-Tobucil, Rabu 07 Januari 2008-
Seperti ditiup angin, pembicaraan madrasah filsafat senja itu berubah haluan. Tema “Konstruksi dalam Identitas” yang sudah direncanakan, seperti terbang dihembus konflik Israel-Palestina. Sekumpul teman yang bergabung di beranda Tobucil mendapati bahwa mereka satu suara; non blok.
“Saya prihatin kepedulian dan reaksi masyarakat justru melanggengkan konflik itu sendiri,” kata Mbak Tarlen yang baru memposting kegelisahannya di note facebook. “Di luar dugaan, masih banyak yang bereaksi ‘Tidak ada ampun!’dan lain sebagainya atas posting itu, padahal untuk menyelesaikan konflik seharusnya kita justru memutus rantai kebencian itu. Banyak orang Yahudi dan Israel yang sudah dibuat untuk saling membenci sejak dalam kandungan,” papar Mbak Tarlen.
Seiring sejalan dengan Mbak Tarlen, IBS bertanya, “Sebetulnya agama itu diciptakan untuk apa ? Soalnya banyak orang yang tidak memilih agama mereka. Mereka menjalani agama yang diwariskan oleh orangtua.” IBS lalu bercerita tentang agama warisan yang dapat menciptakan fanatisme luar biasa. Penganut agama warisan, kadang merasa agamanya jadi satu-satunya jalan kebenaran. Kakak kandung IBS bahkan beranggapan, orang yang menganut agama di luar agama yang dianutnya, sudah pasti masuk neraka. “Saya shock. Ternyata kakak saya dan saya yang lahir dari rahim yang sama saja tidak saling mengenal. Apalagi sesama manusia,” kata IBS. “Iya. Kita membenci karena label atau karena benar-benar mengenal apa yang kita lihat ?” tambah Mas Ami retoris.
Jume pun berbagi cerita tentang persahabatannya dengan teman yang berbeda agama. “Kami saling ngebantu, saling ngehargain. Bahkan kalau ada acara agama, kami saling membantu. Mungkin karena ada persamaan juga, sama-sama orang Jawa. Gimana kalau kita membawa mentalitas ini juga pada orang-orang yang sama-sama terkena buldoser?” usul Jume.
Di tengah berbagai pendapat beraura perdamaian, Mbak Linda datang. “Ayo, ini, dimakan, ya …,” katanya sambil mengeluarkan beberapa kotak kue. Selain lapar akan perdamaian dunia, ternyata peserta madrasah filsafat pun lapar secara lahiriah. Kue suguhan Mbak Linda segera dikudap.
Bihun, daging, telur, sayuran, bumbu-bumbu, merumpun damai dibungkus kulit pastel. Mereka punya karakter yang berbeda, namun rasa yang satu memberi makna kepada rasa yang lainnya.
Hmmm … selain nama makanan, bukankah warna lembut bernuansa pun disebut “warna pastel” ? Di antara merah amarah dan hitam kebencian, semoga kita bisa menjadi warna pastel yang memberi nuansa …
Bookmark this post: |

No comments:
Post a Comment