Sunday, April 5, 2009

Bunuh Diri

 

-Tobucil, Senin 30 Maret 2009-

Klab Nulis

Setelah mencekam Tobucil dengan cerpen berarorama pembunuhan dan dendam, minggu berikutnya kedua peserta sidang Klab Nulis hadir dengan cerpen beraroma bunuh diri. JENGJENG … !!!

Melalui “Biarkan Moris Memilih”, Shinta, yang tampil lebih dulu, menceritakan gadis bernama Moris yang dipaksa meneruskan usaha pabrik kopi sang ayah. Perlahan, Moris yang sesungguhnya bermimpi menjadi fotografer jurnalistik, terpaksa belajar mengubur cita-citanya. Namun, ayah yang tidak sabar dan ingin segera mendapatkan totalitas Moris, membuang kamera Moris ke penggarangan kopi. Moris yang sedang galau pun jadi limbung. Akhirnya ia menyusul kameranya, ikut membuang dirinya ke dalam penggarangan kopi yang membara.

shintaophan

“Cerpen ini naiknya smooth, tapi selesainya terlalu cepet,” pendapat Mas Paskalis. Ia berharap, Shinta lebih banyak menggambarkan pertengkaran Moris dan Sang Ayah seputar pemusnahan kamera Moris. “Soalnya saya kepengen cerpennya enam halaman,” tanggap Shinta. “Kenapa enam halaman ? Mungkin ada jawaban yang filosofis ?” tanya Ophan. “Ya … udah capek aja,” sahut Shinta. GUBRAK !

Namun, pada akhirnya Shinta punya jawaban lain, “Soalnya kameranya kan udah dibuang ke penggarangan, jadi apalagi yang mau diperjuangkan …”

Secara keseluruhan, “Biarkan Moris Memilih” adalah cerpen yang kuat. “Kamu memasukkan kopi bukan sekedar sebagai elemen cerita,” puji Mbak Tarlen. “Saya suka bagian kamu ngasih gambaran ayah dan kakak Moris mirip kopi Arabika dan Robusta. Artinya kamu memahami kopi,” ujar Wiku. “Saya suka karena dia tetep konsisten dengan kamera yang pakai slide. Itu gambaran yang bagus untuk seorang idealis,” Mas Paskalis juga memberikan pujian. Di akhir presentasi, Shinta menyampaikan hal yang ingin ia sampaikan melalui cerpennya, “Bahwa hidup itu harus memilih … atau mengalah pada waktu, mengalah pada mimpi-mimpinya …”

Penampil selanjutnya adalah Rini. Dengan setting sebuah pantai di Bali, Rini menulis cerpen berjudul “Kala Senja”.

riniophan 

Tersebutlah seorang peselancar atletis bernama Nyoman. Pada suatu hari, Nyoman melihat Khrisna, anak lelaki cacat mental, yang sedang disiksa anak-anak kampung. “Khrisna ini terkutuk, ia hanya pembawa sial di banjar kami,” ujar seorang anak, menghakimi Khrisna yang berbeda dengan mereka.

Nyoman pun terkenang pada Suji, kekasih gay-nya yang juga peselancar, yang membuang diri ke laut karena tak mau dipaksa menikahi perempuan. Suji juga dihakimi karena berbeda. Dihakimi karena punya orientasi seksual yang dianggap tak umum.

Rini membentuk karakter Nyoman dengan cukup kuat. Meski tidak tertulis dalam cerita, Rini bahkan tahu persis profesi Nyoman, “Dia seorang chef.” Profesi ini cukup relevan dengan karakter Nyoman yang melankolis sekaligus berani menentang kehidupan karena kepercayaannya kepada alam semesta. Keeratan Nyoman dengan alam semesta ini juga jadi berkait dengan kesenangannya berselancar.

Sayangnya, karakter Suji agak kedodoran. “Suji ini Jawanya dari Jawa mana ?” tanya Mbak Tarlen. “Surfer itu pelawan, dia mengendarai ombak, tapi kenapa hanya karena dipaksa menikah dengan perempuan dia malah bunuh diri. Di laut, lagi, ” kata Mas Paskalis. “Tapi orang yang begitu kan ada …,” Rini sempat membela diri. “Tapi harus diberi penjelasan kenapa pengecualian karakter itu jadi masuk akal,” sahut Mbak Tarlen.

Cerpen Rini ditutup dengan liris dan puitis :

Hanya debur ombak dan asap rokok yang memecah kesepian di antara mereka. Di kejauhan, senja semakin memerah dan akan segera menghilang di bawah batas cakrawala. Mereka berdua menuliskan kegelisahan di antas butir-butir pasir hitam.

Semesta tak pernah menjawab kegelisahan mereka.

Hari itu, Shinta dan Rini mengusung tema idealisme. Mereka memaknai kehidupan, justru dengan pilihan untuk mati.

Potongan lirik lagu Naif lalu melintas di kepala Tobuciler, “Hidup bagaikan  air dan api …”

Cerita Rini dan Shinta, membuat gulungan ombak dan kobaran api jadi seperti satu kepribadian.

Dengan dua wajah.

Sundea

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin