Sunday, January 25, 2009

Perjalanan Mandi Matahari

Bagian dua

Klik di sini untuk membaca bagian satu

Mari berjalan-jalan menyusuri Kota Bandung bersama Andika Budiman

The Wind Chime, fine dining place yang bersahaja. Restoran ini pernah dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia. Pengalaman fine dining menuntut seseorang merogoh saku lebih dalam. Saya punya teman yang kalau bertemu selalu menyatakan, "Gua yang traktir." Kadang traktirannya saya terima, kadang saya tolak. Namun saya punya bayangan vulgar tentang bagaimana teman saya itu terkena serangan jantung ketika melihat tagihan harga makan malam kami di The Wind Chime.

Windchime : Tertarik mencoba ? Tidak ?

Perjalanan berlanjut ke lokasi bekas Pasar Balubur yang kini ditutupi seng bercat putih. Saya teringat mertua pakde saya, Eyang Sukelan, dokter hewan yang tinggal dan lama berpraktek di Jalan Kebon Bibit, dekat bekas Pasar Balubur. Dikarenakan usia dan kesehatan, kini beliau sudah tak berpraktek lagi. Saya teringat Eyang Sukelan yang terampil, kerap mempromosikan khasiat lidah buaya, dan berambut hitam tanpa uban meskipun sudah tua.


Seng yang warnanya senada dengan balon di belakangnya


dulu di sini ada plang yang bertuliskan : Sukarlan, Dokter Hewan

Motor saya lantas naik ke fly over Pasupati. Maksudnya mau memastikan apakah toko buku Reading Lights di Gandok buka atau tutup. Selama beberapa bulan belakangan, seminggu sekali saya datang ke toko buku itu untuk bertemu dengan teman-teman lingkaran penulis. Kami saling membacakan karya, latihan menulis di tempat, dan membacakan apa yang ditulis di tempat. Semua dilakukan atas dasar kesukaan kami pada menulis. Betapa saya sayang kepada mereka semua!



RL : out of topic, but I simply can't resist it

Cipaganti macet seperti yang sudah diduga, terutama menjelang belokan menuju Setiabudi atas. Perlahan tetapi pasti gerimis berubah menjadi hujan semi-deras. Saya berhadapan dengan dua pilihan: pakai jas hujan, tetapi tidak bisa mendengar musik; atau tidak pakai jas hujan, tetapi celana khaki andalan saya tak bisa lagi dipakai besok. Terbuai Sufjan Stevens, akhirnya opsi kedua yang dipilih. Sambil mengemudikan motor, saya berharap agar hujan tidak turun terlalu deras. Bagaimanapun kebanyakan barang elektronik, termasuk iPod saya, tidak cocok dengan air. Kecuali tentu saja barang elektronik yang fungsinya berhubungan dengan air seperti, pembangkit listrik tenaga air, pompa air, pemanas air listrik, dll. Sekalipun suatu hari nanti teman saya Dea menulis tentang persahabatan barang elektronik dengan air.

Di Setiabudi bawah, saya menemukan kejutan menyenangkan:

Bersambung …

Andika Budiman tinggal di Bandung sejak kelas 1 SD. Ia mulai menggunakan angkutan kota pada kelas 3 SD, dan mulai rutin menggunakan motor sejak menjadi mahasiswa tingkat 1. Andika senang berjalan kaki sore-sore di kawasan permukiman yang sudah agak tua. Sejauh ini jalanan favoritnya di Bandung antara lain Jalan Pagergunung, Jalan Hegarmanah, Jalan Cipunagara, Jalan Progo, dll.




Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin