Sunday, March 1, 2009

Menyidang Masrum dan Mas Khrisna


-Tobucil, Senin 23 Februari 2009-

Klab Nulis

“…cobalah tengok, dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua …”

Hujan – lagu anak-anak


… dan itulah yang terjadi di Tobucil pada hari pertama sidang Klab Nulis. Hujan yang membasahi Bandung sejak siang ditambah kehadiran pedagang seblak basah, membuat Jln. Aceh no.56 terasa basah sekali.



Sore itu, kedua peserta hadir dengan nuansa floral. Bu Tatty mengenakan gamis dan kerudung bermotif bunga, sementara Syarif yang mengenakan t-shirt shocking pink membawa payung ungu yang mirip bunga. Meski mengaku grogi, keduanya tampak optimis menghadapi sidang.












Bu Tatty mendapat giliran pertama. “’Khrisna’ ini berdasarkan kisah nyata. Dia adalah orang yang ada di sekitar saya sekitar dua belas tahun ini,” Bu Tatty mengawali presentasinya. “Khrisna” adalah cerpen yang bercerita tentang Ibu Marlin yang berjuang memperoleh pendidikan untuk Khrisna, putranya yang menyandang down syndrome. Tidak ada sekolah umum yang mau menerimanya, hingga akhirnya Bu Marlin berinisiatif mendidik Khrisna di rumah. Cerita diakhiri dengan Khrisna yang berhasil mendapat pekerjaan menyusun sepatu di perusahaan sepatu. “Anak-anak down syndrome itu orang-orang yang lebih fokus, mereka cocok dengan pekerjaan yang rutin dan berulang-ulang,” jelas Bu Tatty.


Tema cerpen Bu Tatty terbilang menarik. “Cocok dikirim ke Femina,” kata Mbak Tarlen. Namun, tim juri memberi beberapa masukan. Cerpen ini akan lebih menarik jika dibuat lebih cair, “Daripada merinci pasal-pasal hukum, akan lebih baik jika Ibu memberi kesempatan Khrisna berbicara,” saran Mbak Tarlen. Sementara, sebagai seorang guru, Mas Paskalis lebih tertarik dengan isu pendidikan yang diusung Bu Tatty. “Apakah mandiri harus di sekolah umum ? Kenapa kita tidak membombardir sekolah khusus saja, bukan sekolah umum ?” Menurut Mas Paskalis, guru adalah kekasih murid. Jika guru sekolah umum menerima murid down syndrome di kelasnya, ia harus bersiap untuk patah hati, “Murid itu akan mengalami kesulitan belajar, diganggu teman-temannya, tidak naik kelas,” ungkap Mas Paskalis.


Bu Tatty menyambut semua masukan dengan sangat terbuka. Di akhir presentasinya, ia menyampaikan harapan, “Mudah-mudahan tulisan ini menambah semangat …”



Syarif tampil selanjutnya. Cerpen yang ditulisnya berjudul “Masrum”, berkisah tentang hansip yang dibuat mabuk masrum oleh komplotan yang ingin mencuri berlian. Tema dan judul cerpen Syarif menarik, namun secara detail menuai banyak kritik. “Menurut saya, di cerpen ini nggak usah ada penjelasan kenapa dia harus mencuri. Jadi malah nggak dapet kejutannya,” ujar Wiku. “Ini masrumnya dimasukin ke pizza. Kenapa harus pizza ? Lagian pizza-nya pesen dari mana ?” tanya Mas Paskalis. “Kayaknya penulis kurang mempelajari karakter mabuk masrum, deh,” kata Mbak Tarlen. “Setahu saya, orang yang mabuk masrum jadi gila gitu, tapi ini, kok, saya liat malah jadi letoy banget ?” tanya Evi. Untuk pertanyaan yang ini, Syarif punya jawaban jenaka khas Syarif, “Iya, soalnya sebenernya masrumnya bukan dari kotoran sapi, tapi kotoran ayam …” DHIERRR !


Menurut Wiku, kritik yang bertubi tersebut justru merupakan pertanda baik, “Artinya semua orang baca cerpen kamu, Rif …” Syarif setuju. Seperti juga Bu Tatty, ia menerima setiap masukan dengan terbuka. Di akhir presentasi, ia pun menyampaikan harapan, “Semoga (cerpen) ini menjadi perbendaharaan literasi, baik buruk itu urusan belakangan …”


Hujan masih belum berhenti. Beberapa tetes yang menyelinap dari sela kebocoran, menimpa daun dan bunga di beranda.


Saat tertimpa air, daun dan bunga seperti melompat-lompat; mungkin terkejut, mungkin menyambut girang.


Hari itu langit memang suram dan hujan turun deras. Tapi dalam kegelapan, selalu tersimpan sebuah harapan. Akan banyak hal.


Sundea


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin