Sunday, April 12, 2009

Memilih Suara

Di tengah kemeriahan memilih dan bersuara dalam pesta demokrasi, Tobuciler tersadar, betapa banyak suara yang kita dengar setiap hari. Seperti poster-poster caleg yang berderet sepanjang jalan, suara-suara tersebut berderet mengiringi perjalanan hari kita.

Ketika mencoba diam dan membiarkan setiap suara mengungkapkan diri, Tobuciler tersadar ; ternyata suara yang ada di sekitar kita lebih banyak daripada yang Tobuciler kira. Pada saat yang bersamaan, dapat terdengar berbagai suara yang kadang tak terperhatikan. Printer rusak yang seperti bayi menangis. Komputer yang meggeram. Senandung kecil. Bolpoin yang menggores kertas. Bahkan kesunyian pun bukannya tanpa suara.

Telinga kita mendengar apa saja, tapi mendengarkan adalah hal lain. Telinga kita menjaring apa saja, tapi memaknai perihal memilih. Setiap suara adalah instrumen. Mereka tetap sekedar instrumen sampai kesadaran kita menciptakan komposisi.

Teman-teman, terima kasih karena telah menjadi nada yang menyusun sendiri sebuah lagu indah bagi telinga kami.

Karena kalianlah setiap hari kami tak berhenti menyanyi.

Inilah blog Tobucil edisi memilih suara.

Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat,

Tobuciler

wikudankentongan

Google Twitter FaceBook

1 comment:

mayka risyayatul said...

hmm..
setuju deh ama tobucil!
:p

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin