Sunday, May 3, 2009

Congratulation and Celebretion (part 1) : From AJI, with Love

 

Pada suatu siang, Tobuciler menyambangi ruang AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Kepada wartawan-wartawan yang sedang serius mengetik berita, mentranskrip rekaman, sekedar tidur-tiduran, ber-facebook ria, atau … tidak jelas juga sedang apa, Tobuciler menangih kesan-pesan tentang Tobucil dan ucapan selamat ulang tahun.

“Sebetulnya Tobucil itu bagus untuk pencerahan. Yang garelo ada penampungan, terus ada ruang pelepasan … usus dua belas jari, kali … tapi ke depannya Tobucil harus membuat workshop bagi petani. Jadi petani bisa punya toko-toko buku kecil dan usaha mereka bisa jadi underbow-nya Tobucil,” cerocos Mas Bebeng. “Eh … tapi kenapa Tobucil terus, sih, bukan Tobubar … toko buku besar, maksudnya ?” tambah Mas Bebeng.

 

masbeng

Sementara itu, Mas Frino yang tidur-tiduran sambil sibuk mengarang lagu dari kata apa saja yang didengarnya, punya pendapat lain, “Tobucil itu tempat bermain sambil belajar karena dalam permainan itu banyak pelajarannya. Kayak melipat kertas, belajar sambil bermain. Terus kita juga bisa belajar bermain … ngutang …” Menurut Mas Frino “bermain ngutang” adalah bermain “belajar jujur”. “Jadi kalo malem-malem ngambil rokok dua (FYI, Mas Frino kan sering menginap di Tobucil), besoknya jujur ngambil dua. Teu ngeunah (nggak enak) kalau nggak jujur di sini mah,” ungkapnya.

masfrince

Bang Ahmad Taufik alias A.T, salah seorang wartawan dari Jakarta yang sering main juga ke Tobucil, urun komentar, “Tobucil ini yang dikatakan kecil tapi besar. Kalo toko buku besar mungkin cuma jual buku. Kalo Tobucil, tokonya kecil tapi menyimpan energi yang besar. Energi orang menjadi kreatif. Terus mengembangkan yang kreatif-kreatif ! Kan orang sudah mulai melupakan yang kecil-kecil …”

 

bangate

 

 

masagusrakasiwiketuajiDan … bagaimana sekapur sirih dari Ketua AJI kita, Agus Rakasiwi? Sambil bersila bagai tua-tua adat, ia memaparkan, “Sebagai satu komunitas yang ada di Bandung, Tobucil bisa dikatakan satu dari antara komunitas yang bisa bertahan. Di daerah Bandung tengah, setahuku ini yang paling lama bertahan.” Mas Agus berharap, Klab dapat terus muncul, bertambah, dan lebih banyak mengajak anak-anak muda untuk terus datang dan belajar bersama-sama. “Delapan itu angka bagus, lho. Satu windu itu menarik. Dan satu windu itu menurut kakekku angka bagus, aku kan lahir tanggal delapan, bulan delapan, taun delapan satu … hihihihi …,” Mas Agus narsis colongan.

Ucapan selamat ulang tahun yang paling misterius datang dari Mas Ari. “Ibu Tarlen mah ngartos (Ibu Tarlen, sih, ngerti).” “Ngerti apa ?” tanya Tobuciler. “Ngartos weh, pasti ngartos …(ngerti aja, pasti ngerti),” jawabnya sama sekali tidak menjelaskan persoalan. Jadi …?

 

Sundea

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin