Sunday, May 24, 2009

Oplosan

 

“Pak Yono, ini teh apa, sih ? Rasanya enak banget, mirip teh bikinan almarhum oma aku,” ujar saya setelah menyesap teh yang disuguhkan keluarga “rumah nenek”. “Wah, ini oplosan macem-macem merk teh seduh. Mbah kalau bikin teh maunya gitu,” sahut Pak Yono. Tobuciler mengangguk-angguk sambil menerka-nerka di dalam hati, “Mungkin oma dulu juga begitu, ya ...”

Teh yang dioplos itu menciptakan sebuah rasa yang sentimental. Manis, harum, dan hangatnya membuat Tobuciler merasa nyaman dan terlindung seperti anak-anak yang didekap oleh rumah ketika di luar terjadi hujan badai. Tiba-tiba Tobuciler tersadar bahwa suasana rumah yang terbangun dalam kemungilan Tobucil pun merupakan hasil oplosan. Ruang-ruang Tobucil, Klab-klab, teman-teman, kegiatan, dan tetangga yang punya beragam nuansa mengoplos diri dan membangun suasana rumah yang mesra dan familiar bagi hampir siapa saja yang memasukinya.

Pada Senin terakhir di bulan Mei ini kami menghadirkan oplosan yang membangun suasana rumah di Tobucil. Ada keluarga “rumah nenek”, ada ruang-ruang di kemungilan Tobucil, ada kisah-kisah seputar Klabs, ada teman kami Leon Ray, drummer band cadas Koil dan juru masak rumah makan favorit Tobucil, poster beragam kegiatan yang pernah digelar di Tobucil …

Blog Tobucil edisi ulangtahun resmi ditutup dengan sebuah kesadaran sederhana ; keberadaan kalian membuat kami seperti minum teh oplosan yang menyamankan perasaan. Setiap hari.

Teman-teman, terima kasih karena telah menjadi bagian teh oplosan yang kami minum.

Semoga kami dapat menghidangkan kenyamanan teh ini saat kalian bertamu …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

tehresized

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin