Temukan Arsip Tobucil

Loading...

Sunday, February 22, 2009

Gara-gara Mariah Carey


-Tobucil, Rabu 18 Februari 2009-

Madrasah filsafat

Dengan langkah cepat, seorang lelaki berkacamata memasuki beranda Tobucil. “Kayaknya itu, deh, penulisnya,” duga IBS. “Lain, lain ieu (bukan, bukan ini),” tanggap Mas Ami saat lelaki itu memasuki kantor pajak. Namun, ketika tak sampai lima menit kemudian lelaki itu keluar lagi dengan wajah bingung, IBS dan Mas Ami saling berpandangan. “Mas Haryanto, ya ?” tembak Mas Ami akhirnya. “Iya,” sahut laki-laki itu.

Hari itu, madrasah filsafat kedatangan bintang tamu. Namanya Mas Haryanto Soedjatmiko. Penulis buku “Saya Berbelanja Maka Saya Ada” tersebut, membawakan materi yang berkaitan dengan bukunya. Tajuknya “Berpikir ala Descartes Bertindak ala Mariah Carey”.

“Kenapa Mariah Carey, bukan Paris Hilton misalnya ?”tanya IBS.

“Karena dia inspiratif, suaranya tinggi sekali, setinggi tuts piano yang paling ujung. Lagu-lagunya juga selalu hits, mengalahkan Elvis Presley dan mendekati The Beatles.”

“Jadi apa hubungannya belanja dengan Mariah Carey ?” tanya Mas Heru Hikayat.

“Mariah Carey adalah orang yang selalu merasa kurang,” sahut Mas Haryanto. Ia lalu bercerita tentang Mariah Carey yang mempunyai seribu sepatu dan hafal persis seluruh sepatunya. Wow !

Selanjutnya, Mas Haryanto membagi pemikirannya mengenai keberbelanjaan dan keberadaan. “Coba sebut satu hal yang ada di pikiran Anda, spontan,”ujar Mas Haryanto. “Bir !” sahut Mas Heru. “Untuk mendapatkan bir kita perlu apa ?” tanya Mas Haryanto. “Teman-teman,” sahut Mas Heru lagi. “Bukan, bukan itu, kita perlu duit untuk belanja,” koreksi Mas Haryanto.

Menurut Mas Haryanto, segala sesuatu harus dibeli. “Paling nggak orang musti cuci muka supaya cakep, meskipun cakepnya cakep alami juga,” tukasnya. Bagi Mas Haryanto, berbelanja melampaui “aku berpikir maka aku ada”-nya Descartes, “orang harus belanja, beli, membayar, kalau cuma mikir aja nggak akan dapet…” Ia pun berpandangan, belanja akhirnya berkaitan dengan rasa bebas. Dari sana, berbagai pertanyaan berlontaran dari peserta madrasah filsafat.

“Bukannya dikendalikan oleh nafsu belanja justru merupakan keterkekangan ?” tanya Hemut.

“Bagaimana kalau saya punya uang seratus ribu dan malah bingung ngebelanjainnya ?” tanya IBS.

“Apa betul perempuan lebih konsumtif secara psikologis daripada laki-laki ?” tanya Novi.

Lalu pembicaraan jadi meluas ke mana-mana. Peserta madrasah filsafat saling menanggapi satu sama lain, sementara Mas Haryanto sendiri menjadi penonton yang budiman. “Yah … dia kok jadi diem aja ?” tanya Tobuciler. “Nggak apa-apa, silakan, saya menikmati, kok,” sahutnya sambil terus mendengarkan. Hyaaa …

“Jadi sebetulnya apa tolok ukur konsumerisme ? Apa memenuhi basic needs termasuk konsumerisme ?” tanya Hemut. Mas Haryanto lalu menjawab, “Kalau sudah berbicara soal tolok ukur, kita akan berbicara soal moral. Di sini saya tidak membahas masalah moral.”

Tahu-tahu Nita, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, menyeletuk, “Kenapa semua orang mengecam konsumerisme ? Menurut saya apa salahnya konsumerisme ? Berdayakan saja. Kalau kita punya barang, ya dijual lagi aja. Itu kan sirkulasi uang juga …”

Hmm … betul juga. Loose some, gain some. Ngomong-ngomong, seandainya Mariah Carey hadir juga di madrasah filsafat hari itu, akankah dia jadi berpikir untuk menjual keseribu sepatunya ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

4 comments:

vincent.haryanto said...

terimakasih buat celoteh kisahnya...laen kali temanya bkn mariah carey kali ya...tp sandra dewi pa luna maya..kkk...

tobucil said...

Asiiiik ... ditunggu, lho, Mas ...

vincent.haryanto said...

aku mo masukin crita ini ke blog aku koq susahnya ajubilah...:) [bisa dikirimin versi word nya?]

Haryanto Soedjatmiko said...

akhirnya...masuk juga...:)

http://haryantosujatmiko.multiply.com/journal/item/37/mariah_carey_dibedah_di_Bandung_special_thanks_to_Tobucil_Klabs_Blogspot

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin