Sunday, December 28, 2008

Menjadi Hantu, Menjadi Malaikat, Menjadi Manusia


Untuk beberapa waktu, wayang sebesar manusia karya Anak Studio 229, menggantung di halaman Aceh no.56. Kemiriphantuannya justru membuat dia jadi malaikat penjaga. Ketika ia tampak seperti melayang di antara rimbun pepohonan, Tobucil cukup aman.

Menjelang akhir tahun, ia diizinkan meninggalkan posisi dinas. Sambil minum Fruit Tea, ia duduk-duduk di bawah pohon; santai dan tenang. Setelah tak lagi mirip hantu atau malaikat, ia jadi seperti manusia biasa.

Teman-teman, mungkin sepanjang tahun ini kita juga jadi hantu dan malaikat. Mempertimbangkan. Memutuskan. Melindungi. Menjerumuskan. Mengejar. Menjalani. Memahami. Menghakimi. Menggantung. Menjadi …

… dan di akhir tahun, kita boleh sejenak berhenti.

Turun dari keangkasaan malaikat berarti jadi manusia yang membumi; melihat segala sesuatu dari jarak dan sudut pandang yang lain.

Teman-teman, dari angkasa kita bisa melihat lebih luas.

Tapi saat memijak bumi, kita bisa menyentuh yang kita lihat …

Semoga di akhir tahun ini kita bisa duduk santai bersama; saling melihat, saling menyentuh …

Salamatahari, semogaselaluhangatdancerah,

Tobuciler


Google Twitter FaceBook

Pak Atang : Bukan Wisata Kuliner, tapi Kuliner yang Berwisata


Bukan, ini bukan foto Pak Atang, teman Tobucil kita untuk edisi minggu ini. Ini adalah roti coklat-kacang-susu andalannya. Pak Atang adalah pedagang roti keliling yang sering ber-“kuliner wisata” ke Tobucil.

Awalnya sulit sekali meminta kesediaan Pak Atang untuk diwawancara sebagai “Teman Tobucil” edisi minggu ini. Namun, berkat sokongan pembujukan dan perayuan dari teman-teman kantor pajak, akhirnya Pak Atang bersedia. Inilah hasil wawancara Tobucil dengan Pak Atang yang jawabannya singkat-singkat seperti isi telegram …

Tobucil : Udah jualan roti dari kapan, Pak ?

Pak Atang : Taun ‘82

Tobucil : Wah … udah lama juga, ya … kalau jualan di Tobucil dari kapan ?

Pak Atang : Enam bulan.

Tobucil : Ooo … gimana ceritanya, Pak, bisa jualan di sini ?

Pak Atang : Dikasih tau Pak Bambang (pemilik rumah sebelah, Ayah Reni-red).

Tobucil : Hmmm … gitu, ya. Laku, Pak, rotinya ?

Pak Atang : Ya … lumayan.

Tobucil : Kelebihan roti Pak Atang dibanding roti bakar yang lain gimana ?

Pak Atang : Lebih mantap.

Tobucil : Ng … mantapnya ? Promosi aja, Pak, promosi … siapa tau entar pembaca blog Tobucil jadi pengen beli roti bakar Bapak.

Pak Atang : Bakarnya lebih lama, enak, masaknya sampe dalam, bumbu-bumbunya sampe hancur, hangat.

Tobucil : Isi roti Bapak apa aja, sih ?

Pak Atang : Kacang, mentega, cokelat, strawberry, susu.

Tobucil : Yang paling favorit rasa apa ?

Pak Atang : Kacang sama cokelat susu.

Tobucil : Kenapa ?

Pak Atang : Gurih. Ada rasa asin, manis.

Tobucil : Bapak suka, nggak, roti bikinan Bapak sendiri ?

Pak Atang : Suka. Sekeluarga suka sarapan roti ini.

Tobucil : Wah, asyik, dong … roti ini enaknya dimakan pagi-pagi gitu, ya, Pak ?

Pak Atang : Paling enak sore, sambil minum teh atau kopi.

Tobucil : Ooo … pantesan Bapak sering ke sininya sore-sore. Terus, Pak, Bapak dateng ke sini hari apaan aja ?

Pak Atang : Sedatengnya.

Tobucil : Awalnya Bapak jualan roti ini gimana, sih, ceritanya?

Pak Atang : Awalnya nggak dibakar.

Tobucil : Ng … ok. Terus kenapa akhirnya dibakar ?

Pak Atang : Katanya mau yang anget.

Tobucil : Oh, baiklah. Eh, Pak, harga roti Bapak berapa, sih ?

Pak Atang : Yang besar sembilan ribu, yang kecil tiga ribu.

Tobucil : Ya udah, deh, saya beli yang besar …

Tanpa menunggu lebih lama, Pak Atang langsung membuatkan roti untuk Tobuciler. Saat membuat roti bakar, kekakuannya cair seperti mentega yang meleleh di penggorengannya. Tobuciler menghirup aromanya. Hmmm … nikmat sekali. Kegurihan yang dia ungkapkan, mengungkap diri juga melalui aroma itu.

Ternyata, Teman-teman, roti Pak Atang memang enaaak … sekali. Permukaannya garing dan gurih mentega, namun empuk. Saat Tobuciler menggigitnya, selainya terasa mencair di dalam mulut.

Tampak Pak Atang masih terus sibuk menggoreng roti. Pembeli lain datang lagi, dan datang lagi. Kamu mau jadi pembeli berikutnya … ?

Sundea





Google Twitter FaceBook

Stardust in the friend of earth's bag

Judul Buku : Stardust

Pengarang : Neil Gaiman

Harga buku : Rp. 52.500,00

Harga Tobucil : Rp. 47.250,00

Ini dongeng untuk orang dewasa

Alkisah, di padang rumput Inggris yang tenang lama berselang, ada sebuah desa kecil yang selama 600 tahun berdiri di atas tonjolan batu granit. Di sebelah timur desa itu ada tembok batu yang tinggi. Itu sebabnya desa itu dinamai desa Tembok.

Di desa itu pemuda Tristran Thorn jatuh cinta pada si cantik Victoria Forester. Dan di sini pula pada suatu senja bulan oktober yang dingin, Tristran berjanji pada si gadis. Janji gegabah yang membawanya berkelana ke negeri dibalik tembok, menyeberang padang rumput, masuk ke Negeri Peri.

Dan disana dimulailah petualangan paling mendebarkan dalam hidupnya.

---

Tas “Friend of Earth” Ramah Lingkungan

Harga Rp.15.000,00

Teman-teman, hanya dengan mengeluarkan Rp.15.000,00 teman-teman dapat membali tas “Friend of Earth” ini. Fungsinya seperti kresek, namun dapat dipakai berulang-ulang dan praktis untuk dibawa ke manapun.

Tersedia dalam tiga pilihan warna; biru, pink, dan abu-abu




Google Twitter FaceBook

Kembang Api Tahun Baru

Oleh : Rie-Yanti

Bagian satu

Tahun baru sudah bisa dihitung mundur. Sudah punya rencana untuk merayakannya?

Saya mungkin akan merayakannya di rumah, seperti biasa. Menonton berbagai acara di televisi sampai lewat tengah malam sambil melahap sepiring kentang dan sosis goreng, serta sesekali menyeruput minuman ringan, rasanya cukup. Saya tidak menambah kegiatan lain selain tidur setelah acara yang ditunggu selesai. Tidak pernah saya merenung, memikirkan apa-apa yang sudah saya lewati, apalagi membuat resolusi.

Sebetulnya pernah saya membuat resolusi, tapi kemudian saya mengabaikannya. Setelah itu, setiap tahun baru saya cuek saja. Tidak pernah merenung apalagi merencanakan banyak hal. Tahun baru tidak berarti apa-apa bagi saya. Mau bulan Januari, Pebruari, Maret, semua sama. Mau tanggal satu, dua, tiga, semua sama. Mau hari Minggu, Senin, Selasa, semua sama.

Bisa dibilang, makna tahun baru bagi saya hanyalah mengganti kalender. Lalu setiap tanggalnya lewat begitu saja. Waktu berlalu tanpa saya rasakan setiap detik yang lewat, hingga akhirnya tibalah saya pada sebuah momen yang orang anggap istimewa. Terompet dan kembang api memenuhi trotoar, membujuk anak-anak untuk menguras dompet orang tua. Tak ketinggalan, tempat-tempat hiburan atau komunitas tertentu mengorganisir sebuah acara yang hanya bisa dilakukan sekali dalam setahun.

Ah, tahun baru, apa sih? Kenapa harus dirayakan? Kenapa pula harus ada terompet dan kembang api? Simbol apakah itu?

Menjelang bulan Desember tahun ini, tak henti-hentinya saya mencari jawab untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sampai saya akhirnya menyadari bahwa terhitung awal tahun ini, begitu banyak peristiwa yang mendatangi saya dan memaksa saya untuk berpikir serta memahami realita. Emosi saya naik-turun. Kadang saya bisa setenang air di bak mandi. Lain waktu saya menyerupai air laut dengan ombak yang menggelora. Lalu, ketika lakon itu selesai, saya menangis, atau tertawa puas seperti habis menonton Mr. Bean waktu tayang pertama kali.

Andai peristiwa-peristiwa itu saya catat dalam lembar-lembar buku harian, satu buku rasanya tidak akan cukup. Atau kalau saya rajin, semuanya bisa saya tumpahkan ke dalam bentuk novel. Tapi pada kenyataannya, kebanyakan peristiwa itu saya simpan di kepala, dan entah kapan akan saya alihkan ke media kertas atau layar komputer. Karena, jujur saja, kalau mengingat peristiwa-peristiwa itu, emosi saya kembali naik-turun.

Tahun baru memang masih beberapa hari lagi. Tapi sudah terbayang di kepala saya silaunya kembang api dan berisiknya suara terompet. Kemudian saya membuka-buka halaman kalender. Saya lihat lagi angka satu di bulan Januari. Terus, sampai akhirnya saya tiba di angka ini, bulan ini. Mendadak saya melihat komet yang berpindah tempat alias bintang jatuh. Ia muncul dari arah yang tidak saya duga dan melesat cepat, lalu mengentah, hilang tak tentu rimba. Saya terdiam seperti kena hipnotis. Lalu tenggorokan saya terasa kering, susah menelan ludah. Dada saya sesak. Terakhir, mata saya terasa berat ...

Bersambung …

Kirimkan tulisanmu tentang apaaaa … saja dan dalam bentuk apaaa … saja ke tobucil@gmail.com, dengan subyek “papantulis”. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …=D


Rie Yanti, tinggal di Cicalengka, sebuah kota kecil di Kabupaten Bandung. Kalau ditanya, ‘Cicalengka? Di mana tuh?’, dengan senang hati Rie menjawab, ‘Itu tuh, antara Rancaekek dan Nagreg. Tau Nagreg kan? Itu tuh, yang kalau lebaran suka nongol di teve-teve, tempat favorit para wartawan buat me-report arus mudik dan arus balik. Suka nonton teve nggak?’ Kalau si penanya menggeleng, Rie akan bilang, ‘Ya sudah, anggap saja saya tinggal di Bandung.’

Rie paling suka kalau hujan turun pagi-pagi, soalnya bisa menambah jam tidurnya. Hujan siang-siang juga Rie doyan, biar punya alasan buat tidur lagi sampai sore. Kalau insomnianya kumat, Rie akan berdiri di balik jendela, memandang halaman rumah yang dipenuhi rerumputan liar, menyibak tirai hujan karena Rie yakin, di dalam hujan ada pesan yang disampaikan langit.



Google Twitter FaceBook

Perjalanan Rumah Sakit

Bagian dua

Klik di sini untuk membaca bagian satu

sebagai manusia yang menghabiskan seumur hidup di kota, itung-itungan matematis tentang uang selalu bisa saya temukan di hampir setiap hari dalam kehidupan saya, entah itu dilakukan oleh saya atau pun oleh orang-orang di lingkungan saya. apalagi saya bekerja sendiri alias mencoba membuat perusahaan sendiri, bukan bekerja ke orang lain. pendapatan, pengeluaran serta rencana pemasukan selalu memenuhi setiap udara yang saya hirup. untunglah saya masih bergerak di komunitas yang menekankan pada semangat komunal, jadi ada keseimbangan yang bisa saya dapat dari hidup ini.


Saya kembali membaca buku tentang perjalanan muhammad yunus yang menekankan sikap positif dan semangat memperbaharui dunia, jadi pikiran negatif saya bisa sedikit dialihkan. setelah menunggu sekitar 45 menit akhirnya saya dipanggil juga untuk melakukan peoses radiologi. setelah diminta untuk memakai baju rumah sakit yang seringnya berwarna hijau itu. ada yang aneh ternyata, saya akan di rontgen hanya bagaian paru-paru saja, padahal saya kira saya akan di rontgen bagian yang akan dioperasi, agar bisa kelihatan hasil dan akan didiagnosa kembali oleh dokter. namun setelah proses rontgen selesai, saya menyakan pada perawatnya, ternyata rontgen yang saya lakukan adalah untuk perispan operasi, jadi bukan untuk mengetahui diagnosa bagian yang akan dioperasi, kerena diagnosa telah dilakukan sebelumnya oleh dokter, ketika memikirkan kembali hal ini, ya, saya mengerti.


Proses radiologi telah selesai, saya diminta untuk membayar, setelah membayar (dengan menggunakan uang sendiri) saya kembali ke ke 'loket' radiologi untuk menanyakan hasil rontgen, tapi ternyata hasilnya baru bisa diambil nanti, petugas 'loket' menganjurkan hari selasa sebelum operasi. tapi dalam hati saya berencana untuk mengambil hari senin agar hari selasa tidak terlalu sibuk, karena saya harus operasi.


Setelah cek radiologi selesai, saya kemudian menanyakan untuk cek laboratorium, ada beberapa poin dari darah saya yang harus diperiksa. prosesnya mirip dengan proses radiolog, mendaftar, menunggu, lalu di ambil sampel darah, disuruh membayar, kembali lagi menunggu untuk hasil.


Akhirnya proses persiapan untuk operasi selesai, tinggal menunggu hasil radiologi dan bersiap untuk operasi beberapa hari ke depan.


Dari semua proses yang saya lakukan ternyata saya menemukan sesuatu yang lain, ini merupakan pengalaman pertama saya mengurus semua keperluan yang berhubungan dengan rumah sakit, sendirian, bahkan membayar dengan uang sendiri pula. biasanya saya menyerahkan urusan sakit pada ibu saya, yang walaupun hanya bidan tapi bagi saya adalah dokter serba bisa yang sangat bisa diandalakan dalam segala macam situasi. pernah juga sih, sekali diantarkan oleh seorang yang kini jadi mantan atau kalau tidak salah ingat anggota keluarga yang lain..


Proses mengerjakan semuanya sendiri ini membuat saya merenung tentang diri saya sendiri, yang sebenarnya dari kecil manja. entah karena anak bungsu dan anak laki-laki satu-satunya, atau karena hal lain, yang pasti saya tumbuh sebagai anak manja sampai sekitar sma dan berakhir di masa kuliah. perjalanan rumah sakit ini membuat saya sedikit malu, sebenarnya, kenapa untuk banyak hal saya masih terlalu tergantung orang lain, dan masih belum bisa mengurus banyak hal sendiri. adakalanya memang kia perlu bantuan orang lain, saya pun bukan orang yang anti bantuan orang lain, namun ada beberapa hal juga yang memang bisa dikerjakan sendiri karena memang bisa.


Agak menyenangkan sebenarnya menjalani proses ini sendirian, membayar sendiri, walaupun untuk biaya operasi saya pasti memakai uang orang tua, tapi setidaknya untuk biaya cek dokter dan lain-lain saya bisa membayar sendiri, walau gaji bulan ini menipis, tapi biarlah, biar saya mulai belajar untuk menghidupi diri saya sendiri dan bertanggungjawab jawab atas hidup saya sendiri.


Perjalanan rumah sakit ini masih berlanjut, hari senin kemungkinan besar saya mengambil hasil radiologi, dan hari selasa saya akan dioperasi. operasi yang akan saya lakukan memang bukan operasi besar, tidak sebesar operasi mengangkat tumor yang pernah ibu saya lakukan. tapi jauh dari itu semua, agaknya beberapa hal yang saya alami akhir-akhir ini mulai menjadi hal-hal yang melankolis, tentang usia yang terus bertambah, tentang usaha bisnis pribadi yang masih terus berjuang untuk sukses, tentang kehilangan tujuan dan makna hidup, dan banyak hal lain.


Ketika kota yang saya sukai ini mulai memasuki musim hujan, rasanya ini bukan juga sebuah kebetulan, natal akan tiba, dan disusul oleh pergantian tahun. entah disadari atau tidak, tenyata memang benar, banyak keputusan yang harus saya ambil tahun ini, sebelum natal tiba dan tahun berakhir dan berganti tahun selanjutnya. tidak ada kata terlambat, tapi memulai dan menjalankan memang tidak segampang mengucap niat.


Semoga, semua akan baik-baik saja.


Tamat

Wikupedia



Google Twitter FaceBook

Amblas

Sebuah mobil kijang amblas di jalanan Laswi Bandung, karena pecahnya pipa air beku PDAM. pecahnya pipa tersebut diakibatkan difungsikannya kembali pipa air beku yang dibuat pada 1959.




Punya tangkapan dan foto-foto seru tentang kota Bandung ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto dan profil singkatmu. Kami tunggu, yaaa ...

Agus Bebeng adalah freelance photographer yang kini menjadi stringer di Kantor Berita Antara


Google Twitter FaceBook

Kesenduan Para Filsuf

-Tobucil, Rabu 24 Desember 2008-

”Aku membencimu, maka aku ada.”


Kalimat tersebut, meski mirip, bukan datang dari Rene Descartes, si matematikawan yang meletupkan pentingnya kemandirian akal budi. Di rabu sore itu, seperti biasanya, para filsuf berkumpul di Tobucil. Warna langit yang semakin temaram seolah menjadi penanda bagi Mbak Tarlen untuk melontarkan pemicu gagasan. Bukan tentang Socrates, bukan tentang Nietzsche, melainkan Cinta Laura.


“Alkisah,” sabda Mbak Tarlen, ”Ada seorang Ibu yang memaksa anaknya belajar bahasa Inggris. Latarnya bukan karena pentingnya penuturan itu dalam komunikasi internasional, tapi lebih didorong agar anaknya bisa berlogat bak Cinta Laura.” Kontan yang lain tertawa geli, tanpa dikomando satu persatu menirukan ”ucyapan Cyinta yang tyerkenal itcyu”.


Mbak Tarlen melanjutkan topiknya, “Perlu diakui, jika kasus tersebut merupakan bentuk histeria terhadap idola, maka saya pun mengalaminya. Hingga kini, saya masih mengidolakan Eddie Vedder (vokalis Pearl Jam), meski bentuk histerianya tak persis sama dengan apa yang dilakukan si Ibu. Mengapa Eddie? Karena dalam banyak sisi, dia adalah proyeksi saya, dia mewakili keinginan saya yang paling subtil, dia itu gue banget.” Sadar bahwa diskusi filosofis ini bukan dalam rangka mengupas pemikiran Cinta Laura, yang lain mulai berbagi pengalamannya.


”Saya sih kayaknya tidak punya tokoh yang saya idolakan. Paling juga Albert Camus. Itu pun hanya pemikirannya saja. Saya merasa tak perlu mengenali sosoknya lebih jauh,” demikian respon Mas Daus. ”Kalau idola saya adalah sapi,” Mba Winny angkat bicara.
Mba Eci, ”Harry Potter!” Tobuciler tak mau kalah, ”kalau saya senang Nirvana.


Berbagai tokoh-tokoh idola yang dilontarkan para filsuf tersebut menyembulkan pertanyaan baru: kenapa setiap orang punya idola? Apa pentingnya? Seperti biasa, Madrasah Falsafah Tobucil tak pernah menyimpulkan satu kebenaran saja di akhir cerit


Selalu tersedia banyak tempat bagi kebenaran subjektif, yang lahir dari berbagai pengalaman eksistensial manusia. Itulah mengapa lingkaran pertemuan ini punya slogan istimewa: semua orang adalah filsuf.


Bagi Mbak Tarlen, kegemarannya akan Eddie Vedder, barangkali, melebihi kata-kata.
Ketika sisi kejiwaannya telah terpuaskan hanya dengan membayangkan sang idola, maka mempersoalkannya dalam kerangka filsafati bisa jadi merupakan kegiatan sia-sia. Lain lagi bagi Mba Eci, yang tutur panjangnya tentang Harry Potter menunjukkan bahwa tokoh idola tak stagnan, mereka terus berkembang seiring dengan imajinasi dan kesadaran. Beda bagi Mas Imam, yang sadar bahwa idola tak terus menerus diikuti oleh penggemarnya. Terkadang mereka juga dikritisi, bahkan dikontradiksi. Ini tercermin lewat temannya, penulis buku yang kritis terhadap Da Vinci Code. Padahal, dia ini penggemar berat karya tersebut. Pemikiran Mas Imam itu menuai reaksi dari Mas Daus. Lewat kejadian itu, lahirlah kalimat yang menjadi pembuka artikel ini. Membuat nama Mas Daus terasa cocok jika dipanjangkan menjadi Rene Dauscartes.


Tobuciler tak sanggup meraba persis kapan tepatnya pertemuan itu berakhir. Kekuatan pikiran membuat masing-masingnya seolah tak pernah puas mengkonstruksi suasana. Suasana malam natal pun menjadi hangat, panjang, sekaligus sendu. Kesenduan itu datang dari ratapan para filsuf pada pikirannya yang tak pernah berhenti menjinak. Barangkali akhir dari segala obrolan filsafati, adalah umpatan purba dari dalam hati: ngapain kita ngobrolin semua ini?

Syarif Maulana




Google Twitter FaceBook

Suasana Natal di Tobucil

-Tobucil, 25 Desember 2008-

Tobucil tetap buka. Menawarkan kemungilannya di hari natal. Tanpa pohon cemara. Tak ada lonceng dan ornamen. Pun sinterklas dan suartepit. Yang dominan adalah lipatan dan rajutan karya Mul sang seniman. Eh, ada Mbak Elin dan Mbak Upi. Dua orang yang tak jera berbagi kedamaian. Lewat merajut dan tiduran. Lalu datang Aris dan Putra. Kali ini semangat jadi tongkat sulapnya. Simsalabim! Suasana Tobucil mendadak riang gembira.


Kedamaian. Semangat. Ternyata datangnya di sini. Yuchan dan Pram menunjuk-nunjuk ulu hatinya.

(Imajinasi Tobuciler tentang isi hati Yuchan dan Pram, dua orang yang tetap hinggap di Tobucil pada hari natalnya)


Google Twitter FaceBook

They Were All Yellow


Look how they shine for you,

and everything you do,

yeah they were all yellow …

Yellow - Coldplay

Siang ini, Dea nungguin papa di Ark Galeri. Dea duduk di kursi paling ujung, deket sama jendela yang paling besar. Dari situ Dea bisa ngeliat ke jalan. Rasanya menyenangkan, soalnya matahari lagi cerah-cerahnya.

Pas udah rada sore, matahari keliatan lebih bagus lagi. Sinarnya emas, tumpah ruah ke mana-mana. Dea terpesona banget. Tapi mobil-mobil keliatan nggak peduli sama sekali. Mereka malah kayak nggelinding buru-buru; ngegiles gitu aja cahaya matahari yang ngebentang di jalan dan kayak ngehindarin serbuk emasnya yang dipruluk royal-royal. Dea ngerasa sayang. Jam empat sore cuma sebentar. Cahaya matahari nggak akan selamanya luber-luber nyaman seperti saat itu. Apa mobil-mobil itu nggak tau ?

Ternyata, Temen-temen, mobil-mobil memang tetep nggak peduli. Sinar matahari seperti terboroskan secara sia-sia. Tapi keliatannya matahari emang udah niat ngasih aja. Mau diterima mau enggak, dia nyiramin keindahannya tanpa syarat. Dea jadi sedih.

Menjelang sore, sinar emas matahari mulai abis. Anehnya, saat itu mobil-mobil malah jalan lebih pelan-pelan, seperti nunggu dibagi cahaya. “Huuu … telat luuuu …,” cibir Dea sebel. “Tenang aja, aku masih punya cahaya, kok,” Matahari malah ngebelain mobil-mobil. Dea jadi diem.

Iya. Matahari emang masih punya sisa cahaya meskipun nggak sebanyak dan sebagus jam empat tadi. Tapi Dea liat dia masih berusaha bersinar untuk mobil-mobil. Berusaha ngasih cahaya terbaik yang bisa dia kasih sambil nyanyiin lagunya Coldplay,

“…and you know… for you I’d bleed myself dry, for you I’d bleed myself dry …

Sundea



Google Twitter FaceBook

Mana Rubrik Favoritmu ? Ikuti Pollingnya ...


Polling Rubrik favorit :

Mana rubrik favoritmu dalam blog Tobucil ? Lihat ke sisi kanan halaman blog, lalu ikuti pollingnya … =D



Kunjungi juga link blog-blog lain Tobucil ...

Tobucil : http://www.tobucil.blogspot.com/


Madrasah Filsafat :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkan

diskusi rutin Rabu tanggal 31 Desember 2008
dengan tema "Konstruksi dalam Identitas"
bersama pemasalah : Desiyanti
Rabu, 31 Desember 20
08
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Tokotuku Garage Sale

December 20th.08 – January 1st 09

Sultan Agung No.12. Bandung

09.00-18.00

Information : 0811247460 – Dila/ 02291609114-Indi

We serve you the second stuff with quality

We serve you the brand new stuff

klik pada gambar




memperkenalkan : Syarif Maulana, Tobuciler alternatif.
Google Twitter FaceBook

Sunday, December 21, 2008

Desember


“Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember …”

Desember-Efek Rumah Kaca

Meski tak semua negara mengalami musim dingin, Natal identik dengan semesta yang dingin. Santa Claus datang dari Kutub Utara. “White Christmas” dekat dengan Natal bersalju. Pohon Cemara, yang biasa dijadikan pohon Natal, adalah pohon yang bisa hidup di tempat dingin. Cerita-cerita tentang kedinginan seperti “A Christmas Carol” , “The Little Match Girl”, termasuk kisah kelahiran Yesus itu sendiri, muncul dan diceritakan kembali di mana-mana.

Tapi, Natal juga dekat dengan kehangatan yang diciptakan dan disadari. Menyalakan lilin dan perapian, bertukar hadiah, baju-baju tebal, lengkap dengan topi, syal, dan sarung tangannya, berkumpul dan saling menunjukkan kasih sayang …

Dingin adalah weker yang memberi makna pada kehangatan. Ia mendorong manusia untuk saling mendekap. Meski dingin adalah semesta, pada akhirnya kehangatan adalah inti.

Bulan ini hujan turun hampir setiap hari, meski kita tak punya salju …

Selamat hari Natal buat teman-teman yang merayakan …

Salamatahari, semogaselaluhangatdancerah …

Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Erri Nugraha : Datang Tak Dijemput, Pulang Tak Diantar


Teman di kala senang ? Banyak. Teman di kala susah dan senang ? Ada. Tapi teman di kala susah saja …? Nah …

Erri Nugraha termasuk Teman Tobucil yang tergolong dalam kategori jarang-jarang itu. Berikut adalah wawancara Tobucil dengan “a friend in need is a friend indeed” ini …

Tobucil : Tau Tobucil dari kapan, Ri …?

Erri : Taun 2000-an.

Tobucil : Taunya gimana ?

Erri : Ngelewat, terus ada orang-orang keluar dari restoran, tapi keluar dari restorannya nggak kayak abis makan (Tobucil sempat berlokasi di Dago, Trimatra, yang juga bekas rumah makan Gampoeng Aceh-red). Terus saya masuk aja. Sebetulnya sebelumnya saya udah sempet tau nama Tobucil, tapi belum tau di mana- di mananya.

Tobucil : Jadi bener-bener baru tau pas lewat itu dan pas masuk … ternyata bener ?

Erri : Iya.

Tobucil : Hebat amat … pas pertama kali ke Tobucil lo ngapain aja ?

Erri : Baca-baca buku aja, itu kan toko buku. Terus nanya-nanya sama Tarlen di sana apa aja kegiatannya, waktu itu Tarlen masih jaga toko. Abis itu ikut Klab Nulis, waktu itu hari Minggu, akhirnya mulai ikut-ikutan Klab Nonton …

Tobucil : Tapi udah gitu elu ilang dan suka tau-tau muncul pas Tobucil lagi butuh bantuan, aja. Gimana, tuh, ceritanya ?

Erri : Ga tau juga. Kebetulan pas dateng lagi ada rame-rame, jadi hayuuu …

Mbak Tarlen : Dia ada tiap Tobucil pindahan, dari Trimatra ke KGU, dari KGU ke Aceh …

Tobucil : Kalo ada pameran lo juga sering jaga kan … ?

Erri : Iya, mulai pas ada Elin, saya suka jaga stand …

Tobucil : Nah. Dari cerita-cerita lo tadi, elo kan kebetulan mulu, tuh, muncul di Tobucil; nemu Tobucil, kebetulan; dateng di tengah kesusahan, kebetulan. Bener nggak kalo dibilang elo selalu punya “feeling” kalo ada apa-apa di Tobucil ?

Erri : Enggak …

Tobucil : Kenapa ?

Erri : Karena niatnya emang mau main, kangen, udah lama nggak ke Tobucil, terus dateng aja. Pas dateng saya nggak tau di sini (di Tobucil) saya lagi dibutuhin …

Tobucil : Lha iya, makanya gue bilang “feeling”, karena elu nggak tau …

Erri : Enggak juga, sih … tapi, ya … siapa tau. Mungkin saya semacam Jalangkung, “datang tak dijemput, pulang tak diantar …” hehehe …

Tobucil : Perasaan lo sama Tobucil gimana, Ri ?

Erri : Wah … (berpikir) … berdebar-debar.

Tobucil : Kenapa ?

Erri : Sering saya dateng-dateng bingung. Dulu kan saya cuma kenal Tarlen, terus pas dateng lagi, udah banyak yang nggak kenal. Terus kenalan, kan, pas abis pergi dateng lagi, yang kenalnya udah nggak ada lagi. Itu yang bikin berdebar-debar.

Tobucil : Hahaha … terus kalo nggak lagi ke sini, sehari-harinya elu ngapain, Ri …?

Erri : Saya di rumah. Biasanya istirahat.

Tobucil : Seringan istirahat, dong …

Erri : Iya, sampe kena demam berdarah karena tiduuuur …. terus, terus digigit nyamuk. Kadang juga saya begadang. Kalo begadang, ngapain, ya …?

Krik … krik … krik

Erri : Nanyanya susah, sih, sok, apa coba, saya sehari-harinya nggak ada yang sama.

Krik … krik … krik

Erri : Ada yang mau ditanyain lagi ?

Tobucil : Kenapa, lo mau cabut, ya ?

Erri : Enggak, gua udah punya jawabannya …

Tobucil : Lho, orang gua nanya juga belom …

Erri : Iya, tapi sebelom lo nanya gua udah punya jawabannya.

Tobucil : Wah … feeling lo untuk semua hal di Tobucil emang kuat, ya … pernah nggak pas Tobucil sepi elo punya feeling untuk dateng dan ngeramein suasana ?

Erri : PASS !

Tobucil : Hah … ? Itu pasti jawaban yang lo siapin untuk pertanyaan apapun, deh …

Erri : Hahaha … iya …

Hari itu, customer service tetap Tobucil, serempak berhalangan. Kebetulan (lagi) ada Erri. Ilustrator lepas (banget) ini, mengunceni tampuk kekasiran sambil menggambar-gambar.

Tahu-tahu, meskipun tidak sedang berdoa, Tobuciler teringat pada Tuhan. Bukankah Dia juga teman yang sering tiba-tiba terasa ada di kala kita susah ? Dan waktu semua teman serempak berhalangan, Dia menjaga kita seperti Erri menjaga kasir.

Sore itu, meskipun tidak sedang ada di rumah ibadah, Tobuciler ingin berdoa …

Sundea





Google Twitter FaceBook

Bandung Sekarang (Klik Pada Gambar)

Idenya dapet pas baca berita tentang approval pembangunan daerah Babakan Siliwangi. Quo Vadis Kota Bandung teh? Kota sampah iya, kota FO iya, kota kreatif iya, kota kembang juga iya...



Erick.S.

Pengajar di Institut Teknologi Nasional, Bandung. Juga fasilitator Writer's Circle di ReadingLights. Hari Kamis (15/12) menjadi fasilitator workshop komik di Tobucil.

http://www.ericbdg.blogspot.com/


Google Twitter FaceBook

Antara Rindu, Dendam, dan Rintik Hujan

Oleh : Didi Supardi

Klik di sini untuk membaca bagian satu, dan di sini untuk membaca bagian dua

Bagian Tiga

...mau tau gimana kabar lo sekarang…., terus gue mo minta maaf atas kesalahan-kesalahan gue yang dulu, biar ke depan gue bisa melangkah dengan ringan tanpa meninggalkan dosa sama lo ..."

Ia kembali diam. Sepertinya masih ada yang ingin disampaikannya. Aku menunggu, berusaha tampak sabar dan tenang. "Terus yang intinya sih, sebenernya gue mau ngasih ini…" dia mengambil tas, memasukkan tangannya ke sana, mencari sesuatu yang terselip di antara barang-barangnya. Tak lama kemudian, dia menyodorkan sesuatu kepadaku, "….ini buat lo .."

"Apaan, nih, Vi ?" tanya gw

"Udah lo buka aja … "

Kubuka perlahan benda yang diberikannya. Perasaanku tidak menentu karena benda itu mirip-mirip ... ternyata … benar! Benda itu adalah sebuah kartu undangan !

"Oooohhhh…ini yang mau lo kasih ke gue …," kataku berlagak tenang.

"Iya," sahut Devi cepat.

"Dari tadi, kek, lo bilang…mo ngasih undangan, gituh, pake muter-muter segala," kataku dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa (padahal jantungku serasa copot nerimanya).

Tiba-tiba saja terdengar lagu Ari Lasso Feat. Bunga Citra Lestari dari handphone Devi, "…duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu dan kini hanya ada aku dan dirimu sesaat di keabadian …" gelagat-gelagatnya, itu telepon itu dari someone specialnya. Tambah yakin saja aku kalau dia serius mau menikah. Woiiii bangun woiii..sadaaaar..sadaaaar..

Sekilas aku mendengar kata-kata yang dia ucapkan, "Iya, ini sebentar lagi juga selesai. Tunggu, Yang, sebentar …”

Setelah Devi selesai bertelpon, aku menawarkan, “Oiaaaa…sampe lupa gue, mo minum apa lo Vi ? Teh anget mau?"

“Ngga..ngga…makasih, gue gak lama-lama kok di sini, udah sore juga, nih, kasian orang rumah nungguin …"

"Oh, gituh, ya udah klo gituh" ujarku. Dalam hati, aku merutuk lagi, “Iya mendingan lo cepet-cepet pergi yang jauh sono ke kutub utara sekalian !”

"Assalamualaikum,” itu kata terakhir keluar dari mulut Devi.

Tidak lama kemudian, bayangan Devi menghilang perlahan-lahan dari pandanganku. Bersamaan dengan butiran-butiran air hujan yang masih saja mengguyur kota Bandung di sore itu.

Terdengar suara mesin mobil yang dinyalakan. Semakin lama suaranya semakin jauh, lalu menghilang sampai tak terdengar sedikitpun. Yang tersisa hanya bunyi jatuhnya air dari langit yang menimpa atap rumahku. Hujan semakin deras.

Aku melangkah menuju kamarku, lalu merebahkan badanku diatas peraduan mimpi yang selalu setia memberikan kehangatan dalam suasana seperti apapun. Telingaku mendengar lantunan nada dari speaker komputer, mengalirkan nada-nada yang seakan menyayat suasana hatiku saat itu. Aku memejamkan mataku.

masih tertinggal bayanganmu
yang telah membekas di relung hatiku
hujan tanpa henti seolah pertanda
cinta tak di sini lagi
kau tlah berpaling


biarkan aku menjaga perasaan ini, ohh
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi, aku takkan pergi
kau menjauh, aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu

masih adakah cahaya rindumu
yang dulu selalu cerminkan hatimu
aku takkan bisa menghapus dirimu
meski ku lihat kini
kau di seberang sana

andai akhirnya
kau tak juga kembali
aku tetap sendiri
menjaga hati

Tamat

Didi Supardi, lahir di Majalengka, 22 April 1982. Selain suka menggambar, nonton film dan travelling, lulusan Desain Komunikasi Visual Unpas 2006 ini kini mulai menyukai menulis. Bekerja sebagai Graphic Designer, tidak menghalangi hobi barunya menulis di sela-sela waktu luangnya. Penikmat musik Reggae ini mempunyai cara tersendiri dalam menikmati hidup dengan cara santai namun pasti dan mengalir apa adanya sesuai dengan aliran bermusiknya. Untuk mengenal lebih jauh bisa mengunjungi rumahnya di :

http://didisupardi.blogspot.com

http://didisupardesign.multiply.com


Google Twitter FaceBook

Perjalanan Rumah Sakit

Setelah membagi-bagikan sticker bertuliskan “Wikupedia”, koordinator Klabs kita cuti dua minggu. Ke mana dia … ? Catatan ini menceritakannya, sekaligus membuatnya tak terasa absen …

Bagi sebagian orang, mungkin pergi ke rumah sakit dan memakai fasilitasnya menjadi sebuah kegiatan yang biasa saja. tapi tidak halnya dengan saya. Pergi ke rumah sakit adalah sebuah kejadian di luar kebiasaan yang memang menjadi hal yang harus saya catat, meski hanya berupa tulisan di blog.

Sebagai anak dari ibu yang pekerjaannya di sekitar hal-hal kesehatan (ibu saya bekerja sebagai bidan di rumah sakit tni, sekarang sudah pensiun namun masih aktif di dua rumah bersalin swasta), agak aneh memang jika saya tidak terlalu suka dengan lingkungan rumah sakit. Entah kenapa, lingkungan rumah sakit bisa membuat saya berpikir negatif, terutama tentang sakit itu sendiri, kalau tentang bau rumah sakit saya tidak masalah, malah sebenarnya saya agak obsesif kompulsif dengan kebersihan dan antiseptik. Saya hanya tidak merasa nyaman di rumah sakit, dan berhubung saya obsesif kompulsif sama kebersihan, agaknya gambaran rumah sakit menjadi agak menyeramkan bagi saya, yaitu rumah yang banyak orang sakit, yang berarti banyak yang kotor-kotor dan perlu dibersihkan.

Namun, suatu waktu di awal bulan desember ini, saya diberi kesempatan untuk lebih mengenal rumah sakit dan beberapa proses menjadi orang sakit di Rumah Sakit Boromeus. Sabtu itu saya mempersiapkan diri melengkapi persyaratan untuk operasi pada hari Selasa minggu depannya. Setelah akhir bulan November saya ke dokter untuk periksa dan dianjurkan untuk operasi, baru kali ini saya merasa siap karena beberapa pekerjaan besar telah telewati jadi pikiran agak tenang.

Perjalanan di mulai tentu saja di tempat parkir, yang seperti biasa penuh, namun masih menyisakan jalan utama yang agak lenggang. Masuk ke rumah sakit, langkah saya terhenti oleh kios penjual koran. Ada maajalah tentang marketing yang menarik mata saya, tapi saya hanya melihat sepintas, lalu masuk lagi ke ruang utama rumah sakit.

Sesampainya di meja administrasi di lantai dua, saya kemudian menanyakan cara untuk proses radiologi (sebagai persyaratan operasi hari Selasa nanti). saya dianjurkan untuk mendaftar di 'loket' radiolodi. Kemudian saya berjalan kembali ke lantar dasar, ke loket radiologi. Sambil menunggu giliran, saya memerhatikan seorang perempuan yang hendak mendaftar untuk proses radiologi, lengkap dengan dua berkas surat berwarna putih dan merah, persis sama dengan saya. Namun, perempuan itu dianjurkan untuk datang hari Senin, karena proses radiologi sudah tidak bisa lagi. Saya kemudian berpikir akan dianjurkan sama, namun ketika saya mendaftar, saya malah dianjurkan untuk menunggu di depan pintu bernomor lima. Sedikit heran, namun saya berpikir mungkin proses yang akan dilakukan perempuan tadi berbeda dengan saya, sehingga ia dianjurkan untuk datang kembali hari Senin.

Sambil menunggu, saya membaca buku tentang Muhammad Yunus yang saya beli di Gramedia, ketika toko buku besar itu menggelar diskon 30 % untuk semua item. Beberapa pasien hilir mudik, ada juga 3 pasien yang dibawa menggunkan tempat tidur. Mungkin juga dia akan dipersiksa seperti saya, namun pastilah pemeriksaan tidak akan sesederhana seperti saya, yang hanya akan diradiologi untuk persiapan operasi ringan.

Entah kenapa, bayangan negatif yang biasanya menghinggapi saya ketika saya dirumah sakit, kembali muncul. Rasa-rasa menyeramkan tentang berbagai penyakit 'berat' serta perawatan yang mengakibatkan tidak bisa berbuat lain selain di rawat di rumah sakit dan terutama mengenai uang yang dikeluarkan untuk biaya berobat.

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis tentang keminderan saya ketika berada di rumah sakit besar atau mewah. Betapa perasaan tidak punya uang bisa begitu menekan lebih dari pada penyakit itu sendiri.

Bersambung …

Wikupedia



Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin