28.6.09

Bagi Saut Situmorang, Poetry is a Joy Forever

mainpic Saut Situmorang menyambangi Tobucil bersama dua orang temannya. Sambil menyanyikan lagu Utha Likumahuwa dengan suaranya yang berat, ia duduk di beranda Tobucil. “Bang Saut bakal lama, nggak, di sini ?” tanya Tobuciler. “Sampai besok pagi. Kenapa ?” ia balik bertanya. “Mau, nggak, diwawancara buat rubrik ‘Teman Tobucil’ di blog Tobucil ?” tanya Tobuciler lagi. “Gimana kalau aku aja yang ngewawancara kau ?” eh … ia malah balik bertanya lagi.

Singkat cerita, akhirnya wawancara dengan Bang Saut Situmorang terlaksana juga.

Teman Saut : Panggilnya Mas aja, dia kan dari Yogya.

Tobucil : Nah … jadi mau dipanggil apa ini ? Bang atau Mas ?

Kangmas Saut : Kangmas.

Tobucil : Ok. Kangmas. Menurut Kangmas Saut, hal baik itu apa ?

Kangmas Saut : Saya.

Tobucil : Hmmm … alesannya ?

Kangmas Saut : Ya … karena tentang saya, kan nggak mungkin saya mengatakan hal-hal jelek tentang diri saya. Namanya juga ‘filosofi saya’. Bahasanya gaulnya megalomania narsistik …

Tobucil : Entar, entar, ini lagi dicatet …

Kangmas Saut : Kau harus belajar short hand sephamore kayak pramuka itu …

Mas Agus Rakasiwi : Semaphore.

Tobucil : (masih sambil mencatat) Hahahaha …

Kangmas Saut : Jangan kau catat itu !

Tobucil : Catet, ah, ini kan ‘filosofi saya’ hehehehe …

Kangmas Saut : Oh, ya sudah.

Tobucil : Sip. Nah. Berikutnya. Menurut Kangmas puisi itu apa ?

Kangmas Saut : “Poetry is a joy forever”, ini saya kutip dari kata-kata penyair Romantik Inggris, John Keats, “Beauty is a joy forever”. Can you handle that ?

Tobucil : Can, can. But why does it?

Kangmas Saut : Because I’m a poet. Because I write poetry.

Tobucil : Terus hal terbaik dari puisi ?

Kangmas Saut : Itulah hal terbaiknya. It gives joy. Memberikan kesenangan, bukan kebahagiaan. Kalau tidak memberikan kesenangan buat apa ?

Tobucil : Terus menurut Kangmas bedanya “kesenangan” dan “kebahagiaan” ?

Kangmas Saut : Kebahagiaan itu itu abstrak banget. Kalau kesenangan lebih down to earth, memberikan hiburan. Hiburan itu sesuatu yang tidak elitis. Kalau kebahagiaan itu lebih elitis, philosophical, … yah … begitulah.

Tobucil : Jadi menurut Kangmas senang lebih baik daripada bahagia ?

Kangmas Saut : Tidak juga. John Keats memilih istilah “joy” karena kesan kata “joy” lebih down to earth saja. Itu juga berkaitan dengan konsep kaum romantik. Diksi-diksi John Keats pun menunjukkan hal itu.

Tobucil : Selama Kangmas jadi sastrawan, apa hal yang paling inspiratif buat Kangmas ?

Kangmas Saut : Maksudnya pengaruh ? Ya … begini aja. Saya dulu di Medan kan ambil sastra Inggris. Saya dulu di sana susah sekali mendapat buku. Tapi ketika saya merantau sebelas tahun di New Zealand, saya menemukan second hand book shop. Itu merupakan sebuah penemuan yang luar biasa untuk cara pandang.

Tobucil : Terus kalau penyair yang paling inspiratif siapa ?

Kangmas Saut : A, kita ngomongin ini aja … sini kutulis … (mengambil alih bolpoin dan buku Tobuciler kemudian mulai mencatat : Baudelaire, Rimbaud, Lautreamont, dan para penyair surrealis Perancis, juga para penyair berbahasa Spanyol seperti Federico Garcia Lorca dan Pablo Neruda. Terakhir saya berkenalan dengan para penyair The Beats dari Amerika)

Tobucil : Banyak amat …

Kangmas Saut : Biar jangan kau taunya-taya aku lagi.

Tobucil : Hehehe … nah, sekarang, hal baik dari Tobucil buat Kangmas apa ?

Kangmas Saut : Karena dulu waktu saya berperang dengan Alwi dari Cirebon dan para penyair Bandung, Forum Sastra Bandung, debatnya di Tobucil. Ada almarhum Benny.R. Budiman yang paling sengit mengritik artikulasi Bahasa Perancis saya karena dia Sarjana Bahasa Perancis. Itu berkesan buat saya. A, malam itu juga untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan anak muda bernama Frino Baricianur Barus yang juga membela Cyber Sastra.

Tobucil : Wah … kapan, tuh ?

Kangmas Saut : Sudah lama. Mungkin sebelum kau lahir. Kapan kau lahir ?

Tobucil : Kemaren.

Kangmas Saut : Kau kerja di sini dari kapan ?

Tobucil : Hari ini. Kan lahir juga baru kemaren … hehehehe … Nah, terakhir. Kangmas udah nerbitin berapa buku, sih ? Mangga dicatet sendiri (menyorong bolpoin dan buku Tobuciler ke hadapan Kangmas Saut)

Kangmas Saut : [mencatat : 1. Saut Kecil Bicara dengan Tuhan (kumpulan puisi), 2. Catatan Kecil (kumpulan puisi), 3.Otobiografi (kumpulan puisi), 4.Politik Sastra (kumpulan esei)] Wah … sudah empat … hebat juga aku, ya …

Tobucil : Cieee … Ok, deh… sip. Segitu dulu. Makasih, lho …

Kangmas Saut : Sudah lebih dari tiga halaman ini, harusnya ada bir dingin.

Tobucil : Aer putih dingin aja, tuh, sehat …

Sambil merapi-rapikan catatan, Tobuciler menyanyikan lagu Easy dari Faith No More. “Are you easy ?” Kangmas bertanya. “Depends on the context,” sahut Tobuciler. Lalu sesuai namanya, Kangmas Saut menyauti nyanyian Tobuciler, “That’s why I’m easy, easy like Sunday morning …”

Sambil menutup buku catatan, Tobuciler menyadari sesuatu.

In some contexts,” life is a joy forever”.

Like every Sunday morning does.

Sundea

fotodua

fototiga






Biodata Saut Situmorang :

Pekerjaan : Penyair

Tempat tinggal : Jogja

Tempat tanggal lahir : Tebing Tinggi, 29 Juni 1966


Google Twitter FaceBook

5 comments:

floydian said...

hahaa... wawancara dengan saut situmorang ini sudah membuka pagiku dengan ceria. terimakasih!!! life is joy.. indeed!!!

Anonymous said...

kayak nya pernah liat..

vbi_djenggotten said...

...mengingatkan aku pada mbah surip...
love u full...HAHAHAHAHAHA....

tobucil said...

@ floydian : Siukurlah kalo jadi ceria ... hehehe ... btw, pas blog ini di aplot, Kangmas lagi ulangtaun, lho ...

@ anonymous : saya juga kayaknya pernah liat... hehehe ...

@vbi_djenggoten : Jangan2 dia emang Mbah Surip yg menyamar ...

Saut Situmorang said...

HAHAHA...

"hei, nona manis, biarkanlah bumi berputar, menurut kehendak yang kuasa..."

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin