kita ini …


Tobucil : Nama lengkapnya Mbak Diah Handayani, ya ? Kok sama sama Mbak Tarlen; Tarlen Handayani ?

Mbak Diah : Nggak ngerti. Kita berdua pernah, lho, difoto berdua di daerah Gunung Kidul, ternyata di sana semboyannya ‘handayani’.

Tobucil : Hahaha … bisa gitu, ya … kalo menurut Mbak Diah, ‘handayani’ sendiri maknanya apa ?

Mbak Diah : Artinya kan nyupport dari belakang, kayak kata orang-orang tua, ‘handayani aja …’, artinya mendorong dari belakang.

Tobucil : Hmmm … begitu,ya. Dari kapan, Mbak, kenal sama Tobucil ?

Mbak Diah : Dari Tobucil baru dibangun. Pertamanya kenal Tarlen (pemilik Tobucil) dulu. Tarlen ngelamar ke LSM “Satu Jejak”, aku udah di situ. Terus setelah “Satu Jejak”-nya bubar, sama Tarlennya masih tetep temenan …

Tobucil : Ooo … emang “Satu Jejak” itu LSM apa ?

Mbak Diah : Rencananya kita mau bikin organisasi pendokumentasian budaya, tapi akhirnya jadi semacam event organizer. Misalnya, kita kerja bareng sama orang Perancis yang bikin peta kota Bandung. Nah, nanti duitnya kita pake untuk ndatengin seniman atau bikin acara, waktu itu di CCF.

Tobucil : Wah, kayaknya seru … terus kenapa bubar ?

Mbak Diah : Kitanya udah sibuk masing-masing.

Tobucil : Terus pertama kali lahir Tobucil gimana, Mbak ?

Mbak Diah : Waktu itu, ada temen kita, namanya Andi Abubakar, punya kafe namanya Kafe Tungku. Itu tempat kita nongkrong, terus di sana kita bikin acara rutin, bawa karya, difotokopi, terus dibacain bareng. Akhirnya acara itu nggak cuma di Kafe Tungku, tapi keliling ke macem-macem tempat. Malah pernah, pas kita bikin acara di Savoy Homann, sorenya klabaca kelilingnya diadain di sana. Sampai akhirnya, Tobucil punya tempat tetap di Trimatra (daerah Dago, di belakang Gampoeng Aceh-red).

Tobucil : Mbak Diah sempet ikut gabung sama Tobucil ?

Mbak Diah : Aku nggak masuk ke management-nya, bantu-bantu aja. Soalnya aku udah kerja di Selasar. Paling aku sering ngelitin buku-buku yang menarik di sini, terus aku bawa ke Selasar. Nanti kan untungnya buat Tobucil juga.

Tobucil : Handayani, dong …

Mbak Diah : Hahaha … iya, kali, ya …

Tobucil : Gimana pendapat Mbak Diah tentang Tobucil ?

Mbak Diah : Aku ngerasa punya ikatan yang cukup kuat dengan Tobucil karena sejarahnya juga. Soalnya aku tahu gimana jatuh-bangunnya Tobucil, gimana survive-nya …

Tobucil : Wah … Mbak Diah sebenernya tante kita, lho. Tanteeee …

Mbak Diah : Hahaha … bisa, bisa dibilang begitu.

Tobucil : Gimana rasanya jadi tantenya Tobucil ?

Mbak Diah : Senang lihat ponakan udah umur tujuh tahun, temennya udah baru-baru, yang jelas spiritnya jangan ilang. Yang pasti harus though karena tantenya nggak bisa apa-apa, cuma ndorong, “ayo … ayo …”

Tobucil : Hehehe … handayani banget. Hubungan Tobucil sama sepupunya gimana ?

Mbak Diah : Sepupunya ?

Tobucil : Iya, sama Selasar Sunaryo. Kan anaknya Mbak Diah ceritanya Selasar Sunaryo … hehehe …

Mbak Diah : Hahaha … baik-baik saja, saling berjejaring … sebenernya lebih aku dan Tarlen, kok, yang berhubungan …

Tobucil : Antar sepupu itu jarang main sama-sama ?

Mbak Diah : Paling berjejaring itu …

Tobucil : Mereka satu sekolah, nggak ?

Mbak Diah : Kok sekolah … ?

Tobucil : Jawab absurt juga nggak apa-apa, Mbak …

Mbak Diah : Apa, ya ? Mungkin Tobucil sekolahnya di sekolah alam, Selasar lebih kayak sekolah swasta … aduh jawaban aku berantakan, ya … ?Aku nggak biasa diwawancara

Tobucil : Nggak, kok, Mbak, nggak apa-apa, makasih, ya …

Usai wawancara, Tante Diah Handayani meninggalkan Tobucil, kembali pada ananda Selasar Sunaryo, sepupu Tobucil. Tante, terima kasih karena sudah menjenguk Tobucil. Kapan-kapan kalau main, anaknya diajak, ya … biar Tobucil dan Selasar Sunaryo yang masih anak-anak ini bisa bermain bersama-sama …

Sundea





Google Twitter FaceBook

Artefak Kota the Series : Verbraak, Sang Pastor Penuh Kebaikan

Patung itu sedikit tertutup oleh rindangnya pepohonan sehingga ia memang agak sulit untuk dilihat. Nah, jika sedikit awas ketika melintasi sebelah barat Taman Maluku, di ujung jalan yang memertemukan Jalan Sulawesi dan Jalan Ambon, sebuah patung pastor yang agak terlihat kusam dan sedikit tidak terawat berdiri di sana.

Selama ini, masyarakat Bandung lebih mengenalnya sebagai patung pastor hantu. Beberapa saksi bahkan mengaku pernah melihat patung tersebut berjalan-jalan di malam hari. Ada pula cerita yang mengatakan bahwa konon, setiap lonceng gereja berbunyi pada pukul 12.00 siang, kepala patung ini ikut bergerak seperti sedang mengangguk.

Namun, jika kita melihatnya dari sisi sejarah, sebuah pertanyaan besar seringkali muncul. Siapakah sebetulnya tokoh yang digambarkan oleh patung perunggu tersebut? Sangat disayangkan jika kemudian patung tersebut tidak dipelihara dengan baik karena ia ternyata adalah satu-satunya patung yang masih berdiri dengan kokoh di Bandung hingga sekarang dari enam buah patung yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.

Patung tersebut sebenarnya dibangun untuk mengenang seorang pastor yang bernama H.O Verbraak S.J. Ia adalah seorang Pastor Belanda yang bertugas dari tahun 1873-1907 sebagai imam pasukan Hindia Belanda pada masa Perang Aceh. Verbraak sendiri pada masa hidupnya dikenal sebagai salah satu imam Belanda yang memiliki sifat baik hati serta selalu memperlakukan sesama dengan sangat manusiawi, tanpa melihat suku bangsanya. Ia juga dikenal serta disegani pada masa hidupnya karena mencintai kedua belah pihak yang kala itu tengah terlibat dalam peperangan hebat.

Patung ini sendiri didirikan pada tahun 1922 untuk mengenang pastor yang baik hati ini. Alkisah, pada tahun 1918, pesawat terbang yang membawa Pastor H.O Verbraak S.J jatuh di sekitar lokasi berdirinya Taman Maluku saat ini. Maka, untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Hindia Belanda membangun patung sang pastor pada tahun 1922.

Ketika bertugas di Aceh, ia menjadi pastor di Gereja Hati Kudus. H.O Verbraak S.J adalah Pastor pertama di gereja yang dibangun pada tahun 1885 tersebut. Pastor yang bijaksana ini senantiasa menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya, meski pihak yang memerlukan bantuannya itu adalah rakyat Aceh sendiri yang saat itu notabene adalah musuh yang ingin dikalahkan oleh pasukan Hindia Belanda.

Gereja tempat Pastor ini sendiri terletak hanya 10 meter dari Sungai Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh. Ketika gelombang Tsunami menghantam Aceh, bangunan tua ini tidak hancur terkena sapuan ombak. Sejak itulah gereja dan pastor pertama yang memimpinnya tersebut, mulai dikenal oleh banyak pihak.

Sebenarnya, patung ini sendiri sangat penting untuk dilestarikan bukan hanya karena jasa-jasa sang pastor saja, namun patung tersebut menjadi penting karena ia menjadi simbol tentang perdamaian serta kasih sayang. Bagaimana dua kubu yang tengah bertempur, dengan satu kubu ingin mempertahankan wilayahnya, sedang kubu yang lain ingin memperoleh wilayah baru, ternyata memiliki seorang tokoh yang dicintai oleh kedua kubu yang bertikai.

Dengan demikian, patung ini sendiri sebenarnya dapat menyadarkan kita betapa pentingnya nilai-nilai kemanusiaan, bahkan kepetingan tersebut jauh melebihi kepentingan untuk melakukan ekspansi wilayah yang hanya mementingkan nafsu belaka.

Hmm… Sang Pastor itu masih dan terus berdiri tegak di sana serta akan selalu meminta kita untuk merenung tentang sisi humanis ketika memandangnya. Ia sudah seharusnya tidak lagi diisukan sebagai patung pastor hantu, ia, sang patung itu, tidaklah tepat jika harus ditakuti. Patung tersebut lebih layak kita hargai dari sisi historis yang mengiringinya.

Nunuw





Nunuw adalah freelance writer, editor, dan song engineer. Saat ini menjadi kontributor di Bandung Advertiser
Google Twitter FaceBook

Recycle, Recycle ...

Judul buku : Ready Made

Buku ini tidak dijual, tapi dapat dibaca jika kamu menjadi anggota perpustakaan Tobucil. Buku ini adalah “primbon” Crafty Days Recycle Attack Tobucil. Di dalamnya terdapat cara membuat kipas angin dari roda sepeda, membuat kotak sepatu dari kardus, membuat lampu dari sendok dan garpu bekas, … dan lain sebagainya. Pokoknya seru, deh ! Sangat inspiratif !

Syarat menjadi anggota perpustakaan Tobucil :

keanggotaan 1 :

untuk yang sudah pernah daftar kursus di tobucil, membayar iuran perpustakaan Rp 50.000 untuk satu tahun (diluar biaya scan dan fotocopy)

fasilitas :

dapat membaca di tempat, buku-buku koleksi tobucil yang tersedia di perpustakaan tobucil

bisa scan dan fotocopy koleksi buku tobucil (dengan mengganti biaya scan atau fotocopy)

untuk yang belum pernah daftar kursus di tobucil atau masyarakat umum, membayar iuran perpustakaan Rp 100.000 untuk satu tahun (diluar biaya scan dan fotocopy)

fasilitas :

dapat membaca di tempat, buku-buku koleksi tobucil yang tersedia di perpustakaan tobucil

bisa scan dan fotocopy koleksi buku tobucil (dengan mengganti biaya scan atau fotocopy)













Nama barang : Keset

Harga : Rp. 10.000,00

Keset ini dibuat dari limbah kaus oleh buruh di pabrik kaus. Murah, dan terdiri dari berbagai macam kombinasi warna menarik. Silakan datang ke Tobucil untuk melihat dan memilih sesuai selera … =D

Google Twitter FaceBook

Ber-Land's Coffee


-Tobucil, Senin 17 November 2008-

Ketika Tobuciler sedang meng-upload, seseorang yang wajahnya asing-asing tidak mampir di kasir Tobucil, “Blognya belum update, ya ?” tanya gadis misterius itu. “Wah, nggak tau, ya …,” sahut Moel yang bertugas pagi itu.

Saat gadis misterius tadi duduk-duduk di beranda Tobucil, Tobuciler berbisik-bisik pada Moel, “Moel, kalo nggak salah dia itu … ng … namanya siapa ?” “Nggak tau, nggak bilang,” sahut Moel. “Bener, deh, Moel, kayaknya dia itu … ” Tobuciler menduga-duga.

Ketika gadis misterius itu kembali masuk, Tobuciler mengajaknya berkenalan. “Rie-Yanti,” ia menyebutkan. “Tuh kaaan … betul … saya udah ngira ! Tau, nggak, aku baru aja ngupload tulisan kamu …,” lapor Tobuciler girang.

Rie-Yanti bukan pengunjung tetap atau aktivis acara-acara Tobucil. Tapi sudah dua kali tulisannya dimuat di rubrik “papantulis” blog Tobucil. Selama ini Tobuciler dan Rie-Yanti berkomunikasi melalui e-mail, baru kali itu kami ber-land’s coffee alias kopi darat … hehehe …

“Diwawancara buat ‘Teman Tobucil’, ya … ?” Tobuciler meminta.

“Nggak, ah, nggak mau …,” sahut Rie-Yanti.

“Ya udah, entar aja, kapan-kapan kalo udah siap diwawancara …”

“Nggak, nggak akan pernah siap …”

“Yaaah … “

Sementara Rie-Yanti membaca update-an blog fresh from the laptop Tobuciler, Tobuciler memotret-motretnya. “Lihat sini, dong, Rie …,” request Tobuciler. “Nggak mau, ah, pura-puranya kan lagi baca,” Rie-Yanti menolak.

Teman-teman, tampaknya Rie-Yanti ini memang senang menjadi misterius. Sebab, sampai akhir kunjungannya, sangat susah memotret wajahnya secara jelas …

Sundea


Google Twitter FaceBook

Efek Darah di Jurnal Tobucil ?

-Tobucil, Senin 17 November 2008-

Klab Nulis

Lho … kok masih ada … ? Klab Nulis Angkatan III buka kelas ekstensi atau remedial, ya …?


Bukan,Teman-teman, bukan. Senin itu, alumnus Klab Nulis Angkatan III berkumpul lagi untuk membahas jurnal kompilasi karya. Karena Ophan sang “ayah” sibuk mempersiapkan pementasan, selaku “paman” yang baik, Wiku koordinator klabs membimbing “keponakan-keponakan”-nya mempersiapkan karya.

“Jadi, nanti, jurnal ini dibagiin ke tiap peserta (Klab Nulis). Kalau bisa, mau dicetak banyak, terus ditaro di Tobucil atau di tempat-tempat kayak Rumah Buku gitu untuk dibaca-baca,” jelas Wiku. “Terus nanti isinya apa ? Cerpen-cerpen kita aja ?” tanya Mbak Fetty. “Kasih profil dan foto-foto kita aja,” usul Rudy. “Masukin kontak jodoh biar rame,” tambah Ivan. “Palingan … nanti jurnal ini ditambahin gambar-gambar. Ada yang bisa bikin ilustrasi ?” tanya Wiku. Kami semua teringat pada Nilam, anggota “Klab Nulis bersaudara” yang mahasiswa magister seni rupa ITB. Sayangnya, hari itu Nilam tidak hadir.

Karya utama yang akan dimuat dalam jurnal, adalah tugas akhir teman-teman Klab Nulis. “Tapi versi yang udah direvisi,” ujar Wiku. “Aduh … asal jangan harus dipotong sampai tujuh halaman aja, bingung,” kata Mbak Fetty yang menulis cerpen sepanjang lima belas halaman. “Kata-katanya aja disingkat-singkat, misalnya, banget jadi bgt …,” saran Rudy ngawur.

Ketika merundingkan kertas yang akan dipakai, Ivan memberi saran, “Jangan pakai kertas HVS, pakai kertas buram aja. Meskipun keliatannya lebih bagus, kertas HVS mantulin cahaya. Kalau kertas buram nyerap cahaya, bacanya lebih nggak capek. ” “Mustinya bukunya kita bikin glow in the dark … terus kalau dipijit di sebelah mananya, gitu, ada efek darahnya …,” Yeeee ..! Lagi-lagi Rudy memberi saran ngawur.

Hmmm … kira-kira seperti apa, ya, jurnal kompilasi teman-teman kita ini nanti ? Betul-betul glow in the dark ? Tambah enak dibaca setelah direvisi ? Seperti apa ilustrasinya ? Kertas bagaimana yang akan dipakai ? Betul-betul mengandung kontak jodoh dan profil-profil narsiskah …?

Jadi penasaran. Mari kita nantikan dengan hati berdebar …

Sundea

Google Twitter FaceBook

Ketika Agus Rakasiwi Memarkir Motor

-Tobucil, Jumat 21 November 2008-


Seorang pemuda, sebut saja pemuda W, menghampiri Tobuciler, “Saya request berita, dong …”

“Apa … ?”

“Itu, Agus Rakasiwi kalau parkir motor teu balek. Mustinya kan parkir berjajar di samping. Dia selalu lurus di tengah-tengah. Udah gitu, kalau udah sore, orang-orang parkirnya jadi nurutin dia, lagi …”

“Ya udah, tulis, gih …”

“Nggak, ah … wartawan blog aja yang nulis … “

Posisi parkir kesukaan Mas Agus Rakasiwi memang bukan hal baru. Tapi Tobuciler baru tahu kalau ternyata itu meresahkan masyarakat tertentu. “Kan jadi ngehalangin gerbang,” pemuda W beralasan. Hmmm … begitu, ya …

-Tobucil, Sabtu 22 November 2008-

Saat Tobuciler sedang duduk-duduk di ruang belakang Tobucil, pemuda W tergopoh-gopoh menghampiri, “Sini, geura, lihat bukti Agus Rakasiwi parkirnya ngaco,” katanya. Jadi, berbekal kamera, Tobuciler berlari-lari ke tempat parkir. Bersama pemuda W, Tobuciler memotret motor Mas Agus.

“Di ruang AJI kan dia nulis ‘Buang sisa makanan mu ke tempat sampah ! Huntu !’ Mustinya kita juga nulis di sini ‘Parkir motormu di tempat yang benar ! Huntu !’” tukas pemuda W.

Hmmm … memarkir motor di posisi yang berbeda mungkin cara Mas Agus mengekspresikan semangat perubahan dan kebebasan. Kharismanya sebagai ketu AJI Bandung, membuat dia segera punya banyak pengikut di sore hari.

Well … but is it … ? Hanya Tuhan yang tahu …

Sundea



Google Twitter FaceBook

Hari Merajut dengan Benang Sisa


-Tobucil, Sabtu 22 November 2008-

Klab Rajut

Rudy datang ke Tobucil dengan sebuah syal berwarna oranye dengan gemerlap glitter perak. “Ihhh … bagusss …” “Keren, geura, Rud … “ “Wah, ini kamu yang bikin … ?” komentar Mbak Tarlen, Mbak Upi, Bu Endah, dan Tobuciler yang saat itu berkumpul di beranda Tobucil. “Iya,” sahut Rudy, “kebetulan di rumah ada benang sisa …”

Hari itu memang hari merajut dengan benang sisa. Mbak Upi mengeluarkan sekardus benang sisa dan membiarkan peserta-peserta Klab Rajut memilih benang yang mereka suka untuk merajut. “Paling banyak berapa, nih, Mbak ?” tanya Bu Endah. “Secukupnya, “ sahut Mbak Upi. “Secukupnya ?” tanya Bu Endah lagi. “Iya. Secukupnya mah gimana perlunya, Bu. Kayak orang minum teh gulanya bisa tiga, bisa lima … hehehehe …,” sahut Mbak Upi lagi.

Maka dengan suka ria sore itu teman-teman Klab Rajut memilih benang lucu-lucu yang disediakan. Ada yang membuat topi, tas, syal … ada yang memilih benang merah, putih, cokelat, dan lain sebagainya.

“Nyokap lo suka ngerajut juga, ya, Rud ?” tanya Tobuciler. “Enggak, ibu saya mah, sukanya ngerenda,” sahut Rudy sambil terus menekuni benang merah-putih yang sedang digarapnya.

“Nah, terus ini benang sisa siapa ?” tanya Tobuciler lagi.

“Nggak tau, ada kayak rok gitu di rumah, terus dibongkar lagi sama saya …”

“Hah ? Rok siapa … ?”

“Nggak tau. Ibu saya kayaknya …”

“Hah ? Yakin lo itu rok bekas dan benangnya benang sisa … ?”

JREENG …

Kalau kelak Rudy tidak muncul lagi di kegiatan-kegiatan Tobucil, kemungkinan dia sudah dikutuk menjadi batu. Bisa jadi kisah Rudy menjadi kisah Malin Kundang yang disesuaikan dengan zaman; “Maling Benang”.

Sundea




Google Twitter FaceBook

Si Ting Nong ... Welcome

Di warnet langganan Dea, ada makhluk putih yang agak cerewet. Dia ngegantung di pintu warnet. Tiap ada orang dateng, dia bakal berseru girang, “Ting Nong …Welcome!”

Ternyata, Temen-temen, dia nggak cuma nyapa ke orang yang baru dateng. Ke orang yang mau pulang, ke orang yang lewat di deket dia, bahkan kadang-kadang nggak tau ke siapa, dia suka tiba-tiba berseru “Ting Nong … Welcome!” sendiri. Karena dia makhluk yang bersemangat dan girangan, sapaannya kadang-kadang ngagetin, terutama kalo orang yang denger lagi serius sama postingan atau browsingan.

Pas Dea mo bayar warnet, dia nyapa lagi, “Ting … Nong … Welcome!” Langsung aja Dea nengok kaget, “Aduuuh … kamu itu …” Dan langsung aja dia nyaut juga, “Ting Nong … Welcome!”

Dea diem. Sebenernya Si Ting Nong … Welcome cuma bermaksud ramah. Keliatannya dia generasi penerus Keset Welcome yang ramah juga tapi sangat pendiem. Keset Welcome selalu ada di bawah. Sebenernya dia nyapa siapa aja, tapi karena nggak bersuara, nggak banyak yang ngeh dan khusus nunduk untuk ngebales sapaannya.

Sadar itu bikin Dea sayang sama Ting Nong … Welcome dan Keset Welcome. Tapi, Dea tetep nggak pengen bikin warnet brisik lagi. Jadi, abis bayar, … HUPPP !!! Dea lompat ke luar, ngeluputin diri dari tangkepan mata Ting Nong … Welcome. Dari luar pintu, baru Dea bisik-bisik, “Pulang dulu, ya, Ting Nong … Welcome, besok-besok Dea main ke sini lagi …”

Pas Dea udah nyampe di gerbang warnet, suara Ting … Nong Welcome kembali kedengeran. Nggak tau nyapa siapa. Meskipun agak cempreng, nadanya jadi kerasa anget dan menyenangkan.

Sambil senyum-senyum Dea jalan pulang ke rumah, nyimpen keangetan yang disebar Si Ting Nong ... Welcome. Kali itu, Dea lebih suka mbaca kecerewetannya sebagai dedikasi … ^_^

Sundea

klik di sini untuk melihat foto Si Ting Nong ... Welcome
Google Twitter FaceBook

Crafty Days Sebentar lagi ... ^_^

1.Papan Tulis

Teman-teman juga dapat mengirimkan tulisan teman-teman, tentang apa saja dan dengan gaya seperti apapun juga, ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, dan beri subyek “papan tulis”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

2.Fotobucil

Jika kebetulan berkunjung ke Tobucil dan menemukan obyek menarik untuk difoto, jangan ragu-ragu untuk memotret. Kirimkan karya teman-teman ke Tobucil@gmail.com. Sertakan foto diri dan profil singkat teman-teman, beri subyek “fotobucil”. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

3. Bacakotabandung

Punya tangkapan fenomena, tulisan, atau pemikiran tentang kota Bandung? Mari bersama-sama membaca dan mendokumentasi kota kembang. Jika mengirimkan artikel, jangan lupa menyertakan foto. Kirimkan tangkapanmu atas kota Bandung, foto diri, dan biodata singkatmu ke tobucil@gmail.com. Tobucil akan mengabari via email jika karya teman-teman dimuat di blog Tobucil.

5.Tukeran link

Mauuu … ? Hayu atuuuh … tinggalkan linkmu di shout box Tobucil. Kita bertukarrr … ^_^

6.Kritik dan Saran

Kami juga menunggu kritik dan saran teman-teman. Ayo, jangan ragu-ragu menyurati kami ke tobucil@gmail.com

7. Intip foto-foto Tobucil di : www.flickr.com/photos/tobucil

Kamu juga bisa terlibat di kegiatan Tobucil :

1. Crafty Days #2 "Recycle Attack" ?

Crafty Days akan diselenggarakan pada tanggal 6-7 Desember pukul 09.00-18.00

Klik gambar untuk melihat tulisannya lebih jelas lagi




1. Launching Buku

Judul buku : 9 Matahari

Karya : Adenita (alumnus Klab Nulis)

Waktu : Senin, 1 Desember 2008, pukul 15.30


Dari Klabs :

1. Klab Nulis :

Ikutilah Klab Nulis Angkatan IV. Klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

2.Klab Nonton

Pemutaran film : “Ayat-ayat Cinta”

Jam : 15.00

Tempat : Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, Jln. Nias no. 2

3. Madrasah Filsafat :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 26 November 2008
dengan tema "Ibu Rumah Tangga dan Nasionalisme"
bersama pemasalah : Awi

Rabu, 26 November 2008
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!



Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin